Artikel Keluarga

Bab 2.08 Kewajiban Suami Terhadap Istri

Nas-nas Al Quran dan hadis:

  1. Allah Taala berfirman, yang bermaksud:
    “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
  2. Dan Allah berfirman lagi:
    ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang baik akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan atas isterinya.” (Al Baqarah : 228)
  3. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda pada waktu haji widak (perpisahan) setelah baginda memuji Allah dan menyanjung-Nya serta menasehati para hadirin yang maksudnya:
    ‘Ingatlah (hai kaumku), terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para isteri, isteri-isteri itu hanyalah dapat diumpamakan tawanan yang berada di sampingmu, kamu tidak dapat memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau isteri-isteri itu melakukan perbuatan yang keji yang jelas (membangkang atau tidak taat) maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau isteri-isteri itu taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka.
    Ingatlah! Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isterimu dan sesungguhnya isteri-isterimu itu mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap dirimu. Kemudian kewajiban isteri-isteri terhadap dirimu ialah mereka tidak boleh mengijinkan masuk ke rumahmu orang yang kamu benci. Ingatlah! Kewajiban terhadap mereka ialah bahwa kamu melayani mereka dengan baik dalam soal pakaian dan makanan mereka.

    (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)
  4. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
    “Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh memperolokkan dia dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang).” (Riwayat Abu Daud)
  5. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja seorang laki-laki yang menikahi perempuan dengan mas kawin sedikit atau banyak sedangkan dalam hatinya ia berniat untuk tidak memberikan hak perempuan tersebut (mas kawinnya) kepadanya. maka ia telah menipunya, kemudian jika ia meninggal dunia, sedang ia belum memberi hak perempuan tadi kepadanya maka ia akan menjumpai Allah pada hari Kiamat nanti dalam keadaan berzina.”
  6. Nabi SAW bersabda yang bermaksud
    “Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang baik budi pekertinya dan mereka yang lebih halus dalam mempergauli keluarganya (isteri anak-anak dan kaum kerabatnya). “
  7. Nabi SAW bersabda yang bermaksud :
    “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku.” (Riwayat lbnu Asakir)
  8. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud:
    “Barang siapa yang sabar atas budi pekerti isterinya yang buruk, maka Allah memberinya pahala sama dengan pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.s karena sabar atas cobaan-Nya.” ( Cobaan ke atas Nabi Ayub ada empat hal: Habis harta bendanya., Meninggal dunia semua anaknya., Hancur badannya., Dijauhi oleh manusia kecuali isterinya benama Rahmah )
    Dan seorang isteri yang sabar atas budi pekerti suaminya yang buruk akan diberi oleh Allah pahala sama dengan pahala Asiah isteri Firaun“.
  9. Al Habib Abdullah Al Haddad berkata:
    “seorang laki-laki yang sempurna adalah dia yang mempermudah dalam kewajiban-kewajiban kepadanya dan tidak mempermudah dalam kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Dan seorang laki-laki yang kurang ialah dia yang bersifat sebaliknya.”
    Maksud dan penjelasan ini ialah seorang suami yang bersikap sudi memaafkan jika isterinya tidak menghias dirinya dan tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi ia bersikap tegas jika isterinya tidak melakukan sholat atau puasa dan lain-lain, itulah suami yang sempurna. Dan seorang suami yang bersikap keras jika isterinya tidak menghias dirinya atau tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi bersikap acuh tak acuh (dingin) jika isteri meninggalkan kewajiban-kewajiban kepada Allah seperti sholat, puasa dan lain-lain, dia seorang suami yang kurang.
  10. Dianjurkan bagi seorang suami memperhatikan isterinya (dan mengingatkannya dengan nada yang lembut/halus) dan menafkahinya sesuai kemampuannya dan berlaku tabah (jika disakiti oleh isterinya) dan bersikap halus kepadanya dan mengarahkannya ke jalan yang baik dan mengajamya hukum-hukum agama yang perlu diketahui olehnya seperti bersuci, haid dan ibadah-ibadah yang wajib atau yang sunat.
  11. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    ‘Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.” (At Tahrim : 6)
    Ibnu Abbas berkata:
    Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.
    Dan Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab at,is rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alai )
  12. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  13. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    Perintahkanlah keluargamu agar melakukan sholat.” (Thaha:132)
  14. Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”

