Artikel Keluarga

Kewajiban Istri Terhadap Suami

Ayat Al Quran

Berikut ini ayat Al Quran yang menyatakan kewajiban istri kepada suaminya:

  1. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    “Kaum laki-laki itu pemimpin wanita. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) alas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita yang solehah ialah mereka yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada menurut apa yang Allah kehendaki. ”
    “Wanita-wanita yang kamu kuatirkan akan durhaka padamu, maka nasehatilah mereka (didiklah) mereka. Dan pisahkanlah dari tempat tidur mereka (jangan disetubuhi) dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu bersikap curang. Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An Nisa : 34)

Berikut ini ayat Al Quran yang menyatakan bahwa laki-laki dan wanita masing-masing akan mendapatkan pahala atas perbuatan mereka masing-masing, walaupun perkara yang dibuat berbeda.

  • Dalam Firman Allah S.W.T Surat An-Nisa’ ayat ke 32 :
    “LIRRIJAALI NASHIIBUN MIMMAA IHTASABUU WALINNISAAI NASHIIBUN MIMMAA IKTASABNA”
    Artinya:”Bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi mereka wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan.

Menurut Asy Syarbini dalam tafsir terhadap ayat tersebut: Yang dimaksud adalah pahala yang diberikan Allah S.W.T kepada kaum lelaki karena menunaikan jihad. Sedangkan pahala yang diberikan Allah S.W.T kepada kaum wanita adalah lantaran mereka memelihara kemaluannya dan mentaati Allah S.W.T serta mentaati suaminya. Pahala kaum lelaki dan wanita di akhirat kelak kedudukannya sama. Yang demikian karena perbuatan baik itu dilipatgandakan pahalanya hingga sepuluh kali lipat. Baik hal itu berlaku bagi kaum lelaki maupun wanita. keutamaan kaum lelaki atas kaum wanita hanyalah sebatas masa di dunia.

Hadis-Hadis

Berikut ini hadis-hadis mengenai kewajiban istri kepada suaminya:

  1. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja isteri yang meninggal dunia, sedangkan suaminya redha terhadap kepergiannya, maka ia akan masuk Surga.”
    (Riwayat Tarmizi)
  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki.”
    (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
  3. Seorang perempuan datang ke hadapan Nabi SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah SAW, saya mewakili kaum wanita untuk menghadap tuan (untuk menanyakan tentang sesuatu). Berperang itu diwajibkan oleh Allah hanya untuk kaum laki-laki, jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala dan kalau terbunuh, maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah. lagi dicukupkan rezekinya (dengan buah-buahan Surga). Dan kami kaum perempuan selalu melakukan kewajiban terhadap mereka (yaitu melayani mereka dan membantu keperluan mereka) lalu apakah kami boleh ikut memperoleh pahala berperang itu?
    Maka Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang menjalankannya.”
  4. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda, maksudnya:
    “Sungguh-sungguh meminta ampun untuk seorang isteri yang berbakti kepada suaminya yaitu burung di udara, ikan-ikan di air dan malaikat di langit selama ia selalu dalam kerelaan suaminya. Dan siapa saja dikalangan isteri yang tidak berbakti kepada suaminya, maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia. “
  5. . Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    Tiga orang yang tidak diterima sholatnya (tidak diberi pahala sholatnya) oleh Allah dan tidak diangkat kebaikan mereka ke langit ialah: hamba yang lari dari tuannya hinggalah dia kembali, seorang isteri yang dimurkai oleh suaminya hinggalah dia memaafkannya, orang yang mabuk hingga dia sadar kembali.
  6. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Jika seorang isteri berkata kepada suaminya: Tidak pernah aku melihat kebaikanmu sama sekali, maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.”
    Keterangan:
    Maksud Hadis ini ialah jika seorang isteri memperkecilkan usaha baik suaminya seperti dalam memberi nafkah dan memberi pakaian maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.
  7. Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
    Siapa saja isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab-sebab yang sangat diperlukan, maka haramlah bau Surga ke atasnya.
    Keterangan:
    Hal ini biasanya terjadi pada seorang isteri yang tidak berminat kepada suaminya lagi kecuali kalau dia meminta cerai kepadanya karena kuatir tidak dapat menjalankan kewajiban terhadap suaminya untuk menghindarkan diri dari kekecewaan suaminya.
  8. Nabi SAW bersabda maksudnya:
    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya.”
    Keterangan:
    Hal ini biasa terjadi pada suami yang miskin dan isteri yang kaya. Lalu isteri itu menafkahkan hartanya kepada suaminya, kemudian mengungkitnya.
  9. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Pertama urusan yang ditanyakan kepada isteri pada hari Kiamat nanti ialah mengenai sholatnya dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya atau tidak). “
  10. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Empat perempuan yang berada di Neraka ialah:
    Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinva (memarahinya). Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
    Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
    Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya.”

