Artikel Keluarga

Bab 2.08 Kewajiban Suami Terhadap Istri

Nas-nas Al Quran dan hadis:

  1. Allah Taala berfirman, yang bermaksud:
    “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
  2. Dan Allah berfirman lagi:
    ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang baik akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan atas isterinya.” (Al Baqarah : 228)
  3. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda pada waktu haji widak (perpisahan) setelah baginda memuji Allah dan menyanjung-Nya serta menasehati para hadirin yang maksudnya:
    ‘Ingatlah (hai kaumku), terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para isteri, isteri-isteri itu hanyalah dapat diumpamakan tawanan yang berada di sampingmu, kamu tidak dapat memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau isteri-isteri itu melakukan perbuatan yang keji yang jelas (membangkang atau tidak taat) maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau isteri-isteri itu taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka.
    Ingatlah! Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isterimu dan sesungguhnya isteri-isterimu itu mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap dirimu. Kemudian kewajiban isteri-isteri terhadap dirimu ialah mereka tidak boleh mengijinkan masuk ke rumahmu orang yang kamu benci. Ingatlah! Kewajiban terhadap mereka ialah bahwa kamu melayani mereka dengan baik dalam soal pakaian dan makanan mereka.

    (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)
  4. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
    “Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh memperolokkan dia dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang).” (Riwayat Abu Daud)
  5. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja seorang laki-laki yang menikahi perempuan dengan mas kawin sedikit atau banyak sedangkan dalam hatinya ia berniat untuk tidak memberikan hak perempuan tersebut (mas kawinnya) kepadanya. maka ia telah menipunya, kemudian jika ia meninggal dunia, sedang ia belum memberi hak perempuan tadi kepadanya maka ia akan menjumpai Allah pada hari Kiamat nanti dalam keadaan berzina.”
  6. Nabi SAW bersabda yang bermaksud
    “Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang baik budi pekertinya dan mereka yang lebih halus dalam mempergauli keluarganya (isteri anak-anak dan kaum kerabatnya). “
  7. Nabi SAW bersabda yang bermaksud :
    “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku.” (Riwayat lbnu Asakir)
  8. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud:
    “Barang siapa yang sabar atas budi pekerti isterinya yang buruk, maka Allah memberinya pahala sama dengan pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.s karena sabar atas cobaan-Nya.” ( Cobaan ke atas Nabi Ayub ada empat hal: Habis harta bendanya., Meninggal dunia semua anaknya., Hancur badannya., Dijauhi oleh manusia kecuali isterinya benama Rahmah )
    Dan seorang isteri yang sabar atas budi pekerti suaminya yang buruk akan diberi oleh Allah pahala sama dengan pahala Asiah isteri Firaun“.
  9. Al Habib Abdullah Al Haddad berkata:
    “seorang laki-laki yang sempurna adalah dia yang mempermudah dalam kewajiban-kewajiban kepadanya dan tidak mempermudah dalam kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Dan seorang laki-laki yang kurang ialah dia yang bersifat sebaliknya.”
    Maksud dan penjelasan ini ialah seorang suami yang bersikap sudi memaafkan jika isterinya tidak menghias dirinya dan tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi ia bersikap tegas jika isterinya tidak melakukan sholat atau puasa dan lain-lain, itulah suami yang sempurna. Dan seorang suami yang bersikap keras jika isterinya tidak menghias dirinya atau tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi bersikap acuh tak acuh (dingin) jika isteri meninggalkan kewajiban-kewajiban kepada Allah seperti sholat, puasa dan lain-lain, dia seorang suami yang kurang.
  10. Dianjurkan bagi seorang suami memperhatikan isterinya (dan mengingatkannya dengan nada yang lembut/halus) dan menafkahinya sesuai kemampuannya dan berlaku tabah (jika disakiti oleh isterinya) dan bersikap halus kepadanya dan mengarahkannya ke jalan yang baik dan mengajamya hukum-hukum agama yang perlu diketahui olehnya seperti bersuci, haid dan ibadah-ibadah yang wajib atau yang sunat.
  11. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    ‘Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.” (At Tahrim : 6)
    Ibnu Abbas berkata:
    Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.
    Dan Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab at,is rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alai )
  12. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  13. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    Perintahkanlah keluargamu agar melakukan sholat.” (Thaha:132)
  14. Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”

KESIMPULAN TANGGUNG JAWAB SUAMI

  1. Menjadi pemimpin anak isteri di dalam rumah tangga.
  2. Mengajarkan ilmu fardhu ‘ain (wajib) kepada anak isteri yaitu ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf.
    Ilmu tauhiddiajarkan supaya aqidahnya sesuai dengan aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah.
    Ilmu fiqih diajarkan supaya segala ibadahnya sesuai dengan kehendak agama.
    Ilmu tasawuf diajarkan supaya mereka ikhlas dalam beramal dan dapat menjaga segala amalannya daripada dirusakkan oleh rasa riya’ (pamer), bangga, menunjuk-nunjuk orang lain dan lain-lain.
  3. Memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal.
    Ada ulama berkata:
    Sekali memberi pakaian anak isteri yang menyukakan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama 70 tahun.
    Tidak menzalimi anak isteri yaitu dengan:

    • Memberikan pendidikan agama yang sempurna.
    • Memberikan nafkah lahir dan batin secukupnya.
    • Memberi nasihat serta menegur dan memberi panduan/ petunjuk jika melakukan maksiat atau kesalahan.
    • Apabila memukul jangan sampai melukakan (melampaui batas).
  4. Memberi nasihat jika isteri gemar bergunjing/bergosip, mengomel serta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah agama.
  5. Melayani isteri dengan sebaik-baik pergaulan.
  6. Berbicara dengan isteri dengan lemah-lembut.
  7. Memaafkan keterlanjurannya tetapi sangat memperhatikan kesesuaian tingkah lakunya dengan syariat.
  8. Kurangkan perdebatan.
  9. Memelihara harga diri / kehormatan mereka.

