Artikel Keluarga

Bab 2.07 Kewajiban Istri Terhadap Suami

  1. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    “Kaum laki-laki itu pemimpin wanita. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) alas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita yang solehah ialah mereka yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada menurut apa yang Allah kehendaki. ”
    “Wanita-wanita yang kamu kuatirkan akan durhaka padamu, maka nasehatilah mereka (didiklah) mereka. Dan pisahkanlah dari tempat tidur mereka (jangan disetubuhi) dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu bersikap curang. Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An Nisa : 34)
  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja isteri yang meninggal dunia, sedangkan suaminya redha terhadap kepergiannya, maka ia akan masuk Surga.”
    (Riwayat Tarmizi)
  3. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki.”
    (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
  4. Seorang perempuan datang ke hadapan Nabi SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah SAW, saya mewakili kaum wanita untuk menghadap tuan (untuk menanyakan tentang sesuatu). Berperang itu diwajibkan oleh Allah hanya untuk kaum laki-laki, jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala dan kalau terbunuh, maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah. lagi dicukupkan rezekinya (dengan buah-buahan Surga). Dan kami kaum perempuan selalu melakukan kewajiban terhadap mereka (yaitu melayani mereka dan membantu keperluan mereka) lalu apakah kami boleh ikut memperoleh pahala berperang itu?
    Maka Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang menjalankannya.”
  5. Sayidina Ali k.w.j. berkata: “Seburuk-buruk sifat bagi kaum laki laki itu adalah sebaik-baik sifat bagi kaum perempuan yaitu kikir dan bersikap keras dan takut. Karena sesungguhnya perempuan itu jika kikir, maka ia memelihara harta suaminya dan jika bersikap keras, maka ia menjaga diri dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang halus (mesra) yang menimbulkan sangkaan yang buruk, dan jika penakut. maka ia takut dari segala sesuatu, oleh karena itu ia tidak berani keluar dari rumahnya dan ia menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan kecurigaan yang buruk karena takut kepada suaminya“.
  6. Seharusnya seorang isteri mengetahui kedudukan dirinya seolah olah seorang ‘hamba’ perempuan yang dimiliki oleh suaminya atau sebagai ‘tawanan’ yang lemah. Oleh karena itu dia tidak boleh membelanjakan sedikit pun dari hartanya (sendiri) kecuali dengan seijin suaminya karena ia diumpamakan sebagai orang yang dalam kawalan (perhatian).
  7. Wajib bagi seorang isteri:
    • Merendahkan pandangannya terhadap suaminya.
    • Tidak berkhianat terhadap suaminya ketika suaminya tidak ada termasuk juga hartanya.
    • Menunaikan hajat suami (jika diajak oleh suaminya) biarpun di waktu sibuk atau susah (ditamsilkan berada di punggung unta oleh Rasulullah).
    • Meminta ijin suami untuk keluar dari rumahnya. Kalau keluar rumah tanpa ijin suaminya maka dia dilaknati oleh malaikat sampai ia bertaubat dan kembali.
  8. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda, maksudnya:
    “Sungguh-sungguh meminta ampun untuk seorang isteri yang berbakti kepada suaminya yaitu burung di udara, ikan-ikan di air dan malaikat di langit selama ia selalu dalam kerelaan suaminya. Dan siapa saja dikalangan isteri yang tidak berbakti kepada suaminya, maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia. “
  9. Siapa saja di kalangan isteri yang bermuka masam di hadapan suaminya, maka ia dalam kemurkaan Allah sampai ia dapat membuat suasana yang menggembirakan suaminya dan memohon kerelaannya.
  10. Aisyah r.ha berkata:
    “Wahai kaum wanita Seandainya kamu mengerti kewajiban terhadap suamimu, tentu seorang isteri akan menyapu debu dari kedua telapak kaki suaminya dengan sebagian mukanya.”
  11. . Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    Tiga orang yang tidak diterima sholatnya (tidak diberi pahala sholatnya) oleh Allah dan tidak diangkat kebaikan mereka ke langit ialah: hamba yang lari dari tuannya hinggalah dia kembali, seorang isteri yang dimurkai oleh suaminya hinggalah dia memaafkannya, orang yang mabuk hingga dia sadar kembali.
  12. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Jika seorang isteri berkata kepada suaminya: Tidak pernah aku melihat kebaikanmu sama sekali, maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.”
    Keterangan:
    Maksud Hadis ini ialah jika seorang isteri memperkecilkan usaha baik suaminya seperti dalam memberi nafkah dan memberi pakaian maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.
  13. Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
    “Siapa saja isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab-sebab yang sangat diperlukan, maka haramlah bau Surga ke atasnya.”
    Keterangan:
    Hal ini biasanya terjadi pada seorang isteri yang tidak berminat kepada suaminya lagi kecuali kalau dia meminta cerai kepadanya karena kuatir tidak dapat menjalankan kewajiban terhadap suaminya untuk menghindarkan diri dari kekecewaan suaminya.
  14. Nabi SAW bersabda maksudnya:
    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya.”
    Keterangan:
    Hal ini biasa terjadi pada suami yang miskin dan isteri yang kaya. Lalu isteri itu menafkahkan hartanya kepada suaminya, kemudian mengungkitnya.
  15. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Pertama urusan yang ditanyakan kepada isteri pada hari Kiamat nanti ialah mengenai sholatnya dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya atau tidak). “
  16. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Empat perempuan yang berada di Neraka ialah:
    Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinva (memarahinya). Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
    Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
    Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya.”