KESIMPULAN TANGGUNG JAWAB SUAMI

  1. Menjadi pemimpin anak isteri di dalam rumah tangga.
  2. Mengajarkan ilmu fardhu ‘ain (wajib) kepada anak isteri yaitu ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf.
    Ilmu tauhiddiajarkan supaya aqidahnya sesuai dengan aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah.
    Ilmu fiqih diajarkan supaya segala ibadahnya sesuai dengan kehendak agama.
    Ilmu tasawuf diajarkan supaya mereka ikhlas dalam beramal dan dapat menjaga segala amalannya daripada dirusakkan oleh rasa riya’ (pamer), bangga, menunjuk-nunjuk orang lain dan lain-lain.
  3. Memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal.
    Ada ulama berkata:
    Sekali memberi pakaian anak isteri yang menyukakan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama 70 tahun.
    Tidak menzalimi anak isteri yaitu dengan:

    • Memberikan pendidikan agama yang sempurna.
    • Memberikan nafkah lahir dan batin secukupnya.
    • Memberi nasihat serta menegur dan memberi panduan/ petunjuk jika melakukan maksiat atau kesalahan.
    • Apabila memukul jangan sampai melukakan (melampaui batas).
  4. Memberi nasihat jika isteri gemar bergunjing/bergosip, mengomel serta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah agama.
  5. Melayani isteri dengan sebaik-baik pergaulan.
  6. Berbicara dengan isteri dengan lemah-lembut.
  7. Memaafkan keterlanjurannya tetapi sangat memperhatikan kesesuaian tingkah lakunya dengan syariat.
  8. Kurangkan perdebatan.
  9. Memelihara harga diri / kehormatan mereka.

328 Comments

1 4 5 6
  • meylina
    07/06/2015 - 15:48 | Permalink

    Assalamu alaikum wr.wb pk uztad,,saya ingin bertanya sedikit.
    InsyaAllah jika tdk ada halangan setelah lebaran ini saya akan menikah. yang ingin saya tanyakan, apakah saya salah jika saya melarang calon suami saya agar tidak sering2 bertemu dg mantan istrinya..?
    saya dan kluarga calon suami saya sama2 tahu , kalau mantan istrinya ini selalu menggunakan anaknya sebagai alat , agar dia bisa bertemu dg mantan suaminya kpan saja.
    hampir tiap hari mantan istrinya menelepon calon suami saya dg alasan yg tdk jelas, dan apakah saya salah jika saya meminta calon suami saya untuk tdk lg berkomunikasi dg mantannya ,kecuali memang ada kepentingan.
    sekian dan terima kasih .
    wassalam

    • admin
      10/06/2015 - 06:51 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb,
      Bekas istri posisinya adalah sama dengan wanita lain, jadi hukumnya adalah seperti hukum berhubungan dengan wanita yang bukan istri dan bukan keluarga (mahram). Jadi komunikasi dengan mantan istri ini hanya dibolehkan untuk hal-hal yang perlu saja.
      Saat ini anda adalah calon istri, jadi posisinya belum sebagai suami istri, maka belum pada tempatnya untuk melarang-larang calon suami.
      Dalam keluarga, suami adalah pemimpin. Posisi istri bukan untuk melarang-larang, namun lebih untuk mengingatkan suami untuk menjauhi perbuatan maksiat.
      Wassalam.

  • ana
    07/06/2015 - 21:17 | Permalink

    Assalamu’alaikum pak ustadz. Saya mau tanya, ini cerita dari saudara saya. Saya hanya ingin membantunya,
    Saudara saya menikah baru 2bulan ini pak ustadz, tapi menikahnya dikarenakan sudah hamil duluan. Suaminya bertanggung jawab menikahinya namun karena didasari hanya menikah sebagai tanggunh jawab atau gimana suaminya seenaknya sendiri pak ustadz. Saudara saya ini sangat penurut dia selalu nurut perintah suaminya. Dan saudara saya ini tau kalau suaminya tidak sepenuhnya mencintai dia, namun dia tetap sabar menghadapi suaminya ini. Yg mau saya tanyakan, bagaimana yg harus dilakukan si istri dalam menghadapi permasalahan diatas pak ustadz ? Dan bagaimana hukum-hukumnya dalam pernikahannya itu ?
    Mohon penjelasannya pak ustadz
    Terimakasih, wassalamu’alaikum wr.wb

  • ima
    08/06/2015 - 17:41 | Permalink

    Pak ustaz,bagaimana hukumnya apabila ada seorang suami melakukan azl sedangkan istrinya menginginkan anak.apakah berdosa apabila istri tersebut meminta cerai karena suaminya melakukan azl terus terusan tanpa alasan yangnjelas

    • admin
      10/06/2015 - 06:18 | Permalink

      Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk mendapatkan keturunan, seperti dalam hadis berikut:
      “Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur (tidak mandul). Karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan kepada umat yang lain karena jumlah kalian” (HR. Abu Daud no. 2050.)
      Dalam hal ini perlu dicek dulu beberapa hal:
      * Apakah istri ada keuzuran sehingga kesehatannya dapat terganggu karena hamil? Jika ‘azl itu dilakukan karena faktor kesehatan istri, maka hal itu ada ulama yang membolehkan.
      * Saat ini pasangan suami istri sudah punya berapa anak?
      Bercerai adalah perkara yang sangat tidak disukai Allah, jadi sedapat mungkin masalahnya diselesaikan tanpa melalui perceraian.
      Coba didiskusikan dengan suami apakah apa masalahnya kalau ada anak. Kalau tidak ada kekhawatiran tentang anak, mestinya tidak akan repot-repot dengan ‘azl.