440 Comments

1 5 6 7
  • nachitha
    03/07/2015 - 23:32 | Permalink

    assalammualaikum ustadz..
    saya adalah seorang istri yg bekerja.penghasilan saya lbh besar drpda penghasilan suami.kbtuhan sehari2 kluarga mnggunakan uang pghasilan saya hnya sbgian kecil dr suami.smua pengasilan sy dpakai utk kperluan rumah.tp sebalikny,pghasilan suami hanya diserahkan sktr 50%ny.sisanya dipegang sendri.sy ikhlas pak ustadz harta sy utk keluarga.ttpi ad hal yg mnganggu sy.bbrp waktu lalu ortu saya mendapat musibah.rumah ortu habis terbakar.skrg ortu sdg berusaha mmbangun rmh kembali seadanya.dgn segala kekurangan perih hati sy melihat ortu sy.tp tdk ada gelagat suami utk mmbantu menyumbang.pdhal skrg km ad rejeki lbh.sy mncoba bicara pd suami utk mmbantu ortu tp jwbanny hnya mnyuruh sy sabar.uang yg ingin sy ksh ke ortu dr penghasilan sy.kt suami jk mw diberikan uang trsbt hrs dbgi 2.sbgian lg utk mertua sy.pdhal mertua sy bknlah org yg kekurangan spt ortu sy pak ustadz.mertua sy trmsk org yg berada.tlg br sy saran pwk ustadz..

    • admin
      04/07/2015 - 12:29 | Permalink

      Wa alaikum salam
      Dalam hal ini suami & istri mesti memahami dulu bagaimana hukumnya atas penghasilan istri & suami:
      – penghasilan suami adalah hak suami, namun suami ada kewajiban untuk menafkahi keluarga dan orang-orang yang ada hubungan waris dengannya, termasuk orangtuanya, saudara-saudaranya.
      – penghasilan istri adalah hak istri, dan bebas digunakan istri untuk apa saja, tidak harus untuk menafkahi suaminya, karena tidak ada kewajiban istri untuk menafkahi suami. Jika istri membagi pendapatannya dengan suami, maka ini suatu amal sunat yang mulia.
      Dalil dari hal tersebut di atas ada di banyak tulisan, terutama tulisan yang membahas mengenai perbandingan waris antara laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki mendapat 2 bagian dan perempuan 1 bagian.

      Jadi sebenarnya istri berhak menggunakan penghasilannya sesuai keperluannya. Namun kalau suami tidak paham hal ini dapat menjadi bahan keributan. Dalam keadaan orang tua istri tidak ada rumah, maka sebenarnya hal ini sangat perlu untuk segera diselesaikan.

      Saya duga ada perbedaan pandangan antara sumai & istri. Coba introspeksi diri mengapa komunikasi antara suami istri tidak lancar?

      Mengingat anda sebagai istri bekerja, ada baiknya anda baca beberapa renungan untuk istri yang bekerja:
      http://keluarga.kawansejati.org/13-renungan-untuk-suami-isteri-yang-bekerja/
      http://keluarga.kawansejati.org/permasalahan-istri-bekerja-suami-menganggur/

      Wassalam

      • nachitha
        05/07/2015 - 00:39 | Permalink

        terimakasih atas saran pak ustadz sblmny.
        suami sy bs dblg mengerti mslh agama ustadz.bliau org sholeh.dan lulusan universitas islam.fakultas ushuludin.
        bbrpa waktu lalu bahkan sblm menikah km pernah membahas bgmana jika suami tdk pnya penghasilan sdgkn sy adl pegawai berpenghasilan tetap.saat itu sy mngatakan sy ikhlas gaji sy dipakai utk kbtuhan rmh tangga.
        skrg thn ke 4 pernikahan km,suami berhenti bekerja dan memulai usaha yg penghasilanny msh jauh dr cukup utk mmenuhi kbtuhan rmh tgga.sekali lg sy katakan sy ikhlas pak ustadz gaji sy utk kbtuhan rmh tangga.tapi yg sy inginkan sy bs ttap mmbantu ortu sy yg sdg kesusahan.tdk pny tempat tinggal.adk2 sy msh sekolah.sy ingin diberi klonggraan utk mmbantu mereka mggunakan peghasilan sy pak ustadz.

        mertua sy pnya byk peghasilan.tanah dn harta byk.kontrakan.saudara ipar sy sdh pd bekerja.tp suami sy blg sy harus adil.50:50
        benarkah adil itu hrs sama rata bkn dliat dr kondisiny pak ustadz?

        pak ustadz,sy adl istri yg sedang gundah mnhdapi suami sy.sy tdk mw melawan suami.tp sy pnya keinginan yg kuat utk mmbantu ortu sy.jln yg mn yg hrs sy tempuh?tlg beri sy penjelasan pak ustadz sebaikny bgimana.

