Artikel Keluarga

Kewajiban Istri Terhadap Suami

Ayat Al Quran

Berikut ini ayat Al Quran yang menyatakan kewajiban istri kepada suaminya:

  1. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    “Kaum laki-laki itu pemimpin wanita. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) alas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita yang solehah ialah mereka yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada menurut apa yang Allah kehendaki. ”
    “Wanita-wanita yang kamu kuatirkan akan durhaka padamu, maka nasehatilah mereka (didiklah) mereka. Dan pisahkanlah dari tempat tidur mereka (jangan disetubuhi) dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu bersikap curang. Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An Nisa : 34)

Berikut ini ayat Al Quran yang menyatakan bahwa laki-laki dan wanita masing-masing akan mendapatkan pahala atas perbuatan mereka masing-masing, walaupun perkara yang dibuat berbeda.

  • Dalam Firman Allah S.W.T Surat An-Nisa’ ayat ke 32 :
    “LIRRIJAALI NASHIIBUN MIMMAA IHTASABUU WALINNISAAI NASHIIBUN MIMMAA IKTASABNA”
    Artinya:”Bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi mereka wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan.

Menurut Asy Syarbini dalam tafsir terhadap ayat tersebut: Yang dimaksud adalah pahala yang diberikan Allah S.W.T kepada kaum lelaki karena menunaikan jihad. Sedangkan pahala yang diberikan Allah S.W.T kepada kaum wanita adalah lantaran mereka memelihara kemaluannya dan mentaati Allah S.W.T serta mentaati suaminya. Pahala kaum lelaki dan wanita di akhirat kelak kedudukannya sama. Yang demikian karena perbuatan baik itu dilipatgandakan pahalanya hingga sepuluh kali lipat. Baik hal itu berlaku bagi kaum lelaki maupun wanita. keutamaan kaum lelaki atas kaum wanita hanyalah sebatas masa di dunia.

Hadis-Hadis

Berikut ini hadis-hadis mengenai kewajiban istri kepada suaminya:

  1. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja isteri yang meninggal dunia, sedangkan suaminya redha terhadap kepergiannya, maka ia akan masuk Surga.”
    (Riwayat Tarmizi)
  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki.”
    (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
  3. Seorang perempuan datang ke hadapan Nabi SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah SAW, saya mewakili kaum wanita untuk menghadap tuan (untuk menanyakan tentang sesuatu). Berperang itu diwajibkan oleh Allah hanya untuk kaum laki-laki, jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala dan kalau terbunuh, maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah. lagi dicukupkan rezekinya (dengan buah-buahan Surga). Dan kami kaum perempuan selalu melakukan kewajiban terhadap mereka (yaitu melayani mereka dan membantu keperluan mereka) lalu apakah kami boleh ikut memperoleh pahala berperang itu?
    Maka Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang menjalankannya.”
  4. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda, maksudnya:
    “Sungguh-sungguh meminta ampun untuk seorang isteri yang berbakti kepada suaminya yaitu burung di udara, ikan-ikan di air dan malaikat di langit selama ia selalu dalam kerelaan suaminya. Dan siapa saja dikalangan isteri yang tidak berbakti kepada suaminya, maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia. “
  5. . Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    Tiga orang yang tidak diterima sholatnya (tidak diberi pahala sholatnya) oleh Allah dan tidak diangkat kebaikan mereka ke langit ialah: hamba yang lari dari tuannya hinggalah dia kembali, seorang isteri yang dimurkai oleh suaminya hinggalah dia memaafkannya, orang yang mabuk hingga dia sadar kembali.
  6. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Jika seorang isteri berkata kepada suaminya: Tidak pernah aku melihat kebaikanmu sama sekali, maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.”
    Keterangan:
    Maksud Hadis ini ialah jika seorang isteri memperkecilkan usaha baik suaminya seperti dalam memberi nafkah dan memberi pakaian maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.
  7. Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
    Siapa saja isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab-sebab yang sangat diperlukan, maka haramlah bau Surga ke atasnya.
    Keterangan:
    Hal ini biasanya terjadi pada seorang isteri yang tidak berminat kepada suaminya lagi kecuali kalau dia meminta cerai kepadanya karena kuatir tidak dapat menjalankan kewajiban terhadap suaminya untuk menghindarkan diri dari kekecewaan suaminya.
  8. Nabi SAW bersabda maksudnya:
    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya.”
    Keterangan:
    Hal ini biasa terjadi pada suami yang miskin dan isteri yang kaya. Lalu isteri itu menafkahkan hartanya kepada suaminya, kemudian mengungkitnya.
  9. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Pertama urusan yang ditanyakan kepada isteri pada hari Kiamat nanti ialah mengenai sholatnya dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya atau tidak). “
  10. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Empat perempuan yang berada di Neraka ialah:
    Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinva (memarahinya). Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
    Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
    Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya.”

