Artikel Keluarga

Bab 2.08 Kewajiban Suami Terhadap Istri

Nas-nas Al Quran dan hadis:

  1. Allah Taala berfirman, yang bermaksud:
    “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
  2. Dan Allah berfirman lagi:
    ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang baik akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan atas isterinya.” (Al Baqarah : 228)
  3. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda pada waktu haji widak (perpisahan) setelah baginda memuji Allah dan menyanjung-Nya serta menasehati para hadirin yang maksudnya:
    ‘Ingatlah (hai kaumku), terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para isteri, isteri-isteri itu hanyalah dapat diumpamakan tawanan yang berada di sampingmu, kamu tidak dapat memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau isteri-isteri itu melakukan perbuatan yang keji yang jelas (membangkang atau tidak taat) maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau isteri-isteri itu taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka.
    Ingatlah! Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isterimu dan sesungguhnya isteri-isterimu itu mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap dirimu. Kemudian kewajiban isteri-isteri terhadap dirimu ialah mereka tidak boleh mengijinkan masuk ke rumahmu orang yang kamu benci. Ingatlah! Kewajiban terhadap mereka ialah bahwa kamu melayani mereka dengan baik dalam soal pakaian dan makanan mereka.

    (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)
  4. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
    “Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh memperolokkan dia dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang).” (Riwayat Abu Daud)
  5. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja seorang laki-laki yang menikahi perempuan dengan mas kawin sedikit atau banyak sedangkan dalam hatinya ia berniat untuk tidak memberikan hak perempuan tersebut (mas kawinnya) kepadanya. maka ia telah menipunya, kemudian jika ia meninggal dunia, sedang ia belum memberi hak perempuan tadi kepadanya maka ia akan menjumpai Allah pada hari Kiamat nanti dalam keadaan berzina.”
  6. Nabi SAW bersabda yang bermaksud
    “Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang baik budi pekertinya dan mereka yang lebih halus dalam mempergauli keluarganya (isteri anak-anak dan kaum kerabatnya). “
  7. Nabi SAW bersabda yang bermaksud :
    “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku.” (Riwayat lbnu Asakir)
  8. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud:
    “Barang siapa yang sabar atas budi pekerti isterinya yang buruk, maka Allah memberinya pahala sama dengan pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.s karena sabar atas cobaan-Nya.” ( Cobaan ke atas Nabi Ayub ada empat hal: Habis harta bendanya., Meninggal dunia semua anaknya., Hancur badannya., Dijauhi oleh manusia kecuali isterinya benama Rahmah )
    Dan seorang isteri yang sabar atas budi pekerti suaminya yang buruk akan diberi oleh Allah pahala sama dengan pahala Asiah isteri Firaun“.
  9. Al Habib Abdullah Al Haddad berkata:
    “seorang laki-laki yang sempurna adalah dia yang mempermudah dalam kewajiban-kewajiban kepadanya dan tidak mempermudah dalam kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Dan seorang laki-laki yang kurang ialah dia yang bersifat sebaliknya.”
    Maksud dan penjelasan ini ialah seorang suami yang bersikap sudi memaafkan jika isterinya tidak menghias dirinya dan tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi ia bersikap tegas jika isterinya tidak melakukan sholat atau puasa dan lain-lain, itulah suami yang sempurna. Dan seorang suami yang bersikap keras jika isterinya tidak menghias dirinya atau tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi bersikap acuh tak acuh (dingin) jika isteri meninggalkan kewajiban-kewajiban kepada Allah seperti sholat, puasa dan lain-lain, dia seorang suami yang kurang.
  10. Dianjurkan bagi seorang suami memperhatikan isterinya (dan mengingatkannya dengan nada yang lembut/halus) dan menafkahinya sesuai kemampuannya dan berlaku tabah (jika disakiti oleh isterinya) dan bersikap halus kepadanya dan mengarahkannya ke jalan yang baik dan mengajamya hukum-hukum agama yang perlu diketahui olehnya seperti bersuci, haid dan ibadah-ibadah yang wajib atau yang sunat.
  11. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    ‘Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.” (At Tahrim : 6)
    Ibnu Abbas berkata:
    Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.
    Dan Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab at,is rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alai )
  12. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  13. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    Perintahkanlah keluargamu agar melakukan sholat.” (Thaha:132)
  14. Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”

KESIMPULAN TANGGUNG JAWAB SUAMI

  1. Menjadi pemimpin anak isteri di dalam rumah tangga.
  2. Mengajarkan ilmu fardhu ‘ain (wajib) kepada anak isteri yaitu ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf.
    Ilmu tauhiddiajarkan supaya aqidahnya sesuai dengan aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah.
    Ilmu fiqih diajarkan supaya segala ibadahnya sesuai dengan kehendak agama.
    Ilmu tasawuf diajarkan supaya mereka ikhlas dalam beramal dan dapat menjaga segala amalannya daripada dirusakkan oleh rasa riya’ (pamer), bangga, menunjuk-nunjuk orang lain dan lain-lain.
  3. Memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal.
    Ada ulama berkata:
    Sekali memberi pakaian anak isteri yang menyukakan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama 70 tahun.
    Tidak menzalimi anak isteri yaitu dengan:

    • Memberikan pendidikan agama yang sempurna.
    • Memberikan nafkah lahir dan batin secukupnya.
    • Memberi nasihat serta menegur dan memberi panduan/ petunjuk jika melakukan maksiat atau kesalahan.
    • Apabila memukul jangan sampai melukakan (melampaui batas).
  4. Memberi nasihat jika isteri gemar bergunjing/bergosip, mengomel serta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah agama.
  5. Melayani isteri dengan sebaik-baik pergaulan.
  6. Berbicara dengan isteri dengan lemah-lembut.
  7. Memaafkan keterlanjurannya tetapi sangat memperhatikan kesesuaian tingkah lakunya dengan syariat.
  8. Kurangkan perdebatan.
  9. Memelihara harga diri / kehormatan mereka.

377 Comments

1 4 5 6
  • Puspita
    04/06/2015 - 11:28 | Permalink

    Assalamualaikum Wr. Wb. Pak Ustadz saya mau tanya. saya sudah menikah dengan duda beranak satu yang bekerja sebagai PNS, namun hak asuh anak beliau jatuh di tangan mantan istri beliau. Yang saya bingung siapa yang lebih berhak diutamakan suami saya untuk dinafkahi antara saya dengan anak dari mantan istrinya, karena gaji suami saya setiap bulan hanya cukup untuk anak dari mantan istrinya yang sudah di atur dalam keputusan PN saat bercerai.

  • meylina
    07/06/2015 - 15:48 | Permalink

    Assalamu alaikum wr.wb pk uztad,,saya ingin bertanya sedikit.
    InsyaAllah jika tdk ada halangan setelah lebaran ini saya akan menikah. yang ingin saya tanyakan, apakah saya salah jika saya melarang calon suami saya agar tidak sering2 bertemu dg mantan istrinya..?
    saya dan kluarga calon suami saya sama2 tahu , kalau mantan istrinya ini selalu menggunakan anaknya sebagai alat , agar dia bisa bertemu dg mantan suaminya kpan saja.
    hampir tiap hari mantan istrinya menelepon calon suami saya dg alasan yg tdk jelas, dan apakah saya salah jika saya meminta calon suami saya untuk tdk lg berkomunikasi dg mantannya ,kecuali memang ada kepentingan.
    sekian dan terima kasih .
    wassalam

    • admin
      10/06/2015 - 06:51 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb,
      Bekas istri posisinya adalah sama dengan wanita lain, jadi hukumnya adalah seperti hukum berhubungan dengan wanita yang bukan istri dan bukan keluarga (mahram). Jadi komunikasi dengan mantan istri ini hanya dibolehkan untuk hal-hal yang perlu saja.
      Saat ini anda adalah calon istri, jadi posisinya belum sebagai suami istri, maka belum pada tempatnya untuk melarang-larang calon suami.
      Dalam keluarga, suami adalah pemimpin. Posisi istri bukan untuk melarang-larang, namun lebih untuk mengingatkan suami untuk menjauhi perbuatan maksiat.
      Wassalam.

  • ana
    07/06/2015 - 21:17 | Permalink

    Assalamu’alaikum pak ustadz. Saya mau tanya, ini cerita dari saudara saya. Saya hanya ingin membantunya,
    Saudara saya menikah baru 2bulan ini pak ustadz, tapi menikahnya dikarenakan sudah hamil duluan. Suaminya bertanggung jawab menikahinya namun karena didasari hanya menikah sebagai tanggunh jawab atau gimana suaminya seenaknya sendiri pak ustadz. Saudara saya ini sangat penurut dia selalu nurut perintah suaminya. Dan saudara saya ini tau kalau suaminya tidak sepenuhnya mencintai dia, namun dia tetap sabar menghadapi suaminya ini. Yg mau saya tanyakan, bagaimana yg harus dilakukan si istri dalam menghadapi permasalahan diatas pak ustadz ? Dan bagaimana hukum-hukumnya dalam pernikahannya itu ?
    Mohon penjelasannya pak ustadz
    Terimakasih, wassalamu’alaikum wr.wb

  • ima
    08/06/2015 - 17:41 | Permalink

    Pak ustaz,bagaimana hukumnya apabila ada seorang suami melakukan azl sedangkan istrinya menginginkan anak.apakah berdosa apabila istri tersebut meminta cerai karena suaminya melakukan azl terus terusan tanpa alasan yangnjelas

    • admin
      10/06/2015 - 06:18 | Permalink

      Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk mendapatkan keturunan, seperti dalam hadis berikut:
      “Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur (tidak mandul). Karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan kepada umat yang lain karena jumlah kalian” (HR. Abu Daud no. 2050.)
      Dalam hal ini perlu dicek dulu beberapa hal:
      * Apakah istri ada keuzuran sehingga kesehatannya dapat terganggu karena hamil? Jika ‘azl itu dilakukan karena faktor kesehatan istri, maka hal itu ada ulama yang membolehkan.
      * Saat ini pasangan suami istri sudah punya berapa anak?
      Bercerai adalah perkara yang sangat tidak disukai Allah, jadi sedapat mungkin masalahnya diselesaikan tanpa melalui perceraian.
      Coba didiskusikan dengan suami apakah apa masalahnya kalau ada anak. Kalau tidak ada kekhawatiran tentang anak, mestinya tidak akan repot-repot dengan ‘azl.

