Bab 2.08 Kewajiban Suami Terhadap Istri

Nas-nas Al Quran dan hadis:

  1. Allah Taala berfirman, yang bermaksud:
    “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
  2. Dan Allah berfirman lagi:
    ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang baik akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan atas isterinya.” (Al Baqarah : 228)
  3. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda pada waktu haji widak (perpisahan) setelah baginda memuji Allah dan menyanjung-Nya serta menasehati para hadirin yang maksudnya:
    ‘Ingatlah (hai kaumku), terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para isteri, isteri-isteri itu hanyalah dapat diumpamakan tawanan yang berada di sampingmu, kamu tidak dapat memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau isteri-isteri itu melakukan perbuatan yang keji yang jelas (membangkang atau tidak taat) maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau isteri-isteri itu taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka.
    Ingatlah! Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isterimu dan sesungguhnya isteri-isterimu itu mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap dirimu. Kemudian kewajiban isteri-isteri terhadap dirimu ialah mereka tidak boleh mengijinkan masuk ke rumahmu orang yang kamu benci. Ingatlah! Kewajiban terhadap mereka ialah bahwa kamu melayani mereka dengan baik dalam soal pakaian dan makanan mereka.

    (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)
  4. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
    “Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh memperolokkan dia dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang).” (Riwayat Abu Daud)
  5. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja seorang laki-laki yang menikahi perempuan dengan mas kawin sedikit atau banyak sedangkan dalam hatinya ia berniat untuk tidak memberikan hak perempuan tersebut (mas kawinnya) kepadanya. maka ia telah menipunya, kemudian jika ia meninggal dunia, sedang ia belum memberi hak perempuan tadi kepadanya maka ia akan menjumpai Allah pada hari Kiamat nanti dalam keadaan berzina.”
  6. Nabi SAW bersabda yang bermaksud
    “Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang baik budi pekertinya dan mereka yang lebih halus dalam mempergauli keluarganya (isteri anak-anak dan kaum kerabatnya). “
  7. Nabi SAW bersabda yang bermaksud :
    “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku.” (Riwayat lbnu Asakir)
  8. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud:
    “Barang siapa yang sabar atas budi pekerti isterinya yang buruk, maka Allah memberinya pahala sama dengan pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.s karena sabar atas cobaan-Nya.” ( Cobaan ke atas Nabi Ayub ada empat hal: Habis harta bendanya., Meninggal dunia semua anaknya., Hancur badannya., Dijauhi oleh manusia kecuali isterinya benama Rahmah )
    Dan seorang isteri yang sabar atas budi pekerti suaminya yang buruk akan diberi oleh Allah pahala sama dengan pahala Asiah isteri Firaun“.
  9. Al Habib Abdullah Al Haddad berkata:
    “seorang laki-laki yang sempurna adalah dia yang mempermudah dalam kewajiban-kewajiban kepadanya dan tidak mempermudah dalam kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Dan seorang laki-laki yang kurang ialah dia yang bersifat sebaliknya.”
    Maksud dan penjelasan ini ialah seorang suami yang bersikap sudi memaafkan jika isterinya tidak menghias dirinya dan tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi ia bersikap tegas jika isterinya tidak melakukan sholat atau puasa dan lain-lain, itulah suami yang sempurna. Dan seorang suami yang bersikap keras jika isterinya tidak menghias dirinya atau tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi bersikap acuh tak acuh (dingin) jika isteri meninggalkan kewajiban-kewajiban kepada Allah seperti sholat, puasa dan lain-lain, dia seorang suami yang kurang.
  10. Dianjurkan bagi seorang suami memperhatikan isterinya (dan mengingatkannya dengan nada yang lembut/halus) dan menafkahinya sesuai kemampuannya dan berlaku tabah (jika disakiti oleh isterinya) dan bersikap halus kepadanya dan mengarahkannya ke jalan yang baik dan mengajamya hukum-hukum agama yang perlu diketahui olehnya seperti bersuci, haid dan ibadah-ibadah yang wajib atau yang sunat.
  11. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    ‘Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.” (At Tahrim : 6)
    Ibnu Abbas berkata:
    Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.
    Dan Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab at,is rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alai )
  12. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  13. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    Perintahkanlah keluargamu agar melakukan sholat.” (Thaha:132)
  14. Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”