    Keterangan:
    Seorang perempuan yang bersifat dengan sifat-sifat ini akan dilaknati kecuali jika dia bertaubat.
  11. Al Hakim bercerita bahwa seorang perempuan berkata kepada Nabi SAW: “Sesungguhnya putera bapa saudaraku melamarku. Oleh karena itu berilah peringatan kepadaku apa kewajiban seorang isteri terhadap suaminya. Kalau kewajiban itu sesuatu yang mampu aku jalankan, maka aku bersedia dinikahkan.” Maka Baginda bersabda: “Kalau mengalir darah dan nanah dari kedua lubang hidung suaminya lalu (isteri) menjilatnya, maka itu pun belum dianggap menjalankan kewajibannya terhadap suaminya. Seandainya diperbolehkan untuk manusia bersujud kepada manusia lain, tentu aku perintahkan :seorang isteri bersujud kepada suaminya.”
    Berkatalah perempuan itu, “Demi Tuhan yang mengutus Tuan, aku tidak akan menikah selama dunia ini masih ada.”
  12. Sayidina Ali k.w.j. berkata: “Aku masuk ke rumah Nabi SAW berserta Fatimah lalu aku dapati Baginda sedang menangis tersedu-sedu, kemudian aku berkata: “Tebusan Tuan adalah ayahku dan ibuku wahai Rasulullah, apakah yang membuat Tuan menangis?” Baginda bersabda, “Wahai Ali! Pada malam aku diangkat ke langit aku melihat kaum perempuan dari umatku disiksa di Neraka dengan bermacam-macam siksaan, lalu aku menangis karena begitu berat siksaan mereka yang aku lihat. Aku melihat perempuan yang digantung dengan rambutnya serta mendidih otaknya. Dan aku melihat perempuan yang digantung dengan lidahnya sedangkan air panas dituangkan pada tenggorokannya.
    Dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua-dua kakinya sampai kedua-dua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ubun-ubunnya dan Allah mengarahkan ular ular dan kalajengking menyengatinya. Dan aku melihat seorang perempuan yang berkepala babi dan bertubuh keledai dan ia ditimpakan sejuta siksaan. Dan aku melihat seorang perempuan berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya (jalan belakang) sementara malaikat memukul kepalanya dengan tongkat besar dari api Neraka
    .” Lalu Sayidatina Fatimah Az Zahra r.ha berdiri dan berkata, “Wahai kekasihku dan cahaya mataku! Perbuatan apa yang dilakukan oleh mereka hingga ditimpa seksaan ini?” Maka Nabi SAW bersabda: “Wahai anakku! Adapun perempuan yang digantung rambutnya itu adalah karena dia tidak menutupi rambutnya dari pandangan kaum laki-laki ajnabi.
    Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya karena dia telah menyakiti suaminya.
    Adapun perempuan yang digantung kedua-dua susunya karena dia telah mempersilahkan (orang lain) untuk menduduki tempat tidur suaminya.
    Adapun perempuan yang diikat kedua-dua kakinya sampai keduadua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ke ubun ubunnya dan Allah mengarahkan ular-ular untuk menggigitnya dan kala jengking untuk menyengatinya karena dia tidak mandi junub setelah haid dan dia mempermainkan (meninggalkan) sholat. Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan keledai karena dia adalah ahli adu domba dan pembohong. Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk ke mulutnya dan keluar dari duburnya karena ia ahli umpat lagi penghasut.
    Wahai anakku! Celaka bagi perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya.
  13. Demi cinta terhadap suaminya seorang isteri akan melakukan khidmat dan bakti kepada suaminya cara hal yang sebesar. besarnya sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti menggunting kuku, memotong kumis, dan meminyakkan rambut suami. Rasulullah SAW pernah berkata kepada Siti Fatimah: “Ya Fatimah, apabila seorang wanita meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya, memotong kumis dan menggunting kukunya maka Allah akan memberinya minum dari air Surga yang mengalir di sungai sungainya dan diringankan Allah baginya sakaratul maul dan akan didapatinya kubumya menjadi sebuah taman yang indah dan taman taman Surga.
  14. Adakalanya seorang istri mendapati perbuatan suami yang tidak baik. Dalam hal ini kesabaran istri mendapat pahala yang besar.  Rasulullah S.A.W bersabda :
    “Barang siapa bersabar terhadap perangai isterinya, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala yang diberikan padaa Nabi Ayyub As. Barang siapa bersabar (yakni Isteri) terhadap perangai suaminya, maka Allah akan memberikan pahala seperti pahala yang diberikan Allah pada orang yang gugur dalam membela agama Allah. Barang siapa (isteri)
    menganiaya suaminya dan memberi beban pekerjaan yang tidak pantas menjadi bebannya (yakni suami) dan menyakitkan hatinya, maka para Malaikat juru pemberi Rahmat (Malaikat Rahmat) dan Malaikat juru siksa (malaikat azab) melaknatinya (yakni isteri). Barang siapa (isteri) yang bersabar terhadap perbuatan suaminya yang menyakitkan, maka Allah akan memberinya seperti pahala yang diberikan Allah pada Asiyah dan Maryam Binti Imran. (Al-hadits).
  15. Dalam riwayat Al Bazzar dari ‘Aisyah ra bahwa beliau berkata : “Aku bertanya kepada rosulullah S.A.W “Siapa orang yang paling besar hak-haknya atas wanita?. Beliau menjawab:”Suaminya”. Aku melanjutkan:”Siapa orang yang paling besar hak-haknya atas seorang laki laki?”. Beliau menjawab”Ibunya”.

Atsar Sahabat

Berikut ini nasihat dari para sahabat (atsar) tentang kewajiban istri kepada suaminya:

  1. Sayidina Ali k.w.j. berkata: “Seburuk-buruk sifat bagi kaum laki laki itu adalah sebaik-baik sifat bagi kaum perempuan yaitu kikir dan bersikap keras dan takut. Karena sesungguhnya perempuan itu jika kikir, maka ia memelihara harta suaminya dan jika bersikap keras, maka ia menjaga diri dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang halus (mesra) yang menimbulkan sangkaan yang buruk, dan jika penakut. maka ia takut dari segala sesuatu, oleh karena itu ia tidak berani keluar dari rumahnya dan ia menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan kecurigaan yang buruk karena takut kepada suaminya“.
  2. Aisyah r.ha berkata:
    “Wahai kaum wanita Seandainya kamu mengerti kewajiban terhadap suamimu, tentu seorang isteri akan menyapu debu dari kedua telapak kaki suaminya dengan sebagian mukanya.”

Antara istri dan orang tua suami

Hadis tentang perbandingan antara istri dan ibu suami:

Dalam riwayat Al Bazzar dari ‘Aisyah ra bahwa beliau berkata : “Aku bertanya kepada rosulullah S.A.W “Siapa orang yang paling besar hak-haknya atas wanita?. Beliau menjawab:”Suaminya”. Aku melanjutkan:”Siapa orang yang paling besar hak-haknya atas seorang laki laki?”. Beliau menjawab”Ibunya”.

Salah satu yang perlu diketahui istri adalah bahwa suami juga punya kewajiban terhadap orang tuanya, terutama kepada ibunya. Suami mesti pandai-pandai menyeimbangkan waktunya antara memenuhi keperluan orang tuanya, dan juga menyelesaikan kewajibannya terhadap istri dan anak-anaknya. Suami tidak dapat terlalu condong kepada yang satu dengan mengabaikan yang lainnya.

Adapun dengan orang tua istri, maka istri mesti mendahulukan ketaatan kepada suaminya dibandingkan dengan kedua orang tua istri. Tentunya di sini adalah ketaatan yang sesuai dengan syari’at Islam, karena tidak ada ketaatan terhadap perbuatan bermaksiat.