      • tisa jakarta
        19/06/2015 - 09:15 | Permalink

        maaf ustad azl apa ya?

        • admin
          22/06/2015 - 18:35 | Permalink

          ‘Azl adalah suami mengeluarkan sperma di luar istri. Umumnya tujuannya adalah menghindari kehamilan.

  • ima
    10/06/2015 - 20:30 | Permalink

    Ustaz bagaimana hukumnya istri meminta cerai dalam keadaan belum mandi wajib karena haid tapi darah haidnya sudah tidak ada kemudian suaminyapun menceraikan istrinya.apakah talak yang dikatakan suaminya itu sah ataupun tidak ustaz..

  • dina
    12/06/2015 - 01:20 | Permalink

    Assalamualaikum ustadz..saya ingin menanyakan bagaimana hukumnya jika seorang suami menutup nutupi jumlah gaji yg ia dapat kepda istrinya dan belakangan istrinya tau bahwa gaji yg diperoleh suaminya jumlahnya jauh lbh besar dr yg ia sampaikan kpd istrinya. Salahkah jika istri menanyakan kpd suami perihal uang yg selama ini tdk dberikan kpd istrinya itu digunakan utk apa, mengingat jumlah uang yg ia habiskan hampir sama dg nafkah yg diberikan kpd istrinya. Mhn penjelasannya ustadz..mks

  • trisna
    13/06/2015 - 05:37 | Permalink

    Ass… pak ustad sy sdh menikah 2 tahun dan di karuniain anak umur 14 bulan, sy di talak suami karena alasan suami yg sudah tidak mencintai serta nyaman hidup bersama di karenakan sy di bilang pencemburu sedangkan sy hnya mengkhawatirkan dirinya. Hingga suatu ketika suami sy berkata kita pisah dan bwa anakmu karena dia tidak mampu mengurusnya.hati sy sakit mendengar perkataannya yang seolah2 menjadikan anaknya sebagai beban hidupnya sedangkan sy sangat mengharapkan anak itu. saya pulang membawa anak sy kerumah org tua sy dengan maksd biar saling imtrospeksi dan berfikir. Tetapi suami sy justru plg kerumah orang tuanya dan berkata pd org tuanya bhwa kami akan bercerai tetapi di mertua, suami sy beralasan dia ingin bercerai karena saya memerintahnya di depan org untuk membuat susu anaknya, sy tdk bermksd sprti itu krn sy berfikir sy tgl dirumah hanya bertiga dengan anak yg msh kecil dan dlm rumah tangga tak ada slhnya sling membantu.
    Akhirnya mertua sy marah mendengar alasan anaknya.beliau langsung ingin melepas sy sebagai menantunya tanpa mendengar penjelasan sy. Hati sy sedih karena beliau melepas sy bgt saja. Dan tidak menginginkan sy kembali pulang kerumah suami yg telah menalak sy dikarenakan mereka takut jika kami kembali berhubungan intim suami istri sedangkan sy sdh di talak. Padahal sy ingin bertahan demi anak sy yang masih sangat kecil. Dan selepas sy pergi dr rumah membawa anak sy krg lbh satu bulan sy mendengar suami sy sudah jalan dengan wanita lain. Sy kecewa dan meminta barang2 sy diantar kerumah orang tua sy. Dan skrg sy mndengar suami sy tersebut memiliki hubungan dengan teman sekantornya dan saya pun telah melihatnya sendiri. Masa iddah sy belum habis dan gugatan perceraian yang di ajukan suami sy baru di proses.
    1. Yang ingin sy tanyakan apakah sy boleh pulang lagi kerumah walau mertua dan yang lainnya takut suami berhubungan intim dengan suami saya lg?
    2. Apakah suami sy memang boleh jalan dengan wanita lain disaat masa idsah sy belum habis dan belum ada putusan pengadilan?

    • admin
      22/06/2015 - 19:43 | Permalink

      Wa alaikum salam.
      #1. Suami yang menjatuhkan talak kepada istrinya masih punya kewajiban selama masa iddah istri yang ditalak tersebut.
      Menurut hukum islam kewajiban memberikan nafkah kepada bekas istri disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Thalaq ayat (1) yang artinya:
      “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah. Jangan kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang, itulah hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.”

      Jadi menurut ayat tersebut, istri yang ditalak wajib diberi tempat tinggal dan nafkah yang wajar kecuali istri tersebut melakukan kekejian yang jelas-jelas nyata.

      #2. Jika yang dimaksud dengan ‘jalan dengan wanita lain’ itu pacaran, maka proses pacaran ini adalah haram. Uraian pacaran Islami ada di http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2012/04/pacaran-islami.html
      Jika yang dimaksud dengan ‘jalan dengan wanita lain’ itu adalah suami melamar seorang perempuan untuk dinikahi sesuai dengan proses yang dibenarkan syariat Islam, maka hal ini dibenarkan karena seorang laki-laki boleh beristri sampai 4 orang.

      Wassalam

  • 19/06/2015 - 16:52 | Permalink

    Saya kan baru saja menikah kurang labih 1bulan. Ini kan masuk bulan ramadhan. Kami Tidak bisa buka dan sahur bareng karena tuntutan pekerjaan suami. Sedangkan suami saya buka puasa biasa ya beli. Tidak bisa. Kerumah karena. Kerja. ApakaH saya dosa karena tidak memasakkan buat suami. Padahal saya pengen nganterin tapi suami bilang ga usah

    • admin
      22/06/2015 - 18:37 | Permalink

      Dalam hal ini suami sudah menyatakan bahwa tidak usah dibawakan makanan untuk berbuka puasa, jadi dengan demikian tidak wajib bagi istri untuk mengantarkan / menyediakan buka puasa.

  • doni
    20/06/2015 - 08:33 | Permalink

    Assalamualaikum wr wb
    Pa ustadz sy mau bercerita sedikit.kira2 setahun yg lalu istri sempat mengajukan cerai.sy dipaksa menandatangani surat,yg menyatakan bahwa sy sdh tdk menafkahi istri selama 7 bln.bahwa semua itu bohong belaka.memang selama 1 thn sy pisah ranjang krn sy ada mslh dan hrs menjalani hukuman,semua keluarganya pun tahu dgn kondisi sy.tp kewajiban sy sbg kepala rumah tangga tetep sy penuhi,sy berjualan makanan utk menafkahi mereka.betapa sakitnya ketika sy tahu kalo istri berselingkuh dgn temen sy.istri sdh tdk menghargai sy lg,sy tegur dia malah menyalahkan sy.akhirnya tiba saatnya,sy menghirup udara bebas.sy bertemu dgn istri dan anak2.istri tetap tdk mau bersatu dgn sy.sy memilih utk kos.sy mencoba utk memperbaiki diri.istri tetap ingin cerai,sampai pd hari ultah pernikahan kami,sy ajak dia makan malam.pulangnya sy ajak ke kosan sy,sy ingin mengajak dia berkumpul,krn 1 thn lbh sy tdk pernah berhubungan badan dgn istri.istri menyetujui,asalkan sy menandatangani surat pernyataan itu.sy tdk pernah berpikir negatif,sy tandatangani saja surat itu.tak tahunya 1 minggu stlhnya istri saya mengurus surat cerai,tp krn jalannya salah surat cerai itu batal,krn ada kawan sy di pengadilan agama melihat berkas tsb,istri sy mengurus surat cerai melalui jalur belakang.tanpa ada panggilan buat sy,tanpa ada sidang surat cerai itu putus dan langsung keluar talak 3….astaghfirulloh.temen sy memberitahu kpd sy,akhirnya sy bercerita kpd keluarganya.keluarganya pun tdk setuju dgn keputusan istri.akhirnya kami rundingan,istri mencabut gugatannya dan berjanji tdk akan berhubungan lg dgn laki2 tsb.sdh 10 bln kami menjalani hidup bersama lg,berkumpul dgn anak2.selama 10 bln ini keadaan ekonomi kami malah merosot,tanpa disangka2,istri berbicara kpd sy,akan menggugat cerai kembali.trus terang aja pa ustadz,buku nikah dan surat yg dulu sy tandatangani dipegang sm istri.jd istri merasa bisa seenak2nya menggugat cerai.yg ingin sy tanyakan bagaimana sy bisa mencegah gugatannya,apakah sy hrs buat surat pernyataan didampingi oleh lawyer,kalo sy tdk pernah ingin bercerai,sy kasihan sm anak2 sy.mohon dibantu nasihatnya pa ustadz…..waalaikumsalam wr wb

  • rissa
    20/06/2015 - 14:42 | Permalink

    assalamualaikum pak ustad..
    saya mau tanya saya sudah menikah tapi dalam rumah tangga saya banyak ketidak cocokan dan hmpir styap hr sering bertengkar. selama ini saya pertahankan karena ingin melihat suami bs brubah agar menjadi seorang muslim yg lbih baik lg tp kenyataanya tidak sperti yg saya harapkan malah saya terkadang jg ikut malas mnjalankan ibadah..
    orang tua menginkan bercerai..
    saya harus bagaimana menanggapinya ..
    ksih saran y pak ustadz..

