Artikel Keluarga

Bab 2.08 Kewajiban Suami Terhadap Istri

Nas-nas Al Quran dan hadis:

  1. Allah Taala berfirman, yang bermaksud:
    “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
  2. Dan Allah berfirman lagi:
    ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang baik akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan atas isterinya.” (Al Baqarah : 228)
  3. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda pada waktu haji widak (perpisahan) setelah baginda memuji Allah dan menyanjung-Nya serta menasehati para hadirin yang maksudnya:
    ‘Ingatlah (hai kaumku), terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para isteri, isteri-isteri itu hanyalah dapat diumpamakan tawanan yang berada di sampingmu, kamu tidak dapat memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau isteri-isteri itu melakukan perbuatan yang keji yang jelas (membangkang atau tidak taat) maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau isteri-isteri itu taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka.
    Ingatlah! Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isterimu dan sesungguhnya isteri-isterimu itu mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap dirimu. Kemudian kewajiban isteri-isteri terhadap dirimu ialah mereka tidak boleh mengijinkan masuk ke rumahmu orang yang kamu benci. Ingatlah! Kewajiban terhadap mereka ialah bahwa kamu melayani mereka dengan baik dalam soal pakaian dan makanan mereka.

    (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)
  4. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
    “Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh memperolokkan dia dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang).” (Riwayat Abu Daud)
  5. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja seorang laki-laki yang menikahi perempuan dengan mas kawin sedikit atau banyak sedangkan dalam hatinya ia berniat untuk tidak memberikan hak perempuan tersebut (mas kawinnya) kepadanya. maka ia telah menipunya, kemudian jika ia meninggal dunia, sedang ia belum memberi hak perempuan tadi kepadanya maka ia akan menjumpai Allah pada hari Kiamat nanti dalam keadaan berzina.”
  6. Nabi SAW bersabda yang bermaksud
    “Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang baik budi pekertinya dan mereka yang lebih halus dalam mempergauli keluarganya (isteri anak-anak dan kaum kerabatnya). “
  7. Nabi SAW bersabda yang bermaksud :
    “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku.” (Riwayat lbnu Asakir)
  8. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud:
    “Barang siapa yang sabar atas budi pekerti isterinya yang buruk, maka Allah memberinya pahala sama dengan pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.s karena sabar atas cobaan-Nya.” ( Cobaan ke atas Nabi Ayub ada empat hal: Habis harta bendanya., Meninggal dunia semua anaknya., Hancur badannya., Dijauhi oleh manusia kecuali isterinya benama Rahmah )
    Dan seorang isteri yang sabar atas budi pekerti suaminya yang buruk akan diberi oleh Allah pahala sama dengan pahala Asiah isteri Firaun“.
  9. Al Habib Abdullah Al Haddad berkata:
    “seorang laki-laki yang sempurna adalah dia yang mempermudah dalam kewajiban-kewajiban kepadanya dan tidak mempermudah dalam kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Dan seorang laki-laki yang kurang ialah dia yang bersifat sebaliknya.”
    Maksud dan penjelasan ini ialah seorang suami yang bersikap sudi memaafkan jika isterinya tidak menghias dirinya dan tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi ia bersikap tegas jika isterinya tidak melakukan sholat atau puasa dan lain-lain, itulah suami yang sempurna. Dan seorang suami yang bersikap keras jika isterinya tidak menghias dirinya atau tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi bersikap acuh tak acuh (dingin) jika isteri meninggalkan kewajiban-kewajiban kepada Allah seperti sholat, puasa dan lain-lain, dia seorang suami yang kurang.
  10. Dianjurkan bagi seorang suami memperhatikan isterinya (dan mengingatkannya dengan nada yang lembut/halus) dan menafkahinya sesuai kemampuannya dan berlaku tabah (jika disakiti oleh isterinya) dan bersikap halus kepadanya dan mengarahkannya ke jalan yang baik dan mengajamya hukum-hukum agama yang perlu diketahui olehnya seperti bersuci, haid dan ibadah-ibadah yang wajib atau yang sunat.
  11. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    ‘Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.” (At Tahrim : 6)
    Ibnu Abbas berkata:
    Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.
    Dan Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab at,is rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alai )
  12. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  13. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    Perintahkanlah keluargamu agar melakukan sholat.” (Thaha:132)
  14. Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”

KESIMPULAN TANGGUNG JAWAB SUAMI

  1. Menjadi pemimpin anak isteri di dalam rumah tangga.
  2. Mengajarkan ilmu fardhu ‘ain (wajib) kepada anak isteri yaitu ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf.
    Ilmu tauhiddiajarkan supaya aqidahnya sesuai dengan aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah.
    Ilmu fiqih diajarkan supaya segala ibadahnya sesuai dengan kehendak agama.
    Ilmu tasawuf diajarkan supaya mereka ikhlas dalam beramal dan dapat menjaga segala amalannya daripada dirusakkan oleh rasa riya’ (pamer), bangga, menunjuk-nunjuk orang lain dan lain-lain.
  3. Memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal.
    Ada ulama berkata:
    Sekali memberi pakaian anak isteri yang menyukakan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama 70 tahun.
    Tidak menzalimi anak isteri yaitu dengan:

    • Memberikan pendidikan agama yang sempurna.
    • Memberikan nafkah lahir dan batin secukupnya.
    • Memberi nasihat serta menegur dan memberi panduan/ petunjuk jika melakukan maksiat atau kesalahan.
    • Apabila memukul jangan sampai melukakan (melampaui batas).
  4. Memberi nasihat jika isteri gemar bergunjing/bergosip, mengomel serta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah agama.
  5. Melayani isteri dengan sebaik-baik pergaulan.
  6. Berbicara dengan isteri dengan lemah-lembut.
  7. Memaafkan keterlanjurannya tetapi sangat memperhatikan kesesuaian tingkah lakunya dengan syariat.
  8. Kurangkan perdebatan.
  9. Memelihara harga diri / kehormatan mereka.

275 Comments

1 3 4 5
  • heni anggraeni
    31/05/2014 - 17:22 | Permalink

    ُالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    Pa ustadz,,,sya bingung,,,,org tua sya mnyuruh sya untuk cerai,karna suami sya pernah ngambil uang bapak sya lewat atm,kluarga sya jdi tidk percya lgi dg suami sya,kluarga suami sya tdk jelas,dan slama kami nikah,kami tinggal brsma orngtua sya,,,stlah kjadian ini,sya langsung ϑi tuntut untuk pisah dg suami sya,sdngkan suami sya sdh meminta maaf dan janji akan mengembalikan uang itu,suami sya jg bilang,ЌaL☺ ortu sya mksa untuk cerai,sya d ajak untuk ngontrak,sya pngen ikut dg suami,tpi ibu sya sdang sakit tumor otak,sya tdk tega untuk mnyakiti ortu sya,,apa Чάnƍ hrus sy lakukan? Sya sudh coba untuk membicarakan niat sya kpda ortu sya,tpi ortu sya tdk maΰ mnerima suami sya lgi,,,

  • admin
    09/06/2014 - 07:28 | Permalink

    Wa alaikum salam,

    Hubungan antara suami, orang tuanya dan istrinya secara ringkasnya adalah begini:
    * seorang laki-laki ada kewajiban untuk berbakti pada orang tuanya
    * seorang laki-laki ada kewajiban untuk mengurus istri dan anaknya
    * seorang wanita wajib berbakti pada suaminya

    Penjelasan Al Quran & Hadis mengenai hal-hal di atas ada banyak, dapat dicari dengan Google.

    Nah untuk urusan uang belanja ini sebenarnya bukan hak istri, namun sebenarnya adalah harta suami yang diamanahkan pada istri untuk dikelola. Di Indonesia sudah salah kaprah, karena sudah menjadi kebiasaan gaji/pendapatan suami diserahkan kepada istrinya, sehingga banyak orang merasa hal ini sebagai kewajiban suami kepada istrinya.

    Suami ingin tinggal bersama orang tuanya juga sebenarnya bukan suatu kesalahan, mungkin saja dia ingin dapat mengurus orang tuanya, sedangkan mengurus orang tua bagi laki-laki adalah kewajiban.

    Mengenai sikap mertua yang anda anggap kurang baik, sebaiknya anda bicarakan dengan suami, dan setelah itu serahkanlah pada suami karena keputusan mengenai hal ini adalah tanggung jawab suami sebagai kepala keluarga.

  • admin
    03/06/2014 - 18:41 | Permalink

    Selama suami tidak melanggar aturan agama Islam, maka lebih utama untuk mengikuti suami dibandingkan mengikuti orang tua.

  • hamb a allah
    08/06/2014 - 18:54 | Permalink

    Assalamualaikum ustad
    Sya mau tanya,jika suami sya slalu memberikan jatah belanja dapur kepada mertua sya bukan kpada sya(istrinya) bgaimanakah sya harus menegurnya?bukankah uang belanja adalah hak istri yg membelanjakanya?sya tinggal bersama ibu mertua,jd uang blanja slalu di berikanya,untuk sya ajak pindah rumah agar pisar rumah jga suami sya tdk mau,padahal terlalu sering mertua sya menjelek2an sya dan suami di blakang,apa yg harus sya lakukan?untuk mem bujuk dan menegur suami sya,trimakasih,wassalam

  • 01/07/2014 - 03:25 | Permalink


    ALASAN AGAMA ISLAM BAHWA LAKI-LAKI DILARANG MEMAKAI PERHIASAN YANG TERBUAT DARI BAHAN EMAS.

    hadist nya.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    ”Emas dan sutra dihalalkan bagi para wanita dari ummatku,
    namun diharamkan bagi para pria ”.
    (HR. An Nasai dan Ahmad).
    hadist nya.
    [1] Al-Bukhari dan Muslim masing-masing dari Al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu,
    bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat
    seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya,
    maka beliau memintanya supaya mencopot cincinnya,
    kemudian melemparkannya ke tanah.
    hadits ini diriwayatkan oleh :
    (imam al bukhori dan imam muslim)
    [2] ” Barangsiapa dari umatku mengenakan emas
    kemudian dia mati masih dalam keadaan mengenakannya
    maka Allah mengharamkan baginya emas di surga.
    Dan barangsiapa Dari umatku yang mengenakan sutera
    kemudian dia mati masih dalam keadaan mengenakannya
    maka Allah mengharamkan baginya sutera di surga.