Nasihat Ulama

Berikut ini nasihat-nasihat umum dari para ulama tentang kewajiban istri:

  1. Seharusnya seorang isteri mengetahui kedudukan dirinya seolah olah seorang ‘hamba’ perempuan yang dimiliki oleh suaminya atau sebagai ‘tawanan’ yang lemah. Oleh karena itu dia tidak boleh membelanjakan sedikit pun dari hartanya (sendiri) kecuali dengan seijin suaminya karena ia diumpamakan sebagai orang yang dalam kawalan (perhatian).
  2. Wajib bagi seorang isteri:
    • Merendahkan pandangannya terhadap suaminya.
    • Memiliki sifat pemalu terhadap suaminya
    • Tidak berkhianat terhadap suaminya ketika suaminya tidak ada termasuk juga hartanya.
    • Menunaikan hajat suami (jika diajak oleh suaminya) biarpun di waktu sibuk atau susah (ditamsilkan berada di punggung unta oleh Rasulullah).
    • Meminta ijin suami untuk keluar dari rumahnya. Kalau keluar rumah tanpa ijin suaminya maka dia dilaknati oleh malaikat sampai ia bertaubat dan kembali.
    • Memperhatikan kebersihan dan kerapihan diri, termasuk menjaga kebersihan mulut.
    • Bersolek di depan suami
    • Tidak berhias ketika suami tidak ada
    • Menghormati keluarga suaminya
  3. Siapa saja di kalangan isteri yang bermuka masam di hadapan suaminya, maka ia dalam kemurkaan Allah sampai ia dapat membuat suasana yang menggembirakan suaminya dan memohon kerelaannya.
  4. Imam Thabrani menceritakan bahwa seorang isteri tidak dianggap menjalankan kewajibannya terhadap Allah hingga ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya, dan seandainya suami memintanya (untuk digauli) sedang ia (isteri) di atas belakang unta maka tidak boleh dia menolaknya.
  5. Seorang isteri hendaklah menyadari bahwa seorang suami bagi isteri adalah bagaikan ayah bagi seorang anak karena taatnya seorang anak kepada ayahnya dan memohon keredhaannya adalah wajib Seorang suami pula tidak wajib mentaati isteri
  6. Menjadi pendorong serta penasehat dalam hal-hal kebaikan.
  7. Memahami hal-hal yang digemari dan yang dibenci oleh suami.
  8. Setiap perbuatannya hendaklah menyenangkan hati suami.
  9. Senantiasa menambahkan ilmu agamanya serta amalan.amalannya dengan berbagai macam cara seperti membaca, mendengar kaset-kaset ceramah agama serta mengikuti majlis- majlis agama.
  10. Senantiasa menyediakan air di sisi suami. Selama ia berbuat yang demikian selama itulah ia didoakan keampunan oleh para malaikat.
  11. Memasak makanan menurut kesukaan atau selera suami.
  12. Menambal baju atau pakaiannya yang buruk.
  13. Siapkan barang-barang keperluan di dalam sakunya seperti sisir, celak, sikat gigi, cermin dan minyak wangi (ikut Sunnah).
  14. Ikut kemauan suami pada waktu bersenda gurau, memijat, mengipas dan sebagainya.
  15. Istri jangan berpuasa sunnah kecuali seizin suaminya.

Referensi

258 Comments

1 2 3 5
  • dedeh nurhayati
    02/11/2008 - 16:13 | Permalink

    subhanalloh membaca artikel ini sangat berguna banget buat ana. sebentar lagi ana akan melangsungkan pernikahan. dengan membaca artikel ini alhamdulillah ana mendapatkan ilmu untuk bekal menjadi seorang istri yang sholehah.

  • sarah
    11/01/2009 - 14:55 | Permalink

    Alhamdulillah saya banyak belajar dari situs ini dan ini yang saya butuhkan sebagai seorang istri sehingga saya benar-benar bisa memperbaiki diri. mudah-mudahan suamiki memafkan …

  • winz
    23/05/2009 - 12:08 | Permalink

    Setelah Saya mebaca isi dari artikel diatas, hati Saya langsung tersayat dan merasa sedih atas apa yang telah dilakukan oleh Istri Saya terhadap Saya sebagai Suaminya, yaitu telah melanggar sebagian besar apa-apa yang telah dituliskan pada artikel diatas, perlu anda sekalian ketahui sekarang Istri Saya tidak ada dirumah kurang lebih hampir satu bulan lamanya, hal itu dipicu oleh Mertua Saya sendiri yang menginginkan Saya untuk selalu memberi uang kepada Mertua Saya, karena mungkin Saya tidak bisa memberi lebih, maka Mertua Saya dengan sengaja memanfaatkan kelemahan Saya yaitu mengunjang-ganjing rumah tangga Saya yang mana pada dasarnya Saya sangat mencintai Istri Saya, adapun hal-hal yang menjadi pokok permasalahan atas kepergian istri Saya yang tanpa ijin tersebut adalah hal-hal yang sifatnya fiktif atau rangkaian cerita bohong yang dikarang oleh mertua Saya sendiri dengan maksud dan tujuannya adalah agar Istri Saya membenci Saya…………

  • admin
    25/05/2009 - 16:08 | Permalink

    keluarga-keluarga di zaman Nabi Muhammad rata-rata rukun-rukun saja, karena di zaman itu ada nabi yang memimpin, sehingga para suami rata-rata orang soleh, para istri pula orang solihah. Kebanyakan juga di antaranya adalah orang bertaqwa. Di zaman ini sangat berbeda, agama sudah lemah sehingga sulit menata suatu rumah tangga yang baik.

    Jika ada masalah rumah tangga, para suami hendaklah melakukan introspeksi diri. Periksa dulu apakah Islam dalam diri sudah tegak. Aqidah beres? syariat beres ? akhlaq beres ? Cobalah ditaubatkan satu per satu jika ada kesalahan dalam diri.
    Kemudian periksa kewajiban-kewajiban suami terhadap istri. Referensi: http://kawansejati.ee.itb.ac.id/208-kewajiban-suami-terhadap-istri. Jika ada kewajiban yang belum diusahakan, sangat mungkin akan timbul masalah rumah tangga.
    Setelah itu mundur ke belakang lagi, periksa kembali apakah pernikahan dijalankan sesuai syariat Islam. Jika ternyata ada kesalahan, coba ditaubatkan.