  • july
    04/07/2015 - 09:14 | Permalink

    Aslm alkm pk ustd..
    Sy mw brtny ni pk ustd.suami sy tdk prnh mw mnrima pndpt sy.dy sllu mnolak pndpt sy.pk ustd suami sy pny adk laki2 yg msih kuliah.tp dy msih dlm ktgori susah.stiap bln km hrz bntu utk biaya kul ny.smntr kmi sdg kssushn ekonomi pk ustd.jd sy blg kt blm bz bntu.smntr hdp kt msih kkurgn.blm lg klw mertua laki2 sy dtg mntk duit rkok dll.pk ustd yg sy lkukn in ap slh.mngigt khdpn ekonmi az msh ssah .tp ttp suami sy tdk mghiraukn sy pk

  • 04/07/2015 - 23:18 | Permalink

    ass’ pak ustd.
    saya ingin bercrita sedikit. baru2 ini sya bercerai dgn istri sya. istri saya meminta cerai kepada sya. alasannya saya(suami) selalu mengungkit-ungkit masalah uang yang aku telah berikan kepadanya. hal itu memang saya lakukan, karena mengingat uang yg telah saya berikan itu, kok habis semua tak ada sedikit pun simpanan. yang membuat saya melakukan itu karena aku merasa istri saya telah menyembunyikan uang itu.
    saya tambahkan lagi sedikit. saya adalah karyawan perusahaan saat itu, dgn gaji 5-7 juta perbulan. setiap saya gajian saya selalu mengirimkan uang ke istri setelah mengeluarkan tanggungan saya. jadi uang yang aku krimkan ke istri itu antara 4,5 sampai 5 juta perbulan. sementara anak kami masih satu dan msih beumur 3 tahun. nah setiap saya tanyakan kepadanya mengenai keuangan kami, dia selalu bilang uangnya habis di makan bersama anak saya. sementara saya ada di perantauan(kalimantan).
    saya curiga disini ada campur tangan orangtuanya, karena suatu ketika saya tanyakan keuangan kami, tiba-tiba ibunya angkat bicara dan mengatakan bahwa “jangan cari uangmu, lihat anakmu”. dan taraf kemakmuran mertua saya sangat tinggi(semakin kaya), sementara saya dan istri semakin melarat.
    yg ingin saya tanyakan apakah tindakanku menanyakan keuangan kami salah? dan apakah pernyataan istri saya bahwa uangnya habis di makan benar?
    mohon petunjuk dan penjelasanya.

    • admin
      06/07/2015 - 22:54 | Permalink

      Wa alaikum salam,

      Seorang suami adalah pemimpin di keluarganya, jadi wajar saja jika seorang pemimpin menanyakan kepada pengikutnya apa yang dilakukan dengan uang yang telah diberikan.
      Untuk menilai benar salah penggunaan uang cukup sulit, karena penilaian keuangan mestinya dilakukan atas dasar bukti yang jelas, yang dalam perusahaan biasanya disebut sebagai audit. Jadi mesti ada sistem akunting yang dijalankan, baru kemudian dilihat uang itu dibelanjakan untuk apa saja. Secara umum, jika dalam suatu masalah tidak ada bukti kuat, lebih baik tidak berprasangka buruk.

      Jika hanya dengan melihat taraf kemakmuran mertua yang meningkat, hal ini bukan bukti yang kuat, karena boleh jadi mertua mendapat rezeki dari tempat-tempat lain. Jika tidak ada bukti kuat, lebih baik menghindari prasangka buruk terhadap orang lain.

      Wassalam

  • Denz
    05/07/2015 - 08:00 | Permalink

    Ass pa ustad
    Sy seorang sy adalah seorang kepala rumah tangga dan mempuyai satu istri tercinta dan anak perempuan 5 th dan anak laki laki 2 th sy sangat mencintai keluarga saya namun satu tahun kebelakang sy mengalami ke ganjilan pada istri sy hingga sy pun bertanya tanya dan mungkin alloh memberitahukan sy apa yang sedang terjadi di keluarga sy, massya alloh ternyata istri sy mempunyai pil ( pria idaman lain ) sy sungguh kaget kecewa zina pun terjadi antara istri sy dengan lelaki tetsebut awal nya sy sangat marah kesal ingin sekali menceraikan istri sy namun melihat sisi lain sy sangat mencintaj istri sy dan sy pun melihat kondisi anak anak yang masih membutuhkan ibu nya memang istri sy meminta ampun maaf sama sy yg telah di khanati nya sy masih belum percaya tapi sisi lain sy tidak mau kehilangan istri sy kondisi sy bimbang pa ust apa yang harus sy perbuat saat ini mohon saran nya pa ustad

  • siti
    05/07/2015 - 10:04 | Permalink

    assalamualaikum wr wb,.. pa ust adakah doa khusus untuk saya istri yg slalu di abaikan suami sy d karunia i satu ank dn usia pernikahan sdh 15 thn tetapi kbhgiaan rumah tangga saya cuma 5 thn, dr awal suami saya yg suka selingkuh ke beberapa wanita, sekarang bahkan menikah lg, dan si perempuan itu nya perna memukul saya dgn lantaran suami saya tidur d rumah saya.. apalagi ucapan2 nya yg kotor.. bagm yg hrs saya lakukan. saya sangat minim tetang ilmu agama, bahkan pernah mnyalahkan Tuhan, knp hrs saya dn kpn sy bahagia, seakan akan tuhan tdk prna mndengarkn doa saya dn tdk peduli dgn umatnya (aku) .. trims

  • Nina
    05/07/2015 - 17:38 | Permalink

    Asslkm Pak Ustad.Sy Mau Bertanya.Sy Sdh Berumah Tangga selama 9thn.Sy dan Suami sama2 Bekerja.Tp Penghasilan Suami Cuma Buat Bayar Cicilan Motor aja.Untuk Ongkos sehari2 minta sm sy Hrs 50rb/hr.js Untuk Kebutuhan sehari2 termasuk Anak sy sekolah+ ngasih Orang Tua.itu sy semua nya.Sy Sdh Bilang ke Suami,Agar cari Penghasilan Tambahan.Tp Respon nya Dia selalu Dingin.Gmn ya Pak ustad Cara Merubah nya.Tema kasih