    (HR. Ahmad)
    Para laki-laki bertanya-tanya ???
    ” kenapa sih islam melarang kaum laki-laki dilarang pakai Emas?? sedangkan perempuan tidak ada larangan??”
    jawabanya??
    pada abad ke 20
    Para ahli fisika telah menyelidiki/meneliti dan menyimpulkan:
    bahwa Atom pada Emas mampu menembus kedalam kulit manusia dan
    masuk kedalam darah manusia. dan apabila pria/laki-laki mengenakan emas
    dalam jumlah dan waktu yang cukup lama maka di dalam darah dan urin
    akan mengandung atom emas (di sebut migarasi emas) dan jika
    tidak di buang maka atom emas tersebut akan menyebar ke otak,dan
    Dampak atom emas dapat mengakibatkan
    manusia tersebut akan terkena penyakit ALZHEiMER.
    Apa itu penyakit ZHEIMER??
    Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental
    dan fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil.
    Alzheimer bukan penuaan normal,
    tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa.
    Dan mengapa Islam membolehkan wanita untuk mengenakan emas ?
    “Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan,
    partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi.
    ” itulah sebabnya islam mengharamkan pria memakai emas dan membolehkan wanita memakai perhiasan emas.
    masyaallah……?????? ternyata rosullullah mukhammad saw,telah mengetahui terlebih dahulu sebelum para ahli
    fisika melakukan penelitian.
    Itulah Alasan mengapa kaum laki-laki di larang memakai perhiasan emas……….
    Wallahu A’lam bishawab.

  • delmiyanti
    04/08/2014 - 06:11 | Permalink

    ass…mualaikun pak ustat……pak sy mau tanya….apakah wajar seorang adek perempuan dari suami say memai baju suami saya….trus apakah wajar mereka klo lg asyik suka duduk terlalu dekat….klo org tidak tau mereka kk adek pst org ngira ny mereka pacaran….hukum ny itu bagai mana ustatmakasih ustat

    • admin
      04/08/2014 - 06:41 | Permalink

      Wa alaikum salam saudari yang dikasihi Allah,

      Dari segi adab Islam, seorang laki-laki perlu menjaga jarak dengan perempuan selain istrinya, walaupun perempuan itu adalah mahramnya (misal: ibu, adik perempuan, anak perempuan, keponakan).

      Laki-laki dengan mahramnya boleh melakukan beberapa hal:
      – Bercakap biasa.
      – berdekatan.
      – melihat aurat kecuali antara pusar dan lutut.

      Hal-hal tersebut jika dilakukan karena memang ada keperluannya tidak mengapa, namun jika tidak ada keperluan khusus lebih baik dihindari. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi pargaulan yang melebihi batas.

      Jika memang ada keperluan bersenang-senang di antara laki-laki dan wanita, maka hal tersebut dilakukan dalam koridor suami-istri.

      Wassalam

  • dheika
    17/09/2014 - 23:23 | Permalink

    assalamu’alaikum wr.wb

    pak ustadz saya mau tanya tentang mas kawin uang dalam sebuah pernikahan. .apakah uang tersebut yang kita sebutkan dalam ijab adalah tanggung jawab seorang suami kedepan untuk mencukupi istri sebanyak uang yg pernah di sebutkan dalam ijab. .atau hanya sebuah formalitas ? trima kasih

    • admin
      18/12/2014 - 06:25 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb,

      Mas kawin adalah bagian dari rukun nikah. Jadi kalau mas kawin ini belum ditunaikan, maka pernikahan belum tuntas. Bisa dibilang mas kawin ini sebuah formalitas, namun perlu ada karena tanpa mas kawin pernikahan tidak sah.

      Mengenai tanggung jawab suami kepada istri tidak terbatas hanya sejumlah mas kawin. Jadi tidak ada hubungannya antara jumlah mas kawin dengan tanggung jawab suami kepada istrinya.

      Jadi mas kawin anda dengan membaca Qulhu ataupun mas kawin dengan memberikan rumah yang besar, tanggung jawab suami ke istrinya sama.

  • Hana
    24/10/2014 - 11:49 | Permalink

    Assalammualaikum

    Saya adalah seorang istri, dan sudah menikah selama 5 tahun, dan sudah memiliki 2 putra. saya adalah wanita karir dan memiliki penghasilan lebih besar dari suami. selama kami menikah suami sempat beberapa kali resign dari perusahaan, karena suami memang tipe yang gampang bosan. hal ini merugikan saya sebagai istri, karena saya jadi penopang kehidupan keluarga, bahkan biaya persalinan sewaktu saya hamil sampai mengakikahkan anak semuanya saya yang mengeluarkan biaya. slama 5 taon kami menikah saya belum pernah menerima nafkah dari suami. krn gaji suami tidak cukup untuk memberi saya uang belanja, gaji suami hanya untuk keperluan anak-anak saja, itupun juga masih ditambah dari penghasilan saya untuk mencukupi keluarga. kadang ada perasaan hampa karena saya menginginkan suami yang bisa menjadi tulang punggung keluarga, karena selama ini posisinya menjadi saya yang lebih dominan, dan ntah knapa saya merasa suami sangat menikmati posisi saya yan g berpenghasilan lebih besar dari dia. dan suami tidak ada berpikiran untuk maju berkembang dikarir. mohon untuk penerangannya,apa yang harus saya lakukan untuk suami, terimakasih

    • admin
      18/12/2014 - 06:35 | Permalink

      Wa alaikum salam,

      Alhamdulillah ibu Hana sudah diberikan seorang suami, memiliki anak-anak yang moga-moga menjadi anak soleh, dan diberi pekerjaan yang insya Allah menjadi rezeki yang halal untuk ibu dan keluarga.

      Posisi pemimpin dalam keluarga adalah pada suami, jadi tidak baik jika istri memaksakan hal-hal tertentu kepada suami. Sebagai istri, pastikanlah dulu kewajiban-kewajiban sebagai istri telah dipenuhi. Hendaknya dalam kehidupan ini kita mengedepankan kewajiban kita, jangan mengedepankan hak kita.

      Dengan posisi anda sebagai wanita karir, sangat mungkin waktu anda tersita untuk pekerjaan dan kurang untuk keluarga. Coba hal ini dijadikan bahan instrospeksi dulu.

      Sangat baik jika istri berdoa agar suami mendapat pekerjaan yang baik, sehingga anda sebagai istri dapat 100% mengurus suami dan istri.

  • dewi
    26/10/2014 - 02:15 | Permalink

    Assalamualaikum, pak ustad…sy mau curhat pak, sy sdh menikah 4thn dan py putri lucu umur 2.5 th,dari awal pernikahan suami sy tidak pernah memberi nafkah,awalnya km hdp dilain kota,dia punya usaha disana.. Dan sy tinggal sama anak sy dgn pembantu,sy seorang PNS..tP krn pembantu sy minta berhenti, saat anak sya umur 1 tahun, sy jd bingung…. Sy meminta suami agar mau pindah sm sy, krn usaha suami jg tdk lancar, dan sy sdh 2 thn membiayai kontrakan tokonya,u mau pndh sy jg hrs membyr hutang suami.. Tp semenjak tgl bersama suami jd ngnggur, dia hy dirumah, sy yg mncr nafkah,klo soal uang pak, sy bersedia meberikan nya, tp sy tdk tahan klo uang yg sy berikan u membeli rokok, yg sy sgt mebencinya… Selain (˛`̯´̯)–σ suami sy jg jarang sholat, sdh berulang kali sy sampaikan, terkadang dia sholat magrib dan isya sj, krn rmh km dekat mushola, tp sholat yg lain apalagi subuh,tdk prnh dilakukannya.. Akhir2 ini komunikasi km krg bgs, kami bicara seperluny, krn dia jg mulai stress tdk ada pekerjaan….tiap malam dia duduk2 di warung kopi, plg diatas jam 12 malam,berkali2 dipikiran sy minta cerai, dan ketika bertengkar terucap sm sy…. Tp melihat anak sy, sy jd sedih, krn sbg ayah, dia sgt mencintai anaknya, tp sbg suami, dia tdk bs menjadi imam bg sy….. Sy juga bingung, klo bercerai anak sy tgl sm siapa, ortu sy tinggal beda kota,dan sy tdk bs hidup jauh dr anak sy…. Klo msh bersama, sy jg mrs tdk nyaman….. Krn harus menanggung hiduP sendiri, dan suami tdk mau meminta pertolongan kpd Allah…….