    • admin
      23/06/2015 - 10:48 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Istri minta cerai itu hukum asalnya adalah haram.
      Pada kasus ini tidak jelas apa hal yang dijadikan alasan istri minta cerai.
      Apakah kesalahan suami di peringkat aqidah, syariat, atau akhlak?
      Wassalam.

  • nhesha
    20/06/2015 - 20:58 | Permalink

    assalamualaikum..
    maaf pak ustadz saya mau sedikit bercerita saya menikah sudh 4thun slma pernikahan sya slalu terjadi pertengkaran di karenakan mertua ibu saya dari suami saya selalu mencapuri rumahtangga bahkan mslah keuangan gaji suami saya di tutupi (dibohongi) dri saya.. saya mencoba sabar tp allah adil membuka semua kebohongan yg ada.. mertua ibu saya sampai berkata kepada suami saya,, ceraikan saja istri mu..!?

    yang sya mau tanyakan bagaimana hukumnya suami meninggalkan istri dan anaknya tanpa memberi nafkah lahir batin kurang lama 5bulan dan hukumnya apa buat suami dan ibunya yang sudah menyuruh anknya untuk bercerai..!?

    terimakasi pak ustadz… wassalam..

    • admin
      23/06/2015 - 10:44 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      #1 Suami wajib menafkahi istrinya. Peringkat menafkahi istri itu dapat dibaca di http://keluarga.kawansejati.org/12-peringkat-peringkat-suami-dalam-melaksanakan-tanggung-jawab/

      #2 Memisahkan suami istri adalah perbuatan haram. Beberapa hadis yang menyebutkan mengenai usaha merusak rumah tangga:
      Abu Dawud meriwayatkan;
      dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, atau seorang budak terhadap tuannya.” (H.R.Abu Dawud)

      Imam Muslim meriwayatkan;
      Dari Jabir berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya. Salah satu diantara mereka datang lalu berkata: ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab: ‘Kau tidak melakukan apa pun.’ Lalu yang lain datang dan berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkannya dengan istrinya.’ Beliau bersabda: “Iblis mendekatinya lalu berkata: ‘Bagus kamu.” (H.R. Muslim)

  • Juwita
    22/06/2015 - 09:53 | Permalink

    assalamualaikum ustad, bagaimana hukumnya jika seorang suami tidak memperbolehkan seorang istri bekerja dan hanyaj diam dirumah mengurus anak, sedangkan sang istri tipikal wanita karir yg tdk bsa hanya diam d rumah. serta hanya boleh mengunjungi orangtua seminggu sekali pdhl jarak tempuh dgn rumah orangtua hanya sktr 15mnt saja (berjarak dekat). trims. wassalamualaikum wr wb

    • admin
      22/06/2015 - 20:10 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb,
      Jika suami secara jelas melarang istri keluar rumah, maka dalam hal ini istri wajib taat kepada perintah suami untuk tidak keluar rumah.

      Wassalam

  • Selvi
    22/06/2015 - 14:15 | Permalink

    Pak ustadz, saya mau tanya apakah termasuk memdzolimi jika suami selalu menyakiti hati, membuat istri menangis, sengaja memanas2i istri dan membuat istri merasa tidak tenang?
    itu semua dilakukan berkali2 meskipun istri dalam keadaan hamil..
    dan apakah ada hukum atau dalil jika suami mendzolimi istri seperti itu?
    Terimakasih..
    assalamualaikum wrwb

    • admin
      22/06/2015 - 20:50 | Permalink

      Menyakiti orang lain tanpa alasan yang sesuai syariat adalah perbuatan dzolim. Bergaul dengan istri dengan cara yang kasar adalah suatu perbuatan dosa.
      Dalilnya: “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
      Nabi SAW bersabda yang bermaksud :
      “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku.” (Riwayat lbnu Asakir)
      Dan masih ada lagi hadis yang sudah diuraikan di artikel ‘Kewajiban Suami Terhadap Istri’

  • 23/06/2015 - 00:51 | Permalink

    Ustadz, saya bersuami duda beranak 3. sekarang sudah punya cucu, dan selisih usia cucu dan anak kami (saya dan suami) adl 1,5 bulan. kondisi keuangan kami naik turun, rumah jauh dari layak. selama menikah saya belum pernah sekalipun dibelikan baju, begitu juga anak kami, hanya dari pemberian orang2. saya sering minta tp suami bilang nanti kalau ada uang. setiap ada uang lebih, suami tidak pernah membelikan baju, malah memberi uang ibu kandungnya dan saat ini malah memberi jatah susu cucunya 3 hari 35 ribu. pertanyaan saya, apa yg harus saya lakukan? apa saya salah jika saya melarang suami saya memberi jatah susu ke cucunya sedang dia masih punya bapak (anak suami saya) yg kondisinya sehat jasmani dan rohani, hanya malas bekerja? mana yg harus didahulukan, menafkahi istri atau cucu krn kekurangan?

    • admin
      23/06/2015 - 10:52 | Permalink

      Dalam keadaan ayah dari cucu masih ada, maka menafkahi istri mesti didahulukan, karena cucu tersebut sebenarnya adalah tanggung jawab ayahnya.
      Jika ayah si cucu tidak mau bertanggungjawab, maka perlu ada usaha menasihati si ayah cucu tersebut.

      Imam an-Nawawi berkata, “Apabila pada seseorang berhimpun orang-orang membutuhkan dari mereka yang harus ia nafkahi, maka bila hartanya cukup untuk menafkahi semuanya, ia harus menafkahi semuanya, baik yang dekat maupun yang jauh. Namun apabila sesudah ia menafkahi dirinya, yang tersisa hanya nafkah untuk satu orang, maka ia wajib mendahulukan isteri daripada karib kerabatnya yang lain…(Raudhah ath-Thalibin).

      • 24/06/2015 - 05:11 | Permalink

        terima kasih. kira2 bagaimana adab mengingatkan suami tentang hal tersebut supaya tidak menyinggung perasaan suami, mengingat dia adalah cucu tiri saya, sehingga dikhawatirkan muncul persepsi negatif dari suami.

  • Hamba Allah
    23/06/2015 - 20:42 | Permalink

    Ass, pak ustad, saya sdh menikah selama 3 thn dan dikaruniai 2 org anak yg msh kecil. Pernikahan kami lancar2 saja, hingga akhirnya saya mendapati istri saya telah selingkuh dgn pria lain, mereka bhkan pernah melakukan hubungan sex. Saya sdh menalak istri saya tsb, akan tetapi saya msh cinta dia dan jg saya tkut akan masa dpn anak saya kelak. Hingga akhirnya saya memberikan ksempatan utk rujuk pada istri saya tsb dgn syarat dia harus bertaubat dulu. Menurut ustad apakah saya tetap harus menceraikannya ataukah hrs rujuk lg demi masa dpn anak kami? Trm ksh.

    • admin
      29/06/2015 - 00:20 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Mengenai istri selingkuh ada beberapa pendapat:
      – Dalam hukum Islam seorang yang sudah menikah dan terbukti berzina dengan 4 saksi maka hukumnya adalah dirajam.
      – Jika suami menduga istri selingkuh tapi tidak dapat membawa 4 saksi, maka suami dapat menceraikan istrinya dengan Li’an (saling melaknat). http://keluarga.kawansejati.org/li-an/
      – Ada juga hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah menganjurkan untuk bercerai namun kemudian membolehkan untuk tidak cerai.
      Berdasarkan sabda Rasulullah:
      جاء رجل إلى النبي _صلى الله عليه وسلم_ وقال: إن امرأتي لا تمنع يد لامس. قال: غربها قال أخاف
      أن تتبعها نفسي قال: استمتع بها
      Artinya: Seorang laki-laki datang menghadap Nabi dan berkata: Istri saya tidak menolak tangan jahil (baca, suka selingkuh). Nabi menjawab: ceraikan dia. Laki-laki itu berkata: Tapi saya masih sayang. Nabi berkata: Kalau begitu, pertahankan (tidak perlu bercerai). Hadits riwayat (HR) Abu Daud.
      Dalam hal ini keputusan ada di tangan suami, mau rujuk atau cerai.

      Wassalam.