KESIMPULAN TANGGUNG JAWAB SUAMI

  1. Menjadi pemimpin anak isteri di dalam rumah tangga.
  2. Mengajarkan ilmu fardhu ‘ain (wajib) kepada anak isteri yaitu ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf.
    Ilmu tauhiddiajarkan supaya aqidahnya sesuai dengan aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah.
    Ilmu fiqih diajarkan supaya segala ibadahnya sesuai dengan kehendak agama.
    Ilmu tasawuf diajarkan supaya mereka ikhlas dalam beramal dan dapat menjaga segala amalannya daripada dirusakkan oleh rasa riya’ (pamer), bangga, menunjuk-nunjuk orang lain dan lain-lain.
  3. Memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal.
    Ada ulama berkata:
    Sekali memberi pakaian anak isteri yang menyukakan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama 70 tahun.
    Tidak menzalimi anak isteri yaitu dengan:

    • Memberikan pendidikan agama yang sempurna.
    • Memberikan nafkah lahir dan batin secukupnya.
    • Memberi nasihat serta menegur dan memberi panduan/ petunjuk jika melakukan maksiat atau kesalahan.
    • Apabila memukul jangan sampai melukakan (melampaui batas).
  4. Memberi nasihat jika isteri gemar bergunjing/bergosip, mengomel serta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah agama.
  5. Melayani isteri dengan sebaik-baik pergaulan.
  6. Berbicara dengan isteri dengan lemah-lembut.
  7. Memaafkan keterlanjurannya tetapi sangat memperhatikan kesesuaian tingkah lakunya dengan syariat.
  8. Kurangkan perdebatan.
  9. Memelihara harga diri / kehormatan mereka.

222 thoughts on “Bab 2.08 Kewajiban Suami Terhadap Istri”

  1. saya punya istri, istri saya kerja, dan sering memberikan nafkah kepada orang tuanya, dengan gajinya, namun ketika saya ingin memberikan uang kepada ibu saya dia selalu marah, ujung-ujungnya selalu menghina ibu saya, selalu menjelek-jelekan ibu saya, padahal ibu saya jarang sekali meminta uang kepada saya, kecuali ada hal mendesak, tolong minta saran dan nasehatnya, terima kasih

  2. Aslmkm,saya seorang istri dan seorang ibu dari 2 orang anak,suami saya seorang yg sayang dgn keluarga,tp kadang2 mudah emosi dalam melayan kerenah anak. Kami tinggal menumpang di rumah adik suami saya. Suami saya juga seorang suri rumah sepenuh masa,suami saya gak bekerja,di suruh kerja mcm2 alasannya. Kadang2 saya malu dgn dengan keluarganya. Semua tanggung jawab suami,orang yg tanggung,sedangkan saja juga tidak bekerja. Tolong saya untuk menasehati suami saya,dan tolong saya untuk menahan sabar saya dari perilaku suami saya

  3. Dear sis desi,

    saya kurang tau hukumya jika orang tua suami anda memberikan biaya setiap bulan kepad anda itu hukumnya apa, tetapi yang wajib hukumnya adlah suami anda yang harus menafkahi anda lahir dan bathin, sandang, pangan dan papan serta kasih sayang dan ilmu agama.

    menurut saya penyiksaan yang dilkukan suami anda kepada anda itu tidak wjar dilakukan oleh seorang suami, bukankah sudah jelas hadistnya, bhwa di dalm islam suami dianjurkan untuk menggauli istrinya dengan sebaik2nya. kecuali jika istri memang sudah melenceng dari jalan Allah SWT.

    suami membentak keluarga anda itu juga tidk sewajarnya dilakukan meskipun yang lebih berhak atas anda adalah suami anda dn anda harus patuh padanya, memang seharusnya suami anda meminta maaf kepada orng tua anda karena orang tua anda itu berarti adalah orag tua suami anda juga.