  • shinta
    03/11/2014 - 15:44 | Permalink

    Assalammualaikum..
    admin /ustadz saya ingin minta pendapat..
    sy seorang istri bekerja dan punya anak 1 batita saya sudah menikah selama 3 th. saya bimbang karena terkadang saya ingin bercerai dengan suami tapi terkadang saya takut akan akhirnya nanti apalagi perceraian hal yang tidak disukai Tuhan ,, tapi jika saya menjalani ini saya sering tertekan,,
    saya terkadang benci dengan suami saya karena dia tidak seperti seorang ayah untuk anak ku dan seorang suami pada umumnya, sikap dia yang cuek, tidak romantis, masa bodo dengan urusan dunia,, sya akui dan saya senang dengan sikap suami yang slalu berpikir utk akhirat dan saya suka ketika dia berusaha untuk mencintai Tuhan. tapi dia lupa akan tanggung jawab dia sebagai seorang suami dan ayah,, aq hanya sebagai istri secara status, dia tak memprhatiaknku menayakan keadaanku, kesulitanku, bercanda pun jarang bahkan untuk sekedar mencium kening pun sangat sulit,, setiap aq berusaha untuk bercerita apa yang kurasa dia hanya bilang ” jangan bergantung pada ku, aq lemah mintalah sama Allah ” padahal aq hanya berusaha untuk mencairkan suasana agar kami ada komunikasi jawaban dia buat saya skak dan berhenti sampai di situ tak ada pembicraan lagi karena memang apa yng dikatan benar setiap aq ingin berbagi, bercerita jawab dia sama “jangan bergantung padaku” tapi salahkah aku yang minta ingin dimanja suami,diperhatikan , aq bekerja untuk memenuhi kebutuhan aq dan anak karena suami belum bisa memenuhi kecukupan kebutuhan kami, secara pendidikan formal saya lebih tinggi begitu juga dengan pendapatan tapi saya tak mempersalahkan karena saya dari awal komitmen setinggi apapun pendidikan seorang istri tetap istri dibawah suami,, tapi sikap suami saya yang membuat saya kesal yang membuat saya merasa tak diperdulikan tak berharga dan tak penting utk kehidupan dia.. kehidupan rumah tangga kami membosankan,, ketika aq ingin slalu dicium kening sebelum tidur dia asyik dengan hp,, ketika anak sakit malam menangis dia asyik tidur terlelap, tak menunjukkan ke khawatiran semua diserhkan kepada Tuhan.ketika ingin berjlan2 bersama keluarga dia tak punya waktu dan tak pernah inisiatif mengajak kami rekreasi ketika saya merasakan tidak enak badan dia tak peduli hanya bilang bersabar, dan jangan bergantung pada suami. apa yang harus saya lakukan… saya belum bisa memahami pemikirannya yang seakan akan semua tanggung jawab suami ada pada TUHAN.. lalu peranan suami apa???!!! mohon pencerahanny jika memang saya harus memahami pemikiran suami,, apa yng bisa saya lakukan saya ingin membangun keluarga samara,, terimaksih admin/ustadz.

    • admin
      18/12/2014 - 06:17 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Saudari Shinta yang dikasihi, dalam kehidupan ini kita akan mengalami hal-hal yang menyenangkan dan kesusahan-kesusahan. Apa-apa yang menyenangkan ini hendaknya disyukuri, dan apa-apa kesusahan ini hendaknya dijadikan bahan pelajaran bagi kita.
      Dalam kasus anda, anda sudah ada suami yang nampaknya cukup religius, namun kurang ‘mesra’ ataupun kurang berperasaan lembut pada istri.
      Dalam hal ini, saran saya anda mensyukuri dulu bahawa anda telah diberi suami yang baik dalam menjalankan agama. Kalau kita lihat banyak suami yang tidak menjalankan agama, malah melakukan perbuatan maksiat. Bersyukurlah bahwa suami dalam keluarga tidak mengajak atau pun membiarkan istri melakukan hal-hal yang nyata-nyata maksiat.

      Mengenai keinginan anda untuk dimanja dan diperhatikan suami, hal ini sangat manusiawi dan normal. Kalau kita lihat di hadis Rasulullah SAW, banyak hal-hal yang menganjurkan suami untuk mesra kepada istri. Hal-hal ini termasuk kepada bagian ‘akhlak’ atau perkara perkara hati, bukan perkara-perkara syariat. Kemesraan ini datang dari dalam hati, bukan sekedar ikut aturan saja. Jadi tidak bisa istri menunjukkan sebuah hadis tentang kemesraan suami istri, kemudian serta-merta suami jadi mesra.

      Saran:
      Bersikaplah mesra dan lembut kepada suami atas dasar agama Islam. Artinya anda bersikap baik kepada suami atas dasar ingin dekat dengan Allah, ingin mengamalkan sunnah Rasullah, ingin seperti para sahabat perempuan yang rata-rata sangat baik dan taat pada suaminya.

  • indah
    28/11/2014 - 19:13 | Permalink

    ass pak ustad
    suami sy tidak mau klau di suruh sholat
    terkadang marah.
    dan suami sy termasuk kategori suami
    yang kurang,suami sngt marah jika
    sy kurang melayaninya dlm sgla hal.
    tp suami tdk pernah menyuruh sy sholat.
    sy hrs bagaimana ustad?

  • nopiyanto
    05/12/2014 - 07:15 | Permalink

    Saya mau tanya,saya seorang suami saya punya anak 1 baru berumur 13bulan,saya kerja di jakarta sedangkan istri saya di desa,istri saya selalu ingin ikut ke jakarta tetapi gaji saya gak cukup buat hidup bareng di jakarta sedangkan istri saya selalu kepikiran saya terus dan merasa tidak betah dan tidak bahagia kalau sendirian,.lebih baik saya memilih pekerjaan apa pulang ke desa bareng istri saya

    • nopiyanto
      05/12/2014 - 07:17 | Permalink

      Dan kalau menurut agama itu hukumnya apa,dan jalan terbaiknya saya harus gimana

    • admin
      18/12/2014 - 05:55 | Permalink

      Sebagai seorang suami, kewajibannya yang utama adalah menjaga keselamatan keluarganya lahir dan batin, dunia dan akhirat. Seperti disebutkan di surat Tahrim 6 ““Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Jika suami ada di dekat istri, lebih mudah bagi suami untuk membimbing anak & istrinya, serta untuk memenuhi keperluan-keperluan istrinya.

      Insya Allah rezeki ada di mana-mana di muka bumi ini. Kehidupan di Jakarta mahal secara ekonomi dan juga cukup membuat stress. Jadi jangan kuatir kalau harus mencari mata pencaharian di luar Jakarta.

  • lira
    16/12/2014 - 00:23 | Permalink

    ass,,, pak ustad sy mw tanya
    sy udh stahun menikah dan dkaruniai seorang putra umurny skrg dah enam bulan .kan kalaw udah mnjadi seorang istri tanggung jwb ny kan lbh besar .wajar gak sy menolak ketika suami sy mnt dpijitin ?pas waktu it bdn sy capek pak sharian krj gk brhnti”
    kasih saran lh pak agar sy tau ap yg hrus sy lakukan
    wassalam

    • admin
      18/12/2014 - 05:50 | Permalink

      Jawaban ringkas:
      Dari sisi pandang syariat, apa-apa permintaan suami tetap mesti dipenuhi oleh istri. Tunaikan dulu permintaan suami, sambil istri memberi pengertian kepada suami bahwa kondisi fisik istri sudah sangat kelelahan.

      Jawaban panjang:
      Dalam sebuah keluarga ada kewajiban-kewajiban pada suami dan istri. Jika suami & istri menjaga pelaksanaan kewajiban masing-masing maka insya Allah keluarga akan baik. Dalam kasus istri kelelahan, sebenarnya suami punya kewajiban untuk mengetahui keadaan lahir & batin istrinya, sehingga suami sebagai pemimpin dapat mengambil keputusan dengan baik. Sebagai pemimpin, apa-apa hal yang terjadi pada istri akan menjadi tanggung jawab suami sebagai pemimpinnya. Jika istri kelelahan, sebaiknya cari waktu yang baik untuk menyampaikan hal ini kepada suami dengan cara yang baik.

      Di sisi lain, suami juga ada kebutuhan-kebutuhan akan istrinya, yang mungkin sulit ditunda. Bisa saja karena kelelahan di pekerjaan maka perlu hiburan dari istri, atau karena sempat ternampak perempuan lain. Dalam hadis disebutkan jika suami melihat perempuan lain maka salah satu solusinya adalah sang suami segera mendatangi istrinya.

      Jadi dalam kasus suami minta ‘layanan’ dari istri, maka hendaknya dipenuhi dulu untuk saat itu, sambil berusaha mencari waktu dan cara untuk menyampaikan kondisi fisik istri ke suami. Insya Allah hal ini akan menjaga keutuhan rumah tangga. Suami posisinya adalah pemimpin, namun perlu juga dibantu istri dengan memberikan informasi yang tepat mengenai keadaan rumah tangga.

  • Nisa
    22/12/2014 - 20:37 | Permalink

    Lagi cari2 referensi kebetulan mampir di artikel ini.
    Maaf sebelumnya, dari jawaban2 pertanyaan rasanya admin seperti menjawab dengan ke egoan sebagai pria. Seolah2 istri selalu harus bersikap baik pada suami meski suami jahat dan tidak pengertian.
    Apakah suami yang menyusahkan seperti suami ibu lira itu tidak akan dihukum Allah? Sampai2 hanya dibahas kewajiban istri untuk patuh.

    Lalu bagaimana aplikasi perintah Allah agar suami menggauli istri dengan baik? Bertindak seenaknya sendiri pada istri tentulah bukan bentuk menggauli istri dengan baik, melainkan menyusahkan istri. Maaf jika ada kata yg kurang berkenan.

