Artikel Keluarga

Bab 2.07 Kewajiban Istri Terhadap Suami

  1. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    “Kaum laki-laki itu pemimpin wanita. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) alas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita yang solehah ialah mereka yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada menurut apa yang Allah kehendaki. ”
    “Wanita-wanita yang kamu kuatirkan akan durhaka padamu, maka nasehatilah mereka (didiklah) mereka. Dan pisahkanlah dari tempat tidur mereka (jangan disetubuhi) dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu bersikap curang. Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An Nisa : 34)
  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja isteri yang meninggal dunia, sedangkan suaminya redha terhadap kepergiannya, maka ia akan masuk Surga.”
    (Riwayat Tarmizi)
  3. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki.”
    (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
  4. Seorang perempuan datang ke hadapan Nabi SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah SAW, saya mewakili kaum wanita untuk menghadap tuan (untuk menanyakan tentang sesuatu). Berperang itu diwajibkan oleh Allah hanya untuk kaum laki-laki, jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala dan kalau terbunuh, maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah. lagi dicukupkan rezekinya (dengan buah-buahan Surga). Dan kami kaum perempuan selalu melakukan kewajiban terhadap mereka (yaitu melayani mereka dan membantu keperluan mereka) lalu apakah kami boleh ikut memperoleh pahala berperang itu?
    Maka Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang menjalankannya.”
  5. Sayidina Ali k.w.j. berkata: “Seburuk-buruk sifat bagi kaum laki laki itu adalah sebaik-baik sifat bagi kaum perempuan yaitu kikir dan bersikap keras dan takut. Karena sesungguhnya perempuan itu jika kikir, maka ia memelihara harta suaminya dan jika bersikap keras, maka ia menjaga diri dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang halus (mesra) yang menimbulkan sangkaan yang buruk, dan jika penakut. maka ia takut dari segala sesuatu, oleh karena itu ia tidak berani keluar dari rumahnya dan ia menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan kecurigaan yang buruk karena takut kepada suaminya“.
  6. Seharusnya seorang isteri mengetahui kedudukan dirinya seolah olah seorang ‘hamba’ perempuan yang dimiliki oleh suaminya atau sebagai ‘tawanan’ yang lemah. Oleh karena itu dia tidak boleh membelanjakan sedikit pun dari hartanya (sendiri) kecuali dengan seijin suaminya karena ia diumpamakan sebagai orang yang dalam kawalan (perhatian).
  7. Wajib bagi seorang isteri:
    • Merendahkan pandangannya terhadap suaminya.
    • Tidak berkhianat terhadap suaminya ketika suaminya tidak ada termasuk juga hartanya.
    • Menunaikan hajat suami (jika diajak oleh suaminya) biarpun di waktu sibuk atau susah (ditamsilkan berada di punggung unta oleh Rasulullah).
    • Meminta ijin suami untuk keluar dari rumahnya. Kalau keluar rumah tanpa ijin suaminya maka dia dilaknati oleh malaikat sampai ia bertaubat dan kembali.
  8. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda, maksudnya:
    “Sungguh-sungguh meminta ampun untuk seorang isteri yang berbakti kepada suaminya yaitu burung di udara, ikan-ikan di air dan malaikat di langit selama ia selalu dalam kerelaan suaminya. Dan siapa saja dikalangan isteri yang tidak berbakti kepada suaminya, maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia. “
  9. Siapa saja di kalangan isteri yang bermuka masam di hadapan suaminya, maka ia dalam kemurkaan Allah sampai ia dapat membuat suasana yang menggembirakan suaminya dan memohon kerelaannya.
  10. Aisyah r.ha berkata:
    “Wahai kaum wanita Seandainya kamu mengerti kewajiban terhadap suamimu, tentu seorang isteri akan menyapu debu dari kedua telapak kaki suaminya dengan sebagian mukanya.”
  11. . Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    Tiga orang yang tidak diterima sholatnya (tidak diberi pahala sholatnya) oleh Allah dan tidak diangkat kebaikan mereka ke langit ialah: hamba yang lari dari tuannya hinggalah dia kembali, seorang isteri yang dimurkai oleh suaminya hinggalah dia memaafkannya, orang yang mabuk hingga dia sadar kembali.
  12. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Jika seorang isteri berkata kepada suaminya: Tidak pernah aku melihat kebaikanmu sama sekali, maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.”
    Keterangan:
    Maksud Hadis ini ialah jika seorang isteri memperkecilkan usaha baik suaminya seperti dalam memberi nafkah dan memberi pakaian maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.
  13. Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
    “Siapa saja isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab-sebab yang sangat diperlukan, maka haramlah bau Surga ke atasnya.”
    Keterangan:
    Hal ini biasanya terjadi pada seorang isteri yang tidak berminat kepada suaminya lagi kecuali kalau dia meminta cerai kepadanya karena kuatir tidak dapat menjalankan kewajiban terhadap suaminya untuk menghindarkan diri dari kekecewaan suaminya.
  14. Nabi SAW bersabda maksudnya:
    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya.”
    Keterangan:
    Hal ini biasa terjadi pada suami yang miskin dan isteri yang kaya. Lalu isteri itu menafkahkan hartanya kepada suaminya, kemudian mengungkitnya.
  15. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Pertama urusan yang ditanyakan kepada isteri pada hari Kiamat nanti ialah mengenai sholatnya dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya atau tidak). “
  16. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Empat perempuan yang berada di Neraka ialah:
    Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinva (memarahinya). Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
    Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
    Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya.”