      • tisa jakarta
        19/06/2015 - 09:15 | Permalink

        maaf ustad azl apa ya?

        • admin
          22/06/2015 - 18:35 | Permalink

          ‘Azl adalah suami mengeluarkan sperma di luar istri. Umumnya tujuannya adalah menghindari kehamilan.

  • ima
    10/06/2015 - 20:30 | Permalink

    Ustaz bagaimana hukumnya istri meminta cerai dalam keadaan belum mandi wajib karena haid tapi darah haidnya sudah tidak ada kemudian suaminyapun menceraikan istrinya.apakah talak yang dikatakan suaminya itu sah ataupun tidak ustaz..

  • dina
    12/06/2015 - 01:20 | Permalink

    Assalamualaikum ustadz..saya ingin menanyakan bagaimana hukumnya jika seorang suami menutup nutupi jumlah gaji yg ia dapat kepda istrinya dan belakangan istrinya tau bahwa gaji yg diperoleh suaminya jumlahnya jauh lbh besar dr yg ia sampaikan kpd istrinya. Salahkah jika istri menanyakan kpd suami perihal uang yg selama ini tdk dberikan kpd istrinya itu digunakan utk apa, mengingat jumlah uang yg ia habiskan hampir sama dg nafkah yg diberikan kpd istrinya. Mhn penjelasannya ustadz..mks

  • trisna
    13/06/2015 - 05:37 | Permalink

    Ass… pak ustad sy sdh menikah 2 tahun dan di karuniain anak umur 14 bulan, sy di talak suami karena alasan suami yg sudah tidak mencintai serta nyaman hidup bersama di karenakan sy di bilang pencemburu sedangkan sy hnya mengkhawatirkan dirinya. Hingga suatu ketika suami sy berkata kita pisah dan bwa anakmu karena dia tidak mampu mengurusnya.hati sy sakit mendengar perkataannya yang seolah2 menjadikan anaknya sebagai beban hidupnya sedangkan sy sangat mengharapkan anak itu. saya pulang membawa anak sy kerumah org tua sy dengan maksd biar saling imtrospeksi dan berfikir. Tetapi suami sy justru plg kerumah orang tuanya dan berkata pd org tuanya bhwa kami akan bercerai tetapi di mertua, suami sy beralasan dia ingin bercerai karena saya memerintahnya di depan org untuk membuat susu anaknya, sy tdk bermksd sprti itu krn sy berfikir sy tgl dirumah hanya bertiga dengan anak yg msh kecil dan dlm rumah tangga tak ada slhnya sling membantu.
    Akhirnya mertua sy marah mendengar alasan anaknya.beliau langsung ingin melepas sy sebagai menantunya tanpa mendengar penjelasan sy. Hati sy sedih karena beliau melepas sy bgt saja. Dan tidak menginginkan sy kembali pulang kerumah suami yg telah menalak sy dikarenakan mereka takut jika kami kembali berhubungan intim suami istri sedangkan sy sdh di talak. Padahal sy ingin bertahan demi anak sy yang masih sangat kecil. Dan selepas sy pergi dr rumah membawa anak sy krg lbh satu bulan sy mendengar suami sy sudah jalan dengan wanita lain. Sy kecewa dan meminta barang2 sy diantar kerumah orang tua sy. Dan skrg sy mndengar suami sy tersebut memiliki hubungan dengan teman sekantornya dan saya pun telah melihatnya sendiri. Masa iddah sy belum habis dan gugatan perceraian yang di ajukan suami sy baru di proses.
    1. Yang ingin sy tanyakan apakah sy boleh pulang lagi kerumah walau mertua dan yang lainnya takut suami berhubungan intim dengan suami saya lg?
    2. Apakah suami sy memang boleh jalan dengan wanita lain disaat masa idsah sy belum habis dan belum ada putusan pengadilan?

    • admin
      22/06/2015 - 19:43 | Permalink

      Wa alaikum salam.
      #1. Suami yang menjatuhkan talak kepada istrinya masih punya kewajiban selama masa iddah istri yang ditalak tersebut.
      Menurut hukum islam kewajiban memberikan nafkah kepada bekas istri disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Thalaq ayat (1) yang artinya:
      “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah. Jangan kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang, itulah hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.”