    • admin
      31/12/2014 - 04:30 | Permalink

      Terimakasih untuk komentarnya.
      Dalam kasus tersebut memang ada kekurangan dari pihak suami yang perlu diperbaiki. Namun demikian jangan sampai kewajiban istri tidak tuntas gara-gara ada kekurangan pelaksanaan dari pihak suami. Jadi sudah saya tambahkan bahwa untuk jangka pendek permintaan suami diselesaikan dulu, dan untuk solusi jangka panjangnya perlu dikomunikasikan permasalahan istri ke suami. Dengan demikian suami terhindar dari berbuat zalim kepada istri.

  • rissa
    10/01/2015 - 06:22 | Permalink

    assalamualaikum pak ustad..sy minta tolong d carikan solusi masalah yg sedang saya alami. saya saya tinggal d rumah mertua, selama ini suami kerja d toko milik mertu saya…ttpi pak ustad suami saya selalu saja d tekan dengan pekerjaannya…tidak pernah dberi kesempatan libur,skit pun masih bkerja…sedangkan adiknya yg sama2 udh berkeluarga jg bisa kmn2 g d sindir atau d marah, pak ustad…berdosa kah jika saya dan suami pergi meninggalkan orang tua untur berdikari dan membina keluarga sendiri??? jujur pak ustad… suami saya tertekan dan saya pun jg… kami masih bingung klo mau meninggalkan mereka takut bedosa.. tolong minta solusinya pak ustad…

  • 12/01/2015 - 13:30 | Permalink

    Ass.. Pak ustad sy mau minta solusi. Sy dan suami sy sudah d karuniai 1anak prempuan. Suami sy blm kerja, sy juga msh blm bisa kerja karena anak sy bru berusia 10bln, dan sy masih menyusui karena anak sy tdk bisa minum pakek dot.
    Sy ingin menceritakan tentang mertua saya, saat ini sy sudah brtempat tinggal sndri menempati rumah mertua sy yang lama. Awal sy menikah mertua sy terlihat syang skali pd sy. Tetapi stelah sy punya ank beliau lama k’lamaan sering ikut cmpur urusan sy dan suami sy. Tiap kali sy memakai bju bru, beliau memarahi suami sy, ktanya gausah beli2 bju terus mending buat makan. Pdhal sy gag pernah d blikan. Itupun bsa d hitung pling tidak 1th bru 2x saja d blikan bju. Skarang hbngan sy dan suami sy kurang harmonis, sy jrang komunikasi. Tiap kali sy k rmh ortu sy, mertua dan suami sy sperti tdk snang, ada saja om0ngan yg tdk enak yg d l0ntarkan pd sy stelah dr rmh ortu sy. Terlebih lg skrg mrtua sy sperti tdk suka pd sy. Mulai dr ta2pan mata dan tingkah lakux pd sy. Suami sy jg skrg sperti itu. Sy hrus bgaimana ustad, sy sdah tdk tahan. Krena ketidak suka’anya pd sy d om0ngkan pd tetangga2, sampai terdengar ke ortu sy. Sy ingin minta cerai itu bgaimana pak ?

  • rizkia
    12/01/2015 - 20:41 | Permalink

    Assalamualaikum pk ustad
    Saya bingung pk dg rumah tangga saya ini bgaimana menyikapix…suami saya selalu berfikir bahwa saya tidak pernah menyukai mertua saya ya memang saya pernah sakit hati ke mertua saya yg selalu mengatur rumah tangga saya.dan kata2nya selalu menyakiti saya.
    -ap salah jika saya merasa sakit hati dg perlakuan mertua saya?
    -dan suami saya selalu menyalahkn saya..sedangkn sya sdah brusaha memaafkn smuax

  • 03/02/2015 - 12:11 | Permalink

    ass..pa..saya..mau..tanya..saya..lagi..hamil..tpi..suami..saya..sering..menghina..saya..dan..membentak..saya…itu..hukumnya..gimana

    • admin
      12/02/2015 - 14:53 | Permalink

      Jika istri menjalankan semua kewajibannya kepada Allah dan kepada suami, maka tidak ada alasan bagi suami untuk kasar kepada istrinya. Perlu dilihat dulu apa yang menyebabkan suami kasar kepada istri.

  • meridyawati
    12/02/2015 - 06:50 | Permalink

    apa hukumnya ustad…kalau suami suka mengirim uang pada wanita lain…sedang anak istri diberikan uang belanja pas pasan saja…

    • admin
      12/02/2015 - 14:49 | Permalink

      Perlu dilihat dulu apa kepentingannya uang tersebut diberikan kepada wanita lain, dan apakah hak-hak anak & istrinya sudah dipenuhi?
      Bisa saja memberikan atas dasar hadiah, sedekah , dan sebagainya.

      Boleh saja seorang suami memberikan uang kepada siapa saja, namun tetap keluarganya sendiri (anak & istri) lebih utama.

  • nadina bahellwan
    14/02/2015 - 04:12 | Permalink

    Ass” ..
    Saya mao tanya apa yg harus saya lakukan ketika istri pertama mulai mengetahui keadaan saya… tetapi suami tidak mao meninggal saja pdhal saya sudah bilang mending saya yg ngalah karna saya tidak mao mengahancurkan kluarganya dia.. mksih

    • admin
      21/02/2015 - 11:18 | Permalink

      Kalau suami tidak ingin berpisah, istri tidak dapat memaksa suami untuk bercerai. Dalam keadaan suami punya 2 istri, maka jika istri ke-2 berpisah hal itu sebenarnya dapat juga dikatakan menghancurkan keluarga suami. Selama suami dapat bersikap baik dan adil kepada istri-istrinya, maka tidak ada alasan untuk bercerai.
      Ulasan lebih jauh ada di http://keluarga.kawansejati.org/istri-minta-cerai-karena-poligami/

  • udin
    16/03/2015 - 02:48 | Permalink

    Assalammualaikum wr.wb
    Ustad saya mau tanya kalau istri slalu marah dan seperti kesetan itu kira kira kenapa?…. dan apa kah tidakan saya benar saat istri marah saya slalu meminta maaf kepdnya walaupun saya tdk bersalah itu saya lakukan agar amarahnya hilang dan kalau dia marah besar kata kata minta cerai slalu diucapkan pada saya sangat sayang dan cinta sama istri saya dan kalau saya yg memberi saran enta masalah agama atau dunia istri saya slalu meremehkan ucapan saya dan slalu bilang tdk ada gunanya dan katanya udah gak usah banyak omong sambil marah saya hanya terdiam dan berfikir emang ilmu agama saya kurang dari pd istri saya maklum saya orang biasa sedangkan istri saya seorang alumni astriwati pesantren ustad apa yg hrs saya perbuat. Mohon jawabanya dan pencerahannya dan saya ucapkan trimakasih sebelum dan sesudahnya semoga menjadi berkha bagi keluarga saya amin

    • admin
      16/03/2015 - 06:42 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb,
      – Suami adalah pemimpin bagi istrinya, walaupun istrinya kaya ataupun pandai. Jadi walaupun istri lulusan pesantren, tetap saja suami mesti jadi pemimpin bagi istrinya
      – Mengapa istri marah-marah? Apakah marah karena perkara syariat atau bukan? Jika marahnya karena perkara-perkara akhirat, masih bisa dibenarkan, terutama kalau masalah aqidah / syariat yang pokok. Itu pun seharusnya dengan cara berhikmah. Dalam kasus ini tidak dijelaskan hal apa yang membuat marah, jadi sulit untuk berpendapat.
      – Mengenai istri minta cerai, ada beberapa hal:
      1. Bercerai itu tidak disukai Allah walaupun dalam beberapa keadaan diperbolehkan.
      2. Jika istri minta cerai tanpa alasan syar’i, maka hal ini haram.
      Hadis:
      “Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 1928, At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah)
      3. Istri minta cerai dalam Islam dikenal dengan istilah “Khulu'”. Silakan anda baca-baca referensi mengenai Khulu’, antara lain di http://keluarga.kawansejati.org/istri-minta-cerai-karena-poligami/

      Saran:
      – Berkeluarga perlu ilmu yang cukup. Coba cek artikel http://keluarga.kawansejati.org/ilmu-dasar-membina-keluarga/ untuk memastikan apakah ilmu anda dalam berkeluarga sudah lengkap.Jika ada yang kurang, carilah pengajian dan buku-buku untuk melengkapi ilmu agama anda. Seharusnya ilmu fardhu ain sudah 100% difahami dan diamalkan ketika kita baligh, dan ilmu berkeluarga sudah 100% didapat ketika mau menikah, namun tidak ada kata terlambat untuk mempelajari hal-hal tersebut.
      – Ilmu tidak hanya dihafal, namun perlu diamalkan dan dihayati

    • 16/03/2015 - 10:42 | Permalink

      Ada baiknya luangkan waktu untuk merenung kembali tujuan menikah.