  • Rudy
    24/06/2015 - 21:44 | Permalink

    Assalamualaikum Ustad

    istri saya selingkuh dan dalam keadaan seperti ini selalu membela selingkuhanya, kemudian tidak ada titik temu akhirnya kita sama2 ingin berpisah, dan istri sekarang tinggal dengan selingkuhanya, saya berharap bisa taubat dan kembali ke keluarga dan harapan saya sia2…di bulan yang penuh rahmah ini Alloh menunjukkan kejadian selingkuh, dengan berat hati saya ucapkan lebih baik kita berpisah/cerai karna istri yg selama 15thn mendampingi saya ternyata hatinya ada di tempat lain, saya memiliki anak usia 14thn dan 10tn., ini bulan pertama dan saya berharap bisa rujuk tetapi istri tetap pada pendirian untuk bersama laki2 lain, malam ini dia menuntut nafkah lahir, sedangkan bulan ini gaji saya sudah habis untuk kebutuhan di rumah. ketika saya mengucapkan talak apakah kewajiban saya sebagai suami gugur yaitu nafkah lahir dan bathin. terimakasih

    • admin
      27/06/2015 - 12:12 | Permalink

      Wa alaikum salam
      – Seorang istri yang ditalak dengan kemungkinan rujuk(talak raj’iy (talak satu atau talak dua) yang masih dalam masa iddah), maka suaminya masih wajib menafkahi pakaian, makanan dan tempat tinggal. Jika suami berhubungan intim dengan istri yang ditalak, maka otomatis jadi rujuk.
      – Jika masa iddah habis, maka kewajiban memberi nafkah terputus.
      – Jika talak sudah 3x, maka tidak dapat rujuk kembali sehingga tidak wajib memberi nafkah
      – Jika suami menuduh istri berzina, maka jatuh hukum li’an (http://keluarga.kawansejati.org/li-an/), yang setelah itu suami istri wajib berpisah tanpa dapat disatukan kembali.
      Wassalam

  • junitaarfano
    25/06/2015 - 05:22 | Permalink

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. Pak ustadz
    Saya seorg istri dngn 1 org anak,,pernikhn saya sdh masuk 4 thn,,suami saya blm bs meningglkn kebiasaannya untk begadang walaupn itu hnya sekali2,,tp saya tdk suka klw suami sy begdngnya kumpul2 sambil main domino yg gk ada manfaatnya apalagi sering mlm hour dan sering jg gk pulang klw sdh asik main,,sy sdh sering mengingtkn klw tdk baik sering meningglkn sy dan anak malam hour gara2 main,,tp dia jawab kan gk setiap hari,itupun smbl kumpul2,,sy sedih ustadz klw terus2 bgn,,klw shalat sering tinggl tp kalau begadang smpi pg juga ayooo,,yg mau sy tnykn apkh saya dosa klw selalu sy yg nasehatin,ngomel2,terus sy diamkan krna sikapnya itu pak ustadz,,bagaimana dngn suami yg seperti itu pak ustadz mohon bantuannya

    • admin
      04/07/2015 - 15:04 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb
      Meninggalkan shalat fardhu adalah dosa besar, mengingatkan orang untuk shalat wajib adalah kebaikan besar.
      Begadang tanpa alasan yang jelas hukumnya adalah makruh menurut sementara ulama, mengingat ayat berikut ini:
      “Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.” (QS. Yunus : 67)
      Untuk mengubah kebiasaan memang susah. Untuk ini istri pertama-tama perlu sabar.
      Yang perlu dilakukan:
      – Istri menguatkan agamanya, terutama perkara fardhu ‘ain (http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2015/03/kewajiban-pribadi-utama-seorang-muslim.html) dan kewajiban dalam keluarga (http://keluarga.kawansejati.org/ilmu-dasar-membina-keluarga/)
      – Memperbanyak ibadah sunat seperti shalat tahajud, bersedekah.
      – Mengajak suami untuk mendalami agama Islam
      – Mendoakan agar suami berubah

  • fajriyah
    25/06/2015 - 07:44 | Permalink

    Asslkum pak ustad,
    Mau tnya kalau seorang suami mengajak brhbgan kalau istri g mau kan dosa,tp jika si istri mengjak brhbungan tp si suami g mau tu ap suami dosa ?

    • admin
      27/06/2015 - 11:44 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Jika suami tidak mau, tidak langsung jatuh dosa.
      Namun jika penolakan suami tersebut dilakukan terus-menerus sampai istri merasa tersiksa maka akan jatuh perkara zalim kepada istri.
      Secara umum banyak Ayat/hadis yang melarang suami zalim kepada istrinya. Salah satunya:
      “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
      Wassalam

  • asna
    25/06/2015 - 13:34 | Permalink

    Ass.sya mau mnta masukan ustadz,apkh sya dosa lu sring sruh suami,agar tdk trllu tergntung sma ortu nya,dn sya seorg istri tdk mau tru2 krmh mertua 2 skli,buknya apa mertua sring blng,uang skit2 hbis aja ngk ada lekat nya,pdhl lu mau prgi krmh mertua pki ongkos,dn blih mkn dn belnja.apkh sya sbgai istri slh meminta suami kurangi prgi ktmpt ortu nya biar bsa irit sdkit uang,biar ngk di blng bros

    • admin
      04/07/2015 - 13:48 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Pemimpin dalam keluarga adalah suami, jadi semua keputusan hendaknya ikut saja kata suami.
      Istri dapat saja memberi saran tentang perkara keuangan, namun jika suami sudah putuskan, maka taati saja selama bukan perkara yang maksiat.
      Memang sulit karena mesti melawan keinginan diri pada istri, namun insya Allah hal ini lebih baik untuk keutuhan rumah tangga
      Wassalam

  • awan
    25/06/2015 - 17:34 | Permalink

    assalamualaikum ustad.. saya ingin bertanya.salah kah bila seorang suami meninggalkn seorang istri krn tdk sanggup karna perkata’an seorang istri.saya tdk bekerja krn k mau’an.istri saya mauny sy drmh sama ank.istri saja yg bekerja.krn penghasilan istri lebih besar.skrng saya tdk sanggup.ingin meninggalkn ny.krn kasian juga anak pertama dan ank k 2 saya.saya jd kurang perhatian kpd ank pertama saya dan ank k 2 saja.istri saya pun tdk menyukai ank2 saya.

  • dwi utami
    25/06/2015 - 19:08 | Permalink

    Assalamualaikum ustad,,saya ingin bertanya
    Saya baru saja menikah,,dan tinggal bersama mertua
    Bagaimanakah hukum nya jika mertua dari pihak suami,,tidak mengizinkan menantu perempuan untuk betemu keluarga nya??
    Lalu bagaimana hukum dalam islam untuk menantu perempuan kepada mertua dari suami??terimakasih
    Wassalamualaikum

    • admin
      27/06/2015 - 11:38 | Permalink

      Wa alaikum salam
      * Yang berhak mengatur seorang istri adalah suaminya. Jika suami mengizinkan, maka tidak masalah bagi istri untuk bertemu keluarganya. Namun demikian tidak wajar melarang orang ketemu dengan sanak saudaranya sendiri, kecuali ada hal-hal yang bermasalah dengan syariat.
      * Sikap menantu perempuan kepada mertuanya adalah seperti ke orangtuanya sendiri.
      Wassalam

  • ika
    26/06/2015 - 21:31 | Permalink

    Assalamualaikum pa ustad mau nanya salahkah suami membiarkan istri selalu menangis dan stiap suami ada kesalahan tidak sedikitpun ada kata maaf ?bagaimana pak ustad mksh

    • admin
      27/06/2015 - 11:49 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Suami yang akhlaknya baik tidak akan membiarkan istrinya sedih (kecuali ada perbuatan istrinya melanggar syariat), dan mudah minta maaf dan memberi maaf. Dalilnya antara lain: “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
      Untuk menjadi suami yang lembut dan mudah minta maaf ini bukan hal mudah, mesti orang yang rajin mendekatkan dirinya dengan Allah, serta mau menghilangkan penyakit batin di dalam dirinya.
      Yang dapat dilakukan sebagai istri adalah memperbaiki diri, membuang penyakit batin di dalam diri, serta mendoakan agar suami juga dapat menjadi suami yang baik.
      Wassalam.

  • hamba Allah
    27/06/2015 - 07:19 | Permalink

    asslam’mualaikum ,, pak ustad sya menikah sudah 1 thun dan skrng lgi mengandung ank prtma dan kandungan sy sudah menginjak 7 bln .sblum ny sya suka ingin tahu brang kpribdian suami termsuk handpone dan sya suka mengotak atik dan tak sengaja sya menemukan foto” vulgar dri handpone suami .. tetapi suami sya jga slalu mengirimi foto” vulgar kpd wanita lain disitu hati sya sedih bahkan hancur. yg akn sya tanyakn 1.apakah sya slah telah mengotak atik handpone suami .
    2. apa yg harus sya lakukan pak ustad . dan ksih doa” biar hati sya tenang. trimakkasih.