    jika anda tidak dinafkahi suami anda daan anda tidak ridho atas apa yang dilakuka suami anda tersebut anda boleh meninggalkannya bahkan anda boleh menggugat cerai suami anda. lihat buku nikah, ada SIGHAT TAKLIK, di situ dibahas semuanya.

    tetapi jika anda masih ridho dan sabar dengan perilaku suami anda maka anda tetap boleh bertahan dan ini pahalanya besar sis. semoga membantu, untuk meyakinkan silahkan berkonsultasi kepada para ulama yang ahli ilmu agama dan berdoa kepda Allah SWT. wassalam

  4. Wa alaikum salam,

    Fitrah semulajadi seorang suami adalah ingin berkasih sayang dengan istrinya, lebih lagi bagi pasangan pengantin baru.

    Jika istri terasa ingin berkasih sayang dengan suami, boleh jadi suami pun merasakan yang serupa. Hanya saja dia tak tampakkan hal itu.

    Jika suami selalu cakap sakit kepala ataupun sakit yang lain, mungkin dia ada masalah. Eloknya istri tunjuk kasih sayang pada suami supaya suami mahu berbagi apa masalah dia. Boleh suami ada masalah tapi karena maklumlah pengantin baru, suami susah nak berbagi perasaan dengan istri.

    Wassalam

  5. ustad,saat pertama menikah suami saya menyerahkan seluruh gajiny untuk saya atur dan dibagi keperluan cicil rumah, makan, disamping itu saya juga bekerja, namun 1 tahun menikah suami saya mulai tidak jujur kepada saya, bahkan saat dia menerima gaji tidak berbicara dan saya tw ketika cek ke rek. suami via Ibanking. Ustadz saya mw bertanya,
    1. seperlu apa seorang istri mengetahui gj suami? apa istri yang mengatur keuangan suami atw terima sedikasihnya uang oleh suami?
    2. apa suami berhak menutupi gjnya sendiri dikarenakan istri mempunyai gj juga?
    3. kewajiban seorang suami terhadap istri sampe batas apa saja ustadz, mohon penjelasannya.
    Terima kasih

    1. 1. Seorang istri tidak perlu mengetahui gaji suami. Pemimpin dalam keluarga adalah suami. Arah tujuan keluarga termasuk keuangan adalah dalam kendali suami. Suami bisa saja menugaskan istri untuk mengatur keuangan keluarga, dalam hal ini artinya suami memberi mandat kepada istri.
      2. Suami boleh saja tidak memberi tahu keuangannya kepada istri.
      3. Kewajiban suami terhadap istri itu banyak sekali, baik kewajiban dunia maupun akhirat. Jika istri ada perkara dunia maupun akhirat yang tidak selesai, maka hal-hal ini akan ditagih di akhirat kepada sang suami.

  6. ass…mualaikun pak ustat……pak sy mau tanya….apakah wajar seorang adek perempuan dari suami say memai baju suami saya….trus apakah wajar mereka klo lg asyik suka duduk terlalu dekat….klo org tidak tau mereka kk adek pst org ngira ny mereka pacaran….hukum ny itu bagai mana ustatmakasih ustat

    1. Wa alaikum salam saudari yang dikasihi Allah,

      Dari segi adab Islam, seorang laki-laki perlu menjaga jarak dengan perempuan selain istrinya, walaupun perempuan itu adalah mahramnya (misal: ibu, adik perempuan, anak perempuan, keponakan).

      Laki-laki dengan mahramnya boleh melakukan beberapa hal:
      – Bercakap biasa.
      – berdekatan.
      – melihat aurat kecuali antara pusar dan lutut.

      Hal-hal tersebut jika dilakukan karena memang ada keperluannya tidak mengapa, namun jika tidak ada keperluan khusus lebih baik dihindari. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi pargaulan yang melebihi batas.

      Jika memang ada keperluan bersenang-senang di antara laki-laki dan wanita, maka hal tersebut dilakukan dalam koridor suami-istri.