    Keterangan:
    Seorang perempuan yang bersifat dengan sifat-sifat ini akan dilaknati kecuali jika dia bertaubat.
  17. Al Hakim bercerita bahwa seorang perempuan berkata kepada Nabi SAW: “Sesungguhnya putera bapa saudaraku melamarku. Oleh karena itu berilah peringatan kepadaku apa kewajiban seorang isteri terhadap suaminya. Kalau kewajiban itu sesuatu yang mampu aku jalankan, maka aku bersedia dinikahkan.” Maka Baginda bersabda: “Kalau mengalir darah dan nanah dari kedua lubang hidung suaminya lalu (isteri) menjilatnya, maka itu pun belum dianggap menjalankan kewajibannya terhadap suaminya. Seandainya diperbolehkan untuk manusia bersujud kepada manusia lain, tentu aku perintahkan :seorang isteri bersujud kepada suaminya.”
    Berkatalah perempuan itu, “Demi Tuhan yang mengutus Tuan, aku tidak akan menikah selama dunia ini masih ada.”
  18. Imam Thabrani menceritakan bahwa seorang isteri tidak dianggap menjalankan kewajibannya terhadap Allah hingga ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya, dan seandainya suami memintanya (untuk digauli) sedang ia (isteri) di atas belakang unta maka tidak boleh dia menolaknya.
  19. Sayidina Ali k.w.j. berkata: “Aku masuk ke rumah Nabi SAW berserta Fatimah lalu aku dapati Baginda sedang menangis tersedu-sedu, kemudian aku berkata: “Tebusan Tuan adalah ayahku dan ibuku wahai Rasulullah, apakah yang membuat Tuan menangis?” Baginda bersabda, “Wahai Ali! Pada malam aku diangkat ke langit aku melihat kaum perempuan dari umatku disiksa di Neraka dengan bermacam-macam siksaan, lalu aku menangis karena begitu berat siksaan mereka yang aku lihat. Aku melihat perempuan yang digantung dengan rambutnya serta mendidih otaknya. Dan aku melihat perempuan yang digantung dengan lidahnya sedangkan air panas dituangkan pada tenggorokannya.
    Dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua-dua kakinya sampai kedua-dua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ubun-ubunnya dan Allah mengarahkan ular ular dan kalajengking menyengatinya. Dan aku melihat seorang perempuan yang berkepala babi dan bertubuh keledai dan ia ditimpakan sejuta siksaan. Dan aku melihat seorang perempuan berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya (jalan belakang) sementara malaikat memukul kepalanya dengan tongkat besar dari api Neraka
    .” Lalu Sayidatina Fatimah Az Zahra r.ha berdiri dan berkata, “Wahai kekasihku dan cahaya mataku! Perbuatan apa yang dilakukan oleh mereka hingga ditimpa seksaan ini?” Maka Nabi SAW bersabda: “Wahai anakku! Adapun perempuan yang digantung rambutnya itu adalah karena dia tidak menutupi rambutnya dari pandangan kaum laki-laki ajnabi.
    Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya karena dia telah menyakiti suaminya.
    Adapun perempuan yang digantung kedua-dua susunya karena dia telah mempersilahkan (orang lain) untuk menduduki tempat tidur suaminya.
    Adapun perempuan yang diikat kedua-dua kakinya sampai keduadua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ke ubun ubunnya dan Allah mengarahkan ular-ular untuk menggigitnya dan kala jengking untuk menyengatinya karena dia tidak mandi junub setelah haid dan dia mempermainkan (meninggalkan) sholat. Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan keledai karena dia adalah ahli adu domba dan pembohong. Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk ke mulutnya dan keluar dari duburnya karena ia ahli umpat lagi penghasut.
    Wahai anakku! Celaka bagi perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya.
  20. Seorang isteri hendaklah menyadari bahwa seorang suami bagi isteri adalah bagaikan ayah bagi seorang anak karena taatnya seorang anak kepada ayahnya dan memohon keredhaannya adalah wajib Seorang suami pula tidak wajib mentaati isteri
  21. Menjadi pendorong serta penasehat dalam hal-hal kebaikan.
  22. Memahami hal-hal yang digemari dan yang dibenci oleh suami.
  23. Setiap perbuatannya hendaklah menyenangkan hati suami.
  24. Senantiasa menambahkan ilmu agamanya serta amalan.amalannya dengan berbagai macam cara seperti membaca, mendengar kaset-kaset ceramah agama serta mengikuti majlis- majlis agama.
  25. Demi cinta terhadap suaminya seorang isteri akan melakukan khidmat dan bakti kepada suaminya cara hal yang sebesar. besarnya sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti menggunting kuku, memotong kumis, dan meminyakkan rambut suami. Rasulullah SAW pernah berkata kepada Siti Fatimah: “Ya Fatimah, apabila seorang wanita meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya, memotong kumis dan menggunting kukunya maka Allah akan memberinya minum dari air Surga yang mengalir di sungai sungainya dan diringankan Allah baginya sakaratul maul dan akan didapatinya kubumya menjadi sebuah taman yang indah dan taman taman Surga.
  26. Senantiasa menyediakan air di sisi suami. Selama ia berbuat yang demikian selama itulah ia didoakan keampunan oleh para malaikat.
  27. Memasak makanan menurut kesukaan atau selera suami.
  28. Menambal baju atau pakaiannya yang buruk.
  29. Siapkan barang-barang keperluan di dalam sakunya seperti sisir, celak, sikat gigi. cermin dan minyak wangi (ikut Sunnah).
  30. Ikut kemauan suami pada waktu bersenda gurau, memijat, mengipas dan sebagainya.

203 Comments

  • Ina
    01/11/2013 - 09:03 | Permalink

    tapi pak, kalau untuk memenuhi kebutuhan keluarga suami itu kan tidak sama dengan ‘kebutuhan keluarga’ yg pak ustadz maksud kan? kebutuhan keluarga itu bukannya kebutuhan saya dan suami? kalau kebutuhan keluarga suami tentu tidak masuk kriteria bukan?

  • Anonymous
    02/11/2013 - 09:50 | Permalink

    Assalamualaikum wr.wb
    Ustadz suami saya mualaf.. tapi setelah menikahi saya dia minta untuk pindah ke agamanya lagi..
    Suami sy juga mengajak sy untuk pindah ke agamanya..
    Atau sy tetap muslim dan dy pindah agama..
    Apa yg harus sy lakukan ustadz?

  • admin
    02/11/2013 - 18:50 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb,

    Pindah agama dalam Islam disebut sebagai murtad.
    Syarat pernikahan adalah suami dan istri beragama Islam. Jika salah satu keluar dari agama Islam, maka pernikahan tersebut menjadi batal (fasakh), sehingga hubungan pernikahan antara anda dengan suami anda menjadi terputus.

    Artinya anda mesti memperlakukannya seperti memperlakukan laki-laki lain. Hubungan suami istri sudah tidak boleh dilakukan. Hubungan waris, hak & kewajiban suami istri juga sudah tidak ada.

    Saran saya:

    • Pastikan apakah dia masih mau beragama Islam atau benar-benar mau pindah agama.
    • Jika dia benar-benar pindah agama, maka pernikahan anda secara syariat Islam sudah terputus (bercerai).
    • Berkonsultasilah dengan wali anda (ayah) jika masih ada.
    • Berkonsultasilah dengan KUA setempat untuk mengurus status legal anda.
    • Tetaplah tabah dalam menghadapi ujian ini. Insya Allah akan ada pengganti yang lebih baik untuk anda.

    Referensi:

  • admin
    02/11/2013 - 19:06 | Permalink

    Seorang suami punya tanggung jawab memberi nafkah terhadap keluarganya, terutama yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya. Jadi yang termasuk ini antara lain:

    • orang tuanya
    • saudara laki-laki yang miskin walaupun sudah berusaha keras
    • saudara perempuan yang belum menikah / tidak bekerja
    • istri
    • anak-anak

    Seberapa yang dibagi ke pihak-pihak tersebut tergantung pandai-pandai sang suami. Suami ini mesti sanggup menilai mana keperluan yang benar-benar penting dan mana yang tidak terlalu penting.

    Penghasilan istri itu hak dirinya sendiri, jadi terserah mau dipakai untuk apa saja.

  • Anonymous
    03/11/2013 - 13:23 | Permalink

    Assalamualaikum pak ustad.
    Saya mau minta pendapat.
    Saya skrg tinggal serumah dengan prang tua suami saya, dan sekaligus bekerja sebagai karyawannya.
    Dirumah juga tidak ada pembtu, jikapun ada pembantu paling hanya bertahan 1 – 2 bulan. Saya kasihan dengan ibu mertua saya yg mengerjakan semuanya sendiri. Saya pun kadang2 bantu jika tidak ada pekerjaan di kantor.
    Tp skrg saya malah disalahkan krn jarang membantu ibu mertua saya, padahal saya jngin sekali membantu tapi bentrok dengan urusan kantor yg bapak mertua saya berikan.
    Dianggap pekerjaan saya tidak becus. Padahal awalnya dia selalu memuji pekerjaan saya.
    Dan anaknya sendir ( suami saya ) juga tidak mendapat gaji bulanan. Hanya saya saja yg digaji, dengan alasan tempat tinggal gratis, makan pun gratis. Jadi papanya hanya menggaji saya dan menyurh saya ikhlas jika suami saya minta uang rokok atau keperluan lainnya kepada saya. Saya sih nurut dan ikhlas aja. pada saat bapaknya bilang saya kerja tidak becus, dia bicara lain lagi, dia bilang kalau tidak baik jika dalam rumah tangga, istri yg bekerja. lebih baik suami saya saja yg digaji, krm saya kerja tidak becus, kepercetakan saja harus sama suami”
    Ya bagaimana saya tidak minta temenin suami pak ustad, karna kan ke percetakan harus angkat buku, ambil buku yg sudah di cetak.
    Kebetulan mertua saya editor buku.
    Saya minta petunjuknya pas ustad, apakah saya mengundurkan diri saja dan kita tinggal terpisah dr orang tuanya atau tetap sabar disini?
    Tp sejujurnya saya sudah tidak tahan dengan perlakuan papa mertua saya kepada anaknya dan menantunya. Dan bukan hanya saya saja yg diikutcampuri rumah tangganya, kakak2 suami saya juga. Sampai2 papa mertua saya menjadi perantara perceraian kakak suami saya. Karna dia terlilit utang, dan ada laki2 yg mau menebus utangnya, sehingga mertua saya merestui hubungan kakak suami saya dengan laki2 itu. Dan memaksa suaminya segera menceraikan kakak ipar saya.
    Masih banyak kelakuan2 aneh yg dilakukak mertua saya, padahal dia org yg cukup terkenal dengan buku2nya.
    Maaf jika terlalu panjang pak ustad, saya harap pak ustad dpt memberikan petunjuk.
    Terimakasih.
    Wasalam

  • Anonymous
    06/11/2013 - 14:04 | Permalink

    assalamualaikum ustad…
    sy mau tanya :
    1. sy sudah menikah 7th & smp skgpun blum pernah dijatah uang tiap sebln sekali & cm disuruh ambil uang belanja tiaphr dr tmpt usaha suami,itupun jg max 15rb.tubuh suami&karyawan di usaha suami besar2& makannyapun byk2 + saya & anak yg msh batita,otomatis 15rb tdk cukup utk mkn 3xsehr apalg tggl d jkt. &bahkan suami marah kl sy ambil lbh dr 15rb,pdhl suami sdr perokok,peminum&foya2 alkohol tiap mlm dgn teman2ny bs hbs 50-100rb/hr. apakah itu disebut menafkahi istri bila cm diberi mkn sj?