      Jadi menurut ayat tersebut, istri yang ditalak wajib diberi tempat tinggal dan nafkah yang wajar kecuali istri tersebut melakukan kekejian yang jelas-jelas nyata.

      #2. Jika yang dimaksud dengan ‘jalan dengan wanita lain’ itu pacaran, maka proses pacaran ini adalah haram. Uraian pacaran Islami ada di http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2012/04/pacaran-islami.html
      Jika yang dimaksud dengan ‘jalan dengan wanita lain’ itu adalah suami melamar seorang perempuan untuk dinikahi sesuai dengan proses yang dibenarkan syariat Islam, maka hal ini dibenarkan karena seorang laki-laki boleh beristri sampai 4 orang.

      Wassalam

  • 19/06/2015 - 16:52 | Permalink

    Saya kan baru saja menikah kurang labih 1bulan. Ini kan masuk bulan ramadhan. Kami Tidak bisa buka dan sahur bareng karena tuntutan pekerjaan suami. Sedangkan suami saya buka puasa biasa ya beli. Tidak bisa. Kerumah karena. Kerja. ApakaH saya dosa karena tidak memasakkan buat suami. Padahal saya pengen nganterin tapi suami bilang ga usah

    • admin
      22/06/2015 - 18:37 | Permalink

      Dalam hal ini suami sudah menyatakan bahwa tidak usah dibawakan makanan untuk berbuka puasa, jadi dengan demikian tidak wajib bagi istri untuk mengantarkan / menyediakan buka puasa.

  • doni
    20/06/2015 - 08:33 | Permalink

    Assalamualaikum wr wb
    Pa ustadz sy mau bercerita sedikit.kira2 setahun yg lalu istri sempat mengajukan cerai.sy dipaksa menandatangani surat,yg menyatakan bahwa sy sdh tdk menafkahi istri selama 7 bln.bahwa semua itu bohong belaka.memang selama 1 thn sy pisah ranjang krn sy ada mslh dan hrs menjalani hukuman,semua keluarganya pun tahu dgn kondisi sy.tp kewajiban sy sbg kepala rumah tangga tetep sy penuhi,sy berjualan makanan utk menafkahi mereka.betapa sakitnya ketika sy tahu kalo istri berselingkuh dgn temen sy.istri sdh tdk menghargai sy lg,sy tegur dia malah menyalahkan sy.akhirnya tiba saatnya,sy menghirup udara bebas.sy bertemu dgn istri dan anak2.istri tetap tdk mau bersatu dgn sy.sy memilih utk kos.sy mencoba utk memperbaiki diri.istri tetap ingin cerai,sampai pd hari ultah pernikahan kami,sy ajak dia makan malam.pulangnya sy ajak ke kosan sy,sy ingin mengajak dia berkumpul,krn 1 thn lbh sy tdk pernah berhubungan badan dgn istri.istri menyetujui,asalkan sy menandatangani surat pernyataan itu.sy tdk pernah berpikir negatif,sy tandatangani saja surat itu.tak tahunya 1 minggu stlhnya istri saya mengurus surat cerai,tp krn jalannya salah surat cerai itu batal,krn ada kawan sy di pengadilan agama melihat berkas tsb,istri sy mengurus surat cerai melalui jalur belakang.tanpa ada panggilan buat sy,tanpa ada sidang surat cerai itu putus dan langsung keluar talak 3….astaghfirulloh.temen sy memberitahu kpd sy,akhirnya sy bercerita kpd keluarganya.keluarganya pun tdk setuju dgn keputusan istri.akhirnya kami rundingan,istri mencabut gugatannya dan berjanji tdk akan berhubungan lg dgn laki2 tsb.sdh 10 bln kami menjalani hidup bersama lg,berkumpul dgn anak2.selama 10 bln ini keadaan ekonomi kami malah merosot,tanpa disangka2,istri berbicara kpd sy,akan menggugat cerai kembali.trus terang aja pa ustadz,buku nikah dan surat yg dulu sy tandatangani dipegang sm istri.jd istri merasa bisa seenak2nya menggugat cerai.yg ingin sy tanyakan bagaimana sy bisa mencegah gugatannya,apakah sy hrs buat surat pernyataan didampingi oleh lawyer,kalo sy tdk pernah ingin bercerai,sy kasihan sm anak2 sy.mohon dibantu nasihatnya pa ustadz…..waalaikumsalam wr wb

  • rissa
    20/06/2015 - 14:42 | Permalink

    assalamualaikum pak ustad..
    saya mau tanya saya sudah menikah tapi dalam rumah tangga saya banyak ketidak cocokan dan hmpir styap hr sering bertengkar. selama ini saya pertahankan karena ingin melihat suami bs brubah agar menjadi seorang muslim yg lbih baik lg tp kenyataanya tidak sperti yg saya harapkan malah saya terkadang jg ikut malas mnjalankan ibadah..
    orang tua menginkan bercerai..
    saya harus bagaimana menanggapinya ..
    ksih saran y pak ustadz..