      Wassalam

  7. assalamu’alaikum wr.wb

    pak ustadz saya mau tanya tentang mas kawin uang dalam sebuah pernikahan. .apakah uang tersebut yang kita sebutkan dalam ijab adalah tanggung jawab seorang suami kedepan untuk mencukupi istri sebanyak uang yg pernah di sebutkan dalam ijab. .atau hanya sebuah formalitas ? trima kasih

    1. Wa alaikum salam wr wb,

      Mas kawin adalah bagian dari rukun nikah. Jadi kalau mas kawin ini belum ditunaikan, maka pernikahan belum tuntas. Bisa dibilang mas kawin ini sebuah formalitas, namun perlu ada karena tanpa mas kawin pernikahan tidak sah.

      Mengenai tanggung jawab suami kepada istri tidak terbatas hanya sejumlah mas kawin. Jadi tidak ada hubungannya antara jumlah mas kawin dengan tanggung jawab suami kepada istrinya.

      Jadi mas kawin anda dengan membaca Qulhu ataupun mas kawin dengan memberikan rumah yang besar, tanggung jawab suami ke istrinya sama.

  8. Assalammualaikum

    Saya adalah seorang istri, dan sudah menikah selama 5 tahun, dan sudah memiliki 2 putra. saya adalah wanita karir dan memiliki penghasilan lebih besar dari suami. selama kami menikah suami sempat beberapa kali resign dari perusahaan, karena suami memang tipe yang gampang bosan. hal ini merugikan saya sebagai istri, karena saya jadi penopang kehidupan keluarga, bahkan biaya persalinan sewaktu saya hamil sampai mengakikahkan anak semuanya saya yang mengeluarkan biaya. slama 5 taon kami menikah saya belum pernah menerima nafkah dari suami. krn gaji suami tidak cukup untuk memberi saya uang belanja, gaji suami hanya untuk keperluan anak-anak saja, itupun juga masih ditambah dari penghasilan saya untuk mencukupi keluarga. kadang ada perasaan hampa karena saya menginginkan suami yang bisa menjadi tulang punggung keluarga, karena selama ini posisinya menjadi saya yang lebih dominan, dan ntah knapa saya merasa suami sangat menikmati posisi saya yan g berpenghasilan lebih besar dari dia. dan suami tidak ada berpikiran untuk maju berkembang dikarir. mohon untuk penerangannya,apa yang harus saya lakukan untuk suami, terimakasih

    1. Wa alaikum salam,

      Alhamdulillah ibu Hana sudah diberikan seorang suami, memiliki anak-anak yang moga-moga menjadi anak soleh, dan diberi pekerjaan yang insya Allah menjadi rezeki yang halal untuk ibu dan keluarga.

      Posisi pemimpin dalam keluarga adalah pada suami, jadi tidak baik jika istri memaksakan hal-hal tertentu kepada suami. Sebagai istri, pastikanlah dulu kewajiban-kewajiban sebagai istri telah dipenuhi. Hendaknya dalam kehidupan ini kita mengedepankan kewajiban kita, jangan mengedepankan hak kita.

      Dengan posisi anda sebagai wanita karir, sangat mungkin waktu anda tersita untuk pekerjaan dan kurang untuk keluarga. Coba hal ini dijadikan bahan instrospeksi dulu.

      Sangat baik jika istri berdoa agar suami mendapat pekerjaan yang baik, sehingga anda sebagai istri dapat 100% mengurus suami dan istri.