    • admin
      04/07/2015 - 14:33 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Mengutak-atik barang-barang suami seharusnya dengan izin suami.
      Yang perlu dilakukan:
      – Sebaiknya istri minta maaf pada suami karena telah mengutak-atik barang suami tanpa seizin suami.
      – Jadilah istri yang sebaik-baiknya, dengan melaksanakan semua kterutama taat pada suami. (http://keluarga.kawansejati.org/207-kewajiban-istri-terhadap-suami)
      – Banyak berdoa agar istri & suami dapat sama-sama taat pada Allah SWT, serta mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai hamba

  • putri
    27/06/2015 - 09:34 | Permalink

    Assalamualaikum ustad.sy menikah 9th pnya anak 2 ,selama menikah bnyk sekali ketidak cocoan kmi .sang suami jarang sekali menjalankan perintah Allah.suami jg seorang pemakai barang terlarang.berprilaku kasar,jika marah bahasa kotor dan tak terpelajar kerap dilontarkan kpd sy.selama ini sy ttp sabar krna sy berharap suami bs berubah karna sy slalu berdoa agar beliau berubah.tp 9th sy jlni tdk ada perubahannya ustad.sekarang sy ingin mundur dn meminta cerai,karna sy takut durhaka kpdnya ustad.berdosakah sya minta cerai ustad?mohon sarannya ustad.terimakasih
    wassalam

    • admin
      04/07/2015 - 15:21 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Cerai itu hukum asalnya haram, kecuali jika ada sebab-sebab syariat tertentu.
      Apakah yang dimaksud dengan barang terlarang ini adalah narkoba? Narkoba menyebabkan mabuk, yang menjadikan konsumsi narkoba sebagai dosa besar.
      Wassalam

  • sintia
    27/06/2015 - 14:41 | Permalink

    Assalamualaikum pak ustad. Saya sudah menikah dan mempunyai anak 1 umur 3 tahun. Kehidupan keluarga kami pas-pasan, tapi suami bilang mau beli burung harga 400rb. Dan saya menolaknya karena menurut saya mending buat urusan rumah tangga dr pada buat beli burung. Tp suami tetap bersi keras mau beli. Dan akhirnya timbul cek cok mulut. Trus sebagai istri saya harus gimana pak ustad?

    • admin
      28/06/2015 - 22:38 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Dalam keluarga keputusan adalah pada suami, dan tanggung jawabnya di akhirat nanti adalah pada suami. Istri boleh saja mengingatkan suami, namun keputusan akhir dan semua akibatnya di dunia akhirat adalah tanggung jawab suami.
      Untuk perkara membeli burung tersebut, cukuplah istri mengingatkan suami tentang keperluan keluarga, namun tidak usah jadi bahan pertengkaran.

  • erna
    27/06/2015 - 22:31 | Permalink

    Assalamualaikum
    Pak ustad sya mau brtanya…
    Sy diajak nikah sm pcr sy usia sy 28thn janda..dan dia duda 27thn dengan satu anak..
    Dia brkata seandainya kami berjodoh maka sya harus ikut dia ke kampung temani neneknya dan anaknya.sedangkan sy mau dia ikut saya ke madura.kami beda prinsip sehingga pd akhirnya saya ptuskan setuju ikut dia tp kami hrs tinggal bersama..sdangkan dia mau stlh mnikah dia krja ke jkarta..jd saya menolak.krn prnikhan sya yang pertama gagal karna kmi jarak jauh..alasannya dkampung gak ad krjaan..jdi saya sarankn pindah ktempat sy yg lbih gampang krja.dan kbtulan saya seorang guru jd bs bntu suami…tp dia tdk mau ktya tidak dbolehkan sma neneknya…sy hnya mau brsama suami stelh nikah bukan dtinggal..kmudian dia anggap sy egois..
    Saya harus ap ustad
    Brikn penerangan bgi sya. Wassalam

    • admin
      04/07/2015 - 14:44 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Sebaiknya anda dan (calon) suami sama-sama mempelajari hak & kewajiban suami istri dalam keluarga.
      Perkara suami istri tinggal berjauhan ada dibahas di berbagai kitab fiqih, jadi tinggal anda pelajari bersama.
      Wassalam.

  • nandittawardana
    28/06/2015 - 11:48 | Permalink

    asalammualikum pak ustad.sya mau tanya pak ustad..bagai mna cara menghadapi suami seprti suami hamba pak ustad..suami sya selalu minta pda sya apa yg dia pengenin itu hrs pak ustad seprti dlm materi atau barang”yg dia pengenin itu hrs pak…apa kh d dlm islam mengatakan suami adalah kpla rmh tga dan juga wajib menapkahi istri ny…tpi knpa sya mlh tebalik pak ustad…dan suami sya melarang sya membrikan materi kpda klga dan ank sya dri suami pertma pdahal uang boleh hsil keringet sya sendiri bukan hsil suami sya pak ustad…bagai mna sya hrs ngmbil keputusan pak ustad mohon solusi ny dan nasehat dari pak ustad…rasa ny sya sudah tdk kuat menghadapi nya pak ustad terimaksih bnyk pak ustad

  • nandittawardana
    28/06/2015 - 11:55 | Permalink

    asalmualkium pak ustad..
    mohon solusi ny pak ustad bagai mna cara mengmbil kesimpulan menghdapi suami seprti itu pak yg mau nyamenang sendiri dan hrs mengikuti kemauan ny suami pak seprti dlm materi atau pun barang yg dia mnta kpda sya pak..apa kah pernikah seprti ini hrs d pertahan kan pak..terimaksih pak ustad

  • iin
    28/06/2015 - 21:24 | Permalink

    pak ustad, bagaimana hukum dan dalil nya, jika seorang suami mencari nafkah di bulan ramadhan, tp dia tidak puasa dengan alasan kerja yg d lakukan sangat berat ustad?!… sedangkan d bln ramadhan kita di wajibkan berpuasa. apakah haram uang penghasilan nya ustad?!…

    • admin
      04/07/2015 - 13:13 | Permalink

      – Puasa Ramadhan itu hukumnya wajib, jika tidak dilakukan maka berdosa. Jika pekerjaan berat, hendaknya dicari cara supaya dapat melakukan puasa, misal mengganti jam kerjanya, nego dengan pemilik pekerjaan supaya porsi pekerjaan dikurangi atau mencari pekerjaan lain.
      – Jika pekerjaannya halal , maka uang penghasilannya juga halal.

  • Pingback: Laki-laki Dayus / Dayuts | Keluarga Islami

  • katti
    29/06/2015 - 08:40 | Permalink

    Assalamualaikum wrbh.ustad apa kabar.maaf ustad saya mau numpang tanya. Apa hukumnya seorang suami lebih mengutamakan keluarganya dari pada istrinya dan apa hukum nya kami suami istri klu tidur bertiga sama keponakan .lelaki umur 5 tahun.berdosakah kita.walasamualaikum wrhb.terima kasih ustad.

    • admin
      29/06/2015 - 19:51 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      – Dalam memenuhi nafkah, seorang suami wajib mendahulukan keluarganya (istri & anak) dibandingkan sanak keluarganya yang lain. Saudara kandung yang miskin, orang tua yang miskin wajib juga dinafkahi setelah nafkah kepada istri.
      – Keponakan lelaki 5 tahun belum dewasa, jadi tidak berdosa. Namun anak 5 tahun sudah hampir mumayiz, jadi sudah perlu dibiasakan kehidupan terpisah antara laki-laki dan perempuan.

  • ifrotul
    29/06/2015 - 17:19 | Permalink

    ミ★αѕѕαℓαмυ’αℓαιкυм..★彡. pak saya mau tanya
    saya sudah menikah pak ustad pernikahan saya sudah berjalan 2 bulanan..
    waktu menikahh jln 2 mnggu lebih saya sering sakitt jadi saya disuruh suami libur bekerja dulu nunggu sehat total.. tp samapi skrng saya masih sakit2.n.. jadi belum berkerja..
    lah masalahnya keluarga saya pemasukan hanya menggandalkan suami saja..
    dan dbuat makann sehari2 terus setiap minggu saya sakitt dan harua cek dokter tiap mnggunya..
    saya merasa binggung dengan pikiran suami keluarganya lagi gk ada uang dan saudranya sering hampir setiap mnggu minta bli.in obat dan itu saya tau sendiri ekonomi kita lg seret dan suami mau mencari hutang buat bliin obat… terus apa yang harus saya perbuat pak ustad sebelumnya terimakasih dan ミ★αѕѕαℓαмυ’αℓαιкυм..★彡.

    • admin
      04/07/2015 - 14:28 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Selamat atas pernikahan anda, moga-moga anda menjadi istri solihah dan suami menjadi suami yang soleh. Moga-moga nanti diberi anak-anak yang soleh dan solihah.
      Saya turut sedih juga dengan kesusahan yang terjadi pada keluarga anda.
      Yang pertama-tama perlu dilakukan adalah bersyukur dengan nikmat yang ada:
      – ada suami baru
      – suami perhatian dengan istri
      – masih dalam keyakinan Islam
      Ketika sakit, banyak lah bertobat. Moga-moga sakit ini menjadi penghapusan dosa-dosa yang sempat dilakukan.
      Bersangka baik dengan Allah atas apa yang terjadi. Insya Allah semua kesusahan ini ada manfaatnya di dunia ataupun nanti di akhirat.

  • indri
    30/06/2015 - 06:40 | Permalink

    Assallamuallaikum…

    Pa ustadz, apa memang benar nafkah suami trhadap istri di bagi menjadi uang nafkah dan uang belanja.. uang nafkah utk kebutuhan sehari2 dan uang belanja adalah uang hak istri. Apakah ada dalilnya? Terimakasih..