  • Pingback: Ilmu Dasar Membina Keluarga | Keluarga Islami

  • udin
    17/03/2015 - 00:34 | Permalink

    Pak usdtad yang jadi pemicu istri saya slalu minta cerai itu mungkin karna ekonomi kami. Dulu kami sepakat mau kekalimantan bersama utk mencari penghasilan lebih setelah ada masalah pertama sempat istri saya sudah daftar ke pengadilan agama utk proses cerai 2 minggu setelah daftar dicabut lagi berkasnya tdk jadi cerai istri saya sampai seperti itu karna sudah tertipu uang sebesar 8jt oleh tetangga kami yg katanya buat modal usaha bersama istri saya tp uangnya hbs di pakek oleh tetangga dan tdk dikembalikan padahal uang sebesar itu kami dapat dr pinjam bank makanya istri saya sempat sters lalu ambil langka salah bercerai dg saya tapi alhamdulillah td sempat terjadi percerai kami, tapi istri saya kasih syarat mau rujuk kalau kita hijra ke kalimantan saya sepakat dg istri lalu pinjam uang lagi ke bank setelah dapat uangnya kami tdk jd ke kalimantan dikarnakan ada warning dr kakaknya kalau di sana belum ada kerjaan dan disamping itu pula istri saya keberatan kalau harus tinggal jd satu sama ibunya yg sedang sakit struk para, dan memang di antara istri dan ibunya ( mertua saya ) dari dulu semenjak istri saya nikahi slalu bersinggungan satu sama lain, saya berusaha menasehatinya mala istri menjawab itu urusanku sama ibuku, dan alhasil kami menetap di jawa timur sampai sekarang dan kami sepakat kalau uangnya di pakek utk modal jualan baju sama istri saya tapi malah bangkrut jadi sampai sekarang kami masih menanggung hutang ke bank dan saya sendiri kerja di pabrik swasta dg gaji 1jt 8ratus ribu rupiah dan diselah kerja saya mencari tambahan uang dg jualan mainan keliling kesekolahan dekat rmh kami dan istri membantu dg jualan es depan rmh. Tapi tetap menurut istri saya semua belum cukup karna istri saya slalu malu kalau ketemu temannya soalnya rata rata teman istri saya punyak mobil sedangkan kami gak punya intinya istri saya slalu bermimpi utk jadi orang kaya. Jd apa yg hrs saya lakukan dan akhir akhir ini setiap sholat istri saya tdk mau berjamaah dg saya dan anak anak dia selalu marah bila saya ajak berjamaah dan slalu menjawab dengan nada marah saya sholat sendiri aja. Dan bila saya berusaha menyentuh tubuhnya slalu berusaha menghindar dan membentak saya dg lantang dan bila saya ajak bergaul tetap mau tapi sepertinya terpaksa terlihat dari wajahnya.

  • hamba allah
    25/03/2015 - 17:37 | Permalink

    pak ustadz sy mau tanya,saya seorang menantu tetapi sy selalu dihina oleh mertua saya tp mertua saya selalu mengatakan bahwa seorang anak menantu itu hrs menurut mertuanya,katanya mertua itu seperti ibu nya,tp bagaimana klo mertua itu sebenarnya tdk suka dan selalu menghina saya,selama ini saya tetap bertahan tetapi sekarang saya mungkin sudah tidk kuat lgi,kadang mertua sy mengadu kpd suami sy sehingga sy didiamkan oleh suami sy,sy harus bagaimana pak ustadz ,

  • putry anggry mooduto
    27/03/2015 - 18:07 | Permalink

    ass.pk sy seorg janda dgn stu putri slma 14 thun.sy hidup brsma putri sy dn pd akhirnya sy memutuskn utk mnikah.pd thun 2014 yg lalu tpi sy bngung pk bgmn cranya sy membri tau suami sy agr suami sy bsa nafkahi sy.krn slma s thun menikah suami sy gk pnya krjaan ttap sdangkn kbtuhan hdup sllu mningkat apa lg sy krja cmn tkang pijit.kdng sehri sy gk mndptkn rezeki sdngkn suami sy cuek”sj gk peduli am sy klparan krn dia plg k tmpt kots udh knyang mkn di rmh tantenya sdngkn sy sm ank sy cri mkn sendri kdng sy mnahan lpar krn mknanya dksih ke ank sy.dn sy sm suami sy udh krg lbh s bulan gk sling tegur spa.
    gmn pk ap sy bsa mnta cerai sdngkn suami sy gk nafkahi sy dn ank sy mngkn krn ank sy bkn drh dagingya jd dprlkukn bgtu am suami sy.sy mhon pjlsanya dn gmn bsa gk sy mnta cerai dn apa sj yg bsa sy lkukn pk.trmh ksih.

  • abdol qodir
    28/03/2015 - 01:26 | Permalink

    assalamualaikum…
    saya seorang suami. saya sudah menikah tahun ini menginjak usia pernikahan yg ke 7.
    saya sangat mencintai keluarga saya. anak dan istri saya.
    saya punya usaha sendiri. dan kami jaga berdua.(sama istri plus anak).
    pagi jam 07 kami antar ke sekolah dan kami lanjut buka usaha. jam 12 siang saya jemput anak sekolah. istirahat dan bermain di sana . jam 04 gantar nang tpQ. hbs itu kembali ke usaha kami. semua kami lakukan bersama. (susah senang bersama). ulang jam 20:00. sampai dirumah, saya sempatkan cari baju kotor orang tua saya,( maklum saya anak ragil dan yg kumpul dgn mereka), tak masuk kan mesin cuci, dan tak tingal tidur, hbs sholat shubur saya yg menjemur pakaian kotor. istri masak buat bekal anak dan orang tua saya, selepas jemur baju saya sempatkan nyapu depan dan rumah. hbs itu mandi dan berangkat spt semula. ini udah berlangsung cukup lama, sampai sekarang.
    yg ingin saya tanyakan, saya ini ingin py waktu untuk diri saya sendiri, dan menikmati semua yg saya mau, sendiri. se hari dalam satu bulan.
    begitu juga sebaliknya, aq ijinkan istri saya melakukanya hal yg sama, untuk hoby nya belanja.
    tapi istri saya marah.
    kalo rumah tangga di biar kan begini. capek dan membosankan.
    meski.
    di sela waktu luang kami menikmati nya, jalan jalan,jajan,ngopi,makan, bersama selepas kerja. berlibur tiap anniversary. huntting foto untuk mendekatkan kala marah an.
    semua kami lakukan se normal mungkin.
    intinya saya cuma ingin sesekali bisa menikmati waktu berkualitas untuk diri saya sendiri.
    itu saja.
    gimana? pak.
    salah kah.

  • 01/04/2015 - 06:41 | Permalink

    asslamua’alaikum ustadz
    saya ada seorang istri yang udah menikah hampir 7 thn,
    di dalam kehidupan keluarga kami selalu di ribut kan maslh keuangan,
    saya wanita karir,suami saya seorng kontrak tor,
    kami punya penghasilan masing”,
    tapi suami saya jarang sekali kasih uang belana dan nafkah buat saya,
    kalau suamia saya tak punya uang untuk kebutuhan nya,dia slalu meminjama sama saya,
    saya pun kasih punjaman,tapi setelah sya nanya uang pinjaman dia,suami saya slalu marah,dan mengungkit semua pemberian dia sama saya, sampai mslah dia buat rumah untuk kami tingal di ungkit nya..
    saya kadang bingung ustaz,dan kadng saya berpikir sya ini bodoh atau sya ne gimana ya ustaz..
    dia punya istri tua,tapi kalau di kelurga istri tua nya dia slalu menfkahi 100%,sekarang istri nya minta cerai kerna ketahuan suami saya punya istri baru lagi..
    tapi setelah mereka bercerai suami sya slalu perhatian terhadp mantan istri dn ank”nya ketimbang sya,
    malahan sering pulang mandi dan makan di tempag mantan istri nya,
    sya sebai seorng istri harus gi mna ustrz,sya kerja siang malam hnya utuk kelurga sya dan kebutuhan rumah tangga saya,
    tolong penjelasan dan solusi nya ustaz…

  • joko
    11/04/2015 - 07:42 | Permalink

    Saya sebagai anak merasa kasian sma ibu saya yang selalu di sia2kan sma bpk tiri saya terkadang sampai ibu saya di pukul sama bpk tiri saya sya bingung harus berbuat apa terkadang ibu saya sampai saat saran kan untuk hidup ber dua sama saya dan menjauh dari kehidupan bpk tiri sya dunia akhirat saya gk bakal trima klw ibu saya di aniaya oleh bpk tiri saya klw sudah ribut terkadang bpk tiri saya bisa pergi dari rumah sampai 1bulan gk pulang akhir nya terpaksa ibu saya hutang kesana kemari untuk biaya hidup kami dan untuk bayar kontrakan dan untuk biaya kedua adik tiri saya untuk sekolah selama dia pergi tidak pernah bpk tiri saya menafkahi ibu saya trus klw bpk tiri saya sudah pulang dari marah nya dia bawa uang tapi uang itu di guna kan untuk membayar hutang untuk biaya hidup kami sewaktu dia pergi gk menafkahi ibu saya akan tetapi klw uang yang di berinya habis dia selalu mengungkitnya lalu dia marah dia pergi lagi hanya itu lah yang berulang ulang terjadi terkadang sebelum dia pergi pasti bpk tiri saya selalu meninggal kan pukulan kpda ibu saya terkadang saya bingung saya harus gmna tolong kasih saya solusi

  • husna
    12/04/2015 - 00:53 | Permalink

    assalamualaikum warrahmatullahi wabaraktuh
    pak ustadz,apa yg harus sya lakukan apabila mertua sya slalu mngatur rumah tngga sya seenakx,bhkn mmksakan khndak agar sya n suami mnurut.lbih sdihx lg,ibu mrtua sya suka sekali mnggosip,mmfitnah bhkn mmbuka aib rumah tngga sya (sya prnh pinjm uang dgn mrtua)kpd org lain..serta suka mngadu domba suami dgn saudarax dgn hal yg d putar blikknx.suami sya sifatx sgt mnurut ortu n psrh dgn prbuatn ortu trhdp rumah tngga kmi.apakh sya hrs mndiamkn tp hti skit atwkh sya mmpringtkn tp ortu bsa trsinggung(sifat ortu cndrung pmarah,pndendam n kurg pngrtian)…syukron ustadz ats nasihatx:)

  • surya
    12/04/2015 - 17:35 | Permalink

    Asslm pak ustat.saya punya istri…,baru nikah 2 bln…,trus jadi tkw di arab saudi….,yang saya bingungkan…,sepeser pun saya ndak pernah tau hasil dari istri saya…,semua di kuasai ibu dari istri saya….,saya harus gmana p ustat…? Mohon pencerahan….