  9. Assalamualaikum, pak ustad…sy mau curhat pak, sy sdh menikah 4thn dan py putri lucu umur 2.5 th,dari awal pernikahan suami sy tidak pernah memberi nafkah,awalnya km hdp dilain kota,dia punya usaha disana.. Dan sy tinggal sama anak sy dgn pembantu,sy seorang PNS..tP krn pembantu sy minta berhenti, saat anak sya umur 1 tahun, sy jd bingung…. Sy meminta suami agar mau pindah sm sy, krn usaha suami jg tdk lancar, dan sy sdh 2 thn membiayai kontrakan tokonya,u mau pndh sy jg hrs membyr hutang suami.. Tp semenjak tgl bersama suami jd ngnggur, dia hy dirumah, sy yg mncr nafkah,klo soal uang pak, sy bersedia meberikan nya, tp sy tdk tahan klo uang yg sy berikan u membeli rokok, yg sy sgt mebencinya… Selain (˛`̯´̯)–σ suami sy jg jarang sholat, sdh berulang kali sy sampaikan, terkadang dia sholat magrib dan isya sj, krn rmh km dekat mushola, tp sholat yg lain apalagi subuh,tdk prnh dilakukannya.. Akhir2 ini komunikasi km krg bgs, kami bicara seperluny, krn dia jg mulai stress tdk ada pekerjaan….tiap malam dia duduk2 di warung kopi, plg diatas jam 12 malam,berkali2 dipikiran sy minta cerai, dan ketika bertengkar terucap sm sy…. Tp melihat anak sy, sy jd sedih, krn sbg ayah, dia sgt mencintai anaknya, tp sbg suami, dia tdk bs menjadi imam bg sy….. Sy juga bingung, klo bercerai anak sy tgl sm siapa, ortu sy tinggal beda kota,dan sy tdk bs hidup jauh dr anak sy…. Klo msh bersama, sy jg mrs tdk nyaman….. Krn harus menanggung hiduP sendiri, dan suami tdk mau meminta pertolongan kpd Allah…….

  10. Assalammualaikum..
    admin /ustadz saya ingin minta pendapat..
    sy seorang istri bekerja dan punya anak 1 batita saya sudah menikah selama 3 th. saya bimbang karena terkadang saya ingin bercerai dengan suami tapi terkadang saya takut akan akhirnya nanti apalagi perceraian hal yang tidak disukai Tuhan ,, tapi jika saya menjalani ini saya sering tertekan,,
    saya terkadang benci dengan suami saya karena dia tidak seperti seorang ayah untuk anak ku dan seorang suami pada umumnya, sikap dia yang cuek, tidak romantis, masa bodo dengan urusan dunia,, sya akui dan saya senang dengan sikap suami yang slalu berpikir utk akhirat dan saya suka ketika dia berusaha untuk mencintai Tuhan. tapi dia lupa akan tanggung jawab dia sebagai seorang suami dan ayah,, aq hanya sebagai istri secara status, dia tak memprhatiaknku menayakan keadaanku, kesulitanku, bercanda pun jarang bahkan untuk sekedar mencium kening pun sangat sulit,, setiap aq berusaha untuk bercerita apa yang kurasa dia hanya bilang ” jangan bergantung pada ku, aq lemah mintalah sama Allah ” padahal aq hanya berusaha untuk mencairkan suasana agar kami ada komunikasi jawaban dia buat saya skak dan berhenti sampai di situ tak ada pembicraan lagi karena memang apa yng dikatan benar setiap aq ingin berbagi, bercerita jawab dia sama “jangan bergantung padaku” tapi salahkah aku yang minta ingin dimanja suami,diperhatikan , aq bekerja untuk memenuhi kebutuhan aq dan anak karena suami belum bisa memenuhi kecukupan kebutuhan kami, secara pendidikan formal saya lebih tinggi begitu juga dengan pendapatan tapi saya tak mempersalahkan karena saya dari awal komitmen setinggi apapun pendidikan seorang istri tetap istri dibawah suami,, tapi sikap suami saya yang membuat saya kesal yang membuat saya merasa tak diperdulikan tak berharga dan tak penting utk kehidupan dia.. kehidupan rumah tangga kami membosankan,, ketika aq ingin slalu dicium kening sebelum tidur dia asyik dengan hp,, ketika anak sakit malam menangis dia asyik tidur terlelap, tak menunjukkan ke khawatiran semua diserhkan kepada Tuhan.ketika ingin berjlan2 bersama keluarga dia tak punya waktu dan tak pernah inisiatif mengajak kami rekreasi ketika saya merasakan tidak enak badan dia tak peduli hanya bilang bersabar, dan jangan bergantung pada suami. apa yang harus saya lakukan… saya belum bisa memahami pemikirannya yang seakan akan semua tanggung jawab suami ada pada TUHAN.. lalu peranan suami apa???!!! mohon pencerahanny jika memang saya harus memahami pemikiran suami,, apa yng bisa saya lakukan saya ingin membangun keluarga samara,, terimaksih admin/ustadz.