  • tyas
    14/06/2009 - 08:29 | Permalink

    ada yang ingin saya kritisi dari point 26 – 30 itu dasarnya kewajiban suami istri untuk mempertahankan rumah tangganya kan?

    jadi kedua2 nya harus sama2 melakukan hal yang menyenangkan bagi keduanya…

  • OKE AJA
    24/01/2011 - 17:34 | Permalink

    Ampunilah dosa istriku ya allah, dia telah tinggalkan hamba pulang ke rumah mertua karena hamba larang dia untuk membenci orang tua hamba. stelah baca artikel ini merinding rasanya jika saya ingat semua perbuatan istri saya, semua yang jelek-jelek nya hampir semuanya mirip dengan itu. mudah-mudahan allah membukakan pintu taufik & hidayahnya dan bertaubat. amin

  • abu sa'adah
    07/03/2011 - 17:54 | Permalink

    Bukan ingin membela diri pak…Sebelum kami bersatu dalam ikatan perkawinan, saya dah punya anak 3 yg paling besar kelas 2 SD dan yang lainnya masih TK. Wanita yg akhirnya jadi istriku katanya siap untuk mengayomi anak2 itu dan sepakat untuk bersama-sama mengasuhnya. Namun yang saya alami..dia tidak sabar dengan kodisi real yang ada. sering kasar sering bentak saya sering ungkit 2 karena uangnya habis. Tak ada yg istimewa dimata dia saya sebagai seorang suami. kalau memang ujian saya terima ujian itu dari Allah SWT..Namun hingga kapan rumah tangga ini memiliki istri yg seperti zaman Rasulullah? kewajiban saya matrial dan immaterial dah di penuhi ….mohon do’anya biar Allah memberi keputusanNya.

  • trendy
    09/03/2011 - 19:02 | Permalink

    Saya mendoakan istri saya yang tidak pernah bertobat
    Yulin yulianeu nama istri saya
    Saya mempunyai istri yang , sangat jahat dan omongannya sangat keterlaluan , saya sebagai seorang suami di hina sampe sampe saya di injak injak , saya berharap dia pada saatnya nanti akan mengerti dan bertobat bahwa sebagai seorang suami bukan untuk dihina , di maki dan dikutuk

  • irma
    26/05/2011 - 16:14 | Permalink

    walaupun seorang guru, mentor rohis atau anak seorang ustadz sekalipun belum tentu mewarisi akhlak yang baik. sebagai pemimpin, cobalah introspeksi diri, apakah sudah berkomunikasi dengan baik mengetahui perasaan-perasaannya, kewajiban suami itu bukan hanya nafkah lahir, batin pun juga. sebagai lelaki dilebihkan Alloh atas kaum wanita, maka kesabaran penuh dan pengertian harus ada pada jiwa pemimpin. cobalah berkomunikasi yang baik, kalaupun ia sampai berbicara dengan berteriak, boleh jadi ia merasa suami tak cukup mengerti perasaan dan keinginannya.untuk di ketahui, ada saatnya seorang perempuan tan pa ia sadari menjadi tempramental atau emosional, akibat menstruasi, suami harus paham betul akan kondisinya. semoga Alloh memberi ketentraman dalam rumahtangga anda.

  • Anonymous
    31/05/2011 - 03:20 | Permalink

    Kenapa tidak diceraikan saja?

  • Anonymous
    05/07/2011 - 20:04 | Permalink

    Alhamdulillah,tulisan ini mengingatkanku pada suamiku. Aku rindu memotong kukunya, rindu meminyaki rambutnya, rindu menyiapkan minum & keperluannya,rindu…. & rindu…, karena dia baru sja meninggalkanku dipanggil menghadap Yang Kuasa lebih dulu, tanpa aku.

  • WKB
    16/04/2011 - 11:24 | Permalink

    Mohon Maaf sebelumnya:
    Sepengetahun saya bahwa Allah pencipta serwa sekalian alam termasuk manusia adalah maha Kasih tetapi juga maha Adil.
    Mengapa ada surga dan Neraka? Neraka sebenarnya hanya untuk setan dan dan malaikat-malaikat jahat. Tetapi juga untuk manusia yang mengikuti kehendak Allah.

    Jadi pemahaman saya ketika seseorang sudah meninggal tidak lagi punya kesempatan keduan utnuk bertobat atau di doakan supaya bisa kembali masuk surga. sebab Allah Maha adil, kita semua akan diadili menurut perbuatan kita semua.

    Jika orang yang jahat ang sdh meninggal bisa dibawa masuk ke surga itu berarti bahwa Allah tidak adil, sebab yang akan banyak masuk surga adalah orang Koruptor, orang kaya yang banyak duitnya yang banyak membantu orang tetapi perbuatan mereka sangat jahat hanya saja tidak kelihatan.

    Jadi kesempatan kita bertobat adalah selagi kita hidup, terima kasih buat kesempatan ini.

  • Anonim
    16/04/2011 - 12:29 | Permalink

    Ada dalil-dalil yang mendukung amalan mendoakan orang yang sudah meninggal, antara lain dapat dibaca di sini:
    http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/do-a-orang-lain-untuk-yg-mati.htm

  • Anonymouspini ladyss
    11/10/2011 - 20:38 | Permalink

    ya Allah smga sya tidak berbuat demikian terhadap suami sya amin,,,,

  • BILAL
    08/12/2011 - 14:49 | Permalink

    Terimakasih atas tulisannya semoga istri saya bisa mengerti akan maksud tulisan ini. dan untuk yang membuat atau menyediakan tulisan ini akan diberi pahala oleh ALLAH SWT. Amin ya Robal alamin

  • BILAL
    08/12/2011 - 14:50 | Permalink

    Sekarang suami anda merindukan ayat-ayat dari mulut anda untuk nya di alam sana.

  • iwan sapto wibowo
    17/12/2011 - 07:33 | Permalink

    ko sama dengan saya si saya juga diinjak injakn selalune dicaci maki seenaknya sendiri oleh isri.

  • Anonymous
    01/01/2012 - 15:14 | Permalink

    Sya mau narok minum untuk uda dulu ah. alhamdulillah

  • admin
    15/01/2012 - 05:32 | Permalink
  • Anonymous
    11/02/2012 - 12:10 | Permalink

    Rasanya pengin nangis… Terima kasih artikelnya bagus banget.