    • admin
      12/04/2015 - 18:55 | Permalink

      Wa alaikum salam,

      Dalam Islam, penghasilan seorang istri menjadi hak pribadi sang istri, dan dapat dibelanjakan sesuai dengan keinginan istri. Keperluan rumah tangga bukan kewajiban istri, namun boleh saja istri membelanjakan uang tersebut untuk keperluan keluarga.
      Berbeda dengan penghasilan suami, karena suami memiliki kewajiban untuk memenuhi keperluan rumah tangga.
      Jadi secara asalnya, penghasilan istri sebagai TKW adalah haknya pribadi, dan terserah sang istri mau dipakai untuk apa.

  • Dewi
    18/04/2015 - 16:16 | Permalink

    Assalammuallaikum..

    Saya punya suami yang pekerja keras, saking sibuknya dia sampai tidak pernah sholat, dirumah pun saya ajak sholat susahnya minta ampun, bahkan sering juga sampai pulang malam saya senang sih punya suami pekerja keras tapi kalau sampai gak mau sholat kan salah juga, terkadang Ortu saya juga kasihan sampai bilang apa gak cari kerja lain saja dari pada kerja yang sekarang terlalu menyita waktu, saya tau maksud ortu saya baik bilang seperti itu tapi nyata nya suami saya selalu saja malah menghina orang tua saya yang pengangguran, luntang lantung gak jelas, memang orang tua saya gak kerja, soalnya sudah tua juga sering sakit2’an, tapi kalau sudah bawa2 ortu apa lagi sampai menghina anak mana yang bisa terima dan tidak sakit hati..

    • admin
      07/05/2015 - 06:32 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Sebagai istri, seharusnya sangat prihatin ketika suami mengabaikan ibadah shalat. Amal pertama yang ditanya di akhirat adalah shalat, jika shalat tidak betul, maka amalan lain tidak ada nilainya di sisi Allah.
      Shalat juga memiliki manfaat menjauhkan perbuatan keji dan munkar, jika orang mengabaikan shalat maka berakibat timbul perilaku-perilaku kurang baik, seperti tidak hormat kepada mertua.

      Lebih detailnya silakan mengikuti ilmu-ilmu dasar dalam keluarga: http://keluarga.kawansejati.org/ilmu-dasar-membina-keluarga/

  • hamba allah
    05/05/2015 - 21:09 | Permalink

    Ass pak ustad,sy mau nanya nih wajar kah seorg suami berkata sm istri nya kasar,begini pk ustad sy srng kelahi sm suami sy mslh keuangan,krn suami sy gk krj2,trs jika kita udh baikan kita selalu bercanda,tp dr bercanda sllu jd ribut gr2 mslh sepele,sy prnh bercanda sm dia suami sy blng jika sy selingkub dia tdk akn mrh tp dia akn bls dgn cra pcri adk kandung sy tp ngmng ini smbl bercanda,sy mau tnya wjr kn suami blng kyk gtu sm istri tnpa memikirkn perasaan istri wlupn itu lg bercnda,mksh pk ustad jika sudi menjawab.wassalam pk ustad

    • admin
      07/05/2015 - 07:02 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Bercakap kasar ataupun lembut itu muncul dari akhlak seseorang. Akhlak itu ibarat bunga, syariat itu ibarat pohon, sedangkan keyakinan/aqidah itu ibarat akar. Akhlak itu akan baik jika diawali dari aqidah(keyakinan) yang baik, dan dari situ ada syariat yang baik. Ilustrasi aqidah-syariat-akhlak ini dapat dibaca di http://keluarga.kawansejati.org/ilmu-dasar-membina-keluarga/
      Bercanda tentang selingkuh ini tidak baik, karena dalam Islam selingkuh/zina adalah dosa besar. Bercanda yang baik adalah bercanda menghibur hati pasangan dengan hal-hal yang halal, misal dengan hal-hal ‘manis’ antara suami-istri.

  • ida tarida
    07/05/2015 - 00:55 | Permalink

    Assww ustd, mohon saran & pencerahannya, 25 tahun pernikahan sy coba bertahan dan ikhlas hati dg menghibur diri bhw sy sdg bersodakoh mberi makan anak orang lain selama pernikahan sy tsb kr suami tdk pernah memberi nafkah kepada sy, mulai rumah, mobil biaya makan harian, biaya sekolah anak dan kebutuhan hidup lainnya semua sy yang tanggung sendiri, suami marah dan memukul sy jk sy tanya tentang gajinya .. Mohon bantuan ustd apa yg harus sy lakukan? Doa apa yg manjur agar suami berubah terakhir bahkan sdh tdk lagi memberi nafkah bathin hubungan suami istri sekian tahun sdh tdk pernah lagi .. Ketika sy ajukan cerai suami tdk mau … Mohon saran ustd ..

    • admin
      07/05/2015 - 06:42 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Hidup berkeluarga itu bukan hal mudah. Untuk dapat hidup sebagai suami istri, semestinya kedua pihak membereskan dulu kewajiban-kewajiban pribadinya kepada Allah, setelah itu membereskan kewajiban-kewajibannya terhadap pasangannya. Ringkasnya dapat diikuti di artikel Ilmu Dasar Membina Keluarga: http://keluarga.kawansejati.org/ilmu-dasar-membina-keluarga/

      Adapun doa yang manjur, coba anda cari panduan tentang ‘bagaimana agar doa diterima’, ‘hal-hal yang menghijab doa’, dan sebagainya.
      Saran saya adalah:
      – memastikan kewajiban pribadi (fardu ain) ditunaikan,
      – shalat diutamakan di awal waktu,
      – bangun malam untuk ibadah malam seperti shalat tahajud
      – pendapatan dari sumber-sumber yang halal.
      – makanan dipastikan kehalalannya
      – menutup aurat
      – mendidik anak-anak agar mengamalkan hal-hal di atas juga.
      – mengajak anak-anak untuk mendoakan ibu dan ayahnya. Insya Allah doa anak-anak lebih mudah dikabulkan karena dosanya lebih sedikit.

  • 08/05/2015 - 01:34 | Permalink

    Asalammualaikum pak ust.
    Saya mau bertanya pak ustad.
    Apakah keputusan suami selalu harus di ikuti oleh sang istri.
    Tanpa harus adanya musyarah antara suami dan istri.
    Contoh kasus:kerabat suami meminta ijin kepada suami sang istri untuk menginap/menumpang tinggal dirumah tanpa meminta ijin juga kepada sang istri pemilik rumah.(ijin sebelah pihak )hanya ijin kepada si sang suami saja.
    Apakah itu dibenarkan pak ustad.mohon dijawab dan tolong apakah ada didalam hadist atau al quran.

    • admin
      16/05/2015 - 06:31 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Salah satu kewajiban istri adalah taat pada semua keputusan suami yang tidak melanggar syariat.
      Dalil Al Qur’an dan Hadist tentang ketaatan istri pada suami ini ada di artikel http://keluarga.kawansejati.org/207-kewajiban-istri-terhadap-suami/

      Sebaiknya suami memberi pengertian kepada istri, supaya apa-apa yang diputuskan oleh suami dapat diterima oleh istri. Dalam hadist disebutkan “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku”.

      Dalam kasus kerabat menumpang di rumah, boleh saja suami memutuskan hal tersebut tanpa izin pihak istri, dan hal itu sah secara syariat. Namun dalam adab / akhlak rumah tangga, suami mesti memastikan bahwa keputusan tersebut dapat diterima istri dan tidak mengganggu kehidupan rumah tangga.
      Misal jika kerabat yang menumpang itu laki-laki bukan muhrim dari istri, maka perlu ada penjagaan supaya aurat istri tidak ternampak ke kerabat tersebut. Anak-anak juga mesti dipastikan karena bisa saja adanya kerabat di rumah mempengaruhi pendidikan anak di rumah. Dan lain sebagainya yang semuanya menjadi tanggung jawab suami.

      Wassalam.