    Keterangan:
    Seorang perempuan yang bersifat dengan sifat-sifat ini akan dilaknati kecuali jika dia bertaubat.
  17. Al Hakim bercerita bahwa seorang perempuan berkata kepada Nabi SAW: “Sesungguhnya putera bapa saudaraku melamarku. Oleh karena itu berilah peringatan kepadaku apa kewajiban seorang isteri terhadap suaminya. Kalau kewajiban itu sesuatu yang mampu aku jalankan, maka aku bersedia dinikahkan.” Maka Baginda bersabda: “Kalau mengalir darah dan nanah dari kedua lubang hidung suaminya lalu (isteri) menjilatnya, maka itu pun belum dianggap menjalankan kewajibannya terhadap suaminya. Seandainya diperbolehkan untuk manusia bersujud kepada manusia lain, tentu aku perintahkan :seorang isteri bersujud kepada suaminya.”
    Berkatalah perempuan itu, “Demi Tuhan yang mengutus Tuan, aku tidak akan menikah selama dunia ini masih ada.”
  18. Imam Thabrani menceritakan bahwa seorang isteri tidak dianggap menjalankan kewajibannya terhadap Allah hingga ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya, dan seandainya suami memintanya (untuk digauli) sedang ia (isteri) di atas belakang unta maka tidak boleh dia menolaknya.
  19. Sayidina Ali k.w.j. berkata: “Aku masuk ke rumah Nabi SAW berserta Fatimah lalu aku dapati Baginda sedang menangis tersedu-sedu, kemudian aku berkata: “Tebusan Tuan adalah ayahku dan ibuku wahai Rasulullah, apakah yang membuat Tuan menangis?” Baginda bersabda, “Wahai Ali! Pada malam aku diangkat ke langit aku melihat kaum perempuan dari umatku disiksa di Neraka dengan bermacam-macam siksaan, lalu aku menangis karena begitu berat siksaan mereka yang aku lihat. Aku melihat perempuan yang digantung dengan rambutnya serta mendidih otaknya. Dan aku melihat perempuan yang digantung dengan lidahnya sedangkan air panas dituangkan pada tenggorokannya.
    Dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua-dua kakinya sampai kedua-dua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ubun-ubunnya dan Allah mengarahkan ular ular dan kalajengking menyengatinya. Dan aku melihat seorang perempuan yang berkepala babi dan bertubuh keledai dan ia ditimpakan sejuta siksaan. Dan aku melihat seorang perempuan berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya (jalan belakang) sementara malaikat memukul kepalanya dengan tongkat besar dari api Neraka
    .” Lalu Sayidatina Fatimah Az Zahra r.ha berdiri dan berkata, “Wahai kekasihku dan cahaya mataku! Perbuatan apa yang dilakukan oleh mereka hingga ditimpa seksaan ini?” Maka Nabi SAW bersabda: “Wahai anakku! Adapun perempuan yang digantung rambutnya itu adalah karena dia tidak menutupi rambutnya dari pandangan kaum laki-laki ajnabi.
    Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya karena dia telah menyakiti suaminya.
    Adapun perempuan yang digantung kedua-dua susunya karena dia telah mempersilahkan (orang lain) untuk menduduki tempat tidur suaminya.
    Adapun perempuan yang diikat kedua-dua kakinya sampai keduadua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ke ubun ubunnya dan Allah mengarahkan ular-ular untuk menggigitnya dan kala jengking untuk menyengatinya karena dia tidak mandi junub setelah haid dan dia mempermainkan (meninggalkan) sholat. Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan keledai karena dia adalah ahli adu domba dan pembohong. Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk ke mulutnya dan keluar dari duburnya karena ia ahli umpat lagi penghasut.
    Wahai anakku! Celaka bagi perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya.
  20. Seorang isteri hendaklah menyadari bahwa seorang suami bagi isteri adalah bagaikan ayah bagi seorang anak karena taatnya seorang anak kepada ayahnya dan memohon keredhaannya adalah wajib Seorang suami pula tidak wajib mentaati isteri
  21. Menjadi pendorong serta penasehat dalam hal-hal kebaikan.
  22. Memahami hal-hal yang digemari dan yang dibenci oleh suami.
  23. Setiap perbuatannya hendaklah menyenangkan hati suami.
  24. Senantiasa menambahkan ilmu agamanya serta amalan.amalannya dengan berbagai macam cara seperti membaca, mendengar kaset-kaset ceramah agama serta mengikuti majlis- majlis agama.
  25. Demi cinta terhadap suaminya seorang isteri akan melakukan khidmat dan bakti kepada suaminya cara hal yang sebesar. besarnya sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti menggunting kuku, memotong kumis, dan meminyakkan rambut suami. Rasulullah SAW pernah berkata kepada Siti Fatimah: “Ya Fatimah, apabila seorang wanita meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya, memotong kumis dan menggunting kukunya maka Allah akan memberinya minum dari air Surga yang mengalir di sungai sungainya dan diringankan Allah baginya sakaratul maul dan akan didapatinya kubumya menjadi sebuah taman yang indah dan taman taman Surga.
  26. Senantiasa menyediakan air di sisi suami. Selama ia berbuat yang demikian selama itulah ia didoakan keampunan oleh para malaikat.
  27. Memasak makanan menurut kesukaan atau selera suami.
  28. Menambal baju atau pakaiannya yang buruk.
  29. Siapkan barang-barang keperluan di dalam sakunya seperti sisir, celak, sikat gigi. cermin dan minyak wangi (ikut Sunnah).
  30. Ikut kemauan suami pada waktu bersenda gurau, memijat, mengipas dan sebagainya.