  • admin
    07/11/2013 - 07:57 | Permalink

    Wa alaikum salam

    Dari tulisan anda tersebut saya tuliskan lagi masalah-masalah yang anda hadapi, dari yang paling berat sampai yang paling ringan sebagai berikut:

    1. Suami minum minuman keras / alkohol. Perbuatan ini adalah dosa yang cukup berat
    2. Suami merokok. Sebagian ulama menyatakan merokok itu haram, sebagian lagi menyatakan merokok itu makruh.
    3. Suami foya-foya.
    4. Suami tidak memberikan uang belanja yang cukup.

    Menurut saya permasalahan anda  yang paling berat dalam pandangan agama Islam bukan di urusan uang belanja, namun suami yang minum-minum, merokok dan foya-foya.

    Berdoalah agar permasalahan (1,2,3) bisa hilang, karena kalau (1,2,3) beres maka insya Allah permasalahan uang belanja lebih mudah beres.

  • admin
    07/11/2013 - 08:06 | Permalink

    Wa alaikum salam,

    Sebagai istri, kewajiban anda setelah fardhu ‘ain adalah ikut arahan dari suami. Jadi dalam hal ini sebenarnya sangat tergantung apa yang ingin dilakukan oleh suami anda.

    Kewajiban suami anda adalah menjaga anak dan istrinya (anda) dari api neraka, artinya suami perlu melakukan penjagaan dan pendidikan terhadap anak dan istrinya. Kalau menimbang dari apa yang anda kemukakan, nampaknya suasananya kurang sehat. Namun demikian silakan suami anda yang menilai apakah mau tetap tinggal bersama mertua atau mau hidup terpisah dari mertua.

    Wassalam

  • Andri firmansyah
    10/11/2013 - 14:55 | Permalink

    assallamuallaikum wr wb,

    ustadz, saya mau tanya..

    saya sudah menikah 1thn lebih,sebelumnya saya tinggal di jkt,tetapi istri saya minta saya pindah ke kotanya dengan alasan membantu usaha keluarganya, dgn berat hati saya jg harus meninggalkan pekerjaan saya di jkt. 2 bln saya dikotanya saya sudah tidak kerasaan,karna sudah banyak campur tangan keluarga istri saya ( kakak2nya ). saya sudah minta sama istri saya untuk pindah dr kotanya dan hidup pisah dari keluarganya, tetapi istri saya slalu beralasan berat untuk meninggalkan kakaknya, karna takut usahanya tidak ada yg bantu.keluarga istri saya memiliki usaha losmen dan restoran, tetapi yg membuat saya berat adalah baik di losmen dan di restoran menyajikan minuman berakhohol ( bir & arak ) saya bersikeras meminta istri saya untuk pindah dr kotanya,agar kami bisa hidup mandiri dan tidak ada campur tangan keluarganya. tp istri saya selalu menolaknya dgn alasan yang sama. ketika saya mengutarakan niatan saya untuk membawa istri saya keluar dari usaha itu sama kakak2nya, mulai lah dari situ timbul fitnah terhadap diri saya.
    hingga timbullah adu domba terhadap saya dan istri saya, intinya keluarga istri saya tidak mau kalau adiknya ( istri saya ) pergi meninggalkan usaha keluarganya.akhirnya terjadilah cekcok antara saya dan kakaknya, demi menenangkan ketegangan akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke jkt,tetapi ketika saya ajak istri saya untuk ikut dia menolak dan dilarang oleh keluarganya.dia lebih memilih keluarganya,dan istri saya bilang sama saya untuk “tunggu keputusan keluarga bagaimana kedepannya rumah tangga kami nanti”.
    dengan keadaan rumah tangga kami yg seperti ini, apa yg harus saya lakukan pak ustatd? apakah saya berdosa karna tidak bisa mendidik istri saya? padahal sebelum saya pergi, saya sempat mengajari istri saya mengaji.

    mohon pencerahannya pak ustatd.

    wassallamuallaikum wr wb

  • Anonymous
    13/11/2013 - 09:26 | Permalink

    Assalamu’alaikum..
    saya perempuan berusia 23th, sdah menikah 3th & memiliki putri berusia 1th..
    dulu awal pernikahan saya sempat ikut dg mertua selama lbih krang 5bln, tp sya tdak suka dg sikap mertua sya krna apapun yg sya kerjakan selalu tidak benar dan dikomentari. kalau sya tdak mmbantu d dapur mrtua prempuan sya slalu membanting perkakas dapur dan sya pernah dikatai ‘tidak punya akal’ oleh mertua lelaki sya smpai akhirnya sya tdak tahan & menceritakan semua kpada ibu sya (sblumnya ibu tdak tahu masalah sya). akhirnya gara2 itu ibu saya membuatkan sya usaha kecil2an d rumah agar sya tdak tinggal dg mertua sya lg. masalahnya skarang suami saya mengajak saya untuk membuat rumah tepat d depan rmah mrtua sya, sya jelas2 menolak dg alasan sya pernah d sakiti (sebelumnya sya tdak prnah menceritakan perlakuan org tuanya terhadap saya), dn yg membuat sya tdak krasan lg krna daerah tmpat mrtua sya tinggal jauh dr kota, sekolah jga jauh sya takut akan masa depan pendidikan putri saya, tp suami sya ttap bersikeras membuat rumah dsana smpai2 kita bertengkar tiap malam.. alasan suami ingin tinggal dekat ortunya krna mslah pkerjaan, krna sya trus menolak suami sya sampai bilang kalu sya enak2an d rumah tdak merasakan ssahnya dia bekarja, sya mrasa sakit mendengar ucapannya dan enggan mnerima uang belanja dri suami.. sya jga tdak suka dg adik prempuan suami yg suka mengatur & sya juga tdak rela kalau putri sya dekat dg keluarga suami sya.. bukannya saya ini pendendam, tp ibarat luka perlakuan mertua trhadap sya itu masih membekas.. mohon bantuannya apa yg harus saya lakukan???? terimakasih

  • admin
    14/11/2013 - 07:29 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb,

    1. Memperdagangkan minuman keras seperti bir dan arak dalam Islam hukumnya adalah haram. Jadi secara syariat memang ada alasan untuk tidak terlibat dalam perdagangan minuman keras.
    2. Jika istri menolak perintah suami tanpa alasan yang sesuai syariat sah maka hal ini dapat digolongkan kepada nusyuz (istri durhaka, detailnya di artikel istri-yang dianggap durhaka kepada suami).

      Untuk istri yang durhaka/nusyuz, ada panduannya ringkasnya dalam Al Qur’an, surat An-Nisaa’: 34: “… Wanita-wanita yang kamu khawatirkan berbuat nusyuz, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”. http://www.kawansejati.org/alquran-digital/s004a034.htm

      Seorang istri dapat taat pada suami hanyalah jika sudah dididik dengan baik, dikenalkan dengan Allah dan syariatnya. Suaminya juga mesti lebih dahulu menjadi contoh bagi istrinya, dengan taat 100% kepada segala perintah Allah. Jika suami tidak dekat dengan Allah, dan kemudian tidak dapat mendidik istrinya, maka susah istri dapat taat dengan suami.