    • admin
      23/06/2015 - 10:48 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Istri minta cerai itu hukum asalnya adalah haram.
      Pada kasus ini tidak jelas apa hal yang dijadikan alasan istri minta cerai.
      Apakah kesalahan suami di peringkat aqidah, syariat, atau akhlak?
      Wassalam.

  • nhesha
    20/06/2015 - 20:58 | Permalink

    assalamualaikum..
    maaf pak ustadz saya mau sedikit bercerita saya menikah sudh 4thun slma pernikahan sya slalu terjadi pertengkaran di karenakan mertua ibu saya dari suami saya selalu mencapuri rumahtangga bahkan mslah keuangan gaji suami saya di tutupi (dibohongi) dri saya.. saya mencoba sabar tp allah adil membuka semua kebohongan yg ada.. mertua ibu saya sampai berkata kepada suami saya,, ceraikan saja istri mu..!?

    yang sya mau tanyakan bagaimana hukumnya suami meninggalkan istri dan anaknya tanpa memberi nafkah lahir batin kurang lama 5bulan dan hukumnya apa buat suami dan ibunya yang sudah menyuruh anknya untuk bercerai..!?

    terimakasi pak ustadz… wassalam..

    • admin
      23/06/2015 - 10:44 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      #1 Suami wajib menafkahi istrinya. Peringkat menafkahi istri itu dapat dibaca di http://keluarga.kawansejati.org/12-peringkat-peringkat-suami-dalam-melaksanakan-tanggung-jawab/

      #2 Memisahkan suami istri adalah perbuatan haram. Beberapa hadis yang menyebutkan mengenai usaha merusak rumah tangga:
      Abu Dawud meriwayatkan;
      dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, atau seorang budak terhadap tuannya.” (H.R.Abu Dawud)

      Imam Muslim meriwayatkan;
      Dari Jabir berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya. Salah satu diantara mereka datang lalu berkata: ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab: ‘Kau tidak melakukan apa pun.’ Lalu yang lain datang dan berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkannya dengan istrinya.’ Beliau bersabda: “Iblis mendekatinya lalu berkata: ‘Bagus kamu.” (H.R. Muslim)

  • Juwita
    22/06/2015 - 09:53 | Permalink

    assalamualaikum ustad, bagaimana hukumnya jika seorang suami tidak memperbolehkan seorang istri bekerja dan hanyaj diam dirumah mengurus anak, sedangkan sang istri tipikal wanita karir yg tdk bsa hanya diam d rumah. serta hanya boleh mengunjungi orangtua seminggu sekali pdhl jarak tempuh dgn rumah orangtua hanya sktr 15mnt saja (berjarak dekat). trims. wassalamualaikum wr wb

    • admin
      22/06/2015 - 20:10 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb,
      Jika suami secara jelas melarang istri keluar rumah, maka dalam hal ini istri wajib taat kepada perintah suami untuk tidak keluar rumah.

      Wassalam

  • Selvi
    22/06/2015 - 14:15 | Permalink

    Pak ustadz, saya mau tanya apakah termasuk memdzolimi jika suami selalu menyakiti hati, membuat istri menangis, sengaja memanas2i istri dan membuat istri merasa tidak tenang?
    itu semua dilakukan berkali2 meskipun istri dalam keadaan hamil..
    dan apakah ada hukum atau dalil jika suami mendzolimi istri seperti itu?
    Terimakasih..
    assalamualaikum wrwb

    • admin
      22/06/2015 - 20:50 | Permalink

      Menyakiti orang lain tanpa alasan yang sesuai syariat adalah perbuatan dzolim. Bergaul dengan istri dengan cara yang kasar adalah suatu perbuatan dosa.
      Dalilnya: “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
      Nabi SAW bersabda yang bermaksud :
      “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku.” (Riwayat lbnu Asakir)
      Dan masih ada lagi hadis yang sudah diuraikan di artikel ‘Kewajiban Suami Terhadap Istri’

  • 23/06/2015 - 00:51 | Permalink

    Ustadz, saya bersuami duda beranak 3. sekarang sudah punya cucu, dan selisih usia cucu dan anak kami (saya dan suami) adl 1,5 bulan. kondisi keuangan kami naik turun, rumah jauh dari layak. selama menikah saya belum pernah sekalipun dibelikan baju, begitu juga anak kami, hanya dari pemberian orang2. saya sering minta tp suami bilang nanti kalau ada uang. setiap ada uang lebih, suami tidak pernah membelikan baju, malah memberi uang ibu kandungnya dan saat ini malah memberi jatah susu cucunya 3 hari 35 ribu. pertanyaan saya, apa yg harus saya lakukan? apa saya salah jika saya melarang suami saya memberi jatah susu ke cucunya sedang dia masih punya bapak (anak suami saya) yg kondisinya sehat jasmani dan rohani, hanya malas bekerja? mana yg harus didahulukan, menafkahi istri atau cucu krn kekurangan?