    1. Wa alaikum salam,
      Saudari Shinta yang dikasihi, dalam kehidupan ini kita akan mengalami hal-hal yang menyenangkan dan kesusahan-kesusahan. Apa-apa yang menyenangkan ini hendaknya disyukuri, dan apa-apa kesusahan ini hendaknya dijadikan bahan pelajaran bagi kita.
      Dalam kasus anda, anda sudah ada suami yang nampaknya cukup religius, namun kurang ‘mesra’ ataupun kurang berperasaan lembut pada istri.
      Dalam hal ini, saran saya anda mensyukuri dulu bahawa anda telah diberi suami yang baik dalam menjalankan agama. Kalau kita lihat banyak suami yang tidak menjalankan agama, malah melakukan perbuatan maksiat. Bersyukurlah bahwa suami dalam keluarga tidak mengajak atau pun membiarkan istri melakukan hal-hal yang nyata-nyata maksiat.

      Mengenai keinginan anda untuk dimanja dan diperhatikan suami, hal ini sangat manusiawi dan normal. Kalau kita lihat di hadis Rasulullah SAW, banyak hal-hal yang menganjurkan suami untuk mesra kepada istri. Hal-hal ini termasuk kepada bagian ‘akhlak’ atau perkara perkara hati, bukan perkara-perkara syariat. Kemesraan ini datang dari dalam hati, bukan sekedar ikut aturan saja. Jadi tidak bisa istri menunjukkan sebuah hadis tentang kemesraan suami istri, kemudian serta-merta suami jadi mesra.

      Saran:
      Bersikaplah mesra dan lembut kepada suami atas dasar agama Islam. Artinya anda bersikap baik kepada suami atas dasar ingin dekat dengan Allah, ingin mengamalkan sunnah Rasullah, ingin seperti para sahabat perempuan yang rata-rata sangat baik dan taat pada suaminya.

  11. ass pak ustad
    suami sy tidak mau klau di suruh sholat
    terkadang marah.
    dan suami sy termasuk kategori suami
    yang kurang,suami sngt marah jika
    sy kurang melayaninya dlm sgla hal.
    tp suami tdk pernah menyuruh sy sholat.
    sy hrs bagaimana ustad?

  12. Saya mau tanya,saya seorang suami saya punya anak 1 baru berumur 13bulan,saya kerja di jakarta sedangkan istri saya di desa,istri saya selalu ingin ikut ke jakarta tetapi gaji saya gak cukup buat hidup bareng di jakarta sedangkan istri saya selalu kepikiran saya terus dan merasa tidak betah dan tidak bahagia kalau sendirian,.lebih baik saya memilih pekerjaan apa pulang ke desa bareng istri saya

    1. Sebagai seorang suami, kewajibannya yang utama adalah menjaga keselamatan keluarganya lahir dan batin, dunia dan akhirat. Seperti disebutkan di surat Tahrim 6 ““Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Jika suami ada di dekat istri, lebih mudah bagi suami untuk membimbing anak & istrinya, serta untuk memenuhi keperluan-keperluan istrinya.

      Insya Allah rezeki ada di mana-mana di muka bumi ini. Kehidupan di Jakarta mahal secara ekonomi dan juga cukup membuat stress. Jadi jangan kuatir kalau harus mencari mata pencaharian di luar Jakarta.

  13. ass,,, pak ustad sy mw tanya
    sy udh stahun menikah dan dkaruniai seorang putra umurny skrg dah enam bulan .kan kalaw udah mnjadi seorang istri tanggung jwb ny kan lbh besar .wajar gak sy menolak ketika suami sy mnt dpijitin ?pas waktu it bdn sy capek pak sharian krj gk brhnti”
    kasih saran lh pak agar sy tau ap yg hrus sy lakukan
    wassalam

    1. Dari sisi pandang syariat, apa-apa permintaan suami tetap mesti dipenuhi oleh istri. Tunaikan dulu permintaan suami, sambil istri memberi pengertian kepada suami bahwa kondisi fisik istri sudah sangat kelelahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>