  • Anonymous
    17/03/2012 - 13:54 | Permalink

    segala puji bagi Allah yang meiliki ilmu yang sempurna dan kekuasaan alam beserta isinya.
    semoga dengan artikel http://kawansejati.org/207-tanggung-jawab-istri-terhadap-suami dan http://kawansejati.ee.itb.ac.id/208-kewajiban-suami-terhadap-istri ini dapat membuka hati kami berdua untuk saling intropeksi atas kesalahannya masing2, guna kebaikan bersama dlm membina rumah tangga yang sakinah, mawadah dan waromah. Amin Ya Robbal Alamin.

  • Kotagede
    03/04/2012 - 10:29 | Permalink

    Assalamu’alaikum wb.

    Tolong di jelaskan bagaimana seaindanya pasangan kita sama-sama bekerja.
    Hasil nya kita dari istri bisa kita pakai bersama ataou istri simpan sendiri?

    Wassalam

  • admin
    03/04/2012 - 15:05 | Permalink

    Dari sisi hukum:
    – Istri untuk pergi bekerja harus seizin suaminya
    – Penghasilan istri itu adalah hak si istri, sang istri boleh membelanjakannya untuk keperluan sendiri maupun untuk keperluan keluarga.

  • Didits
    10/04/2012 - 17:04 | Permalink

    Yth pengasuh rubrik kawan sejati
    Istri saya berhutang pada rentenir. Beberapa tahun lalu sudah saya lunasi dengan kesepakatan istri saya menenada tangani pernyataan bahwa tidak akan berhutang lagi sebesar apapun tanpa seizin suami. sekitar sebulan yang lalu laptop saya dilaporkan sama istri saya ada yg pinjam mengaku sebagai teman saya, ternyata setelah beberapa hari di ketahui bahwa laptop saya di gunakan sebagai jaminan untuk membayar hutangnya. saya marah sekali dan saya adukan hal ini kepada orang tuanya akhirnya di nasihatilah istri saya. sambil mengembalikan laptop saya ia menelpon saya karna saya sedang tidak dirumah sambil berkata kasar bahkan saya dikatain anjing segala. maka saya tanya maumu apa apakah kamu minta bercerai ? lalu ia jawab terserah maka saya jawab oke besok saya urus. Namun saya masih mempertimbangkan anak2 saya sehingga saya belum melaksanakan atau mengurus pwceraian ini. bahkan mengingat anak saya masih kecil saya tak tega jika harus meninggalkan mereka.
    yang ingin saya tanyakan :
    1. apa yang harus saya lakukan untuk menghadapi masalah ini?
    2. kalau saya rujuk lagi apakah ahrus ijab kabul lagi?
    3. bagai mana hukum istri saya ini?
    4. saya takut kalau saya maafkan istri saya akan mengulangi perbuatannya lagi maka sampai saat ini saya masih belum mau ditegur dia? bagaimana hukumnya ?
    demikian terima kasih atas jawabanya.

  • Diana
    14/04/2012 - 15:37 | Permalink

    Subhanallah…tulisan’y sngat indah sekali…sngat bermanfaat buat saya,semoga kelak sya sdah bersuami sya dpt mnjlankan seorang istri yg shalehah amiiin…

  • wakidi
    05/04/2012 - 10:30 | Permalink

    alhamdulillah artikel yg sangat bermamfaat

  • ezty prasetyo
    25/04/2012 - 22:19 | Permalink

    alhamdulillah,aku m’ndapatkan bnyak plajaran yg sngat brharga,
    semoga kelak aku bs mnjadi istri yg sholehah,
    aamiin. . .

  • Anonymous
    14/05/2012 - 21:06 | Permalink

    Aslm . Saya bru menikah 5 bln . Setelah menikah saya tdk lngsung ikut suami (keluar kota) sampai akhirnya bln ke 4 pernikahan saya memutuskan u/ turut ikut suami , tpi blm 1 bln turut suami , mamah saya meminta saya u/ tinggal dirmhnya dgn alasan tdk ada teman perempuan + beliau keadaan sakit maag . Yang jdi pertanyaan saya harus nurut ke siapa ?

  • admin
    15/05/2012 - 06:38 | Permalink

    Wa alaikum salam.

    Ketaatan paling utama pagi seorang istri adalah kepada suaminya. Jika seorang istri ingin mengurus ibunya, dia wajib minta izin dulu ke sang suami.

    Seperti dikabarkan dalam hadis:
    “”Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki.”
    (Riwayat Ahmad dan Thabrani)

  • ai adawiyah
    19/05/2012 - 10:07 | Permalink

    mksh atas ilmunya.mdh2an aqu bsa intropeksi diri dan jd istri yg shalihah.mdh2an suamiqu jga Allah memaafkanqu.amiin

  • Anonymous
    22/05/2012 - 23:07 | Permalink

    Jikalau sang istri telah berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan seperti hal diatas, namun sang suami hampir tidak pernah merasa puas dengan hasil yang dikerjakan sang istri dan selalu salah dpandangannya. Ketidakpuasan di ekspresikan dengan memaki(atau emosional abusive) dan kadang sampai menganiaya fisik. Tidak ada satu pun niat sang istri untuk mengecewakan sang suami. Entah mengapa sang suami tidak menyadari atau berintrospeksi. Ada contoh kasus seperti sang istri memasakan makanan atau minuman atau hal lainnya, dan sang suami tidak senang/suka maka makanan/minuman/hal lainnya itu langsung di buang atau di rusaknya. padahal secara ekonomi keluarga mereka dibilang pas-pasan. Dan ironisnya sang suami memberi amanah untuk selalu berhemat. Sang istri hanya bisa bersabar dan ikhlas serta tetap mendoakan sang suami hingga sampai bertahun-tahun lamanya. bukankah hal tersebut tidak mensyukuri rezeki yang telah diberikan oleh Allah. Karena hal tadi, sampai-sampai sang suami enggan menafkahi sang istri(saja). Dan jika sang suami mendapati meja makan kurang(makanan terlalu sedikit atau kurang enak) sang suami marah atau beliau tidak memakan makanan/minuman tsb dan mencari makanan/minuman selain yang dibuat oleh sang istri. Entah harus bagaimana. Sedangkan sang istri pun tidak dinafkahinya. Sang istri hanya bisa menggunakan uang tabungannya yang entah sampai kapan ia harus pakai untuk itu dan kebutuhan lainnya. Mohon pencerahannya . semoga bermanfaat