    • admin
      06/07/2015 - 21:45 | Permalink

      Wa alaikum salam.
      Dari uraian anda, kurang jelas mengapa pendapatan suami tidak cukup, dan apakah suami masih ada waktu dan tenaga untuk mencari penghasilan tambahan. Bisa saja suami sudah bekerja keras, tapi ya pendapatan cuma sejumalh itu saja.
      Saran saya:
      – Baca uraian mengenai istri dalam meminta haknya http://keluarga.kawansejati.org/11-peringkat-peringkat-istri-yang-meminta-haknya-kepada-suami/
      – Baca uraian mengenai suami dalam memenuhi keperluan istrinya http://keluarga.kawansejati.org/209-peringkat-memberi-tanggung-jawab-asasi-pokok-terhadap-istri/
      – Nampaknya anda masih cukup makan sehingga tidak kelaparan, ada tempat tinggal, ada pakaian untuk menutup aurat, dan ada fasilitas-fasilitas untuk melaksanakan ibadah wajib
      – Ingatlah bahwa suami adalah jembatan istri menuju ke akhirat
      – Utamakanlah agama di atas hal-hal duniawi. Yang lebih perlu ditagih dari suami adalah bimbingan dalam agama, bukan keperluan lahiriah.
      – Lebih baik fokus agar suami & istri sama-sama menjadi orang yang bertaqwa.
      – Jika suami bertaqwa, insya Allah dia akan berusaha sebaik-baiknya untuk memenuhi keperluan keluarga, dan tidak akan pelit memberi nafkah kepada istrinya.
      – Jika istri bertaqwa, insya Allah akan redho dengan apa yang ada pada suami
      Wassalam.

  • Tri
    05/07/2015 - 22:00 | Permalink

    Ass…pak ustad sy bth pncrhn ats mslh yg sdg sy hdpi.yg ingn sy kthui apkh slh slh jk sy melwn suami yg tdk prnh mngjrkn ajrn agma dn sllu memukul sya ktka kmi brtngkr.dn suami sy jg betah brda diluar rmh ngmpul ma tmn2nya yg trkdng smpe brhari2 mebingglkn sy dgn ank2 drmh.nfkh bthin trkdg hmpr 2 bln lbh dibri.sy mnta jwbn ats konflik yg sdg sy hdpi.mksi pak ustad,wassalam…

  • Wenny
    06/07/2015 - 02:59 | Permalink

    Ass.pak ustad. Saya wenny sya ingin bertnya dn sdikit mncritkan isi hti sya.sya seorang jnda dn tlah mnikah dngan seorang pria yg sdh prnh mnikah siri sbnyk 4x dn slalu ggl untuk mmprthnkn rmh tnggax.yang ingin sya tnyakn suami sya itu setiap kli mrh selalu mencaci maki sya dngan kta kta kasar dn kta kta binatang. Apa kh yg di bilang tabiat itu bisa hilang dri diri seseorang. Saya sangat tersiksa dan membatin dengan kata kata kasar dan sikapx yg kasar kepada saya.sesekali suami saya jga mengeluarkan kata kata benci kalau ketika melihat saya. Terima kasih .

    • admin
      06/07/2015 - 21:37 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Perilaku orang sulit berubah, seperti pernah disebut sabda Rasulullah SAW-:
      “ Kalau ada orang menyatakan Gunung Uhud sudah berubah tempat, kita boleh percaya tanpa melihatnya, tapi jika si polan telah berubah perangainya, jangan kamu terima atau percaya sebelum kamu melihatnya sendiri…”
      Akhlaq baik itu adalah bagian dari kewajiban setiap pribadi muslim, selain aqidah/iman dan syariat. Di hadis disebut sebagai ‘ihsan’. Detailnya dapat dibaca di http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2015/03/kewajiban-pribadi-utama-seorang-muslim.html
      Perangai kasar itu artinya budi pekerti / akhlaq yang buruk. Untuk akhlaq dapat menjadi baik, seseorang itu mesti mengamalkan ilmu-ilmu untuk melembutkan akhlak, yang dikenal juga dengan tasawuf. Ilmu tasawuf ini tidak berdiri sendiri, mesti ada dasar aqidah/keimanan yang benar, dan pengamalan syariat yang benar. Lebih baik lagi jika ada bimbingan seorang guru yang sanggup mendidik akhlak.
      Jika ada kesungguhan dari suami untuk mengubah tabiat, yaitu dengan mengamalkan agama Islam yang menyeluruh (Iman,Islam, Ihsan), maka ada harapan bahwa nantinya tabiat buruk itu dapat hilang. Jika tidak ada upaya, maka sulit ada perubahan tabiat.
      Wassalamualaikum

  • tini
    06/07/2015 - 10:51 | Permalink

    Asalamualikum pak,
    Saya mau bertanya,saya sudah menikah hampir 2thn yg lalu,kami di karuniai 1 putra.tapi sampai sekarng saya jarang dinafkahi karena suami saya tidak mau bekerja,padahal dia sehat dan masih kuat,dia juga sarjana…
    Dia juga malas klo di suruh solat kadang tidak mau.saya sering kali bertengkar dan saya setiap bertengkar selalu minta cerai.tapi tidak pernah dia mau.
    Saya sebenatnya sudah tidak tahan dengan rumah tangga ini.hanya saja saya memikirkan anak.
    Jadi bagusnya saya bagaimana pak,krna di lain sisih saya takut seriap hari menimbun dosa karena tidak bisa jd istri yg baik karena tingkah suami saya sendiri.terimakasih,wasala.