  • hamba alloh swt
    08/05/2015 - 08:05 | Permalink

    Assalamualaikum pak ustad, saya ibu rumah tangga sekaligus wanita karir, pak ustad ada satu yang sangat mengganjal di hati saya. sebenarnya saya tidak ada maksud merendahkan suami saya karena penghasilannya kurang dari saya. sekarang suami saya bekerja di daerah narogong sedangkan rumah didaerah cikarang dan mempunyai penghasilan jauh dibawah batas umr daerah cikarang, sementara penghasilannya harus berbagi dengannya untuk ongkos dan makannya selama dia bekerja, sedangkan kami punya tanggungan hutang rumah, bayar listrik, air, Beli susu anak, beras dan segala keperluan rumah tangga. apakah saya salah pak ustad kalau saya memintanya pindah bekerja di perusahaan yang lebih dekat dari tempat tinggal serta berpenghasilan lebih dari pada penghasilannya saat ini?selama ini hasil saya bekerja itu untuk bayar pembantu yang mengasuh anak saya, serta untuk kebutuhan sehari-hari makan dan lain-lain. tapi suami saya sering sekali memarahi saya dengan alasan kenapa saya bekerja dan dia bekerja itu uang selalu kurang dan habis tidak punya tabungan, dan tidak pernah sisa. sementara dia tau untuk apa saja uang itu digunakan. saya sering bertengkar pak ustad dengannya setiap kali saya minta dia untuk mencari kerja di tempat lain atau paling tidak tambahan penghasilan, padahal dia ingin sekali saya dirumah mengurus anak sementara dia tidak mau pindah lantaran dia sekarang sudah menjadi karyawan tetap sebuah perusahaan yang penghasilannya jauh sekali dari batas umr yang di tetapkan di cikarang. bukan maksud saya mengungkit atau membangkit. dari awal saya menikah dengan suami sampai sekarang, dia belum pernah sama sekali mendapatkan pekerjaan dengan jerih payahnya sendiri, selain dari jerih payah saya yang mencarikan pekerjaan suami saya supaya dia tidak dipandang rendah oleh orang tua saya. sebenarnya dia punya kelebihan dan banyak pengalaman kerja, tapi setiap saya minta dia mencari pekerjaan sendiri dia selalu bilang umur dia sudah berapa dan dia sekarang sudah menikah pasti perusahaan tidak ada yang mau mempekerjakan bapak2. padahal umurnya dengan umur saya jauh di bawah saya 2 tahun. umur saya sudah 30 sedangkan suami saya baru 28. saya seringkali marah dan kecewa. saya bilang ke dia kenapa u tidak semangat sekali. dia bilang terus, saya tidak punya apa2 untuk di banggakan. dia selalu merasa rendah dan tidak percayai diri pak ustad. sekarang dia sudah karyawan tetap dengan penghasilan jauh sekali di bawah saya. dia tidak mau keluar dengan alasan takut jika nanti dia diterima perusahaan paling hanya setahun atau dua tahun setelah itu habis kontrak dan dia mencari pekerjaan dimanapun sehingga misalnya berjauhan dengan saya bagaimana saya. dia selalu pesimis seperti itu pak ustad bagaimana saya menghadapi sikap suami saya seperti itu? apakah saya harus berhenti kerja menuruti keinginan suami, dengan mempunyai penghasilan jauh dibawah batas umr? kenapa juga suami saya bilang kalau jika saya dirumah dia baru mau mencari penghasilan tambahan? bagaimana sikap seperti ini pak ustad ? sedangkan maksud saya ingin sekali sebelum saya di rumah di sudah mempunyai paling tidak penghasilan diatas penghasilan saya, karena saya takut pak ustad kalau saya tidak bekerja dan saya hanya mendapatkan uang dari dia kemarahannya akan lebih besar dan dia bisa bertindak sesuka hatinya untuk pergi meninggalkan saya dan anak saya, lantaran saya menjadi istri yang tidak berguna yang bisanya hanya menghabiskan penghasilan suami saja. sedangkan saya bekerja saja keuangan kami sering gali lobang tutup lobang, dan itu dia sering memarahi saya. mohon pak ustad menjawabnya. terimakasih banyak pak ustad

    • admin
      18/05/2015 - 06:01 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Dalam membina suatu rumah tangga, perlu diketahui lebih dahulu apa sebenarnya tujuan pernikahan itu. Jika tujuannya semata-mata dunia, maka akan banyak masalah yang timbul. Mengenai tujuan pernikahan dapat dibaca di artikel http://keluarga.kawansejati.org/01-perkahwinan-tujuan-dan-falsafahnya-2/

      Setelah mengetahui tujuan berkeluarga, ada panduan-panduan dalam berkeluarga yang mesti diikuti, ringkasnya ada di artikel http://keluarga.kawansejati.org/ilmu-dasar-membina-keluarga/

      Istri bekerja keluar rumah mesti atas izin suami. Jika suami tidak mengizinkan istri bekerja, lebih baik jika istri taat pada suami.
      Istri juga perlu memahami bahwa dalam berkeluarga urusan keluarga itu tidak semata-mata uang / harta saja.
      Perkara paling penting dalam keluarga adalah perkara agama. Kewajiban pribadi (fardhu ‘ain) masing-masing individu mesti selesai, dan juga kewajiban masing-masing dalam berkeluarga juga harus selesai. Suami & istri tidak usah khawatir dipandang rendah oleh siapapun karena kekurangan harta, namun perlu sangat khawatir jika ada kewajiban agama dalam keluarga yang tidak terlaksana dengan sempurna.

      Kasus serupa dapat dilihat di artikel http://keluarga.kawansejati.org/permasalahan-istri-bekerja-suami-menganggur/

      Wassalam

  • pelek bruss
    08/05/2015 - 20:07 | Permalink

    mikum pak ustad saya mau tanya
    kata nya klo istri lgi hamil suami d larang menggotong saudara yg meninggal pa kah bener pak
    dan jika bener tp akan berresiko pa
    n apa yg akan terjadi
    soal nya kemaren saudara meninggal n saya ikut menggotong nya
    tp kata orang lain
    kalo istri sedang hamil saya tidak boleh ikut menggotong nya
    gmana tuh pak

    • admin
      16/05/2015 - 06:36 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Sejauh ini yang saya tahu tidak ada ayat Al Quran ataupun Hadis tentang larangan menggotong mayat bagi suami yang istrinya hamil. Jadi kemungkinan itu pamali di sebagian masyarakat saja, bukan berasal dari ajaran Islam.
      Insya Allah istri dan bayi yang dikandung akan baik-baik saja.
      Wassalam

  • heni
    09/05/2015 - 17:51 | Permalink

    Assalamu allaikum wr wb..pak ustadz sy sdh menikah slm 11 th…dan say membayu suami dg gekerja. akhir2 ini sy sda masalah..sy memiliki hutang yg ditimbulkan krn sy membantu orgtua saya.slma ini sy membayar hutang dg gaji sy sendiri dan kdg2 sy membantu suami untuk renovasi rumah. Slma 11 th ini sy tdk pernah mengeluh dg nafkah yg diberikan suami sy. Dan tidah pernah jg meminta tambahan.krn kl sdg berantem suami sy suka marah kl slaku mrmbahas nafkah yg ia berikan.awal tahun ini suami gajinya mengalami keterlambatan slama 4 bln. Pdhl sy tau ia memiliki tabungan pribadi diluar tabungan anak2 yg cukup untuk memberi nafkah saya..tapi ia tdk lgs memberikannya.dan pd saat itulah keuangan sy pribadi tdk stabil krn sy tdk bs membayar hutang. Sy berusaha meminjam kesana kemari ttp tdk dpt. Akhirnya sy dg terpaksa memakai semua tabungan anak2 dgn harapan bisa menggantinya dg uang yg sy pinjamkan kpd orgtua tanpa sepengetahuan suami sy. Krn sampai bts waktu yg sy harapkan lewat akhirnya sy memberitahu suami sy ttg uang yg sy pakai. Dan suami sy marah besar pdhl sy sdh minta maaf dan akan menggantinya. Menurut ustadz apakah sy slama ini salah jk sy membantu org tua dan membayar hutang yg sy timbulkan untuk snak n keluarga sy dgn gaji sy dan jk akhirnya sy tdk bisa membayar hutang sy meminjam uang anak sy tanpa sepengetahuan suami sy. Dan lagi slama ini jk orgtua sy mrminjam uang kpd suami scr lsngsung jawabannya slalu tdk ada pdhl sy tau keuangan suami sy sdh mencukupi.oleh krn itu sy berusaha membatu mereka dgn gaji sy…

    Terimakasih

    Wassallamu alaikum wr wb

    • admin
      18/05/2015 - 06:27 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb
      Seorang istri wajib menjaga harta suaminya, artinya semua penggunaan uang dari suami mesti sesuai dengan arahan dari suami.
      Sedangkan pendapatan/gaji istri sendiri adalah hak istri, dan boleh dipakai oleh istri sesuai keinginannya sendiri.
      Suami punya kebijakan sendiri mengenai alokasi uang yang ada pada dirinya, dan menentukan kebijakan ini adalah hak suami. Istri bisa saja berpendapat lain, namun tetap keputusan ada pada suami. Bisa saja ada hal-hal yang tidak diketahui istri sehingga istri berpendapat keuangan suami sudah mencukup, padahal mungkin saja ada keperluan lain.
      Jika tabungan anak adalah amanah dari suami, maka penggunaannya harus seizin suami. Jika tidak maka itu adalah suatu kesalahan.

      Wassalam

  • Enung nuryati
    10/05/2015 - 14:06 | Permalink

    assalamualaikum. wr.wb.
    Pa ustad sy mw tnya,,,,
    Sy udh berumah tngga 7 tahun dn di karuniai seorg putra usia 5 tahun. Selama 7 thn itu sy dan putra sy tinggal brsama org tua sy. Suami krja di luar kota plng 2 minggu skali, suami tdk ingin mengajak kami pergi dr rmh org tua dgn alasan ekonomi. Krna alasan ekonomi itu slma 3 thn sy bekerja dkt rmh utk mmbantu ekonomi suami. dan skrg sy sdh tdk bekerja karna sy merasa penghasilan suami sdh ckp utk menenuhi kbthan kmi bertiga. Tp ttp sja dia tdk ingin mengajak sy dn putra sy utk prrgi dr rmh org tua. Sdngkan sy merasa ga enak selalu merepotkan org tua. Sy jg ingin hdp kumpul dgn suami dan mengurusnya. Apa yg hrs sy lakukan sbgai istri?