    • admin
      23/06/2015 - 10:52 | Permalink

      Dalam keadaan ayah dari cucu masih ada, maka menafkahi istri mesti didahulukan, karena cucu tersebut sebenarnya adalah tanggung jawab ayahnya.
      Jika ayah si cucu tidak mau bertanggungjawab, maka perlu ada usaha menasihati si ayah cucu tersebut.

      Imam an-Nawawi berkata, “Apabila pada seseorang berhimpun orang-orang membutuhkan dari mereka yang harus ia nafkahi, maka bila hartanya cukup untuk menafkahi semuanya, ia harus menafkahi semuanya, baik yang dekat maupun yang jauh. Namun apabila sesudah ia menafkahi dirinya, yang tersisa hanya nafkah untuk satu orang, maka ia wajib mendahulukan isteri daripada karib kerabatnya yang lain…(Raudhah ath-Thalibin).

      • 24/06/2015 - 05:11 | Permalink

        terima kasih. kira2 bagaimana adab mengingatkan suami tentang hal tersebut supaya tidak menyinggung perasaan suami, mengingat dia adalah cucu tiri saya, sehingga dikhawatirkan muncul persepsi negatif dari suami.

  • Hamba Allah
    23/06/2015 - 20:42 | Permalink

    Ass, pak ustad, saya sdh menikah selama 3 thn dan dikaruniai 2 org anak yg msh kecil. Pernikahan kami lancar2 saja, hingga akhirnya saya mendapati istri saya telah selingkuh dgn pria lain, mereka bhkan pernah melakukan hubungan sex. Saya sdh menalak istri saya tsb, akan tetapi saya msh cinta dia dan jg saya tkut akan masa dpn anak saya kelak. Hingga akhirnya saya memberikan ksempatan utk rujuk pada istri saya tsb dgn syarat dia harus bertaubat dulu. Menurut ustad apakah saya tetap harus menceraikannya ataukah hrs rujuk lg demi masa dpn anak kami? Trm ksh.

    • admin
      29/06/2015 - 00:20 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Mengenai istri selingkuh ada beberapa pendapat:
      – Dalam hukum Islam seorang yang sudah menikah dan terbukti berzina dengan 4 saksi maka hukumnya adalah dirajam.
      – Jika suami menduga istri selingkuh tapi tidak dapat membawa 4 saksi, maka suami dapat menceraikan istrinya dengan Li’an (saling melaknat). http://keluarga.kawansejati.org/li-an/
      – Ada juga hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah menganjurkan untuk bercerai namun kemudian membolehkan untuk tidak cerai.
      Berdasarkan sabda Rasulullah:
      جاء رجل إلى النبي _صلى الله عليه وسلم_ وقال: إن امرأتي لا تمنع يد لامس. قال: غربها قال أخاف
      أن تتبعها نفسي قال: استمتع بها
      Artinya: Seorang laki-laki datang menghadap Nabi dan berkata: Istri saya tidak menolak tangan jahil (baca, suka selingkuh). Nabi menjawab: ceraikan dia. Laki-laki itu berkata: Tapi saya masih sayang. Nabi berkata: Kalau begitu, pertahankan (tidak perlu bercerai). Hadits riwayat (HR) Abu Daud.
      Dalam hal ini keputusan ada di tangan suami, mau rujuk atau cerai.

      Wassalam.

  • Rudy
    24/06/2015 - 21:44 | Permalink

    Assalamualaikum Ustad

    istri saya selingkuh dan dalam keadaan seperti ini selalu membela selingkuhanya, kemudian tidak ada titik temu akhirnya kita sama2 ingin berpisah, dan istri sekarang tinggal dengan selingkuhanya, saya berharap bisa taubat dan kembali ke keluarga dan harapan saya sia2…di bulan yang penuh rahmah ini Alloh menunjukkan kejadian selingkuh, dengan berat hati saya ucapkan lebih baik kita berpisah/cerai karna istri yg selama 15thn mendampingi saya ternyata hatinya ada di tempat lain, saya memiliki anak usia 14thn dan 10tn., ini bulan pertama dan saya berharap bisa rujuk tetapi istri tetap pada pendirian untuk bersama laki2 lain, malam ini dia menuntut nafkah lahir, sedangkan bulan ini gaji saya sudah habis untuk kebutuhan di rumah. ketika saya mengucapkan talak apakah kewajiban saya sebagai suami gugur yaitu nafkah lahir dan bathin. terimakasih