    • admin
      04/07/2015 - 13:04 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Saya belum pernah menemukan dalil pembagian uang nafkah dan belanja. Dalil yang ada di Al Qur’an dan Hadis menyatakan suami sebagai pemimpin keluarga dan wajib mengurus istri dan anaknya baik lahir maupun batin, baik urusan di dunia maupun menyiapkan untuk menghadapi akhirat nanti.
      Untuk urusan uang nafkah, terserah suami bagaimana dia mau mengatur agar ekonomi keluarga berjalan. Boleh saja suami yang membeli semua keperluan, bisa juga suami menyuruh istri untuk mengelola keuangan keluarga, atau teknik-teknik lainnya yang dipandang baik oleh suami.
      Wassalam

  • n-cep
    30/06/2015 - 07:53 | Permalink

    Aslalamuakaikum wr,wb,

    Pak ustad saya mau nanya,kemarin saya dapet THR, Saya Biasa memberikan semua pendapatan saya ke istri termasuk THR. Karena saya percaya istri saya lebih bijak untuk membelanjakan pendapatan saya. Dan saya minta untuk dikasih sebagian sekitar 1/6 dari THR untuk ibu kandung saya. tetapi istri saya menolak karena kebutuhan sedang banyak katanya.

    Saya sudah minta untuk kebutuhan yang lain di rampingkan. istri saya malah sekarang ngambek, sudah 2 hari kami saling diam. dan sayapun sengaja mendiamkannya agar istri saya tau kalau itu masih hak saya. saya hanya mempercayakan semua pada istri saya. dan jikalau istri saya bilang ma’af saya pasti akan mema’afkannya. Tetapi sampai sa’at ini istri saya belum minta ma’af, dan memang sudah biasa jika kami berselisih istri saya tidak jarang sekali minta ma’af, itupun bila saya minta dia untuk minta ma’af.

    Menurut pak ustad saya harus bagaimana? saya kadang terbesit untuk bercerai tetapi saya tidak tega dengan putri kami yang sekarang mau masuk TK.

    Terimakasih P.Ustad ,
    Asalamualaikum Wr Wb.

    • admin
      30/06/2015 - 17:03 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb,
      Alhamdulillah ada kelapangan rezeki di tempat kerja anda, sehingga masih dapat THR.
      – Dalam suatu keluarga, suami adalah pemimpin, termasuk dalam masalah keuangan. Cuma memang di sebagian masyarakat Indonesia yang jadi kebiasaan adalah gaji/pendapatan diserahkan ke istri, dengan kepahaman bahwa itu adalah hak istri. Suami mesti memahamkan ke pada istri bahwa posisi istri adalah orang yang ditunjuk suami untuk mengelola keuangan sesuai dengan arahan suami.
      – Orang akan mudah minta maaf kalau dia faham bahwa dia itu hamba yang banyak kesalahan, bukan orang yang selalu benar. Supaya mudah minta maaf, orang mesti sadar dulu bahwa dirinya itu adalah hamba kepada Allah. Istri juga mesti dipahamkan bahwa suami adalah jembatan istri menuju akhirat, karena di beberapa hadis disebutkan pentingnya ketaatan kepada suami. (contoh: http://keluarga.kawansejati.org/hadis-taat-suami-dan-pintu-surga/)
      – Janganlah mudah berfikir untuk bercerai, karena Allah tidak suka perceraian walaupun itu halal.

      Saran:
      – Lengkapi lagi ilmu berkeluarga agar suami & istri sama-sama paham posisi masing-masing: suami sebagai pemimpin, istri sebagai pengikut. Suami pula paham susahnya istri jadi pengikut, istri pula paham susahnya suami menjadi pemimpin.
      – Saat ini kita hidup di akhir zaman, susah mencari amalan Islam yang sempurna. Suami pasti banyak salah, dan istri juga pasti banyak salah. Jika keduanya tidak minta maaf dan memberi maaf, nanti dosanya akan diperhitungkan di akhirat. Lebih baik suami & istri mudah minta maaf & memberi maaf. Jadi kalau istri ada salah-salah, ringan lah suami memberi maaf, dan juga sebaliknya kalau suami ada salah silap kepada istri.
      – Suami sebagai pemimpin mesti memberi contoh akhlak yang baik, supaya istri hatinya dapat berubah.

      Wassalam wr wb

  • aminah
    30/06/2015 - 14:31 | Permalink

    Ass wr wb pak ustad,saya mnikah sudah 12 tahun,dkaruniai 3anak,suami saya pkerjaanx kontraktor,saat sepi proyek suami tetep kasi uang blanja meski brhutang tapi suami ssg menolak d ajak brhubungan suami istri dg dalih capek bnyak pikiran,sudah skitar 7bulan suami gak dapat proyek,apa brdosa dia tidak mau brhubungan intim sama saya?saya malu mau maksa ,saya tau betul suami gampang stres kalo keuanganx seret,klo keuangan lancar suami saya moodx slalu bagus,saya mohon saranx pak ustad

    • admin
      04/07/2015 - 13:01 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Seorang suami wajib memberi nafkah batin (melakukan hubungan suami istri) pada istrinya. Umar bin Khattab pernah berfatwa bahwa seorang suami maksimal meninggalkan istrinya berjihad (berperang) maksimal 6 bulan.
      Nampaknya masalah suami adalah terlalu memikirkan keuangannya. Ajaklah suami untuk banyak memikirkan kehidupan akhirat, Allah, Rasul, dan sebagainya. Jangan larut dalam hal-hal dunia saja. Istri dapat memulai dengan memperbanyak ibadah di rumah, mempelajari agama, mengajak anak-anak membaca Al Quran di rumah, sama-sama belajar agama dengan anak-anak, membaca kisah Rasul & sahabat, dan lain-lain.
      Perbincangan-perbincangan di rumah juga hendaknya lebih banyak perkara-perkara agama, seperti diulas di artikel http://keluarga.kawansejati.org/06-perbualan-suami-isteri-yang-ada-cita-cita-islam/

      Jika suami ada rasa takut pada Allah, ada rasa cinta pada Rasulullah, maka moga-moga suami mau menghibur istri atas dasar rasa takut dan cinta tersebut. Bagi seorang mukmin, pikiran tentang Allah & Rasul seharusnya lebih besar dibandingkan pikiran terhadap dunia dan seisinya.
      Wassalam.

  • fanny
    30/06/2015 - 22:00 | Permalink

    Assalamualaikum uztad..
    Ustad saya sudah menikah kurang lebih sudah berjalan 1tahun..dan saya masih dalam keadaan suci. Suami saya tidak pernah memeluk, mencium, apa lagi melakukan hubungan suami istri dengan saya.. Sebagai istri saya sudah berkomunikasi dengan suami saya menyakan sebenarnya ada apa, dia hanya menjawab ketika berdekatan dengan saya jantungnya berdebar dlsangat kencang sehingga tidak nyaman apabila menyentuh saya. Pertnyaan saya apa yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang istri? Apa tindakan saya? Bagaimana masalh saya menurut pandangan islam. Terimakasih ustad.

    • admin
      04/07/2015 - 12:52 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Melakukan hubungan suami-istri adalah termasuk dalam salah satu kewajiban suami kepada istrinya.
      Jantung berdebar kencang jika berdekatan dengan lawan jenis sebenarnya wajar saja, hal itu bagian dari rangsangan untuk berhubungan suami istri. Namun jika suami merasa tidak nyaman, sebaiknya dicek ke dokter apakah ada masalah dengan jantung suami atau masalah kesehatan lainnya.
      Wassalam.

  • ictt
    01/07/2015 - 11:01 | Permalink

    assalam mualaikum pak ustd saya mao nnya apa hukum nya saya tidak menaati suami saya,sedangkan d.sisi lain saya harus menemani ibu saya yg sedang sakit,ceritannya saya mao ngontrak abis lebaran tpi ibu saya sedang sakit kaki nya patahh saya gg tega ninggalin dy ngontrak bareng laki saya,saya bingung sapa yg saya harus ikuti,saya anak perempuan satu nya yg d.rumah yg lain pda ikut suami nya.

    • admin
      04/07/2015 - 12:36 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Seorang istri mesti taat pada suaminya, termasuk jika ingin mengurus ibunya. Jadi minta izinlah dengan sungguh-sungguh pada suami untuk sementara mengurus ibu yang sakit. Coba juga diskusi dengan saudara anda yang lainnya, apakah bisa bergantian mengurus ibu.
      Wassalam.

  • iie artika
    02/07/2015 - 22:00 | Permalink

    Assalamualaikum pak ustad…saya mau bertanya apakah dosa seorang istri sudah menyuruh suami untuk sholat,tp suami nya malah cuek saja,dan lebih sering main games di ipad dibanding baca Qur’an ? Saya takut,dia beraggapan saya bawel krn sering menyuruh dia untuk sholat dan sholat

    • admin
      04/07/2015 - 05:28 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Secara umum sesama muslim perlu saling mengingatkan.
      Meninggalkan shalat adalah dosa besar, mengingatkan sesama muslim untuk shalat itu kebaikan yang besar.
      Wassalam.

  • lili
    03/07/2015 - 01:57 | Permalink

    Ass,pak ustad
    Sy sudah menikah dengan suami hampir 4 th,kami sudah d karuniai seorang anak laki2 tapi menginjak umur 11 bln anak km d ambil kembali oleh pemilik na (allah swt)
    Awal prrnikahan kami berjalan seperti pada unum na, tapi d tahun k dua,suami selingkuh pdhl d saat itu dia sdg tdk bekerja,jd harus sy yg menuhi smua kebutuhan hidup qt… sampai pd akhir na anak kami d ambil pemiliknya

    Setelah kepergian anak kami sy fikir suami akan bs lbh syg n cepat2 pnya ank kmbali trnyata tdk semakin hari semakin klihatan klo dia sudah tidak respek thdp sy lg
    Sampai hari ne pun jika sy tanyakan kapan qt pnya ank lg dia tetap bersikap santai.