257 Comments

1 3 4 5
  • darwono
    31/05/2015 - 21:38 | Permalink

    Assalamualaikum. Wr. Wb pa ustadt
    Saya mau tanya..?
    Apakah berdosa, haram atau najis bila seorang suami mengajak istri ya berkunjung kepada mertua ya..?
    Apakah seorang mertua harus tunduk dan patuh terhadap menantunya..?
    Apakah berdosa bila seorang suami memberikan makan atau sejenisnya tidak di terima atau di makan..?
    Terimakasih sebelumnya pa ustadt
    Assalamualaikum. Wr. Wb

  • ririn lestari
    02/06/2015 - 11:40 | Permalink

    Assalammuaikum
    Ustad saya ingin meminta pegarahan
    Saya baru saja menikah secara agama karna orang tua calon suami saya yg tidak merestuinya. Kami tinggal terpisah dan kerja masing” dan suami saya di jodohkan oleh orang tua nya dengan perempuan lain ternyata suami saya juga menyukainya. Karna saya sudah menjadi istrinya dan saya telanjur mencintainya sulit buat saya untuk meninggalkanya saya mengijinkannya untuk menikahinya. Tapi suami saya banyak berubah kehidupannya un tidak tertata. Saat ini mreka masih pacaran tapi suami saya sudah kebobolan dalam keuangan padahal saya juga tidak meminta apaun darinya. Sebagai istri saya hanya bsa berdoa untuk kebaikannya. Dia mengabaikan saya dan bersikap tidak seharusnya dia tidak menghargai perasaan saya. Tapi saya merasa dia lebih sakit dari saya karna ucapannya terhadap saya. Saya melihat dia menderita karna keadaan yg membuat dia seperti itu. Apa yg harus saya lakukan ustad. Trimakasih

    • admin
      04/06/2015 - 19:46 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Beristri lebih dari satu dalam agama Islam itu diperbolehkan, namun poligami ini bukan pekerjaan ringan. Semua pihak yang terlibat dalam poligami ini mesti betul-betul baik dalam melaksanakan ajaran agama Islam, baik amalan pribadi maupun amalan dalam berkeluarga. Ringkasannya dapat dibaca di:
      * Ringkasan amalan pribadi: http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2015/03/kewajiban-pribadi-utama-seorang-muslim.html
      * Ringkasan amalan keluarga: http://keluarga.kawansejati.org/ilmu-dasar-membina-keluarga/

      Anda menyebut suami anda pacaran, sedangkan dalam agama Islam tidak ada pacaran, yang ada adalah lamaran resmi untuk kemudian dilanjutkan dengan menikah. Selama belum menikah, calon suami istri ini tetap terikat syariat sebagai laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Jika suami anda ingin menikah lagi, hendaknya dilakukan sesuai dengan syariat Islam, supaya nantinya dalam menempuh poligami akan dipermudah oleh Allah. (http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2012/04/pacaran-islami.html)

      Dalam hal anda sebagai istri pertama, yang perlu segera dilakukan adalah mengurus status legal pernikahan anda dan melaksanakan kewajiban-kewajiban anda sebagai seorang muslimah dan seorang istri.

      Wassalam.

  • Adhitya Dwi Kurn
    03/06/2015 - 14:09 | Permalink

    Sangat bagus artikelnya, Tp menurut saya NO.1 DIATAS bila sang suami memukul istri itu sangatlah bertolak belakang dengan ajaran” tataan di tanah jawa,tentang BUDI PAKERTI, bagai manapun soarang suami sangat dilarang memukul istri (kaum hawa).

    Dan saya juga mau tanya, saya pernah membaca yg tertulis “lebih banyak wanita yang akan masuk neraka nanti ketika di ahkir zaman” mksud diri ini apa?

    1.Apakah ucapan “Lebih banyak menciptakan wanita di dunia ini drpda laki-laki”
    2.Apakah sangat banyak dr wanita yang melewati ajaran-ajaran agama yang di peluk nya?

    bila jawabanya no.2 Berarti di Indonesia banyak agama turunan, dalam arti islam yg tidak kafa dong?

    • admin
      06/06/2015 - 10:28 | Permalink

      Tentang memukul istri:

      Dalam ajaran Islam tidak dibenarkan untuk memukul istri, kecuali dalam kasus istri sudah dipisah ranjang masih tidak mau menurut pada suami. Pukulan di sini juga bukan maksudnya dipukul sampai babak belur, namun sekedar untuk memberi tahu ke istri bahwa suami sangat tidak senang dengan kedurhakaan istri. Saya tidak tahu tentang ajaran budi pekerti gaya Jawa, namun ada kemungkinan ada beberapa ajaran tersebut yang berbeda dengan ajaran Islam.

  • mariam
    20/06/2015 - 12:56 | Permalink

    Assalamu’alaikum ustad….
    Sy mhn pencerahan batin ….
    Saat ini sy sdg ada masalah mengenai rumah tangga, sy menikah sdh 5 tahun,blm ada keturunan, selama ini suami ikut sy ,krn sy ada rumah yg sdh menjadi hak sy. (Alm.orangtua sdh membuatkan rmh kpd anak2nya). Saat ini adik sy ingin membeli sebagian rmh sy ( 30m). Buat sy ga ada mslh,..hasil dr jual sebagian rmh ,sy ingin memperbaiki rmh dan menyelesaikan segala urusan sy, tetapi suami tdk setuju sy menjual ,katanya “sy tdk memikirkan perasaan dia, apa kata sdra2 sy …” jd menurut sy suami sy terlalu berpikiran jelek image ke dia …krn dia ikut sy, pdhal tak sedikitpun dihati dan pikiran untuk merendahkan harga diri suami. Akhirnya krn mslah ini sy jd sering ribut…sy bingung pak ustad…sy harus bagaimana?, terima kasih atas sarannya… Wassalam wr wb

    • admin
      22/06/2015 - 20:05 | Permalink

      Wa alaikum salam, wr wb
      Dalam perkara anda ini perlu dipastikan dulu bahwa suami & istri sama-sama memahami aturan-aturan dalam agama Islam. Jika sama-sama dipahami, insya Allah jika masalah apapun kehidupan keluarga akan tetap tenang.
      Rumah milik istri ini secara syariat Islam adalah 100% hak istri, istri dapat menggunakannya untuk apapun keperluan istri.
      Namun mengingat respon suami, kemungkinan ada sesuatu hal pada istri yang tak diterima suami. Mungkin saja selama ini ada masalah, namun tidak muncul.
      Saran saya selesaikan dulu permasalahan dengan suami anda, sebelum anda meneruskan proses menjual sebagian rumah. Jika proses penjualan dilanjutkan, takutnya masalah menjadi lebih kompleks dan lebih sulit ditangani.
      Hal-hal yang perlu dilakukan:
      * memastikan kewajiban kepada Allah sudah selesai, terutama perkara fardhu ‘ain (http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2015/03/kewajiban-pribadi-utama-seorang-muslim.html)
      * memastikan semua kewajiban kepada suami terpenuhi.
      * menghias amalan dengan hal-hal sunat, seperti ibadah malam, tahajud, bersedekah.