  • Anonymous
    22/05/2012 - 23:12 | Permalink

    Jikalau sang istri telah berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan seperti hal diatas, namun sang suami hampir tidak pernah merasa puas dengan hasil yang dikerjakan sang istri dan selalu salah dpandangannya. Ketidakpuasan di ekspresikan dengan memaki(atau emosional abusive) dan kadang sampai menganiaya fisik. Tidak ada satu pun niat sang istri untuk mengecewakan sang suami. Entah mengapa sang suami tidak menyadari atau berintrospeksi. Ada contoh kasus seperti sang istri memasakan makanan atau minuman atau hal lainnya, dan sang suami tidak senang/suka maka makanan/minuman/hal lainnya itu langsung di buang atau di rusaknya. padahal secara ekonomi keluarga mereka dibilang pas-pasan. Dan ironisnya sang suami memberi amanah untuk selalu berhemat. Sang istri hanya bisa bersabar dan ikhlas serta tetap mendoakan sang suami hingga sampai bertahun-tahun lamanya. bukankah hal tersebut tidak mensyukuri rezeki yang telah diberikan oleh Allah. Karena hal tadi, sampai-sampai sang suami enggan menafkahi sang istri(saja). Dan jika sang suami mendapati meja makan kurang(makanan terlalu sedikit atau kurang enak) sang suami marah atau beliau tidak memakan makanan/minuman tsb dan mencari makanan/minuman selain yang dibuat oleh sang istri. Entah harus bagaimana. Sedangkan sang istri pun tidak dinafkahinya. Sang istri hanya bisa menggunakan uang tabungannya yang entah sampai kapan ia harus pakai untuk itu dan kebutuhan lainnya. Mohon pencerahannya . semoga bermanfaat

  • Anonymous
    24/05/2012 - 08:33 | Permalink

    Alhamdulilah terimakasih untuk artikelnya, saya masih pengantin baru. Masih terbesit ketakutan dalam diri saya saat suami menginginkan saya untuk memnuhi kewajiban sebagai istri di tempat tidur. Sekarang saya sudah tau jawaban dari masalah saya, sesakit dan sesulit apapun itu istri harus bisa menahan dan menerimanya, karena kewajiban terhdap suami sama dengan kewajiban terhadap Allah SWT, berjuang untuk keharmonisan rumah tangga (taat pada suami) = berjuangan untuk agama Allah. Terimakasih atas artikelnya sangat indah dan mampu membuat bola mata saya meneteskan airmata hingga memerah. Semoga saya dapat menjadi istri yang solehah untuk suami saya dan Allah menaruh ridhonya pada kami, amin…

  • shitta devi
    25/05/2012 - 14:57 | Permalink

    sungguh artikel yang sangat indah.
    semoga kalau saya sudah menikah nanti, saya menjadi istri yang salehah.
    amin.

  • Anonymous
    29/05/2012 - 09:15 | Permalink

    Artikel lain tentang kewajiban istri terhadap suaminya

  • Anonymous
    29/05/2012 - 09:16 | Permalink

    artikel lain tentang kewajiban istri kepada suaminya http://bundanur.blogspot.com/2011/03/kewajiban-isteri-kepada-suami.html

  • Anonymous
    18/09/2012 - 11:45 | Permalink

    Assalamuallaikum wr wb,

    Mohon pencerahannya, saya sudah menikah kurang lebih 2 tahun. Selama ini kami masih tinggal dengan orang tua saya. Dari awal menikah memang ada keinginan untuk bisa menpaunyai tempat tinggal sendiri, tetapi situasi keuangan kami belum cukup karena beberapa kali tertimpa musibah, keguguran dua kali dan sangat butuh biaya untuk berobat. Keadaan semakin parah ketika 1 yahun yang lalu suami terpaksa berhenti bekerja, karena perusahaan tempat bekerja bangkrut. otomatis semua kebutuhan di cover oleh saya yang kebetulan memang mempunyai penghasilan sendiri. Setelah 3 bulan suami mendapat pekerjaan, tetapi penghasilannya sama sekali tidak bisa menutupi kebutuhan rumah tangga. Sebagai istri saya tidak menuntut lebih karena memang kemampuan suami saya yang masih terbatas. tetapi hal ini lambat laun di ketahui oleh keluarga saya. Saat ini saya di haruskan berpisah dengan suami, karena menurut orang tua saya sampai kapan pun suami saya walaupun sudah bekerja tetapi tidak akan bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Nantinya semua akan tetap menjadi tanggung jawab yang harus saya pikul sendiri. Saat ini saya bimbang, mana yang harus saya jalani… mohon pencerahannya.

    Wassalam…

  • yola
    17/09/2012 - 21:56 | Permalink

    Ass ..saya bimgung mrnghadapi suami say..dia punya jabatan yg beri bagus ,.tp sering dia lupa itu titipan tuhan , spt halnya dia lupa beli rumah , dia blg kpd sy biar jual diri sya tdk sanggup beli rumh spt itu ,p antaskah berkata bgt ?
    Bukankah itu kewajibanx ,dia jg serg memukul dikala .aq menyampaikan Hal yg bennar .dalam memberi nafkah pun kadang ada embel 2 dibelkang yg melukai hati .. dia kdg menghamburkan uangx diluar ,tapi pelit pd kelurgax ..

    Doa apa yg harus .aq baca agar suamiku bisa berubah ….

  • makhfud
    18/09/2012 - 21:48 | Permalink

    Sungguh amat sepele alasan meminta cerai dari suami. Sepatutnya ibu menjaga harga diri suami bukannya malah meminta cerai dengan alasan yg amat sangat tidak masuk akal.

    Suami miskin BUKAN alasan menggugat cerai yg dibenarkan syariat.

    Rasanya sekarang ini banyak orang mengontrakkan rumah dengan harga 200rb-500rb sebulan. Untuk menjaga harga diri suami, elok tinggal di rumah kontrakan/kos-kosan.

  • makhfud
    18/09/2012 - 22:09 | Permalink

    Doa apa saja bisa dibaca. Dalam bahasa Indonesia tidak ada masalah.