    • admin
      27/06/2015 - 12:12 | Permalink

      Wa alaikum salam
      – Seorang istri yang ditalak dengan kemungkinan rujuk(talak raj’iy (talak satu atau talak dua) yang masih dalam masa iddah), maka suaminya masih wajib menafkahi pakaian, makanan dan tempat tinggal. Jika suami berhubungan intim dengan istri yang ditalak, maka otomatis jadi rujuk.
      – Jika masa iddah habis, maka kewajiban memberi nafkah terputus.
      – Jika talak sudah 3x, maka tidak dapat rujuk kembali sehingga tidak wajib memberi nafkah
      – Jika suami menuduh istri berzina, maka jatuh hukum li’an (http://keluarga.kawansejati.org/li-an/), yang setelah itu suami istri wajib berpisah tanpa dapat disatukan kembali.
      Wassalam

  • fajriyah
    25/06/2015 - 07:44 | Permalink

    Asslkum pak ustad,
    Mau tnya kalau seorang suami mengajak brhbgan kalau istri g mau kan dosa,tp jika si istri mengjak brhbungan tp si suami g mau tu ap suami dosa ?

    • admin
      27/06/2015 - 11:44 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Jika suami tidak mau, tidak langsung jatuh dosa.
      Namun jika penolakan suami tersebut dilakukan terus-menerus sampai istri merasa tersiksa maka akan jatuh perkara zalim kepada istri.
      Secara umum banyak Ayat/hadis yang melarang suami zalim kepada istrinya. Salah satunya:
      “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
      Wassalam

  • dwi utami
    25/06/2015 - 19:08 | Permalink

    Assalamualaikum ustad,,saya ingin bertanya
    Saya baru saja menikah,,dan tinggal bersama mertua
    Bagaimanakah hukum nya jika mertua dari pihak suami,,tidak mengizinkan menantu perempuan untuk betemu keluarga nya??
    Lalu bagaimana hukum dalam islam untuk menantu perempuan kepada mertua dari suami??terimakasih
    Wassalamualaikum

    • admin
      27/06/2015 - 11:38 | Permalink

      Wa alaikum salam
      * Yang berhak mengatur seorang istri adalah suaminya. Jika suami mengizinkan, maka tidak masalah bagi istri untuk bertemu keluarganya. Namun demikian tidak wajar melarang orang ketemu dengan sanak saudaranya sendiri, kecuali ada hal-hal yang bermasalah dengan syariat.
      * Sikap menantu perempuan kepada mertuanya adalah seperti ke orangtuanya sendiri.
      Wassalam

  • ika
    26/06/2015 - 21:31 | Permalink

    Assalamualaikum pa ustad mau nanya salahkah suami membiarkan istri selalu menangis dan stiap suami ada kesalahan tidak sedikitpun ada kata maaf ?bagaimana pak ustad mksh

    • admin
      27/06/2015 - 11:49 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Suami yang akhlaknya baik tidak akan membiarkan istrinya sedih (kecuali ada perbuatan istrinya melanggar syariat), dan mudah minta maaf dan memberi maaf. Dalilnya antara lain: “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
      Untuk menjadi suami yang lembut dan mudah minta maaf ini bukan hal mudah, mesti orang yang rajin mendekatkan dirinya dengan Allah, serta mau menghilangkan penyakit batin di dalam dirinya.
      Yang dapat dilakukan sebagai istri adalah memperbaiki diri, membuang penyakit batin di dalam diri, serta mendoakan agar suami juga dapat menjadi suami yang baik.
      Wassalam.

  • sintia
    27/06/2015 - 14:41 | Permalink

    Assalamualaikum pak ustad. Saya sudah menikah dan mempunyai anak 1 umur 3 tahun. Kehidupan keluarga kami pas-pasan, tapi suami bilang mau beli burung harga 400rb. Dan saya menolaknya karena menurut saya mending buat urusan rumah tangga dr pada buat beli burung. Tp suami tetap bersi keras mau beli. Dan akhirnya timbul cek cok mulut. Trus sebagai istri saya harus gimana pak ustad?

    • admin
      28/06/2015 - 22:38 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Dalam keluarga keputusan adalah pada suami, dan tanggung jawabnya di akhirat nanti adalah pada suami. Istri boleh saja mengingatkan suami, namun keputusan akhir dan semua akibatnya di dunia akhirat adalah tanggung jawab suami.
      Untuk perkara membeli burung tersebut, cukuplah istri mengingatkan suami tentang keperluan keluarga, namun tidak usah jadi bahan pertengkaran.