      Wassalam wr wb

  • ravika arindita
    22/06/2015 - 14:30 | Permalink

    Ustad saya ingin bertanya,,
    Baru satu bulan ini suami saya meninggal dunia,,,yg saya ingin tanyakan apakah saya n suami sayA nanti akan d pertemukan n d satukan kembali oleh allah ustad,,apakah ada surat n hadits yg mnerangkannya ustad..?

    Dan jika saya tidak menikah lagi sampai akhir hayat saya apakah blh ustad,,,?
    SayA akan menjaga kehormatan saya,,menjalan perintah” allah,.,.apakah boleh ustad..?

    • admin
      27/06/2015 - 12:02 | Permalink

      Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un
      Saya turut berduka cita atas meninggalnya suami.
      Pasangan suami istri di dunia akan dipertemukan kembali di surga, seperti dijelaskan di beberapa ayat:
      “Yaitu Surga Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan pasangannya, dan anak cucunya…” (QS Ar Rad : 23)
      “Mereka dan pasangan dan pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan dipan” (QS Yasin : 56)
      “Masuklah kamu ke dalam Surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan” (QS Az Zukhruf 70).
      Seorang janda boleh menikah lagi, bisa juga tidak menikah lagi karena alasan-alasan tertentu. Namun pada dasarnya seorang perempuan itu perlu seorang suami sebagai jalan untuk sampai ke surga, sehingga lebih baik jika ada kesempatan untuk menikah lagi.
      Untuk sementara ini anda dalam masa iddah, sebaiknya tidak usah memikirkan hal-hal menikah lagi atau tidak, lebih baik waktu yang ada saat ini dipakai untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Insya Allah nanti ada jalan keluar yang terbaik.
      Wassalam.

  • Mahmudah noorsalam
    24/06/2015 - 07:31 | Permalink

    Assalamu’alaikum ustad… skarang kami ad masalah yg susah kami pecahkn.. sy sedang menemani 9 anak-anak sy belajar d pdk tahfidh al fatah tumboro… dan suami tinggal jauh dari kami… anak2 merasa tidak betah belajar kalo kami tidakbersama mereka… tapi suami pertama setuju walaupun berat.. namun lama kelamaan suami nggak tahan karena merasa tdk terurus lahir bathinx… biar bagaimana istri hrs bersamax… saya juga paham kondisinya namun yg jd masalah anak2… yg tadi semangat belajar jadi down semua… gmn ustad ?AD SARAN YG TERBAIK BUAT KAMI.? JAZAKALLAH KHAIR USTAD ATAS JAWABANNYA….

    • admin
      04/07/2015 - 13:28 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Suami adalah pemimpin keluarga. Lebih baik sebagai istri segera laksanakan keinginan suami karena hukumnya wajib.
      Tentang anak-anak, insya Allah masih banyak jalan untuk pendidikan anak-anak. Jika sudah besar mestinya mereka sudah dapat lebih mandiri, sehingga dapat belajar tanpa perlu ditunggui orang tuanya.
      Wassalam.

  • rahmat
    24/06/2015 - 20:38 | Permalink

    assalamualaikum pa ustaz, saat ini sy mempunyai persoalan keluarga, umur saya 28 tahun istri 23 tahun dan mempunyai anak satu,dan mempunyai pekerjaan. yang menjadi persoalan adalah istri saya selalu ingin plang ke rumah mertua saya di kota yang berbeda dengan rumah ortu saya, dengan alasan ingin tinggal dirumah sendiri/punya rumah sendiri. dan biasanya 3 minggu di mertua saya dan 2 minggu di rumah ortu saya, sy sdh memberikan penjelasan kkepada istri saya secara baik baik agar tinggal dirumah ortu saya karena saya, dan ortu saya pun juga merindukan anak saya yang berumur 10 bulan, bgaimana menyikapinya pak ustaz

    • admin
      04/07/2015 - 13:26 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Seorang istri wajib ikut apa perintah suaminya. Jika suami minta istri ikut suami, maka istri mesti ikut.
      Untuk istri taat pada suami itu ada beberapa hal yang perlu ada:
      – Istri faham apa saja kewajiban istri.
      – Istri sanggup mujahadah/berjuang melawan keinginannya untuk tinggal di orang tuanya saja
      – Istri memiliki keyakinan/aqidah yang kuat

      Saran saya: Untuk dapat seperti itu, ada beberapa hal yang perlu disiapkan:
      – Melaksanakan semua kewajiban diri http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2015/03/kewajiban-pribadi-utama-seorang-muslim.html
      – Menguasai ilmu keluarga http://keluarga.kawansejati.org/ilmu-dasar-membina-keluarga/
      Hal-hal tersebut mesti dimiliki suami & istri.

      Mengingat anak anda masih berumur 10 bulan, nampaknya anda juga baru menikah. Moga-moga selanjutnya anda lebih selaras dengan istri.
      Wassalam.