  • Jodha Akbar
    06/07/2015 - 13:16 | Permalink

    Assalaamu’alaikum Pak Ustad..
    Maaf Pak ustad, saya menikah dengan seorang pria yang sudah pernah menikah dan telah mempunyai seorang anak
    perempuan yang telah berusia 15 tahun( ikut ibu kandungnya). Setelah menikah, kami tinggal di rumah orang tua saya.
    Penghasilan suami saya Alhamdulillah pas2an, karenanya saya masih tetap bekerja untuk membantu ekonomi kami. Yang kadang jadi masalah, jika dia harus memberi apa yang diminta oleh anaknya. Karena mau gak mau akupun harus ikut membantunya, tentunya dari uang gajiku.
    Sementara suamiku, tidak pernah mungkin bisa menolak atau meminta tenggang waktu untuk menyiapkannya.
    Aku bingung haru sbersikap bagaimana, sementara suamiku terkesan tidak mau terus terang ataupun melibatkan aku seperti keinginanku, agar lebih terbuka dan akupun bisa dekat dengannya..
    Mohon solusinya Pak Ustad, mathur Nuwun..
    Wassalam

    .

  • Riska
    06/07/2015 - 16:29 | Permalink

    Assalamu’alaikum pak ustad, saya mau tanya. Ada saudara saya yang selalu bingung dengan sikap suaminya, dia ingin jika suaminya selalu menjalan sholat 5 waktu, selalu ingin sholat berjamaah bersama, dan dia juga ingin suami nya berubah agar mau menjalan sholat 5 waktu tapi suami jika disuruh susah sekali.Dan pertanyaan saya pak ustad,bagaimana jika seorang suami dsruh sholat tetapi sudh bilng iya tapi tidak dijalankan, dan bagaimna jika seorang suami bilang kepada istri kebutuhan belanja seperti membeli baju,sepatu,atau kebutuhan istri yang lain yg di inginkan istri harus ditanggung istri sendiri pdhal istri hanya mempunyai usha kecil2n saja dan jangan meminta kepada suami.kecuali meminta uang untuk kebutuhan makan sehari hari, itu bagaimana hukum nya pak ustad?
    Terimakasih wassalamu’alaikum wr.wb

  • fitrisahaya
    07/07/2015 - 02:39 | Permalink

    assalamu’alaikum ust.
    sy menikah dngn suami beranak 3 dari beda ibu. sy istri ke3nya lalu yang 2 sudh cerai. sy menikah ajakan suami sy tanpa melihat status sy yg masih sekolah., sekarang sy sudh lulus sy ingin kuliah tpi dilarang dengan alasan tidak ingin nanti sy bekerja d luar. sy mengerti itu, tpi sy ingin mempunyai bekal untuk hidup sy kedepan, mengingat usia suami saya yg sudah tua, lalu ketika saya mengajak suami sy untuk berhubungan suami sy pun meninggalkan sy sedangkan sy msh dlm keadaan berhasrat, lalu dia meninggalkan sy begitu sj asik dengan koleksi batu cincinnya apakah sy boleh marah padanya?. tak lama kemudian suami meminta dibuatkan kopi, krna sy marah sy membantah suami sy dengan bilang males!!, langsung suami meninggalkan kamar. harusnya suami saya mengerti knpa sy begitu. ada kah masukan dari ust untuk sy mengenai permasalahan sy

    • admin
      14/07/2015 - 11:15 | Permalink

      Wa alaikum salam.
      Saran saya adalah solusi berikut: http://keluarga.kawansejati.org/solusi-masalah-keluarga-bagi-istri/
      Salah satu permasalahan umum dalam hubungan suami istri adalah suami cepat puas & selesai, sedangkan istri lebih lambat. Saya yakin hal ini tidak diajarkan di sekolah, jadi mesti cari sumber lain, dan ada komunikasi yang baik antara suami & istri.
      Jangan lah marah-marah pada suami, karena hal ini tidak memperbaiki keadaan, malah jadinya bertambah dosa pada istri, dan suami jadi tambah marah.
      Sebaiknya anda penuhi dulu semua keinginan suami secara istiqomah, baik di ranjang maupun kopi. Setelah suami nampak puas dengan layanan anda, baru anda coba minta dengan mesra agar suami mau ‘lebih lama’ dengan anda.

  • Uniy
    07/07/2015 - 06:02 | Permalink

    Assalamualaikum pak ustadz

    Saya sdh menikah 3th, suami saya kecanduan main games semalam begadang sampe pagi sampai melalaikan urusan ibadahnya sholat 5 waktu, terkadang saya suka jengkel sendiri, saya sudah coba bicara dengan suami saya klo saya tidak keberatan beliau bermain games asal tahu waktu dan tidak melalaikan urusan ibadahnya dan kami malah bertengkar hebat tp akhirnya beliau berjanji tidak bermain games lagi tp itu hanya berhasil 1-2 hr saja setelah itu kembali lagi ke awal, saya sgt ingin sekali sholat berjamaah dengan suami saya, sy juga ingin agar suami saya menjadi imam yg baik yg bisa membimbing kelganya menuju syurganya Alloh, bagaimana saya hrs bersikap pernikahan saya sudah berjalan 3 tahun dan sikap suami masih seperti itu, tidak ada yg bisa merubah kebiasaannya termasuk kedua orang tuanya? Kadang saya merasa lebih baik saya berpisah dengan suami supaya saya juga tidak terus2an jengkel dengan suami saya yg malah menambah dosa saya, mohon pencerahannya apa yg hrs saya lakukan?

  • suci indah
    07/07/2015 - 08:18 | Permalink

    sy mau tanya pak ustadz,apakah salah jika sy menuntut suami agar adil terhadap keluarganya,suami sy kerja dr pagi hingga petang.tp kl untuk ortu dan temanya ada waktu untuk keluar sdgkan untuk anak istri susah banget di ajak keluar apa salah jika sy meminta agar suami sy adil???

    • admin
      14/07/2015 - 11:02 | Permalink

      Assalamualaikum,
      Solusi yang dapat dilakukan: http://keluarga.kawansejati.org/solusi-masalah-keluarga-bagi-istri/
      Perlu difahami bahwa kewajiban utama suami ke istri adalah mendidik istri agar selamat di akhirat, setelah itu baru kewajiban lain seperti menafkahi lahir & batin. Jadi berdoalah dulu agar suami mengurus kewajiban utama, baru setelah itu berdoa agar suami mengurus kewajiban selanjutnya.
      Wassalam.