    Dan akhir2 ne pun sy berfikir kalau suami sy ne sbnrnya sudah tidak menyukai saya lg
    Kata2 nya sering kasar,sering memojokkan saya,seolah2 sy tdk pernah benar d hadapan nya..

    Apa yg harus sy perbuat pak? Sy bingung? Beberapa kali saya sempat mau putus asa n minta cerai… Tp sy ingat islam tidak suka perceraian sy slalu mengurungkan niat sy n mencoba kuat n sabar

    Sy sudah berusaha semaksimal mungkinenuhi smua kebutuhan n keinginan yg dia minta,tapi sebaliknya dia malah terus menyudutkan sy bila ada keinginannya yg belum trrwujud

    Dalam beberapa bulan terakhir ne,sy bs d katakan jarang hampir tdk dpt nafkah batin

    Mohon masukan n bimbingan agar sy tidak masuk dlm katagori istri durhaka pak ustad

    Terima kasih

  • thea tia
    03/07/2015 - 10:15 | Permalink

    Saya mau nanya pak ustad apa saya salah jika saya ingin menunjukan kepada suami bagaimana juga yang saya alami selama ini sejak awal pernikahan dia selalu keluyuran bahkan sampe pagi sama teman2nya sempat juga dia sama perempuan tp wallahu alam… Makanya pak ustad dia selalu salahkan saya suami saya tidak koreksii diri sebelum salahkan saya katanya saya istri durhaka istri kurang ajar.. Pdahal pak ustad saya sangat menyayanginya dulu juga wkt keluarganya dalam keadaan yang menghimpit tampa mempedulikan diri saya and nasib orang tua (bapak )saya yang sakit keras saya tetap pergi kerja membantu dia padahal saya tahu orang tua saya yang sedang sakit tidak ada yang memperhatikannya makannyapun tidak ada yang mengurusnya dengan hati yang merintih melihat kondisi bapak saya tp saya apa boleh buat suamy sy dan keluarganya lebih membutuhkan makannya saya tetap kerja.. Walaupun sampai maut menjemput bapak saya .. Saya sebagai anag tidak bisa melihatnya karena dituntut pekerjaan ..be!
    lum genap 40 hry bapak saya meninggal .. suamy saya meninggalkan saya sudah 7 bulan dia pergi merantau kebutuhan ekonomi dia penuhii tapi saya tersiksa batin pak ustad saya selalu menyuruhnya pulang tapi dia lebih utamakan uang dari pada saya dia juga selalu mendengar hasutan dari keluarganya untuk tidak pulang katanya untuk masa depanku and anagqw tapi semnjak disana suamy saya tambah kacau dia selalu ketempat tempat maksiat minum dll ..semnjak dia pergi anag saya juga menderita bahkan saya malu sama ibu kandung saya yang tinggal semata wayang dia yang menampung saya.. Pernah saya kerja pak ustad tapi dia menyuruh ku keluar jd saya keluar kemudian dia suruh saya merawat kedua orang tuanya dan adik adiknya saya merawatnya sampai ekonomii mereka kembali seperti dulu dan orang tuanya sudah sembuh dari sakit.. Dia masih tetap saya tinggal dirumahnya tapi mertua saya pak ustad selalu membicarakan saya dibelakang selalu dia fitnah saya sama suamy saya makanya saya pulang kerumah!
    orang tua saya tapi dirumah orang tua saya banyak gunjingan d!
    ari teta
    ngga katanya saya sudah janda suami saya tidak pulang hati saya sakit pak ustad tapi suami saya tidak mau pulang bahkan dia selalu melontarkan kata2 kasar kepada saya..padahal semenjak dia merantau saya jaga baik amanahnya bahkan kehormatan saya tapi dia msh tetap salahkn saya Makanya saya sekarang ingin juga pergi ke rumah sodara saya diluar kota untuk tenangkan diri dan kalo disiini akhir dari rumah tangga saya pak ustad saya pasrah,,, padahal saya berharap dia jodoh saya sampai ajal menjemputku berdua tapi sekarang kabarnyapun jarang.. Apa saya salah pak ustad and saya harus bagaimana ?? Anak saya baru 1 pak ustad tapi kasih sayang dari ayahnya tidak pernah ada saya sudah 4tahun menikah selalu saya pertahankan pernikahn saya karena anag tapi suami saya egois dia hanya mau menang sendiri tampa melihat sisi kesalahnya…

  • nachitha
    03/07/2015 - 23:32 | Permalink

    assalammualaikum ustadz..
    saya adalah seorang istri yg bekerja.penghasilan saya lbh besar drpda penghasilan suami.kbtuhan sehari2 kluarga mnggunakan uang pghasilan saya hnya sbgian kecil dr suami.smua pengasilan sy dpakai utk kperluan rumah.tp sebalikny,pghasilan suami hanya diserahkan sktr 50%ny.sisanya dipegang sendri.sy ikhlas pak ustadz harta sy utk keluarga.ttpi ad hal yg mnganggu sy.bbrp waktu lalu ortu saya mendapat musibah.rumah ortu habis terbakar.skrg ortu sdg berusaha mmbangun rmh kembali seadanya.dgn segala kekurangan perih hati sy melihat ortu sy.tp tdk ada gelagat suami utk mmbantu menyumbang.pdhal skrg km ad rejeki lbh.sy mncoba bicara pd suami utk mmbantu ortu tp jwbanny hnya mnyuruh sy sabar.uang yg ingin sy ksh ke ortu dr penghasilan sy.kt suami jk mw diberikan uang trsbt hrs dbgi 2.sbgian lg utk mertua sy.pdhal mertua sy bknlah org yg kekurangan spt ortu sy pak ustadz.mertua sy trmsk org yg berada.tlg br sy saran pwk ustadz..

    • admin
      04/07/2015 - 12:29 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Dalam hal ini suami & istri mesti memahami dulu bagaimana hukumnya atas penghasilan istri & suami:
      – penghasilan suami adalah hak suami, namun suami ada kewajiban untuk menafkahi keluarga dan orang-orang yang ada hubungan waris dengannya, termasuk orangtuanya, saudara-saudaranya.
      – penghasilan istri adalah hak istri, dan bebas digunakan istri untuk apa saja, tidak harus untuk menafkahi suaminya, karena tidak ada kewajiban istri untuk menafkahi suami. Jika istri membagi pendapatannya dengan suami, maka ini suatu amal sunat yang mulia.
      Dalil dari hal tersebut di atas ada di banyak tulisan, terutama tulisan yang membahas mengenai perbandingan waris antara laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki mendapat 2 bagian dan perempuan 1 bagian.

      Jadi sebenarnya istri berhak menggunakan penghasilannya sesuai keperluannya. Namun kalau suami tidak paham hal ini dapat menjadi bahan keributan. Dalam keadaan orang tua istri tidak ada rumah, maka sebenarnya hal ini sangat perlu untuk segera diselesaikan.

      Saya duga ada perbedaan pandangan antara sumai & istri. Coba introspeksi diri mengapa komunikasi antara suami istri tidak lancar?

      Mengingat anda sebagai istri bekerja, ada baiknya anda baca beberapa renungan untuk istri yang bekerja:
      http://keluarga.kawansejati.org/13-renungan-untuk-suami-isteri-yang-bekerja/
      http://keluarga.kawansejati.org/permasalahan-istri-bekerja-suami-menganggur/

      Wassalam

      • nachitha
        05/07/2015 - 00:39 | Permalink

        terimakasih atas saran pak ustadz sblmny.
        suami sy bs dblg mengerti mslh agama ustadz.bliau org sholeh.dan lulusan universitas islam.fakultas ushuludin.
        bbrpa waktu lalu bahkan sblm menikah km pernah membahas bgmana jika suami tdk pnya penghasilan sdgkn sy adl pegawai berpenghasilan tetap.saat itu sy mngatakan sy ikhlas gaji sy dipakai utk kbtuhan rmh tangga.
        skrg thn ke 4 pernikahan km,suami berhenti bekerja dan memulai usaha yg penghasilanny msh jauh dr cukup utk mmenuhi kbtuhan rmh tgga.sekali lg sy katakan sy ikhlas pak ustadz gaji sy utk kbtuhan rmh tangga.tapi yg sy inginkan sy bs ttap mmbantu ortu sy yg sdg kesusahan.tdk pny tempat tinggal.adk2 sy msh sekolah.sy ingin diberi klonggraan utk mmbantu mereka mggunakan peghasilan sy pak ustadz.

        mertua sy pnya byk peghasilan.tanah dn harta byk.kontrakan.saudara ipar sy sdh pd bekerja.tp suami sy blg sy harus adil.50:50
        benarkah adil itu hrs sama rata bkn dliat dr kondisiny pak ustadz?

        pak ustadz,sy adl istri yg sedang gundah mnhdapi suami sy.sy tdk mw melawan suami.tp sy pnya keinginan yg kuat utk mmbantu ortu sy.jln yg mn yg hrs sy tempuh?tlg beri sy penjelasan pak ustadz sebaikny bgimana.