  • Seny
    25/06/2015 - 02:16 | Permalink

    Assalamualaikum ustad.. Maaf ustad saya seorang istri dan saya sudah 2 tahun terpisah rumah dengan suami karena sesuatu hal yg sangat tidak mungkin saya dan suami tinggal di rumah orang tua saya di karenakan 2 tahun lalu suami pernh melakukan plecehan seksual terhadap anak prempuan saya berumur 6 tahun dr suami yg pertama. Suami saya yg sekarang ini adalah suami yg ke dua. Setauan yg lalu kami berdua memutuakan unk brcerai tapi suami sy memohon ampun dan bertobat tidak akn mngulangi perbuatan keji dan memohon tolong jangan bercerai karna suami masih ingin mempertahankan rumah tangga kami ini.. Dan hasilnya dengan berdoa dan memohon yg terbaik kpda Allah’ sy sebagai istri memaafkannya dengan konsekuwensi suami harus bnat2 bertobat dan tidak boleh dateng kerumah orang tua saya karna untuk mnjaga hal2 buruk. Jadi saat ini sy dan ank sy tinggal dengan orang tua sy dan suami tinggal di rumah orang tuanya.. Yg sy ingin tnyakn berdosakah sy pd suami sy karena sy tidak dapat mengurusnya krna sy juga punya ank prempuan yg sy harus perhatikan. Dan sampai saat ini suami masih memberikan nafkah lahir bathin. Dan ini yg selalu menganjal dipikiran sy berdosakah saya pd suami. Bhkan untk bertemu suami pun sy diam2 tanpa di ketahui ortu sy. Mohon pa ustad tolong kasih solusi terbaik’ harus bagaimana sy bersikap krna biar bgaimnapun kami msih ada status pernikahan dan sy juga takut berdosa pd suami saya.

    • admin
      04/07/2015 - 13:56 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      JIka status pernikahan masih sah, maka suami & istri terikat untuk melaksanakan hak & kewajibannya masing-masing.
      Anda bisa pastikan ke suami:
      – apakah suami mengizinkan istri tinggal di rumah orang tua istri
      – apakah suami tidak keberatan bahwa istri tidak dapat mengurusnya sehari-hari
      Jika suami tidak keberatan dengan hal tersebut, maka itri tidak berdosa.
      Wassalam.

  • Seny
    25/06/2015 - 02:18 | Permalink

    Assalamualaikum ustad.. Maaf ustad saya seorang istri dan saya sudah 2 tahun terpisah rumah dengan suami karena sesuatu hal yg sangat tidak mungkin saya dan suami tinggal di rumah orang tua saya di karenakan 2 tahun lalu suami pernh melakukan plecehan seksual terhadap anak prempuan saya berumur 6 tahun dr suami yg pertama. Suami saya yg sekarang ini adalah suami yg ke dua. Setauan yg lalu kami berdua memutuskan unk brcerai tapi suami sy memohon ampun dan bertobat tidak akn mngulangi perbuatan keji dan memohon tolong jangan bercerai karna suami masih ingin mempertahankan rumah tangga kami ini.. Dan hasilnya dengan berdoa dan memohon yg terbaik kpda Allah’ sy sebagai istri memaafkannya dengan konsekuwensi suami harus bnat2 bertobat dan tidak boleh dateng kerumah orang tua saya karna untuk mnjaga hal2 buruk. Jadi saat ini sy dan ank sy tinggal dengan orang tua sy dan suami tinggal di rumah orang tuanya.. Yg sy ingin tnyakn berdosakah sy pd suami sy karena sy tidak dapat mengurusnya krna sy juga punya ank prempuan yg sy harus perhatikan. Dan sampai saat ini suami masih memberikan nafkah lahir bathin. Dan ini yg selalu menganjal dipikiran sy berdosakah saya pd suami. Bhkan untk bertemu suami pun sy diam2 tanpa di ketahui ortu sy. Mohon pa ustad tolong kasih solusi terbaik’ harus bagaimana sy bersikap krna biar bgaimnapun kami msih ada status pernikahan dan sy juga takut berdosa pd suami saya. Wasalam

    • admin
      14/07/2015 - 11:30 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Jika suami redho dengan istri yang tidak dapat mengurusnya terus-menerus, maka istri tidak berdosa.
      Wassalam.

  • juwita sari
    26/06/2015 - 09:31 | Permalink

    Assalaamu’alaikum

    Saya mau bertanya
    Jika Suami saya melakukan sesuatu yang saya sudah larang terus saya mendiaminya untuk beberapa waktu apakah saya salah tetapi sebelumnya saya sudah menasihatinya terlebih dahulu ?

    Terimakasih…

    Wassalaamu’alaikum

    • admin
      27/06/2015 - 11:51 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Posisi pemimpin dalam keluarga adalah suami, jadi sebenarnya istri tidak dalam posisi untuk melarang-larang suaminya melakukan sesuatu. Kecuali jika suami melakukan perbuatan maksiat, maka istri boleh mengingatkan suami, karena saling mengingatkan ini berlaku umum untuk setiap orang, termasuk suami-istri.
      Wassalam

  • 27/06/2015 - 22:03 | Permalink

    Assalamu’alaikum p.ustadz… Saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya jika istri tidak mau mengikuti perintah suami yang bertentangan dengan hati nuraninya? Yang mnrt istri tdk sesuai dg etika dan merendahkan harga diri istri? Kl suami mengaku ke orang lain (teman yg lama nda ketemu) kl istri bukan istrina, apakah sama dg jatuh talak? Terima kasih.

    • admin
      28/06/2015 - 22:35 | Permalink

      Wa alaikum salam.
      – Istri wajib taat pada perintah suami selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam.
      – Jika suami mengaku bujang, maka tergantung niat. Jika niatnya menceraikan, maka jatuh talak. Jika niatnya bercanda, tidak jatuh talak, tapi ucapan tersebut dinila sebagai berbohong.

  • njen
    30/06/2015 - 01:49 | Permalink

    wa allaikum salam…

    pak ustad saya mau tanya jika istri tak lebar hukum’a apa y…???

    jika istri mengajak suami maen kerumah orang tua dia hukumnya apa y…

    • admin
      04/07/2015 - 13:06 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Dalam Islam, secara syariat semua perkara termasuk 1 dari 5 hal:
      – wajib
      – sunat
      – mubah/boleh
      – makruh
      – haram
      Jika istri mengajak suami ke rumah orang tua dengan niat silaturahim, maka ini hukumnya sunat.
      Wassalam.