  • Zunita
    07/07/2015 - 11:23 | Permalink

    Assalamualaikum pk ustad..
    Sy seorang istri pnya ank satu umur 6bln menikah bru setahun setengah. Dri pernikahan sy sering terjadi pertengkaran karena Suami selingkuh. Perselingkuhannya udah semenjak sy tunangan, stiap ketahuan suami berjanji gag akan diulangi lg tp ternyata setelah menikah, sy hamil sampai melahirkan suami msh selingkuh. Sy sllu sabar dgn kelakuan suami sy wlaupun orgtua sy gag terima karna suami sy jg gag prnh mau tau dgn orngtua sy, seakan2 suami sy benci dgn mereka jg kakak sy. Dri kisah sy itu sy udh ditalak suami sy 2 kali. Dan skrg stiap suami sy marah dia pergi meninggalkan sy dan ank, dia tidur dirmh orngtuanya, udah 5 hari ini tanpa kbr.
    Apa yg harus sy lakukan pk ustad? Sy memang mencintainya tp perlakuan suami sy dgn orngtua sy kurang baik dan sy malu dgn orngtua sy atas kelakuan suami sy. Apakah sy hrus bertahan dgn suami sy smentara sy takut ditalak lg akhirnya bercerai ato sy harus mengikuti kata orngtua untuk tdk menuruti suami lg?
    Sy bingung pk ustad, mohon sarannya.
    Wassalamualaikum..

  • nuryanti
    07/07/2015 - 14:06 | Permalink

    Pak ustat saya mau tanya mengenai suami saya yg suka marah2 kepada bapak saya ,karena apa yg dilakukan orang tua saya selalu salah dimata suami saya.mohon penjelasannya pak

    • admin
      14/07/2015 - 11:08 | Permalink

      Dalam pernikahan, mertua itu semestinya diperlakukan seperti orang tua sendiri, jadi mesti diperlakukan dengan hormat, walaupun ada perbedaan pendapat. Jangan marah-marah kepada mertua. Menantu mesti mencoba memahami perbedaan dengan mertua, maklum saja perbedaan latar belakang, perbedaan umur, perbedaan generasi dan sebagainya.

      Saran saya laksanakan solusi ini dulu : http://keluarga.kawansejati.org/solusi-masalah-keluarga-bagi-istri/ , baru kemudian ajak bicara ke suami dengan baik-baik. Moga-moga jika istri sudah memperbaiki dirinya, tanpa diminta suami mau berubah juga.

  • nurhayati
    08/07/2015 - 06:38 | Permalink

    Assalamu’alaikum Pak Ustadz.
    Saya telah menikah dg suami 2,5th dan belum dikaruniai momongan..
    Wktu prkenalan dlu dg suami dy seorang laki2 muslim yg taat, stelah menikah suami tdk prnah mau shalat mskipun sdh saya ingatkn berkali-kali.
    Suami suka brkata kasar dan ringan tangan..suami saya suka chating di dunia maya..krna hal itu kita jd sering brtengkar.
    Beberapa bulan yg lalu saya menemukan hp yg dibelinya tnpa sepengetahuan saya didalamnya ada chatingan suami saya. Dlm prkenalan itu suami saya blg masih single, bhkn suami sy menyanggupi ajakn kopi darat perempuan itu, d saat saya sms ato tlp slalu dicuekin dan di jam yg sama dy asyik chating dg perempuan lain.
    Setelah saya tegur dy marah sekali dan menginginkn privasi ato hal2 yg saya tdk boleh tau. Saya menolak krna saya menginginkn keterbukaan.
    Krna hal itu suami mngeluarkn kata talak dan meninggalkn saya kerumah orang tuanya.
    Saya harus bgaimana pak ustadz..mengingat tiap kali marah suami talak saya dan saya slalu mengalah mnjemput suami untuk pulang..tp kali ini sudah 1bulan lebih suami tdk pulang bhkkan hp nya dmatikn untuk menghindari saya..saya cuma pingin suami saya minta maaf,.dan keterbukaan dlm rumah tangga.
    Apa saya harus mnjemput suami dan sabar membiarkn hobi suami saya..
    Sebenarnya saya sudah sangat kecewa pak ustadz ..

  • rinaldi
    08/07/2015 - 13:08 | Permalink

    Assalamu’alaikum pak ustad, saya ingin bertanya..bgini pak ustad saya telah memiliki istri dan anak 2..saya sekarang bekerja jauh di luar kota dan meninggalkn anak2 istri saya..namun 1 bulan sekali saya pulang kerumah istri dan ank2 saya..kondisi sekarang tempat kerja saya satu kota dengan Ibu saya, jdi saya tinggal bersama Ibu saya dan adik saya..dalam hal ini bgaimana mnurut Pak ustad yang harus saya lakukan..sekarang mendekati lebaran..disatu sisi saya ingin berkumpul dengan anak2 dan istri saya, satu sisi lain saya merasa tidak enak hati dengan Ibu saya..dan mnurut pak ustad mana yang harus saya dahulukan kerana saya faham kl saya sebagai anak laki2 msh memiliki kewajiban kepada Ibu, tetapi saya juga memiliki kewajiban kepada keluarga kecil saya..atas hal ini mohon bimbingannya pak ustad..Terimakasih wassalamu’alaikum wr.wb

    • admin
      14/07/2015 - 10:54 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Beberapa solusi:
      * ajak istri dan anak-anak ke ibu selama lebaran
      * anda tetap menemani ibu selama lebaran
      * anda menemani istri selama lebaran
      Dalam ayat Al Quran maupun Hadis tidak ada ketentuan khusus tentang mudik lebaran, panduan yang ada adalah di akhir bulan ramadhan ibadah ditingkatkan dan diperbaiki. Malah ada ibadah i’tikaf, yaitu menginap di masjid dan tidak pulang sama sekali.
      Jika istri anda taat 100%, tidak masalah anda menemani ibu anda.
      Jika istri ada permasalahan mendesak di rumah yang perlu campur tangan suami, lebih baik suami menemani istri karena istri hanya sendiri, sedangkan ibu masih ada adik yang menemani.
      Wassalam.