    3. Ketaatan istri yang utama adalah pada suaminya, bukan kepada keluarganya selama perintah dari suami tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Jika suami minta istri pindah ke tempat tertentu, maka istri wajib mengikuti permintaan tersebut selama hal itu tidak melanggar syariat Islam.
    4. Anda sebut tentang ‘mengajari istri mengaji’, cuma tidak jelas apa yang anda maksud dengan ‘mengaji’. Mendidik istri adalah kewajiban seorang suami. Hal yang perlu diajarkan dari suami ke istri meliputi: perkara aqidah, perkara fardhu ‘ain / syariat, perkara akhlak/adab, dan khususnya hal-hal mengenai rumah tangga, seperti diringkas di buku Panduan Wanita Solehah. Jadi cukup banyak yang mesti anda perlu pastikan sudah dipahami dan diamalkan oleh istri anda. Jika anda belum mendidik istri dengan lengkap, dan istri melakukan kesalahan, maka adosa ada pada suami. Jika sudah anda ajari tapi istri masih membangkang, maka itu bukan dosa anda.

    Wassalam.

  • admin
    14/11/2013 - 07:38 | Permalink

    Wa alaikum salam

    1. Hubungan menantu dengan mertua memang khusus, karena bisa dibilang ini adalah hubungan ‘anak ketemu gede’. Kemungkinan banyak perbedaan antara mertua dan menantu. Penyelesaiannya perlu kerjasama dengan suami anda. Anda belum menyebutkan apa tindakan suami terhadap ketegangan yang terjadi antara anda dan mertua anda, padahal hal ini penting.
    2. Seorang laki-laki punya kewajiban terhadap orang tuanya, jadi sebenarnya keinginan suami untuk tinggal dekat orang tuanya perlu dihargai. Setidaknya suami anda adalah orang yang berbakti pada orang tuanya.
    3. Seorang istri wajib taat pada suaminya, termasuk jika suaminya ingin istrinya pindah ke tempat tertentu. Jika istri menentang keinginan suami tanpa alasan yang sesuai syariat, hal ini dapat termasuk ‘istri durhaka’. (istri yang dianggap durhaka kepada suami).
    4. Dalam tulisan anda kurang jelas apakah anda saat ini tinggal dengan suami atau tinggal dengan orang tua anda. Perlu anda pahami bahwa bagi seorang laki-laki, tinggal jauh dari istri itu ‘cukup susah’.
    5. Pendidikan anak anda sebagian besar tergantung kepada didikan orang tuanya, bukan semata-mata perkara anak anda sekolah di mana. Jadi jangan terlalu kuatir dengan sekolah yang jauh, ini masih dapat diselesaikan dengan kendaraan.
  • jono
    31/12/2013 - 10:03 | Permalink

    Assalamualikum wr wb Ustad,
    Tahun 2011 saya menceraiakn istri pertama saya karena dia selingkuh/zina dengan lelaki, anak saya (lelaki 14 th) ikut ibunya, yg menjadi saya sedih adalah anak saya seakan membenci saya dan sepertinya hanya butuh saya jika ada perlunya saja (minta uang bulanan)sepertinya dipengaruhi ibunya/dan bekas mertua untuk membenci saya, padahal jelas2 ibunya lah yg berbuat salah/zina,
    yang saya tanyakan adalah…
    1.sebatas manakah bakti anak kepada ibunya yg sudah menghianati keutuhan keluarga, apakah jika kelakuan yg seperti itu surga masih dibawah telapak kaki ibu ???
    2.sebatas mana anak harus berbakti kepada ayah ?? dalam hukum islam…krn sepertinya peran ayah tidak berarti apa2 jika dibanding seorang ibu.
    terus terang saya sangat mencintai anak saya tetapi terampas oleh ibu dan kelaurganya…

    wasaalam

  • admin
    09/01/2014 - 15:04 | Permalink

    1. Anak tersebut mungkin belum paham, jadi yang dianggapnya yang salah adalah pihak ayah, bukan pihak ibu.
    2. Ketika ditanyakan ke Rasulullah SAW, seorang anak itu mengutamakan ibunya 3x, baru kemudian ayahnya.

  • widara
    19/01/2014 - 14:30 | Permalink

    Assalamualaikm..
    Ust. Sya ingin bercerita sedikit dan mhon sarannya.
    Begini pada dsarnya kluarga sya ortu itu kurang cocok sdahlama bahkan sempat ada kata talak namun sdah pernah rujuk. Kami semua terkadang mersa mengapa kami jarang sekali kompak syapun bngung sebagai anak (usia 24th). Sbnarny sya itu syang sekali dg keluarga sya tp sya tdak suka dg karakter ibu yg keras kasar sekali dlm berkata2 seolah2 kadang terkesan menekan rasanya, ego dan sbgainya. Shingga trkdang sy itu bngung hrs bagaimana sering cekcok (sya sering debat smw mslah tp hal itu sbnarnya menakutkan sy akan dosa).sy sering berfkir jika sudah bersuami sy akan ikut suami namun sya mengingnkn imam yg baik dan mengerti akan syariat islam. Dan sya sdah menikah 3bulan suami kerja d luar kota, sya msih di desa jg bekerja. Suami pulg satu minggu sekali, yg sya keluhkan suami sya itu dr latarbelakang yg kurang pham dg syariat islam bahkan bapk mertua tidak pernah sholat. Itu pahit sekali bagi sya karena berbeda jauh dg latarbelakang klwargabesar sya ustad. Selain itu jg suami sy dlu pernah jadi preman namun setahun sblm kenal sya sdah berkeinginan bertaubat dan katanya bersedia jika sya bimbing dan belajar bersama..namun pda kenyataanya susah sekali ustad. Yg mau jika pulag sya ajak untuk berjamaah d masjid sja, tp yg lain sperti mengaji bareng dan ikut majlis2 gitu tdak mau dan slalu alasan capek butuh istrahat. Sdangkan suami ingin sya ikut pndah k surbaya tmpatnya bekerja. Kadang jika sy cekcok dg ortu sya ingin ikut suami tp mengapa sya slalu tidak tega meninggalkan ortu dg alasan kerjaan ortu sya tiu membtuhkan tenaga bnyak sya hrs bantu.
    Yang jadi kebimbangan sy jg jika sy nanti ikut suami kesurbaya sya takut malah susah seperti mencari ilmu agama karna suami yg sperti itu.
    Maaf kalo tulisan sya acak-acakan mohon bantuannya ustad??

  • Pria
    03/05/2014 - 19:50 | Permalink

    Assalamu’alaikum pa.ustd..
    saya mau bertanya,istri meninggalkan rumah krn pada malam harinya kami bertengkar. pas malam jum’at kewajiban suami istrikan sunah hukumnya pa.ustd..tp istri sy menolak dengan nada kasar alasannya cape tp dengan kata2 kasar jawabnya. saya kemudian terdiam dan kembali membujuk istri tp istri tetap kasar menjawab sambil tangannya menyingkirkan sy dgn kasar,lalu sy terbawa emosi lalu kemudian sy menyingkirkan istri sy dgn kaki smbil sy berkata pergi dari sini kaloi sudah tdk suka lg?

  • admin
    07/05/2014 - 16:59 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb.

    Dari sudut pandang fiqih istri tidak boleh berkata kasar pada suami dan tidak boleh menolak hasrat suami.

    Namun untuk menyelesaikan permasalahan ini tidak akan selesai hanya dengan menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah haram. Seorang manusia perlu dididik dulu supaya kenal dengan Allah, baru kemudian dia akan mau mengamalkan kewajiban dan menjauhi larangan Allah. Jadi bagi seorang suami perlu introspeksi dulu, apa saja yang telah dilakukan di dalam keluarga untuk mengenalkan Allah dan Rasulnya kepada istri.

    Wassalam

  • Anonymous
    19/06/2014 - 22:32 | Permalink

    Assallamuallaikum pa ustadz.
    Saya mau bertanya,salahkah jika saya berkata begini kepada suami” saya tidak terima jika lebaran kali ini saya tidak pulang kampung ke rumah mamah”. Karena lebaran tahun kemaren ssaya tidak mudik alasan keuangan, padahal rumah saya sekarang di jakarta dan ibu saya di cianjur.
    Dan saya pun jarang sekali pulang mengunjungi orang tua.
    Bagaimana solusinya?
    Terima kasih

  • admin
    20/06/2014 - 11:06 | Permalink

    Wa alaikum salam

    Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, keutamaan bagi dirinya sebenarnya adalah ikut apa-apa saja yang diperintahkan oleh suaminya. Untuk urusan pulang kampung mengunjungi orang tua pun hal ini mesti atas persetujuan suami. Istri boleh-boleh saja mengusulkan sesuatu hal kepada suaminya, namun jika suami tidak setuju atas usul tersebut maka lebih baik istri taat saja atas keputusan suami tersebut.