  • hamba alloh
    10/05/2015 - 21:32 | Permalink

    Assalamualaikum wr.wb
    pak ustadz saya mau bertanya, saya tinggal berjauhan dengan orang tua saya,orang tua saya sangat menginginkan saya sebagai anak perempuan satu2nya tinggal dekat dengan mereka walaupun tidak satu rumah dengan mereka,berhubung mereka juga kadang sakit jadi gak ada yang ngurus karena saudara saya laki2 semua,saudara saya tersebut yang tinggal bersama orang tua saya tidak begitu begitu perduli dengan orang tua terkadang dia juga berbuat zalim dengan membentak mereka dan menyakiti perasaan mereka,hal tersebutlah yang membuat saya ingin sekali dekat dengan orang tua saya tetapi suami saya tidak mau pindah kedaerah orang tua saya tinggal,sedangkan untuk selalu menjenguk mereka setiap bulan rasanya mustahil posisi saya sebagai pns yang tidak gampang mendapat ijin dan juga ongkos yang transportasi yang mahal karena jarak yang jauh,langkah apa yang harus saya lakukan ustadz atas dilema tersebut?

  • Ahmad Ilyas
    11/05/2015 - 14:37 | Permalink

    Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Ada yang mau saya tanyakan Bp. Ust. yaitu tentang pengajaran yg diberikan suami kpd istri, saya sudah menyampaikan baik itu aqidah , fiqh (khususnya yg saya tekankan bab sholat) dan akhlak Ahlul Sunnah Wal Jamaah (Al Quran, Hadits, Qias, Ijma) kemudian dia punya pemahaman dan syariat sendiri dari gurunya sehingga tidak mau mendengarkan dan tidak mau melaksanakan/mengamalkan, salah satu contoh yaitu saat menjadi makmum bacaan Fatihah dia tdk mau membaca lg jika sholat subuh, maghrib, isya pada rakaat 1 dan 2 dikarenakan dari gurunya mengambil dalil “jika ada yang membacakan Quran maka dengarkan” , akan tetapi Bacaan Fatihah di dalam sholat adalah fardhu ‘ain, belum lg tentang hal-hal perbedaan lain yg dari gurunya hal itu bid’ah2 aja (pasti Bpk tahu tentang hal ini sehingga tdk perlu saya sebutkan). Nah dari pernyataan saya diatas tsb saya mohon diberikan pilihan solusi dari ibaratnya yg paling enak sampai ke pilihan paling pahit.
    Terima kasih.

  • Hendra
    13/05/2015 - 04:09 | Permalink

    assalamualaikum ustadz….saya mempunyai istri yang sedang sakit..istri saya menderita lupus…sudah hampir satu tahun terbaring…selama beberapa bulan terakhir selalu ada pikiran untuk meninggalkannya,dan menikah lagi, tapi saya pribadi ragu-ragu dan bingung..saya mohon ustadz memberi saran dan jalan keluar untuk masalah yang tengah saya hadapi ini…wassalamualaikum..wr..wb

    • admin
      13/05/2015 - 08:38 | Permalink

      Wa alaikum salam

      Secara adabnya janganlah diceraikan. Setelah sekian lama istri telah membantu suami, berjasa pada suami, janganlah ketika sakit malah mau diceraikan. Seakan “membuang” sesuatu yang tak berguna lagi. Rawatlah istri yang sakit itu semampunya, nanti Allah pasti berterima kasih kepada sang suami.

      Wassalam

  • dwi suciyanah
    17/05/2015 - 18:14 | Permalink

    Asslamualaikum.pak ustad saya mau bercerita saya.akan menikah dgn seorang laki laki awalnya dia baik, tutur kata nya lembut,.perhatian, sempurna dimata saya tetapi skrg dia sering kasar ngomongnya sama sya, dia bilang kalau itu hanya bercanda, ya pertama kali saya masih bisa terima, tapi dia skrg terlalu sering untuk bilang kasar sama saya, saya bingung menanggapinya gmna?? Saya mau marah tapi dia bilang berlebihan, saya diam tapi dia gtu lagi, saya bingung jadinya, apakah diislam boleh laki laki berkata kasar walaupun itu hanya bercanda..mohon pencerahannya pak usatad

    • admin
      18/05/2015 - 05:08 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Dalam agama Islam berkata kasar itu tanda akhlak yang kurang baik.
      Seseorang yang imannya baik akan kelihatan dari akhlaknya yang baik.
      Dalam banyak hadis diungkapkan keutamaan berkata-kata yang baik dan benar.
      Salah satunya adalah hadis berikut ini:

      Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
      “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”

      Dari Abi Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang diridhai Allah ’Azza wa Jalla tanpa berpikir panjang, Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan kata-katanya itu. Dan seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang dimurkai Allah tanpa berpikir panjang, Allah akan menjerumuskannya ke neraka Jahannam dengan kata-katanya itu”.(HR Bukhari, Ahmad, dan Malik)

      Rasulullah SAW bersabda:
      “Barangsiapa yang dapat menjamin untukku lisan dan kemaluannya, aku akan menjamin surga untuknya” (HR Ahmad)

      Wassalam

  • ika
    21/05/2015 - 10:02 | Permalink

    Asakum pak ustadz, saya mau cerita pak,saya ada konflik rumah tangga,suami saya pernah berselingkuh sampai sekitar 2 tahun,lalu perselingkuhannya di ketahui ortu saya,lalu dia marah tidak suka dengan ortu saya ,lalu suami saya pulang kerumah ortunya dan bekerja disana,lalu suami saya bilang saya tidak mau dekat dekat kamu lagi saya hanya sayang sama anak2.sampai sekarang pun suami saya tidak mau trima terima tlp dari saya.
    saya minta tolong pak ustadz saya harus bagaiamana ?

    • admin
      23/05/2015 - 11:43 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Dalam hal ini perlu dipastikan kejelasan sikap suami, apakah mau tetap melanjutkan kehidupan berkeluarga, atau mau berpisah sekalian. Jangan sampai kondisi istri dalam keadaan terkatung-katung. Setelah ada kejelasan sikap suami moga-moga tindakan anda dapat lebih mudah.

      Wassalam

  • rheny
    22/05/2015 - 10:37 | Permalink

    Assalamu alaikum pak ustadz,,saya perempuan yang sdh brkeluarga punya anak 1,,yang saya mu tnyakan gimana klo suami yang mengatur keuangan,,?trus suami saya tdk pernah beritahu gajinya sekian yang dia dapatkn,padahal sya tahu sebulan 3jt,saya hnya diberi 3ratus aja sebulan untuk kperluan,,suami saya jg tdk pernh berithu saya jika dia meminjamkn uang pada org lain,,,
    Kadang sya merasa tdk dihargai sma suami saya,,terlebih dia suka kasar dan maki2 saya dgn kata2 yg tdk pantas ku dengar jika dia emosi ..
    Mohon solusinya..trims

    • admin
      23/05/2015 - 11:08 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Dalam ajaran agama Islam, posisi suami adalah sebagai pemimpin, termasuk dalam hal keuangan. Jadi sebenarnya wajar saja jika suami yang mengatur keuangan. Hanya saja dalam kultur Indonesia terutama di Jawa, sudah menjadi kelaziman keuangan diserahkan dan diatur oleh istri, padahal dalam agama Islam tidak demikian. Boleh saja suami menyerahkan pengelolaan keuangan keluarga kepada istri, namun hal ini terserah kepada keputusan suami.

      Dalam suatu keluarga perlu ada kasih sayang, bukan hanya setumpuk kewajiban suami dan kewajiban istri. Nampaknya ada sesuatu hal yang menyebabkan kurang kasih sayang dari suami sehingga sampai berkata-kata kasar, dan juga pelit pada istri.

      Saran solusi:
      * Dalam ajaran Islam, lebih ditekankan untuk menyempurnakan kewajiban diri, daripada menuntut hak diri, ataupun menuntut kewajiban orang lain pada kita. Pada kasus ini, istri hendaknya mengecek dulu apakah kewajiban diri sudah selesai, baik kewajiban terhadap Allah & Rasulullah, maupun kewajiban kepada suami. Ringkasnya dapat dibaca di artikel http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2015/03/kewajiban-pribadi-utama-seorang-muslim.html dan http://keluarga.kawansejati.org/ilmu-dasar-membina-keluarga/ .
      * Kasih sayang adalah berasal dari akhlak yang baik, sedangkan akhlak itu asalnya dari aqidah / keyakinan yang benar serta pelaksanaan syariat dengan benar. Singkatnya aqidah -> syariat -> akhlak -> kasih sayang. Jika aqidah dan syariat suami benar, insya Allah akhlaknya juga akan baik. Istri bukan pemimpin dalam keluarga, artinya istri tidak dalam posisi untuk memperbaiki aqidah / syariat / akhlak suami. Jadi lebih baik doakan suami, serta ajak / dorong suami untuk mendalami agama islam.

      Wassalam

  • rudi
    23/05/2015 - 03:58 | Permalink

    assalamu’alaikum pak
    misalkan istri meninggalkan suami lebih dari 2 bulan karna bertengkar itu hukumnya apa ya pak ustd????
    padahal sebelumnya saya sudah melarang dia untuk pergi
    dan apa solusinya makasih

  • 1 3 4 5

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Powered by: Wordpress