  • robi
    30/06/2015 - 14:07 | Permalink

    Asalamualaikum ustad? Saya ada masalah rmh tangga mohon pencerahan

    Saya kerja diluar kota sedangkan istri tinggal dengan ibu saya, saya tdak mengajak istri dengan alasan kasian karena ibu tinggal sendiri dirumah,maksud saya spaya ibu ada yg nemenin dan saya bisa pulang stiap libur untuk memperhatikan istri dan orang tua saya,akan tetapi istri saya sering mengeluh ingin ikut saya dengan alasan kan ada sodara yang lain, tpi sodara lain adalah adx perempuan saya dan menantu perempuan karena kakak saya jg kerja jauh jarang pulang, mohon pencerahannya ustad apa yg harus saya perbuat

    • admin
      04/07/2015 - 14:16 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Sebenarnya suatu hal positif istri ingin bersama suami, barangkali dia memang ingin sering bertemu suami tapi tidak dapat mengungkapkannya. Kurang jelas juga seberapa sering libur yang memungkinkan suami bertemu istri.
      Kemungkinan solusi: Ibu dan istri diajak tinggal di tempat suami bekerja. Dengan demikian ibu ada yang mengurus, dan istri juga dekat dengan suami.

  • robi
    30/06/2015 - 14:18 | Permalink

    Yang ke dua Ustad :
    Istri saya kerja dan saya mebolehkan dengan maksud istri tidak jenuh dirumah tpi dengan syarat jngan melupakan kwajiban sebagai seorang ibu rmh tangga.
    Suatu saat istri gajian dan memberikan sedikit gaji nya ke fakir miskin tpi istri saya tidak memberikan uang ke pangasuh anak2 saya yaitu ibu saya karena saya pernah menasehati istri saya boleh kerja tpi yg momong anak2 ibu kasih uang walaupun itu orang tua sendiri
    Dan istri saya jawabannya nanti skalian gaji dpan aj dan istri saya tersinggung dan mengungkit2 masalah2 lain, yg saya mau tanyakan apakah salah saya menasehati istri untuk memberikan uang yang ngasuh anak2 dulu baru jika sisa boleh untuk yang lain.

    • admin
      04/07/2015 - 14:18 | Permalink

      Pada dasarnya penghasilan istri adalah hak istri untuk digunakan sesuai keperluan istri.
      Menurut saya lebih cocok uang ke pengasuh anak-anak dari suami, karena ongkos untuk pengasuhan anak itu termasuk tanggung jawab suami.

  • desi
    03/07/2015 - 10:28 | Permalink

    Assalamualaikum wr.wb pa ustad. Saya mau tanya, bolehkah atau dosakah seorang istri menanyakan harta suaminya yang didapat sebelum menikah ?adakah hak atau kewajiban pada harta tersebut. Terimakasih pa ustad. Wa’alaikumsalam wr.wb

    • admin
      03/07/2015 - 17:54 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb.
      Setahu saya harta suami sebelum menikah bukan urusan istri. Jika istri bertanya boleh saja, tapi dijawab atau tidak oleh suami itu urusan suami.
      Setelah menikah juga tidak ada kewajiban suami untuk memberitahu istri berapa harta / pendapatannya. Jadi suami boleh memberitahu istri tentang keuangannya, boleh juga tidak. Kewajiban suami adalah mengurus istrinya supaya selamat dunia akhirat, terserah dengan cara apa oleh suami.
      Wassalam wr wb

  • abira
    03/07/2015 - 13:07 | Permalink

    Assalamu’ alaikum. Saya pribadi seorg suami(kepala rmh tangga) alhamdulillah tanggungjawab saya sebagai suami terpenuhi tapi terkadang istri selalu tdk merasa cukup bahkan istri saya selalu menuntut saya agar mencari pekerjaan baru dgn kata lain gajinya lebih gede lagi.
    Bagaiman hukumnya? Dan salahkah saya sebagai suami jika niat saya utk memberikan sedikit rezeki kepada org tua saya karna mereka hanya petani biasa. Tp terkadang disaat saya memberi tahu istri seakan gak rela, gak ikhlas, bhkan istri suka ceramahin saya bhwa sy punya saudara yg sudah bekerja jadi utk apa sy memberi mereka(orgtua). Dan jika saya salah dalam hal ini, saya pribadi bersedia meminta maaf kepada istri saya.

  • ummi
    04/07/2015 - 10:52 | Permalink

    Ass.. Ustdz saya ingin bertanya. Saya seorg istri dan baru 3 bln menikah. Saya bingung. Mertua saya menyuruh kami (sy n suami). Tinggal di depan rumahnya. Katanya mau dibuatkan rumah. Saua takut ustadz karna sblum menikah org tua suami saya tidak setuju karna suku saya sunda.padahal beliau belum tau sifat saya seperti apa. Tp suami sy ttp ingin menikahi sy, dan akhirnya diberi izin dg syarat harus tinggal dekat dengannya. Dan stelh saya mnjalani pernikahan ternyata adik ipar saya yg slma ini menghasut keluarganya agar benci pd saya. Saya tau hal ini dari sepupu suami saya. Mreka sangat membenci saya karna saya suku sunda. Dan tidak ada alasan lain. Nah saya harus bagaimana ustdz sy tkt jika su tinggal dsana kluarga suami sy yg memng membenci sy. Mreka slmanya bgtu. Yg saya takutkan takut ada masalah yg menghancurkan rumah tangga saya. Suami sy siap tinggal dmn saja tdk mesti disitu cm dia tkut sm ibunya. Apa yg baik kami lakukan

  • ummi
    04/07/2015 - 10:57 | Permalink

    Berdosakah jika suami saya menolak untuk tinggal ditanah pemberian ibunya. Karna dia ingin menjaga istrinya dari fitnah kluarganya.

    • admin
      04/07/2015 - 12:16 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Seorang suami sebagai anak laki-laki wajib hormat pada orang tuanya dan juga mesti mengurus orangtuanya.
      Seorang suami juga wajib menyelamatkan masa depan istrinya di akhirat, dan juga mengurus istrinya selama di dunia.
      Hormatnya suami pada orang tua dan kewajiban mengurus orang tua ini bukan berarti mesti taat 100% pada segala hal yang diperintahkan orang tua kepadanya.
      Hasutan untuk membenci seseorang hanya karena sukunya adalah perbuatan jahat. Jika suami memilih menolak tinggal di situ karena menghindari hasutan, hal itu tidak apa-apa.
      Lebih jauh tentang kesukuan/ashobiyah dapat dibaca di artikel http://keluarga.kawansejati.org/pandangan-islam-mengenai-faham-kesukuan/
      Wassalam.