  • vira
    10/07/2015 - 05:55 | Permalink

    Aslmkm pak ustadz,
    Sy sdh menikah slma 11 thn, memiliki 2org ank, sy mw tny, apa yg seharusnya sy lakukan, sy selingkuh dgn laki” lain sdh 3thn bahkan sampai hamil, sy sdh bertobat karna takut dosa pda Allah dgn tdk lagi berzina dgn pil itu, tpi mau tdk mau sy tdk bisa meninggalkannya karna selama ini dy yg nafkahi kami, suami sy tw itu, dy marah tpi tak bisa berbuat apa apa karna memang hampir semua kebutuhan kami diberikan sma pil sya, sy bingung pak ustadz, hati sy sdh tdk mau lagi hidup begini, sy mau hidup normal, jadi istri soleha, dan ingin benar” taubat, siang malam d dlm sholat sy minta ampunan Allah karna takut dgn dosa, karna walaupun sy sdh tdk lagi berzina, tpi ttp saja masih berhubungan dgn laki” lain,,, mohon bantuannya pak ustadz,

  • aliya
    10/07/2015 - 09:24 | Permalink

    assaLamu’alaikum pak ustad…
    maaf sy mw tnya..
    bgmn hukum nya dLm islam jk suami n istri tidak tinggal satu rumah, kebetulan sy ditrima Pns di jateng n suami jg pns di jatim, sekarang sy tinggal satu rumah dengan orang tua saya, memang suami mengijinkan utk berkarir, tp apakah sy berdosa jk saya tidak pernah melayani suami sy dalam kesehariaannya, apakah ada pedoman yg shahih dari alQur’an atau pun hadist ?
    mohon penjelasannya ustad..
    trmksh..
    wassalamu’alaikum wr.wb.

  • 11/07/2015 - 00:36 | Permalink

    Assalamu alaikum WR.WB pak Ustad sya mau tanya, suami sya belakangan ini beda sekali sama saya, sikapnya prilakunya, apa lagi dia setiap tidur selallu menggangin hape Di kantong trs kyanya takut istrinya liat, krna dia punya selingkuhan’ beberapa hari kemudian gx sengaja liat sms di hape suami gx taunya perempuan dia selingkuhannya kata si prempuan, tapiii klo aku tnya suami di ngmngnya gx kenal, tapi pda hal si cwe itu tau nama dia nomer dia, tapii yg bikin aku kecewa dia gx ngaku klo udh pnya istri sma si cwe itu, aku bingung saat itu harus percya sama siapa apa prempuan itu apa suami sya sndri, krna si suami ngakunya gx kenal, semenjak masalah itu aku Ngediemin suami sya beberapa hari, gx ngajak ngmng sma dia waktu tdr breng jga dia minta hubngan bdan tapi sya tidk kasih krna sya masih sakitt sekali htinya, trs pertnyaaan sya apakah sya dosa menolk ajkn suami sya, tapii sya dalam keadaan sakit hati krna di hianati, dan apakan sya salah cerita sama orang tua sya dan kluarga suami sya, krna sya pingin kluarganya memnasehatinya, krna klo di nasehati sama sya, dia tidak mau mendengarnya… Dan satu lgi di buln yg berkah ini dia dapet uang bisnis katanya trs uangnya dia pegang terus gx bagi-bagi sama istri yang dia hawatirkan cuma kluarganya tnya memikirkan perasaan istrinya setlah itu uangnya abis sya tidak mendpt sepeser pun uangnya buat kepeluan dia beli bju lebaran ngasih ade dia tpii istrinya sndri tdk di kasih klo gx di ajk belnja mh cuma dikit yg sya minta juga, tapii klo bntuk uangnya tidk di kasih krna hbis buat keprluannya, dan di dlm hati sya ngegumbreng krna sya tidak di ksih dengan bentuk uang, boro bro mau Nyimpennya buat masa depan anknya yg bru 3 bulan, yg sya tnyakan sya gx suka suami cuma memikirkan kluarganya sja apa apa kluarganya yg di kasih sedng isti blja beli krudung di ngomel sya sedi sekali apa sya salah pk ustad telah iri sama kluarganya krna dia di perhatiian sama suami sya tidk sama istrinya’apakah salah sya sudh mrah” sma suami krna dia tdk memikirkan masa depan anaknya’ tapi seengganya dia hrus rata dong menbagi duitnya masa sya blja cuma habis 200 lebih udh itu doang pdahal bnyak dpt uangnya 2,5 seorg istri gx di ksih sebgi bntuk uang krna udh hbis di bagiin di kluarganya dian keperluannnya dan apakan salah sya dan suami

  • lukman
    11/07/2015 - 01:16 | Permalink

    asslamualaikum,, pak ustd,, saya mau tanya,, saya menikahi wanita yg sedang hamil akibat zina, saya menikahi wanita trsbut dikarenakan lelaki yg menghamili wanita itu tidak mau bertnggung jwb, dan saya menikahi nya tanpa sepengetahuan ortu saya, apa hukum nya bila menikahi seorang wanita yang sedang hamil akibat zina,, dn ketika anak nya lahir apakah boleh di berikan k orang lain,,??