    Agar doa makbul, bisa diusahakan hal2 berikut:

    1. Minta ampun kepada Allah atas dosa2. Minta maaf kepada suami atas kesalahan2 yg pernah dibuat.

    2. Bangun di 1/3 malam terakhir, dirikan sholat tahajud, shalat taubat dan shalat hajat. Minta pada Allah agar suami berubah menjadi suami yg baik.

    3. Sekedah. Sedekah ini lebih tajam daripada doa. Orang yg pemurah amat dicintai Allah.

  • syaiful
    21/09/2012 - 17:48 | Permalink

    saya memmpunya seorang teman yg kebetulan suaminya selingkuh dan menikan secara diam-diam. setelah si istri (teman saya) mengetahuinya dia minta di ceraikan cewek tersebut. tapi sampai saat ini dia masih sering bertemu.
    dalam hal kebutuhan materi si suaminya tdk terlalu peduli dgn kebutuhan keluarganya. justru si istrinya yg banting tulang. kadang ketika si istri ada perasaan kesal dia mendiami si suaminya. tolong penjalasanya apa yg harus dilakukan dgn teman saya….. syuqron

  • makhfud
    21/09/2012 - 19:16 | Permalink

    1. Menikah lagi (poligami) dibenarkan syariat. Tidak ada larangan menikah lagi dalam Islam. Apakah menikah lagi ini yg dimaksud dengan selingkuh? Kalau berzina dengan wanita lain, okelah disebut selingkuh. Tetapi bila menikah lagi namanya bukan selingkuh. Note: menikah lagi itu tidak ada kewajiban suami untuk meminta izin kepada istri pertama.

    2. Menyuruh suami menceraikan istri ke 2, adalah tindakan zalim dari istri pertama.

    3. Sebenarnya suami yg tidak peduli atau istri yg tidak peduli? Melihat kenyataan no 2, nampaknya bermula dari istri yg mau menang sendiri.

    4. Tips dari “Klub Taat Suami” (http://klub-taat-suami.com/): berikan ketaat penuh kepada suami. Terutama ketaatan di atas ranjang. Berikanlah layanan kepada suami seperti pelacur first class. Insya Allah keluarga akan berseri semula.

    -makhfud-
    Email : makhfudsaptadi@gmail.com
    Twitter : @makhfud

  • admin
    22/09/2012 - 09:37 | Permalink
    • Dalam agama Islam, seorang laki-laki dibenarkan untuk memiliki istri sah sampai sebanyak 4 orang.
    • Selingkuh (hubungan di luar nikah) antara laki-laki dan perempuan tidak dibenarkan. Selingkuh dalam bentuk mendekati zina maupun melakukan zina keduanya dilarang dalam agama Islam.
    • Dalam ajaran Islam di dalam Al Quran & Hadis, saya belum menjumpai adanya kebolehan menceraikan istri kedua atas dasar kecemburuan istri pertama. Perceraian dapat terjadi misalnya karena istri melanggar syariat atau tidak patuh pada suami, dan setelah diingatkan berulang kali tidak juga terjadi perubahan pada istri.
    • Seorang suami wajib memenuhi keperluan lahir batin istri-istrinya secara adil. Maksudnya adil ini adalah ‘pada tempatnya’, artinya sang suami menafkahi istri-istrinya sesuai dengan keperluan masing-masing istri. Dalam hal ini memang seorang suami mesti bertindak bijaksana sebagai seorang pemimpin yang adil dalam keluarga. Janganlah sampai membiarkan ada istri yang terkatung-katung secara lahir & batin.
    • Jika seorang istri bekerja sendiri untuk memenuhi keperluan hidupnya, apa yang dia peroleh dari pekerjaan tersebut menjadi hak dia sendiri untuk keperluan diri dan anak-anaknya. Insya Allah akan ada pahala bagi sang istri jika pekerjaan tersebut dilakukan sesuai dengan syariat Islam.
    • Seorang istri hendaknya selalu taat pada suaminya, ketaatan ini adalah salah satu jalan yang akan membawanya kepada syurga yang kekal abadi.
    • Ketaatan istri pada suami dilaksanakan atas dasar ketaatan pada Allah, bukan karena suaminya mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu, misal suami kaya, ganteng, dsb

    Jadi apa yang perlu dilakukan oleh sang istri tersebut? Sebaiknya sang istri melakukan hal-hal berikut ini:

    • memperbaiki keimanan
    • menyempurnakan semua kewajiban pribadinya kepada Allah, seperti shalat, puasa, zakat, menutup aurat dan lain sebagainya
    • menyempurnakan akhlaknya kepada Allah maupun sesama manusia, terutama kepada suaminya.
    • memberikan layanan sebaik-baiknya kepada suaminya sebagai amal ibadah, terserah kepada suaminya mau menerima ataupun tidak. Insya Allah layanan tersebut akan dinilai sangat tinggi di sisi Allah. Ketaatan pada suami ini nilainya lebih tinggi dari ibadah sunat sehebat apapun. Misal istri sedang puasa sunat, kemudian suami minta puasa ditunda/dibatalkan, maka lebih utama untuk membatalkan puasa tersebut.
    • Banyak-banyak berdoa agar dapat menjadi istri solehah dan agar suami dapat menjadi suami yang adil. Jika sang istri solehah dan suami adil, insya Allah keduanya akan bahagia di dunia dan selanjutnya akan dikekalkan di dalam surga.

    Referensi:

  • anies martin
    22/09/2012 - 19:19 | Permalink

    Ass..
    Dengan hormat,saya seorang suami yg pernah melakukan perselingkuhan.setelah isteri saya tahu,rumah tangga saya hampir berantakan.tp seiring waktu berjalan,perlahan-lahan hubungan kami membaik.tp setelah semuanya bejalan,pemikiran dan kehidupan istri saya menjadi berubah derastis.saya sebagai suami,merasa sdh tdk dihargai,sampai2 istri saya lebih mendengarkan nasehat para sahabatnya ketimbang kepada saya,dan apapun usaha saya untuk membahagiakannya,selalu dinilai nol oleh sang istri.
    Yang mau saya tanyakan,bagaimana kah cara saya untuk menghadapi prilaku istri yg seperti ini..?
    dan bagaimana kiat2 yg hrs sy lakukan,sekian dari saya.tks,Wasalam…

  • makhfud
    24/09/2012 - 06:00 | Permalink

    Kata Abuya At Tamimi, “baikilah hubungan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubunganmu dengan manusia”.