    Pulang kampung / mudik mengunjungi orang tua sebenarnya bukan bagian dari ibadah puasa maupun idul fitri, jadi dalam hal ini dari sisi pandang agama Islam mau mudik atau tidak sebenarnya tidak menjadi dosa.

    Saran solusi:

    • Bicarakan baik-baik keinginan anda untuk mudik dengan suami.
    • Jika suami tetap memutuskan untuk tidak mudik, taatlah pada keputusan suami tersebut. Insya Allah ketaatan tersebut akan berpahala.
    • Berdoalah supaya keluarga anda diberi kelapangan rizki dan kesehatan agar dapat mengunjungi orangtua anda.

    Wassalam,

     

     

  • Anonymous
    26/06/2014 - 18:34 | Permalink

    Assalamualaikum pak,saya mau bertanya , mama saya sakit dan ingin tinggal dg saya,tetapi suami saya kurang setuju karena beliau hanya ingin kami tggal ber2 dg alasan tidak ingin ada campur tangan dlm keluarga kami,bagaimana seharusnya saya bertindak,sedangkan mama saya sakit,dan saya tidak ingin menyakiti hati mama saya,mohon petunjuk,trims :(

  • admin
    12/07/2014 - 06:19 | Permalink

    Wa alaikum salam,

    Untuk #2: Istri adalah menjadi tanggung jawab suaminya. Untuk istri pergi ke orang tua yang berwenang memberi izin adalah suami, bukan ipar maupun mertua.

    Seorang istri boleh saja minta kepada suami untuk pindah rumah, namun keputusan ada pada suami. Suami juga perlu memperhatikan bahwa keselamatan istri dan anaknya di dunia dan akhirat adalah tanggung jawab suami. Bisa saja dipertimbangkan, kalau ada hal-hal yang tidak sesuai syariat, suami dapat memutuskan untuk pindah rumah walaupun tidak disukai oleh mertua.

    Setahu saya tidak ada hadist yang secara khusus melarang adanya beberapa kepala keluarga dalam 1 rumah.

    Jika beberapa keluarga tinggal dalam 1 rumah yang sama, perlu diperhatikan bahwa antara saudara ipar bukan mahram, jadi ada kewajiban menutup aurat, tidak bersentuhan, dan membatasi pergaulan pada hal-hal yang penting saja.

    Dalam kasus anda, setiap kepala keluarga secara khusus bertanggung jawab untuk keluarganya sendiri. Bapak mertua bertanggung-jawab atas ibu mertua, kakak ipar perempuan adalah tanggung jawab suaminya masing-masing, anda adalah tanggung jawab suami anda.

    Untuk tanggung jawab atas seluruh rumah, ini sebaiknya berdasarkan kesepakatan saja, toh semuanya kan sudah dewasa.

    Moga-moga bermanfaat.

    Wassalam,

  • ani
    04/07/2014 - 13:45 | Permalink

    assalamualikum..wr.wb
    saya seorang istri, dan saya hamil 2 bulan. saya bekerja di cempaka putih, dan tinggal kontrakan di pasar rebo. suami saya kerja di bogor, rumah ortunya juga di bogor. suami jarang pulang karena kelelahan bekerja sehingga suami menginap di rmh ortu`y. saya meminta izin buat tinggal di dekat rmh ortu kandung saya, agar saya ada yang jaga juga merhatikan saya. untuk saat ini saya sendirian suka takut. dan apa lg jarak yang saya tempuh jauh juga macet, saya sudah bilang..dgn suami saya agar secepatnya pindah, krn demi kandungan saya. tp suami saya tdk pernah enak menjawab. “klo mau pindah, ya pindah aja.. bawa barang2`y sendiri. nanti aku nyusul. mungkin aku dtg seminggu 2 x krn jauh” pd hal jarak stasiun kereta api dr cawang dekat dgn tempt tinggal yg baru nanti. alasannya jauh. apa saya salah.. dgn keadaan seperti ini, meminta untuk tinggal dkat ortu sendiri, krn saya mengkhawatirkan janin saya. saya meminta baik2, tp terkadang dia slalu berbicara bawa aja baju`y nanti aku antar ke ortu, biar aku bicara ke ortu kamu, agar berpikir. tiap bertengkar dia slalu mengucapkan kalimat itu, slalu ucapan kata “pisah” pd hal saya berinisiatif untuk kebaikan anak kita.

  • Hana
    12/07/2014 - 14:31 | Permalink

    Ass.,,
    Saya mau tanya saya blm stahun menikah dg suami saya, saat ini saya mengandung 8bulan, th ini adl pertama kali ramadhan dan insyaallah lebaran bersama suami. Kami tinggal dirumah ortunya yg jarang ditempati krn mereka tugas disulawesi, sekitar sebulan skali pasti org tuanya pulang dan tinggal dy kami,, sdangkan org tua saya tinggal dekat rumah kami yaitu masih dlm 1 kelurahan. Yg saya permasalahkan adl kami blm ada kesepakatan lebaran th ini dimana, namun org tuanya sudah berpesan lebaran pertama di rumah mertua saya lumpul dy kel mereka, saya usul sama suami “bagaimana kalau kita malam takbir sampai lebaran pertama jam 12 siang kita dirumah dia kumpul dg keluarganya, namun jam 12 siang kita kerumah org tua saya dimana semua keluarga besar aetiap lebaran kumpul dirumah org tua saya hanya pasa lebaran hari pertama?” Namu suami saya menolak dg alasan kalau bertemu keluarga saya sdh cukup sering (namun bukan kel besar), namun sy fkir lagi kalau hari pertama dikeluarganya dan hari kesua saya haruwngikuti keluarganya jg untuk eberkunjung keliling kerumah kerabatnya lalu kapan saya ketemu keluarga saya? Toh rumah kel saya dekat skali tdk butuh banyak waktubuntuk menempuh jarak kesana mungkin hanya 5-10 menit. Jd maksus saya agar adil setengah hari dg kel dia stengah kg dg kel saya.. Krn hari kedua kerabat2 keluarga saya sudah tdk dirumah ortu saya. Saya sedih krn jg sdh hampir 1 th tdk bertemu nenek dan keluatga besar. Apa saya salah kalau saya kesal?? Sebelumnya say sudah kinta jg untuk tinggal berdua saja dg mengontrak agar sama2 tdk ad campur tangan kel masing2 tp dia jg menolak dn minta thl drumahnya dg alasan toh ortunya jarang pulang. Sdh saya turuti.. Lama kelamaan saya muak.. Bagaimana ya? Plis sarannya.. Terimakasih..

  • AFL
    06/07/2014 - 20:44 | Permalink

    Assalamualaikum wr.wb

    Mohon di bantu untuk permasalahan sy. Sy sudah menikah dg suami sy slma 2thn 7 buln, dan dr awal pernikahan sy tinggal dgn mertua dan ke 3 kk ipar sy.
    Suami sy adalah anak bontot, kk ipar sy perempuan 2 dan laki2 1(bru bercerai dgn istri), semuanya sudah berkeluarga, dan tinggal satu atap dengan sy, suami, dan ke dua mertua sy. Jumlah kepala keluarga dalam rumah tersebut ada 4 kepala.

    Permasalahannya adlh;
    1. Sy merasa selalu di perlakukan tdk adil krn suami sy anak bontot, jd setiap keputusan kami selalu salah. Dan kami harus selalu mengalah.

    2. Setiap sy ingin mengunjungi org tua saya, kk2 ipar sy selalu menceritakan kejelekan sy dan menghasut2 mertua sy sehingga membenci sy dan seperti tidak memberi izin, Pdhal suami sy sudah membri sy izin

    3. Sy bekerja, krn dirumah tidak ada pembantu, pekerjaan brsih2 dilakukan bersama, namun terkadang pekerjaan tersebut sengaja tidak di kerjakan, sehingga setiap sy pulang kerja, sy yg hrus membersihkannya. Kalau dilihat mereka besok pagi2 pekerjaan bersih2 tsb blm saya kerjakan, pasti sy di sindir2.