    • admin
      11/07/2015 - 13:58 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Mengenai menikahi wanita hamil, menurut mazhab Syafi’i:
      “Menurut pendapat ulama bermazhab Syafii, wanita yang telah berzina dan dia masih belum mengandung hasil perzinaan tersebut, dibenarkan wanita itu dinikahi oleh mana-mana lelaki, iaitu hukumnya mubah/boleh. Manakala jika dia sudah mengandung hasil daripada perzinaan tersebut, dibenarkan wanita itu dikahwini oleh mana-mana lelaki, tetapi hukumnya adalah makruh. Adalah lebih utama menunggu sehingga perempuan itu melahirkan anak tersebut (al-Nawawi, al-Majmu’, jil 15, hlm. 398).”
      Sumber: http://www.e-fatwa.gov.my/blog/hukum-bagi-seorang-perempuan-yang-mengandung-akibat-zina
      #2 Mengenai memberikan anak ke orang lain, hukum yang berlaku adalah adopsi. Adopsi dalam agama Islam diperbolehkan, namun tidak boleh mengubah nasab keturunan anak itu. Artinya secara hukum Islam orang tua anak itu tetap ibu dan bapak kandungnya, misal dalam hukum waris dan kewalian untuk menikahkan.

  • ita
    11/07/2015 - 05:08 | Permalink

    Assalamu’alaikum..pak ustad aku mau tanya..kami menikah udah 4thn alhamdulillah suami sdh memberiksn nafkah lahir batin dg cukup..dia jg orng yg sangat sayang m istri dan anaknya tp sayang pak dia jarang menjalankan kewajiban seorng muslim.. dia sholat cuma maghrib dan sholat jumat.. dan puasa jg msh bolong aku jg udah sering memgingatkn ttg kwajiban seorng muslim tp dia mrah klo d ingatkan pak… hati ini kadang nyesek..pengin nangis..kdng aku diamin klo dia g sholat dan puasa pa aku salah klo aku mrh m suami klo dia mau mnjlnkn kewajiban seorng muslim.. aku pasrah kdng ada pikiran pengin pisah dg suami krn suami g prnh sholat

  • wiro
    11/07/2015 - 13:34 | Permalink

    Assalamu’alaikum wr.wb pak ustad..saya mau tanya…salahkah/bolehkah/haramkah/dosakah istri dan anak-anaknya makan dari hasil yang haram yang diberikan oleh suami kapada kluarganya tersebut..??mohon jawabannya ya ustad

  • liya
    11/07/2015 - 13:45 | Permalink

    Assalamualaikum…
    Ustadz. Apa benar nafkah suami itu harus dibagi antara istri dan keluarga dari pihak laki2?? Padahal keluarga dari pihak laki2 bukan termasuk miskin??Klu benar , apa dalilnya pak ustadz??

    • admin
      11/07/2015 - 14:06 | Permalink

      Wa alaikum salam,
      Berikut ini beberapa ayat dan hadis yang berkaitan:
      “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf, Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.’’ (QS.al-Baqarah 233)
      “Dan mereka (para istri) mempunyai hak diberi rizki dan pakaian (nafkah) yang diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami).” (HR. Muslim 2137).
      “Mulailah (memberi nafkah) kepada orang yang menjadi tanggunganmu, Ibumu, ayahmu, saudarimu, saudaramu, dan seterusnya.”[ HR.Nasa’i 1/350, Ibnu Hibban 810]
      “Mulailah menafkahi dirimu sendiri, jika tersisa, maka untuk anggota keluargamu, jika tersisa, maka untuk kerabat dekatmu.” (HR.Muslim 1663)
      Kesimpulan:
      * Yang utama perlu dinafkahi adalah keluarga sendiri (anak & istri)
      * Keluarga suami juga termasuk tanggungan terutama jika miskin.
      * Jika keluarga suami bukan fakir-miskin, maka tidak wajib dinafkahi oleh suami.
      Wassalam.

  • Esti
    11/07/2015 - 15:07 | Permalink

    Assalamuallaikum…
    Sy sudah menikah selama 1th dn belum mampunyai ank. Sebelum nenikah,sy dn suami sudah mempunyai komitmen untuk mengurus org tua secara adil. Krn mertua saya janda,kami sepakat untuk membeli rumah dekat dg mertua. Dn d situ kami membuat kesepakatan untuk setiap hari menjenguk mertua dn sy hanya minta sekali dlm seminggu untuk menginap dbrumah sy. Setelah menikah,sy tinggal sementara dg mertua dn komitmen itu d jlankan.setelah sy pindah rumh baru,mertua melarang sy untuk menginap di rumah org tua, selain itu masih banyak hal ke irian mertua sy yg akhirnya bs membuat sy dn suami berselisih paham. Terus terang,org tua sy cukup mengerti dg kondisi mertua sbg janda. Tetapi suami sy rasa tdk bs menjadi penengah yg baik, yg sy rasakan,semakin hari malah semakin tidak perduli dg org tua sy krn takut ibunya iri. Dlm hal ini,sy bingung menjelaskan ke org tua saya krn sy jg harus menjaga perasaan org tua sy.sy tau,kl kewajiban seorang laki2 adalah mendahukukan ibunya. Sy tdknpernah mrlarang suami untuk memberian ap pun ato menuruti semua permintaan ibunya.tetapi di saat sy ingin memberikan sesuatu ke org tua sy,suami melarang dg alasan tidak boleh berlebihan k org tua saya. Padahal sy tidak pernah menberikan ap2,niat sy….di lebaran ini,satu tahun sekali sy ingin membahagiakan org tua sy. Mohon sarannya utadz,,

  • Pingback: Kewajiban Pribadi Suami Istri | Keluarga Islami

  • Pingback: Solusi Permasalahan Keluarga Bagi Suami | Keluarga Islami

  • 1 5 6 7

    Leave a Reply

    Powered by: Wordpress