Jawaban Konsultasi

Istri Pergi Umrah Tanpa Izin Suami

Ka'bah di Mekah

Ka’bah di Mekah

Salah satu kasus yang terjadi: istri pergi menunaikan ibadah umroh ke Mekkah tanpa izin suami.   Bagaimana menilai kasus ini?

Tentunya sudah diketahui bahwa:

  • Ibadah umrah adalah sunat, artinya jika dikerjakan berpahala, jika tidak dikerjakan tidak berdosa
  • Istri wajib memenuhi perintah suami, selama perintah suami tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Artinya jika istri patuh maka akan berpahala, jika tidak patuh akan berdosa
  • Istri haram pergi tanpa seizin suami. Artinya jika dilakukan akan berdosa, jika tidak dilakukan berpahala.

Dari hal-hal tersebut di atas,

  • menunaikan hal wajib lebih utama daripada menunaikan hal sunat
  • menjauhi perkara haram lebih utama daripada menunaikan hal sunat

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa tidak boleh seorang istri pergi umroh tanpa izin suami. Hukumnya adalah haram. Nilai ibadah sunat Umroh ini jadi terhapus karena terjadinya perkara haram.

Penyelesaian

Masalah seperti ini penyebabnya kemungkinan besar tidak sederhana. Berikut ini ada beberapa kemungkinan:

  • Istri tidak paham atau tidak tahu tentang wajibnya kewajiban istri mesti taat pada suami.
  • Istri menganggap ibadah umroh itu besar dibandingkan taat pada suami
  • Istri tidak paham mana wajib mana sunat
  • Istri tidak paham bahwa apa yang dia buat akan berpengaruh sampai akhirat nanti.
  • Dan seterusnya.

Untuk penyelesaian masalah ini lebih baik kita lihat dari dasar dulu, jangan terpaku saja pada masalah di ujung akhir (istri pergi umroh dan tidak taat suami). Berikut ini susunan ringkas ajaran Islam dari dasar sampai ke keluarga:

Struktur ilmu berkeluarga

Struktur ilmu berkeluarga

Penjelasan gambar:

  • Aqidah / rukun iman adalah dasar dari agama Islam. Iman di sini semestinya dipahami ilmunya sampai dihayati, jangan hanya ikut-ikutan tanpa ilmu. Uraian tentang ilmu aqidah dapat diikuti di artikel Uraian Rukun Iman. Ilmu aqidah ini semuanya mesti dihafalkan dan diyakini. Setelah ilmunya diketahui dan dipahami, selanjutnya mesti sekurangnya mencapai peringkat Iman Ayan.
  • Syariat / Rukun Islam. Sekurang-kurangnya mengamalkan rukun Islam dan kewajiban-kewajiban lain yang utama.
  • Akhlak. Mesti tahu sifat-sifat buruk dan sifat-sifat baik dalam diri manusia, serta menghilangkan sifat buruk dan menambah sifat baik. Uraian sifat-sifat manusia ada di artikel Sifat-sifat Hati Manusia.
  • Keyakinan Berkeluarga, maksudnya adalah memahami bahwa keyakinan / aqidah adalah dasar dalam hidup berkeluarga, bukan semata-mata keinginan / naluri  nafsu manusia saja untuk memiliki pasangan hidup. Misalkan bahwa hidup berkeluarga itu tidak hanya di dunia saja, namun dapat kekal sampai di akhirat
  • Syariat Berkeluarga, artinya suami istri memahami hak dan kewajiban masing-masing dalam keluarga, serta meyakini bahwa hal-hal itu semuanya memiliki konsekuensi akhirat.
  • Akhlak Berkeluarga, secara mudahnya adalah kasih sayang antara suami istri atas dasar aqidah dan syariat Islam. Akhlak dalam berkeluarga ini adalah penerapan secara intensif akhlak manusia.

Untuk dapat beramal juga ada tahap-tahapnya sebagai berikut:

  1. Mendapat petunjuk (hidayah) dari ALLAH. Awalnya adalah dari hidayah untuk meyakini agama Islam.
  2. Faham , artinya punya ilmu tentang yang mau diamalkan, dan memahami ilmu tersebut. Jadi dalam kasus khusus ini, istri mesti punya ilmu syariat tentang ketaatan istri dan ilmu tentang umroh.
  3. Yakin, artinya ilmu yang difahami tadi diyakini benar-benar berasal dari Islam dan mesti diamalkan.
  4. Melaksanakan ilmu yang sudah diketahui, difahami dan diyakini tadi.
  5. Sanggup bermujahadah atau melawan hawa nafsu. Dalam mengamalkan ilmu ini akan ada tantangan dari nafsu dan syaitan yang mesti dilawan. Dalam kasus umroh tadi bisa jadi ada keinginan diri yang tidak ingin mengalah dengan ketaatan pada suami. Termasuk di dalam melawan hawa nafsu ini melawan ajakan-ajakan dari keluarga untuk tidak taat pada suami.
  6. Istiqamah beramal, artinya mujahadah / melawan hawa nafsu tersebut mesti dilaksanakan terus menerus, tidak hanya sekali-sekali saja. Mungkin selama beberapa hari atau pada beberapa perkara mau taat pada suami, tapi pada hari-hari lain atau perkara-perkara lain susah untuk taat pada suami.

Jadi jika ada kasus istri pergi umroh tanpa izin suami, coba dilihat dulu apakah istri paham syariat berkeluarga? Jika tidak, dicek dulu ke belakangnya yaitu Syariat Islam dan Aqidah Islam. Jika hal-hal ini belum beres, lebih baik membenahi dulu perkara-perkara dasar. Jika perkara dasar belum beres, akan nantinya akan mudah timbul lagi masalah-masalah lain di ujung.

Demikian semoga bermanfaat kepada para pembaca.

Powered by: Wordpress