    4. Sering terjadi cekcok antara saya dan ipar2 perempuan sy, biarpun sy benar, sy harus tetap mengalah, utk manjaga perasaan mertua sy, namun lama kelamaan ko mereka semua jd tambah semena mena ya terhadap saya, ?

    5. Sy dan suami tidak di beri izin mengontrak / pindah dr rmh mertua sy, biasanya mertua sy akan marah, dan ipar2 sy akan bersikap tidak baik dan tidak ramah utk beberapa wktu kepada sy.

    Dan masih bnyk lg permasalahan dlm kehidupan rumah tangga sy,
    Yg hidup nyampur dgn ipar dn mertua.

    Apakah saya salah, jika sy memohon kepada suami utk pindah rumah dan hidup berumah tangga mandiri ?

    Apakah ada hadist yg melarang bahwa dlm satu atap atau satu rumah ada lebih dari 2 kepala keluarga (drumah ada 4kepala) itu tidak boleh ??

    Mohon di bantu, jujur sy sudah tidak tahan dgn keadaan ini.

  • raziq
    07/07/2014 - 23:23 | Permalink

    Assalamu’alaikum,
    Pak ustadz saya mau tanya, anak laki2 yg telah menikah, apakah wajib memberi nafkah kepada orang tua nya yang sudah tidak bekerja lagi. Dan apakah juga wajib memberi uang kepada mertua?
    Terima kasih.
    Wassalam

  • Wawan
    13/07/2014 - 02:54 | Permalink

    Asslkum ustdz..sya sudah mnikah 1 tahun, sementara ini sya kerja dluar jawa&tidak memungkinkan utk membawa istri saya dikarenakan sering berpindah tempat,tergantung kontrak..jadi trkadang sebulan skali sya baru pulang.dan sementara ini istri tinggal dengan bapak mertua saya.
    Sbelum menikah kami sudah berkomitmen untuk tinggal drumah ortu saya,dikarenakn ibu saya sndirian&tanggung jawab saya utk merawat ibu saya..pada awal pernikahan istri mau ikut saya tinggal dgn ortu saya..1 bulan kmudian saya kmbli bkerja &istri ijin untuk mnengok mertua..dan mulai dari itu tidak mau lg kmbali tinggal dengan ibu saya,istri lbih mmilh tinggal drumah org tuanya..hanya ssekali berkunjung krumah ibu saya,kadang sbulan skali mnunggu saya cuti.
    Saya sering cekcok dgn istri krna msalh ini..dan kl saya nasehati mlah marah2 dgan kata2 kasar,brsikeras menolak..dgn brbagai alasan yg mnrut saya trlallu mngada-ada.mlah mmaksa saya utk mmilih istri atau ibu..dalm hati saya ttp mmilih ibu saya,tp saya jg brusaha utk ttp mmpertahnkan prnikahan saya..dan membujuk istri perlahan.
    Tpi hingga 1 tahun prnikahan, istri blum mgrti jg dgn tanggung jwb saya trhadp ibu saya..saya harus bgaimna mnentukan sikap?
    Sgala cara sudah sya lkukan untk mmbujuk&mmberi pngertian kpda istri..tapi ttap saja mnolak, bahkn brujung dgn pertengkaran&sllu dgn kata2 yg tdk pantas.padahal ibu saya jg sayang dgn istri,sangt berharap istri mau tinggal dgn beliau.
    Trmksih..

  • Wawan
    14/07/2014 - 00:20 | Permalink

    Asslkum wr.wb.
    Sya sudh mnikah slma 1 thun,utk smntara sya bkrja diluar jawa..dikarnakn sya sring pindah tmpat trgntung proyek, tdk mmungkinkan mmbawa istri ikut.smntara istri tinggal drumah mertua.sbulan sekali sya ada cuti 1 minggu.
    Sbnarnya dr awal prnikahan kami pnya komitmen bhwa stelah mnikah akn tinggal drumah saya(warisan dr ortu),skaligus merawat ibu saya saya yg sudah mnginjak usia senja.
    Tp pda kytaanya stlah mnikah istri tdak mau tinggal dgan ibu saya dgn brbgai alasan..tdak betah,tdak bebas, dan katanya ibu saya trllu crewet.stiap sya nasehati sllu mmbantah..tdak jarang dgn kata kasar yg mmbuat saya sakit hati, smpai prnah mminta saya utk mmilih antara istri dan ibu saya.Dalam hati saya ttp mmilih ibu saya..tp saya jg ingin ttp mmprtahankn prnikahn saya.sya cb brsabar&plan2 mmbujuknya..brharap lama klmaan psti mngrti akn tanggung jwab saya trhdap ibu saya.
    Tp smpai 1 tahun ini ttp blm brhasil jg..istri ttp menolak dgn keras tdk mau tinggal dgan ibu saya,smpai akhir-akhir ini stiap hari ribut krna msalh ini..
    Padahal ibu saya jg sayang dgn istri saya..dan sngat brharap istri brsdia tinggal dgan beliau..
    Saya harus brsikap bgaimna..?
    1.Slma ini sdah brsha mmbri pgrtian&mmbujuk istri, tp ttp mnolak..dan stelah saya tlusuri tdak ada msalh yg serius antra ibu dgn istri, hanya msalh-maslh spele..
    2.istri mlai brani mmbentak dgn nada tinggi, dan kasar..pahal slma pcran smpai mnikah sya tdk prnah mmbentak istri saya..

  • admin
    16/07/2014 - 13:35 | Permalink

    Assalamualaikum,

    Yth ibu Hana yang dirahmati Allah, alhamdulillah ibu sekarang mendapat kenikmatan yang banyak, antara lain:

    • mempunyai seorang suami
    • mengandung seorang anak yang insya Allah akan lahir bulan depan
    • berada dalam bulan Ramadhan yang penuh rahmat.
    • pihak orang tua dan mertua masih diberi umur panjang, moga-moga mereka bulan depan mendapat kesempatan untuk menimang cucu.

    Lebaran tahun ini akan menjadi lebaran pertama bagi anda dan suami anda, yang sepertinya masing-masing sudah terbiasa untuk merayakan hari raya di keluarga masing-masing seperti yang sudah dilakukan selama ini. Suami ingin dengan keluarganya, istri juga ingin dengan keluarganya. Dalam berbagai keluarga hal ini disiasati dengan berbagai cara:

    • ada yang di hari lebaran mengunjungi kedua-duanya, terutama kalau orang tua dan mertua berdekatan
    • ada yang gantian setiap tahun, misal tahun ini ke keluarga istri, tahun depan ke keluarga suami, demikian seterusnya. Biasanya ini kalau keluarga istri dan suami berjauhan.
    • Ada juga yang tidak mengunjungi orang tua maupun mertua, karena satu dan lain hal, misal sedang di luar negeri, atau masalah ongkos karena jauh.

    Jadi menurut saya hal ini dibincangkan saja dengan suami, dan sebagai istri tidak usah lah memaksakan keinginan diri, karena wajib bagi istri untuk mengikuti keputusan suaminya. Perjalanan anda dan suami masih panjang, anda berdua insya Allah akan menempuh puluhan lebaran bersama-sama. Kalaupun lebaran ini anda tidak dirizkikan bertemu saudara-saudara tertentu, moga-moga masih dapat bertemu di lain waktu.

    Dari sisi hukum, anda perlu pilah-pilah juga mana yang wajib, mana yang sunat. Mengunjungi keluarga pada waktu lebaran itu dari sisi agama Islam hukumnya sunat, bukan wajib. Di sisi lain taat pada suami itu adalah wajib. Jadi jangan sampai mengejar amalan yang sunat tapi malah meninggalkan yang wajib.

    Wassalam.

  • admin
    16/07/2014 - 13:39 | Permalink

    Wa alaikum salam,

    Seorang laki-laki yang sudah menikah masih punya kewajiban untuk mengurus orangtuanya, jadi kalau orang tuanya hidup kekurangan, laki-laki tersebut punya kewajiban untuk menafkahi orangtuanya. Jadi jangan sampai orangtuanya tidak makan, tidak ada sandang, pangan papan.

    Sang suami tersebut juga tetap wajib untuk mengurus istri-istri dan anak-anaknya. Berapa pembagiannya antara orang tua, istri dan anak tidak ada ketentuannya, jadi terserah saja kebijaksanaan sang suami tersebut.