    Perselingkuhan (terlanjur zina ataupun mendekati zina) adalah perbuatan yg dimurkai Allah. Bila terlanjur terbuat dan ingin memperbaiki diri:

    1. Minta ampun sungguh2 kepada Allah.

    2. Minta maaf kepada wali (bila masih gadis) atau suami (bila sudah bersuami) dari wanita yg jadi teman selingkuh. Ini konsekuensi yg berat dari perselingkuhan. Kesalahan terbesar bukan pada istri tapi kepada wali/suami wanita pasangan selingkuh. Jadi, istri sakit hati, itu Allah jadikan sebagai hukuman karena mengambil kehormatan wanita teman selingkuh dari wali/suaminya.

    3. Bangun malam, buat tahajud, shalat taubat, shalat hajat, witir dan berdoa di waktu mustajab ini

    4. Sedekah, buat tebusan-tebusan dosa dengan berbagai macam kebaikan.

    5. Carilah guru yg benar2 cinta dan takut Allah, untuk dapatkan panduan-panduan hidup mengarungi bahtera keluarga. Islam bukan sekedar teks yg bisa kita baca sendiri. Kita memerlukan bimbingan dan panduan dari guru yg mewarisi Nabi (akhlaknya, kepemimpinannya, ilmunya, dan lain sebagainya).

    Insya Allah, bila 5 point tersebut bisa dibuat, hubungan dengan Allah semakin diperbaiki, makan mudah bagi Allah untuk memperbaiki hungungan dengan istri kembali 🙂

    Bila ada yg ingin ditanyakan dari point2 di atas, saya terbuka untuk diskusi lebih lanjut di: makhfudsaptadi@gmail.com

  • Anonymous
    27/09/2012 - 08:47 | Permalink

    Saya sudah menikah selama 10 bulan dan saya sedang hamil lima bulan. kehidupan rumah tangga kami terbilang normal meskipun saya dan suami tinggal berjauhan (beda kota) karena pekerjaan.
    di masa lalu saya pernah berbuat dosa dan pada saat mau menikah pun calon suami saya sudah mengetahuinya dan dia bisa menerimanya, tapi secara detail mengenai masa lalu saya baru saya ceritakan setelah menikah. Setelah menikah, saya sudah bertaubat, saya berusaha memperbaiki diri, menutup aurat, dll. tetapi Setelah mengetahui secara detail masa lalu saya, suami saya terlihat sangat tidak bisa menerimanya, tidak ikhlas terhadap saya. dia sering berkata kasar, menyakiti hati saya, mengungkit masa lalu saya, memaki saya, dan tidak peduli sekalipun saya sedang mengandung anaknya. saya selalu berusaha menjadi istri yang baik, menaati semua keinginannya, tetapi untuk dia rasanya belum cukup.
    yang saya ingin tanyakan, apakah yang harus saya lakukan? saya tau dia keras, saya sudah berusaha yang terbaik tapi dia sangat keras kepala, tidak mau mendengarkan nasehat saya.

  • makhfud
    28/09/2012 - 01:10 | Permalink

    mengapa mengumbar aib sendiri kepada suami?
    Cerita detail aib pribadi, akan menyebabkan suami merasa telah salah memilih istri. Memaki, berkata kasar adalah luahan frustasinya.

    Dalam posisi seperti itu, percuma istri menasehati suami. Di mata suami, istri adalah pesalah yg harus dihukum. Jadi, cobalah berinisiatif untuk memberikan layanan extra kepada suami. Berikan ketaatan 100% pada suami. Insya Allah hati suami akan luluh. Itulah sebesar2 nasehat istri kepada suami.

    Dan jangan lupa, bangun 1/3 malam, bermunajat pada Allah, minta ampun segala dosa, minta dilembutkan hati suami. Bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati?

    Ikuti dengan bersedekah di siangnya, sedekah lebih tajam dari doa.

    makhfudsaptadi@gmail.com

  • Anonymous
    08/10/2012 - 11:32 | Permalink

    subhanallah… artikelnya sangat indah,, saat ini saya baru 2 bulan menikah,, dengan membaca artikel ini sangat menambah ilmu dan pengetahuan bagi saya,, semoga saya bisa menjadi istri yang sholehah….

  • Roy
    08/10/2012 - 17:39 | Permalink

    Assalamu’alaikum wb.

    Saya mau tanya, saya bingung, apa yang harus saya lakukan ?
    Isteri saya selalu pergi meninggalkan rumah, dan kembali ke orang tuanya. Dan ketika tinggal sama saya dia selalu smsan mengenai smua apa yang saya lakukan dan sll mengadu, mengadukan semua apa yang lakukan selalu buka aib ketika diramhnya. Diapun sll mengeluh akan penghasilanku, maklum klrganya dari keluarga kaya…padahal saya jirih payah bekrja untuk menafkahinya, untuk mengobati sakitnya juga. saya pernah menasehati dengan menakuti dkan azab Allah tp malah orang tuanya membela, dengan menjawab itu masuk surga atau neraka iteri yag menetukan Allah itu cm salah satunya. Akhirnya isteri saya semakin berani. dan sampai sekarang isteri saya gak pulang… dulu-dulu juga sdh gk sering pulang. Rasanya saya sudah pgn meninggalkannya (Cerai) karena sama saj saya sdh tidak pny isteri.
    Terimakasih tolong jawabnnya.

  • Parwati
    15/10/2012 - 14:44 | Permalink

    Yang mau saya tnyakan apakah salah n apa hukumnya seorang istri yg pergi dari rumah, alasannya pergi dari rumah karena suaminya selingkuh dan lebih memilih wanita selingkuhannya îτϋ bahkan sisuami juga sudah menyatakan niatnya menceraikan istrinya. Suami juga orangnya tidak bisa menjadi imam dan tauladan yg baik dlm keluarga, tdk pernah mnjlnkn sholat wajib n puasa Ramadhan. Suami sering tidak pulang kerumah bahkan mengakui setiap jln dg wanita lain dia selalu melakukan zina, sering minuman keras n kehidupan malam lainnya.mohon jwbnya äπϑ terimakasih.

  • 1 2 3 5

    Leave a Reply

    Powered by: Wordpress