  • katti
    29/06/2015 - 08:40 | Permalink

    Assalamualaikum wrbh.ustad apa kabar.maaf ustad saya mau numpang tanya. Apa hukumnya seorang suami lebih mengutamakan keluarganya dari pada istrinya dan apa hukum nya kami suami istri klu tidur bertiga sama keponakan .lelaki umur 5 tahun.berdosakah kita.walasamualaikum wrhb.terima kasih ustad.

    • admin
      29/06/2015 - 19:51 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      – Dalam memenuhi nafkah, seorang suami wajib mendahulukan keluarganya (istri & anak) dibandingkan sanak keluarganya yang lain. Saudara kandung yang miskin, orang tua yang miskin wajib juga dinafkahi setelah nafkah kepada istri.
      – Keponakan lelaki 5 tahun belum dewasa, jadi tidak berdosa. Namun anak 5 tahun sudah hampir mumayiz, jadi sudah perlu dibiasakan kehidupan terpisah antara laki-laki dan perempuan.

  • n-cep
    30/06/2015 - 07:53 | Permalink

    Aslalamuakaikum wr,wb,

    Pak ustad saya mau nanya,kemarin saya dapet THR, Saya Biasa memberikan semua pendapatan saya ke istri termasuk THR. Karena saya percaya istri saya lebih bijak untuk membelanjakan pendapatan saya. Dan saya minta untuk dikasih sebagian sekitar 1/6 dari THR untuk ibu kandung saya. tetapi istri saya menolak karena kebutuhan sedang banyak katanya.

    Saya sudah minta untuk kebutuhan yang lain di rampingkan. istri saya malah sekarang ngambek, sudah 2 hari kami saling diam. dan sayapun sengaja mendiamkannya agar istri saya tau kalau itu masih hak saya. saya hanya mempercayakan semua pada istri saya. dan jikalau istri saya bilang ma’af saya pasti akan mema’afkannya. Tetapi sampai sa’at ini istri saya belum minta ma’af, dan memang sudah biasa jika kami berselisih istri saya tidak jarang sekali minta ma’af, itupun bila saya minta dia untuk minta ma’af.

    Menurut pak ustad saya harus bagaimana? saya kadang terbesit untuk bercerai tetapi saya tidak tega dengan putri kami yang sekarang mau masuk TK.

    Terimakasih P.Ustad ,
    Asalamualaikum Wr Wb.

    • admin
      30/06/2015 - 17:03 | Permalink

      Wa alaikum salam wr wb,
      Alhamdulillah ada kelapangan rezeki di tempat kerja anda, sehingga masih dapat THR.
      – Dalam suatu keluarga, suami adalah pemimpin, termasuk dalam masalah keuangan. Cuma memang di sebagian masyarakat Indonesia yang jadi kebiasaan adalah gaji/pendapatan diserahkan ke istri, dengan kepahaman bahwa itu adalah hak istri. Suami mesti memahamkan ke pada istri bahwa posisi istri adalah orang yang ditunjuk suami untuk mengelola keuangan sesuai dengan arahan suami.
      – Orang akan mudah minta maaf kalau dia faham bahwa dia itu hamba yang banyak kesalahan, bukan orang yang selalu benar. Supaya mudah minta maaf, orang mesti sadar dulu bahwa dirinya itu adalah hamba kepada Allah. Istri juga mesti dipahamkan bahwa suami adalah jembatan istri menuju akhirat, karena di beberapa hadis disebutkan pentingnya ketaatan kepada suami. (contoh: http://keluarga.kawansejati.org/hadis-taat-suami-dan-pintu-surga/)
      – Janganlah mudah berfikir untuk bercerai, karena Allah tidak suka perceraian walaupun itu halal.

      Saran:
      – Lengkapi lagi ilmu berkeluarga agar suami & istri sama-sama paham posisi masing-masing: suami sebagai pemimpin, istri sebagai pengikut. Suami pula paham susahnya istri jadi pengikut, istri pula paham susahnya suami menjadi pemimpin.
      – Saat ini kita hidup di akhir zaman, susah mencari amalan Islam yang sempurna. Suami pasti banyak salah, dan istri juga pasti banyak salah. Jika keduanya tidak minta maaf dan memberi maaf, nanti dosanya akan diperhitungkan di akhirat. Lebih baik suami & istri mudah minta maaf & memberi maaf. Jadi kalau istri ada salah-salah, ringan lah suami memberi maaf, dan juga sebaliknya kalau suami ada salah silap kepada istri.
      – Suami sebagai pemimpin mesti memberi contoh akhlak yang baik, supaya istri hatinya dapat berubah.

      Wassalam wr wb

  • 1 4 5 6

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Powered by: Wordpress