  • nandittawardana
    04/07/2015 - 20:22 | Permalink

    asalmualikum pak ustad…sya mau tanya sya kn kja d luar n dan suami sya pun mengijinkan sya bekja ke luar n…suami sya yg skrng suami kedua dan blm mempunyai ank dri suami yg kedua..sya punya ank dri suami prtma sya pak ustad…tpi ketika sya mau kirim uang buat orng tua sya atau ank sya suami tdk mengijinkn sya untuk kirim atau pun komunikasian sm klga sya dan ank”sya pak ustad..tpi suami sya sendiri selalu memintah kepada sya kirim barang atau materi pak di situ juga sya memberikan ny kpda suami sya krna mkin sya cinta sm suami nya…tpi sya pun mengikuti larangan suami sya semua ny untuk comnikasi sm klga n ank sya pak ustad…bagai mna syahrs menyikapi nya suami yg seprti itu pak..maksih bnyk pak ustad

  • irfan
    04/07/2015 - 23:52 | Permalink

    Ya ustad yg diberikan berkah ilmu dari Allah.. saya ingin bertanya. Mohon maaf saya tidak ingin mengungkap kejelekan istri saya atau keluarganya… namun saya sangat butuh bimbingan agar keluarga yg kami bina menjadi sakinah mawaddah warohmah. Pertanyaan yg mungkin dapat mewakili seperti ini: apakah emas yg diberikan ibu mertua dengan kerelaan hatinya untuk dijadikan emas kawin pernikahan, dengan maksud dicicil menantu nantinya ketika telah menikah dapat dianggap tunai?. Dan apakah menantu membayarnya kemudian kepada istri atau mertua?.

    • admin
      06/07/2015 - 22:45 | Permalink

      Dalam perkara ini ada 2 hal yang terpisah:
      1. seorang laki-laki meminjam sejumlah emas kepada seorang perempuan (calon mertuanya) untuk dijadikan maskawin.
      2. seorang laki-laki memberikan sejumlah emas sebagai maskawin kepada istrinya
      Pendapat saya:
      – Karena ada 2 akad terpisah, maka dapat diselesaikan dengan melihatnya masing-masing secara terpisah.
      – Jika emas sebagai maskawin yang diberikan kepada istri sesuai dengan yang disebutkan ketika akad nikah, maka maskawin tersebut dianggap sudah lunas. Setahu saya tidak ada hukum yang melarang seorang laki-laki berhutang untuk mendapatkan maskawin.
      – ‘Tunai’ maksudnya adalah maskawin tersebut diberikan bersamaan ketika akad nikah, bukan diberikan dengan cara dicicil kemudian.
      – Status pinjaman emas tersebut terjadi antara laki-laki dengan mertuanya, jadi mesti diselesaikan antara keduanya, sesuai dengan hukum syariat tentang pinjam-meminjam.
      Demikian, semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah.

  • 05/07/2015 - 09:57 | Permalink

    Assalamu’alaikum pak ustadz. saya Mau Nanya.
    Apakah kewajiban seorang istri hanya urusan ranjang saja??? Mohon penjelasan Karena sekarang Ada blog blog yang Menyebarkan Tentang Kewajiban suami yang menurut saya itu meresahkan dan bisa saja menghancurkan Rumah Tangga umat muslim, terimakasi atas jawabannya.

  • andi
    08/07/2015 - 10:16 | Permalink

    Assalamu’alaikum,

    Pak Ustadz, setahun lalu saya dan isteri sempat hampir bercerai, sudah talak 2. Alhamdulillah kami rujuk kembali. Tapi sampai sekarang sikap isteri saya berbeda ke orang tua saya (mertua dia). bahkan Idul Fitri tahun ini, isteri tidak mau saya ajak silaturahim ke orang tua saya. Terus terang saya kecewa pak ustadz. Isteri selalu mengungkit kesalahan saya, sehingga tidak mau lagi dating ke orang tua.
    Bagaimana sikap saya pak ustadz? saya tidak mau mengecewakan hati orang tua saya.

    Wassalam

  • Pingback: Kewajiban Pribadi Suami Istri | Keluarga Islami

  • sastra aris
    11/07/2015 - 23:45 | Permalink

    assalamualaikum ustadz.
    saya mau tanya :saya sudah menikah selama 1 tahun lebih dan punya anak umur 6 bulan.dan hingga saat ini saya tinggal dirumah mertua.pada waktu lebaran saya mengajak istri saya untuk menginap dirumah ibu saya selama 1 minggu.tapi istri saya tidak m
    au tanpa ada alasan yg jelas.sedangkan ibu saya jg pingin cucunya menginap lebih lama,karena selama 6 bulan istri saya cuma mau menginap 1 hari saja.bagaimana cara menyikapinya ustadz ?
    trrima kasih wassalamualaikum

  • naning fatmawati
    12/07/2015 - 07:15 | Permalink

    Assalamualaikum wr.wb saya mau bertanya. Suami bertengkar dengan ibu saya. Tetapi ibu saya tidak bermaksud marah kpda suami saya.lalu suami saya pergi tanpa membawa apapun. Dan sekarang sudah 5hari tidak pulang.lalu saya tanya “kenapa tidak pulang” .suami tidak mau pulang kalau tidak saya jemput suami tidak mau pulang seumur hidupnya. Kata ayah tidak baik kalau saya menjempunya ,dimana harga diri saya saya takut kalau ikut suami,suami akan melakukan hal sama dimasa depan nanti, Tetapi disamping itu suami juga tidak melaksanakan kewajibanya sebgai hamba allah. Shalat dan puasa. Suami juga sering membentak saya dan ibu saya jika saya sedang melakukan kesalahan seperti masakan tidak enak.
    Saya juga tidak kurang2nya mengingatkannya untuk shalat dan mengajaknya berpuasa.
    Sekarang apa yang harus saya lakukan pak ustad?