    Seorang laki-laki tidak wajib memberi uang kepada mertuanya. Kalau mau memberi juga tidak masalah sebagai hadiah.

    Wassalam,

  • admin
    16/07/2014 - 13:54 | Permalink

    Wa alaikum salam,

    Dalam menghadapi permasalahan keluarga, perlu disadari bahwa suami dan istri keduanya mempunyai kewajiban.

    Salah satu kewajiban suami adalah memelihara istri & anaknya dari api neraka. Untuk itu suami perlu memastikan:

    • Aqidah: Istrinya memahami & meyakini akidah Islam
    • Syariat:Istrinya memahami & melaksanakan syariat Islam, terutama yang fardhu ain: shalat, puasa, zakat, menutup aurat, makanan halal
    • Akhlak: Istrinya memahami akhlak Islam, misalnya: berperilaku, adab berbicara, adab bergaul
    • Setelah 3 asas pokok di atas, barulah istri dapat memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajiban istri dalam keluarga.

    Dari sisi syariat sebenarnya sederhana:

    • istri wajib taat suami
    • suami wajib mengurus orangtuanya

    namun untuk dapat melaksanakan hal tersebut, dasar-dasarnya sudah harus ada, yaitu aqidah, syariat & akhlak pada suami & istri. Supaya dasar-dasar ada, suami perlu memastikan istrinya sudah mengerti, kalau belum mengerti , maka suami mesti mengajari istri, atau cari guru yang kompeten.

  • Slvi
    20/07/2014 - 11:26 | Permalink

    Assallamualaikum wr wb

    Ust saya baru menikah 4bulan yg lalu dan sedang mengandung, rumah orang tua sy dengan orang tua suami sy sangat berdekatan, sy sudah sepakat dengan suami sy untuk bolak balik karna tidak jauh, sy merasakan baru seminggu tinggal di rmh mertua sy sdh tidak betah rasa nya sy ingin pindah dan mempunyai rmh, karna sifat mertua sy yg saya tidak suka dan selalu bikin sy kesal, akhir2 ini mertua sy selalu ngejelekin sy dengan perkatan yg tidak enak, membuat sy sakit hati karna tidak sekali dia seperti itu. Sy punya salah pun tidak. Sy kesal dan sy pun cerita kepda suami sy apa yg orang tua dia lakukan terhadap sy, suami sy pun kesal tapi dia mikir itu pun juga orang tua sy, kamu pun istri sy, sy kesal kalau istri sy di gituin.. Ucapan suami sy!! Akhir nya pun sy kerumah orang tua sy karna sy mls ngeliat wajah mertua sy, suami sy pun biasa saja sy ke rumah orang tua sy, dan akhir nya saya tidur tepisah bukan di karena kan sy berantem dengan suami tapi suami lebih betah di rumah orang tua nya. Apa yg harus sy lakukan kepada mertua dan suami sy?

  • Pingback: Apakah keluarga boleh melarang ketika istri dibawa suami pindah rumah | Keluarga Islami

  • lynda
    05/08/2014 - 19:44 | Permalink

    asslamu`alaikum wr.wb
    ustadz saya mau minta solusi..
    sya usianya 20 thun…
    sya mnikah 2,5 tahun.. saya ikut mertua saya.
    selama itu sya di terpa rasa galau ustadz, krna suamiq slama itu tdk penah prhtian sma sya. selama itu jga dia selalu ngatain sya dngan kta2 yang ksar. dan selalu di marahin. dia sprti itu krna dia lbh pntar n cerdas drpda sya.. sya krja dpat 5 blan sya tdak prnah di nafkahi. sya cma di kasih uang 10 rb buat bli bnsin. pdahal suami sya udah kerja dri awal qta mnikah..
    suami sya tdak prnah mnepati janji n dia ska brkta ksar sma sya. slama ini saya mrsa tdk prnh d anggp sbgai istri.. sya capek ustadz.. sya harus n slama di rmah dia sya slalu slah di mta dia.. dia tdak prnah ada waktu buat saya dan anak saya.. pdahal saya udah prnah pndah ke rmh sya sndri biar dia brbah. tpu smpai sya ikut ke rmh dia lagy dia tetap begitu.. tolong solusinya ustadz

  • sri s
    29/09/2014 - 14:43 | Permalink

    bgus bgt artikel’y.

  • windi
    15/11/2014 - 00:22 | Permalink

    Saya sudah menikah 3 tahun. Saya melarang suami merokok… tapi suami masih saja merokok sudah dibicarakan mulai dari bicara lembut sampai akhirnya belakangan ini karena kami sudah punya bayi saya lebih ketat lagi membuat peraturan. Contohnya jika mau tidur maka suami harus bersih-bersih dan ganti pakaian. Tapi suami tidak terima malah menyumpahi saya agar tidak masuk surga. Apakah bnr saya sudah durhaka? Sampai suami tega menyumpahi saya begitu? :-‘(

  • puput
    17/01/2015 - 16:36 | Permalink

    Ass
    Saya mau bertanya salahkah saya pergi dri rumah tanpa pamit pada suami
    Saya pergi ud gak tahan dgan kelakuanya . Suami saya salah jalan tidak djalan allah . Semenjak sering k diskotik berubah . Aq pergi hanya ingin suami saya berubah .

  • Pingback: Ilmu Dasar Membina Keluarga | Keluarga Islami

  • 16/03/2015 - 10:36 | Permalink

    Artikel ini merupakan ilmu yang wajib dipahami baik oleh suami maupun istri

  • alimusthofalasem
    31/03/2015 - 04:52 | Permalink

    Q sedih mlihat tingkah laku istri saya.,,, yg smkn hari smakin bikin saya mrintih kesedihan dlm tingkah lakunya.smg istriku sadar jd istri yg sholehah dan mjlankn tugas selayaknya sorg istri sesuai syariat agama….amin3x ya robb

  • User
    04/04/2015 - 07:00 | Permalink

    makasih atas artikelnya

    ya ALLOH semoga engkau mengampuni dosa-dosa istriku

  • wulan
    28/04/2015 - 21:30 | Permalink

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Ustad saya mau cerita..
    Kapan hari saya berantem sama ibu saya di karenakan say di suruh kerja,padahal suami melarang.lagian saya juga masih punya anak kecil,3 cwe semua.waktu itu ibu saya lagi butuh uang sedangkan waktu itu saya punya tapi sangat mepet,tapi suami tidak mengijinkan,karena ibu saya selalu menggantungkan terus..cuma kemaren saja sya tidak memberi uang.tapi saya juga punya kakak laki2,dy tidak pernah membantu ibu,tapi mas saya kadang kasih uang 200rb setiap bulan..sedangkan saya tidak jatah.tapi kalau ketemu ibu saya selalu kasih uang kadang 150rb kandang 100 kadang 1jt..kalau dapet rejeki ibu saya tak ajak makan ke restaurant..saya sangat sayang dan perhatian sama ibu saya..tapi perhatian saya tidak pernah dianggap..malah kapan hari ibu saya bilang,mana balas budimu..aku sudah melahirkan kamu,merawatmu,menyekolahkanmu,tapi kamu gak ada balas budi,geton aku punya anak kayak kamu..aku pengen kamu kerja..trus saya bilang suamiq gak ngijinin..lagian saya jga punya anak bu..tapi ibu saya bersih keras nyuruh saya kerja supaya saya jatah ibu tiap bulan,supaya sma kayak mas saya..padahal mas sya cma kasih 200rb tiap bulan..sedangkan sya kalau di total aja pasti hampir 2jt perbulan..tp gak dianggap..minta bayar listrik saya kasih,bayar air saya kasih..
    Jujur hati saya sangat kecewa ibu bilang gtu ke saya..trus saya emosi lalu saya bilang ke ibu..oke bu,aku kerja q akan turuti kemauan ibu,tapi kalau ada apa2 sama anak n suamiku,kalau suamiku selingkuh dan saya cerai,ibu tak salahkan..
    Ibu kok malah nyuruh q melawan suamiq,soalnya ibu saya sendiri telah berani sama bapak sya..tapi saya gak mau berani sama suami saya ustad..
    Jujur saya malu dengan suami saya karna sifat ibu saya yg suka ngeriwuk I bahasa kasarnya.padahal mertua saya tidak pernah seperti itu.sesusah susahnya mertua saya tidak pernah ngeriwuk I rmah tangga saya dan suami..semenjak mertua saya punya uang,saya dan suami saya dibelikan rumah dan dikasih uang untuk modal usaha..saya malu ustad semenjak nikah ortu saya tidak pernah kasih saya uang..tapi kalau ibu saya punya uang dy lupa dngan anak2 saya..malah ingat dengan anak kakak laki2 saya..padahal kakak laki2 saya malah bikinkan rumah untuk mertuanya..tapi lupa dngan ibunya..ibu saya mendekati anak2 saya supaya suami saya senang (bahasa kasarnya ndolek ati)pngend dikasih warisan..emang mertua saya kaya ustad
    Saya harus gmna ustad.?
    Dosakah saya melawan ibu saya gara2 saya disuruh kerja sama ibu saya,tetapi suami melarang,dikarenakan saya punya anak dan punya suami,tapi suami sudah menyukupi lahir dan batin sya.?
    Terima kasih..