  • july
    04/07/2015 - 09:14 | Permalink

    Aslm alkm pk ustd..
    Sy mw brtny ni pk ustd.suami sy tdk prnh mw mnrima pndpt sy.dy sllu mnolak pndpt sy.pk ustd suami sy pny adk laki2 yg msih kuliah.tp dy msih dlm ktgori susah.stiap bln km hrz bntu utk biaya kul ny.smntr kmi sdg kssushn ekonomi pk ustd.jd sy blg kt blm bz bntu.smntr hdp kt msih kkurgn.blm lg klw mertua laki2 sy dtg mntk duit rkok dll.pk ustd yg sy lkukn in ap slh.mngigt khdpn ekonmi az msh ssah .tp ttp suami sy tdk mghiraukn sy pk

  • 04/07/2015 - 23:18 | Permalink

    ass’ pak ustd.
    saya ingin bercrita sedikit. baru2 ini sya bercerai dgn istri sya. istri saya meminta cerai kepada sya. alasannya saya(suami) selalu mengungkit-ungkit masalah uang yang aku telah berikan kepadanya. hal itu memang saya lakukan, karena mengingat uang yg telah saya berikan itu, kok habis semua tak ada sedikit pun simpanan. yang membuat saya melakukan itu karena aku merasa istri saya telah menyembunyikan uang itu.
    saya tambahkan lagi sedikit. saya adalah karyawan perusahaan saat itu, dgn gaji 5-7 juta perbulan. setiap saya gajian saya selalu mengirimkan uang ke istri setelah mengeluarkan tanggungan saya. jadi uang yang aku krimkan ke istri itu antara 4,5 sampai 5 juta perbulan. sementara anak kami masih satu dan msih beumur 3 tahun. nah setiap saya tanyakan kepadanya mengenai keuangan kami, dia selalu bilang uangnya habis di makan bersama anak saya. sementara saya ada di perantauan(kalimantan).
    saya curiga disini ada campur tangan orangtuanya, karena suatu ketika saya tanyakan keuangan kami, tiba-tiba ibunya angkat bicara dan mengatakan bahwa “jangan cari uangmu, lihat anakmu”. dan taraf kemakmuran mertua saya sangat tinggi(semakin kaya), sementara saya dan istri semakin melarat.
    yg ingin saya tanyakan apakah tindakanku menanyakan keuangan kami salah? dan apakah pernyataan istri saya bahwa uangnya habis di makan benar?
    mohon petunjuk dan penjelasanya.

    • admin
      06/07/2015 - 22:54 | Permalink

      Wa alaikum salam,

      Seorang suami adalah pemimpin di keluarganya, jadi wajar saja jika seorang pemimpin menanyakan kepada pengikutnya apa yang dilakukan dengan uang yang telah diberikan.
      Untuk menilai benar salah penggunaan uang cukup sulit, karena penilaian keuangan mestinya dilakukan atas dasar bukti yang jelas, yang dalam perusahaan biasanya disebut sebagai audit. Jadi mesti ada sistem akunting yang dijalankan, baru kemudian dilihat uang itu dibelanjakan untuk apa saja. Secara umum, jika dalam suatu masalah tidak ada bukti kuat, lebih baik tidak berprasangka buruk.

      Jika hanya dengan melihat taraf kemakmuran mertua yang meningkat, hal ini bukan bukti yang kuat, karena boleh jadi mertua mendapat rezeki dari tempat-tempat lain. Jika tidak ada bukti kuat, lebih baik menghindari prasangka buruk terhadap orang lain.

      Wassalam

  • Nina
    05/07/2015 - 17:38 | Permalink

    Asslkm Pak Ustad.Sy Mau Bertanya.Sy Sdh Berumah Tangga selama 9thn.Sy dan Suami sama2 Bekerja.Tp Penghasilan Suami Cuma Buat Bayar Cicilan Motor aja.Untuk Ongkos sehari2 minta sm sy Hrs 50rb/hr.js Untuk Kebutuhan sehari2 termasuk Anak sy sekolah+ ngasih Orang Tua.itu sy semua nya.Sy Sdh Bilang ke Suami,Agar cari Penghasilan Tambahan.Tp Respon nya Dia selalu Dingin.Gmn ya Pak ustad Cara Merubah nya.Tema kasih

    • admin
      06/07/2015 - 21:45 | Permalink

      Wa alaikum salam.
      Dari uraian anda, kurang jelas mengapa pendapatan suami tidak cukup, dan apakah suami masih ada waktu dan tenaga untuk mencari penghasilan tambahan. Bisa saja suami sudah bekerja keras, tapi ya pendapatan cuma sejumalh itu saja.
      Saran saya:
      – Baca uraian mengenai istri dalam meminta haknya http://keluarga.kawansejati.org/11-peringkat-peringkat-istri-yang-meminta-haknya-kepada-suami/
      – Baca uraian mengenai suami dalam memenuhi keperluan istrinya http://keluarga.kawansejati.org/209-peringkat-memberi-tanggung-jawab-asasi-pokok-terhadap-istri/
      – Nampaknya anda masih cukup makan sehingga tidak kelaparan, ada tempat tinggal, ada pakaian untuk menutup aurat, dan ada fasilitas-fasilitas untuk melaksanakan ibadah wajib
      – Ingatlah bahwa suami adalah jembatan istri menuju ke akhirat
      – Utamakanlah agama di atas hal-hal duniawi. Yang lebih perlu ditagih dari suami adalah bimbingan dalam agama, bukan keperluan lahiriah.
      – Lebih baik fokus agar suami & istri sama-sama menjadi orang yang bertaqwa.
      – Jika suami bertaqwa, insya Allah dia akan berusaha sebaik-baiknya untuk memenuhi keperluan keluarga, dan tidak akan pelit memberi nafkah kepada istrinya.
      – Jika istri bertaqwa, insya Allah akan redho dengan apa yang ada pada suami
      Wassalam.

  • Wenny
    06/07/2015 - 02:59 | Permalink

    Ass.pak ustad. Saya wenny sya ingin bertnya dn sdikit mncritkan isi hti sya.sya seorang jnda dn tlah mnikah dngan seorang pria yg sdh prnh mnikah siri sbnyk 4x dn slalu ggl untuk mmprthnkn rmh tnggax.yang ingin sya tnyakn suami sya itu setiap kli mrh selalu mencaci maki sya dngan kta kta kasar dn kta kta binatang. Apa kh yg di bilang tabiat itu bisa hilang dri diri seseorang. Saya sangat tersiksa dan membatin dengan kata kata kasar dan sikapx yg kasar kepada saya.sesekali suami saya jga mengeluarkan kata kata benci kalau ketika melihat saya. Terima kasih .

    • admin
      06/07/2015 - 21:37 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Perilaku orang sulit berubah, seperti pernah disebut sabda Rasulullah SAW-:
      “ Kalau ada orang menyatakan Gunung Uhud sudah berubah tempat, kita boleh percaya tanpa melihatnya, tapi jika si polan telah berubah perangainya, jangan kamu terima atau percaya sebelum kamu melihatnya sendiri…”
      Akhlaq baik itu adalah bagian dari kewajiban setiap pribadi muslim, selain aqidah/iman dan syariat. Di hadis disebut sebagai ‘ihsan’. Detailnya dapat dibaca di http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2015/03/kewajiban-pribadi-utama-seorang-muslim.html
      Perangai kasar itu artinya budi pekerti / akhlaq yang buruk. Untuk akhlaq dapat menjadi baik, seseorang itu mesti mengamalkan ilmu-ilmu untuk melembutkan akhlak, yang dikenal juga dengan tasawuf. Ilmu tasawuf ini tidak berdiri sendiri, mesti ada dasar aqidah/keimanan yang benar, dan pengamalan syariat yang benar. Lebih baik lagi jika ada bimbingan seorang guru yang sanggup mendidik akhlak.
      Jika ada kesungguhan dari suami untuk mengubah tabiat, yaitu dengan mengamalkan agama Islam yang menyeluruh (Iman,Islam, Ihsan), maka ada harapan bahwa nantinya tabiat buruk itu dapat hilang. Jika tidak ada upaya, maka sulit ada perubahan tabiat.
      Wassalamualaikum

  • Riska
    06/07/2015 - 16:29 | Permalink

    Assalamu’alaikum pak ustad, saya mau tanya. Ada saudara saya yang selalu bingung dengan sikap suaminya, dia ingin jika suaminya selalu menjalan sholat 5 waktu, selalu ingin sholat berjamaah bersama, dan dia juga ingin suami nya berubah agar mau menjalan sholat 5 waktu tapi suami jika disuruh susah sekali.Dan pertanyaan saya pak ustad,bagaimana jika seorang suami dsruh sholat tetapi sudh bilng iya tapi tidak dijalankan, dan bagaimna jika seorang suami bilang kepada istri kebutuhan belanja seperti membeli baju,sepatu,atau kebutuhan istri yang lain yg di inginkan istri harus ditanggung istri sendiri pdhal istri hanya mempunyai usha kecil2n saja dan jangan meminta kepada suami.kecuali meminta uang untuk kebutuhan makan sehari hari, itu bagaimana hukum nya pak ustad?
    Terimakasih wassalamu’alaikum wr.wb

  • 1 4 5 6

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Powered by: Wordpress