  • alam
    13/07/2015 - 11:22 | Permalink

    assallamu’alaikum,pak ustd sya minta tolong pncrahanny..sya dan istri sya menikah sdh 15thn,dan tlah d karunia’i spasang anak laki 9thn dan perempuan 5thn,dan kami tnggl d rumah ibu sya yg kbtulan tnggl beliau sndri drumah.suatu saat terjdi percekcokan dlm rmh tngga kmi,yaitu sya mndpati istri sya mnrima telp dr laki” jam 2mlm & bkn utk 1X hal itu trjdi dan sya pnh minta utk tdk ber tabaruj d dumay(FB,BBM).dan singkatny sya antr dia k rumah orngtuany,tnpa sya jatuhkn talaq,mskpn dia yg mnta brcerai,tp sya tdk mngabulkan ny krn kasihan anak itu utama utk sya& tetp sya kirim nafakah lahir,meskpn anak ada dgn sya.yg jd prtnyaan bagaimana hukumny jikalau yg jd istri sya ini semisal kawin lg meskpn kawin agama,apakah syah? dan jika itu berzinah apakah dosa zina itu k saya? mhn pncerahanya.

  • wahyuni
    13/07/2015 - 22:43 | Permalink

    Assalamu’alaikum pak ustadz,saya mau minta pendapat sama pak ustadz.saya sudah menikah hampir 7 th ,dan selama tu juga suami saya bekerja sama orang tuanya sendiri.suami saya menéruskan usaha milik mertua saya,yang dia kerjakan adalah membeli barang bekas seperti timbangan dan dongkrak yang sudah rusak kemudian perbaiki lagi menjadi bagus dan barang2 bekas lainnya.selama tu juga suami saya tidak pernah meminta gaji ataupun imbalan apapun pada mertua saya.dulu waktu almarhum abah mertua masih hidup dan saya masih belum punya anak,abah selalu memberi upah pada suami saya buat menafkahi saya,meskipun tidak banyak tapi alhamdulillah cukup buat makan kami berdua.tapi setelah abah mertua saya meninggal 5th yang lalu,ummi mertua saya malah tidak memberi suami saya upah setiap harinya,memang suami saya juga punya dagangan dari hasil dia mengumpulkan uang sendiri tapi tu pun sedikit tidak banyak seperti ummi mertua saya,malah meskipun laku yang paling banyak adalah punya mertua saya dan suami saya sering pulang tanpa membawa apa2.ummi paling banyak memberi upah pada suami saya adalah 20 ribu tapi paling sering 10 ribu tu pun kalaupas dikasih.padahal semua barang bekas tadi setiap harinya yang mengerjakan adalah suami saya dan untungnya jg tidak sedikit setelah mnjdi bagus.sampai2 terkadang saking dari capek nya penyakit kepala nya kambuh dia tetep bekerja dan mertua saya tu pun tidak sedikitpun menghiraukannya atau pun sekedar membelikan obat untuk suami saya, yang terpenting bagi mertua saya adalah beliau dapat uang untuk di simpannya sendiri.mertua saya bukan orang yang kekurangan karna beliau punya simpanan dan emas yang begitu banyak,sedangkan saya dan suami hnya bisa mengumpulkan uang tidak lbh dr 1jt pertahunnya.di tambah lagi kalau si kecil pas sakit.saya bisa bilang begitu karna beliau pernah memperlihatkannya pada saya.beras memang saya tidak pernah membeli dan uang listrik pun saya tidak pernah ikut membayar semuanya mertua saya, tapi kalau lauk untuk di makan saya belanja sendiri dan mertua pun ikut numpang sama saya,tu pun klu suami saya punya uang,klu tidak dia pasti pinjam uang pada ummi mertua buat belanja.begitupun sampai sekarang.dan ipar saya pun yang suami nya seorang palayar masih numpang sama ummi mertua saya.yng saya tanyakan apa salah jika saya meminta pada suami saya kalau dia bekerja di luar saja karna uang belanja yang dia berikan tidak cukup untuk kehidupan kami dan anak kami.mekipun sebenarnya memang tidak mungkin karna pasti tidak di perbolehkan sama mertua saya.pak ustadz saya bingung apa saya harus terus diam suami saya diperlakukan begini sama orang tuanya sendiri?sedangkan harta yang abah mertua saya tinggalkan,saya dan suami saya juga merelakannya untuk di simpan sendri sama mertua saya.dan kami pun tidak meminta sepeserpun.ap yang seharusnya saya lakukan untuk menghadapi hal ini?saya hanya bisa berdoa semoga saya bisa menghadapi semua ini dengan ikhlas.

    • admin
      14/07/2015 - 10:17 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Saya turut prihatin dengan kesusahan yang anda hadapi.
      Dari cerita anda, suami sangat perhatian dengan ibunya, namun keuangan keluarga anda suami-istri kurang.
      Perlu diketahui bahwa tanggungan seorang suami itu cukup banyak, dia mesti menafkahi anak istrinya lahir-batin, dunia-akhirat, dan kalau ada kelebihan juga mesti menafkahi saudara-saudaranya. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa menafkahi istri&anak itu lebih utama dari kerabat lainnya (http://keluarga.kawansejati.org/kewajiban-menafkahi-keluarga/).
      Dalam hal ini ada segi positif yaitu suami merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap kerabatnya, dan hal ini perlu disyukuri dulu.

      Saran saya:
      * Coba ikuti panduan umum di http://keluarga.kawansejati.org/solusi-masalah-keluarga-bagi-istri/

  • Pingback: Solusi Masalah Keluarga Bagi Istri | Keluarga Islami

  • 1 3 4 5

    Leave a Reply

    Powered by: Wordpress