    • admin
      07/05/2015 - 07:09 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb
      Ketaatan terhadap suami lebih tinggi derajatnya, jadi sudah tepat bagi istri untuk tidak bekerja karena perintah suami.
      Terhadap ibu, cukuplah dengan tidak berkata-kata kasar, walaupun perkataannya tidak disukai.

      wassalam,

  • wulan
    28/04/2015 - 21:48 | Permalink

    Dan saya juga bilang ustad ke ibu saya..
    Mankane ta bu..sampean iku shalato,supaya bisa berfikiran positif dan gak negatif trus..
    Anak punya perhiasan atau enak sedikit saja sudah iri..saya pakai perhiasan kan dibelikan suami saya..bukan ibu..n ojok suka ngadu domba antara saya dan kakak laki2 saya..selama ini tak kasih uang,tak belikan baju dll..tapi bilang ke orang2 saya tidak pernah kasih apa2..kalau suami sya tau gmna?pasti dy marah..dan pasti saya dilarang untuk kasih uang ke ibu lagi..
    Bersyukur bu..masih banyak orang di bawah..
    Saya bilang begitu jga ustad..
    Salahkan saya ustad?dosakah saya ustad?jujur saya geton sudah bilang bgtu ke ibu saya..tapi saya pngend ibu saya sadar..

  • liya
    06/05/2015 - 18:58 | Permalink

    Assalamu’alaikum…pak ustad
    Saya minta pencerhanx,saya brusia 24thn,menikah br 6 bln n blum dkarunia i anak,, sya tggal brsma klrg suami pak ibu n adik laki2 nya,, saat ini sya plg krmh ortu,gr2 mertua mngadukan saya kpd suami hny krn sya telat mmberi jtah uwg, pdhl slma ne yg brkrja pnuh adl saya, awalx sy tak prnh ungkit gaji suami krn sy ikhlas,krn pngeluaran kami byk,sya g ckup bagi uwg kpd mertua,bhkan gaji sya pun g bz sy nkmati sndry,,,krn aduan mertua suami melontarkan kt2 yg sgt mnyakitkan, sekali pak, hingga saya g sggup plg krmh x n mmlih kmbali k org tua utk smntara wkt, ap yg harus sya lakukan pak…

    • admin
      07/05/2015 - 06:55 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Usia pernikahan 6 bulan adalah sangat muda, sangat mungkin ada hal-hal yang belum terbiasa di pihak istri maupun suami.
      Dalam kasus anda ini malah melibatkan keluarga mertua, sehingga perkaranya menjadi lebih kompleks.
      Mengenai gaji, apakah suami dan istri sudah sama-sama tahu dan paham mengenai hukum syariat tentang gaji/pendapatan istri dan gaji/pendapatan suami?
      Jika belum, pastikan dulu bahwa hal ini dipahami oleh suami & istri.

      Tindakan anda untuk pergi dari suami tidak tepat, karena suami memiliki hak atas anda.
      Salah satu kewajiban istri adalah taat pada perintah suaminya, termasuk perintah untuk tinggal sehari-hari bersama suami.

      wassalam,

  • 06/05/2015 - 22:15 | Permalink

    asalmualaikum wr wb.

    pak ust sya mau mnta penjelasan tntang istri saya..
    sya sdah mnikah slama 1thn.
    trus sya kpengen istri saya ikut bersama sya di kampung sya.
    terus istri saya belum mau ikut saya hanya karna anak sya yg masi balita.
    istri sya kpeng anak sya di besarkan di kampungnya. sdangan sya mau anak sya. sya bersarkan oleh saya sendiri tanpa ada orang lain yg mau mengurus anak saya.. apakah saya yg dosa atau istri saya yd berdoasa yg tdk mau ikut brsama sya di kampung saya..
    mhon petujuknya..
    wa’alaikum salam

    • admin
      07/05/2015 - 06:50 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Istri wajib mengikuti perintah/suruhan suami selama bukan ajakan kepada kemaksiatan.
      Dalam hal ini istri berdosa jika suami memerintahkan untuk pindah, namun istri menolak.
      Walapun suami punya hak mutlak, sebaiknya tetap hal ini didiskusikan baik-baik dengan istri.
      Suami dan istri juga perlu melengkapkan ilmu-ilmu berkeluarga, sebab siapa tahu ada hal-hal yang belum diketahui, sehingga istri ataupun suami salah dalam bertindak: http://keluarga.kawansejati.org/ilmu-dasar-membina-keluarga/

  • as aria
    10/05/2015 - 08:16 | Permalink

    assalamualaikum pak ustaz,,,, saya mau minta Saran apa yg saya lakukn bener atau tidak,,,saya istri termuda suami saya,,,, ketidak adilan suami saya begitu nyata untuk saya Dan anak2 ,,,,selalu yg mencari uang mencari nafkah hidup itu saya,,,dr mulai lahir anak pertama,Dan Kedua,,Dan suami hanya menerima hasil dr saya dengan amarah jika tidak di beri,,,Dan uang yg di minta dr saya untuk di berikannn untuk Kedua istri Dan anak2 yg lain,,,

    Dan jika saya mau minta sesuatu untuk kebutuhan anak2 yg Ada sama saya,,,, Dia selalu, bilang nantilah,,,, Dan jika saya Udah Marah,,,baru iya belik an misal seperti susu Dan pampers,,,,Namunn setelah kelang be berapa jam iya mmberikan itu,,, iya minta ganti dengan hal2 lain nya,,,agar saya belik kn apa yg Dia minta,,,, Namunn itu terjadi hanya sama saya,,Dan Kedua istri yg lain tidak seperti dilakukan,,,,
    Jadi saat ini saya pergi dari rumah. Dan itu sepengetahuan Dia,,,tohhhh saya gak sanggup,,harus menafkahi seluruhhh kelaurga Dia trus menerus,,,, apakah cara ini saya salah pakkkk,,,,, untuk ke adilan diri saya Dan anak2

  • siti hajar sella
    16/05/2015 - 22:35 | Permalink

    assalamu’alaikum .
    pak ustadz saya mau tanya , apakah saya berdosa trhadap suami jika saya memarahinya karna dy tidak mngajak saya sholat bersama ?? ..
    masjid kan jauh dari rumah jadi suami sholatnya di rumah aja . tapi dy sering sholat sendiri ,saya pun sholat nya sndiri . kalo saya ajakin dy sholat bareng pasti dy ngomong nya saya aja yg sholat duluan . saya dosa ga kalo marah ke dy karna haL itu ??

    • admin
      18/05/2015 - 05:03 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Shalat berjamaah itu hukumnya sunat, artinya berpahala jika dilaksanakan, tidak berdosa jika ditinggalkan.
      Beradab pada suami hukumnya adalah wajib.
      Dalam hal ini jangan sampai meninggalkan perkara wajib karena ingin melaksanakan perkara sunat.
      Wassalam

  • usga
    19/05/2015 - 02:49 | Permalink

    Alhamdulillah, semoga amalan berbagi ilmu pak ustad sangat bermanfaat dan pahala pak ustad tidak putus. Ijin share ya pak ustad. Semoga kita termasuk golongan2 yg ahli surga.

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Powered by: Wordpress