    Keterangan:
    Seorang perempuan yang bersifat dengan sifat-sifat ini akan dilaknati kecuali jika dia bertaubat.
  11. Al Hakim bercerita bahwa seorang perempuan berkata kepada Nabi SAW: “Sesungguhnya putera bapa saudaraku melamarku. Oleh karena itu berilah peringatan kepadaku apa kewajiban seorang isteri terhadap suaminya. Kalau kewajiban itu sesuatu yang mampu aku jalankan, maka aku bersedia dinikahkan.” Maka Baginda bersabda: “Kalau mengalir darah dan nanah dari kedua lubang hidung suaminya lalu (isteri) menjilatnya, maka itu pun belum dianggap menjalankan kewajibannya terhadap suaminya. Seandainya diperbolehkan untuk manusia bersujud kepada manusia lain, tentu aku perintahkan :seorang isteri bersujud kepada suaminya.”
    Berkatalah perempuan itu, “Demi Tuhan yang mengutus Tuan, aku tidak akan menikah selama dunia ini masih ada.”
  12. Sayidina Ali k.w.j. berkata: “Aku masuk ke rumah Nabi SAW berserta Fatimah lalu aku dapati Baginda sedang menangis tersedu-sedu, kemudian aku berkata: “Tebusan Tuan adalah ayahku dan ibuku wahai Rasulullah, apakah yang membuat Tuan menangis?” Baginda bersabda, “Wahai Ali! Pada malam aku diangkat ke langit aku melihat kaum perempuan dari umatku disiksa di Neraka dengan bermacam-macam siksaan, lalu aku menangis karena begitu berat siksaan mereka yang aku lihat. Aku melihat perempuan yang digantung dengan rambutnya serta mendidih otaknya. Dan aku melihat perempuan yang digantung dengan lidahnya sedangkan air panas dituangkan pada tenggorokannya.
    Dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua-dua kakinya sampai kedua-dua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ubun-ubunnya dan Allah mengarahkan ular ular dan kalajengking menyengatinya. Dan aku melihat seorang perempuan yang berkepala babi dan bertubuh keledai dan ia ditimpakan sejuta siksaan. Dan aku melihat seorang perempuan berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya (jalan belakang) sementara malaikat memukul kepalanya dengan tongkat besar dari api Neraka
    .” Lalu Sayidatina Fatimah Az Zahra r.ha berdiri dan berkata, “Wahai kekasihku dan cahaya mataku! Perbuatan apa yang dilakukan oleh mereka hingga ditimpa seksaan ini?” Maka Nabi SAW bersabda: “Wahai anakku! Adapun perempuan yang digantung rambutnya itu adalah karena dia tidak menutupi rambutnya dari pandangan kaum laki-laki ajnabi.
    Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya karena dia telah menyakiti suaminya.
    Adapun perempuan yang digantung kedua-dua susunya karena dia telah mempersilahkan (orang lain) untuk menduduki tempat tidur suaminya.
    Adapun perempuan yang diikat kedua-dua kakinya sampai keduadua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ke ubun ubunnya dan Allah mengarahkan ular-ular untuk menggigitnya dan kala jengking untuk menyengatinya karena dia tidak mandi junub setelah haid dan dia mempermainkan (meninggalkan) sholat. Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan keledai karena dia adalah ahli adu domba dan pembohong. Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk ke mulutnya dan keluar dari duburnya karena ia ahli umpat lagi penghasut.
    Wahai anakku! Celaka bagi perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya.
  13. Demi cinta terhadap suaminya seorang isteri akan melakukan khidmat dan bakti kepada suaminya cara hal yang sebesar. besarnya sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti menggunting kuku, memotong kumis, dan meminyakkan rambut suami. Rasulullah SAW pernah berkata kepada Siti Fatimah: “Ya Fatimah, apabila seorang wanita meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya, memotong kumis dan menggunting kukunya maka Allah akan memberinya minum dari air Surga yang mengalir di sungai sungainya dan diringankan Allah baginya sakaratul maul dan akan didapatinya kubumya menjadi sebuah taman yang indah dan taman taman Surga.
  14. Adakalanya seorang istri mendapati perbuatan suami yang tidak baik. Dalam hal ini kesabaran istri mendapat pahala yang besar.  Rasulullah S.A.W bersabda :
    “Barang siapa bersabar terhadap perangai isterinya, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala yang diberikan padaa Nabi Ayyub As. Barang siapa bersabar (yakni Isteri) terhadap perangai suaminya, maka Allah akan memberikan pahala seperti pahala yang diberikan Allah pada orang yang gugur dalam membela agama Allah. Barang siapa (isteri)
    menganiaya suaminya dan memberi beban pekerjaan yang tidak pantas menjadi bebannya (yakni suami) dan menyakitkan hatinya, maka para Malaikat juru pemberi Rahmat (Malaikat Rahmat) dan Malaikat juru siksa (malaikat azab) melaknatinya (yakni isteri). Barang siapa (isteri) yang bersabar terhadap perbuatan suaminya yang menyakitkan, maka Allah akan memberinya seperti pahala yang diberikan Allah pada Asiyah dan Maryam Binti Imran. (Al-hadits).
  15. Dalam riwayat Al Bazzar dari ‘Aisyah ra bahwa beliau berkata : “Aku bertanya kepada rosulullah S.A.W “Siapa orang yang paling besar hak-haknya atas wanita?. Beliau menjawab:”Suaminya”. Aku melanjutkan:”Siapa orang yang paling besar hak-haknya atas seorang laki laki?”. Beliau menjawab”Ibunya”.

Atsar Sahabat

Berikut ini nasihat dari para sahabat (atsar) tentang kewajiban istri kepada suaminya:

  1. Sayidina Ali k.w.j. berkata: “Seburuk-buruk sifat bagi kaum laki laki itu adalah sebaik-baik sifat bagi kaum perempuan yaitu kikir dan bersikap keras dan takut. Karena sesungguhnya perempuan itu jika kikir, maka ia memelihara harta suaminya dan jika bersikap keras, maka ia menjaga diri dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang halus (mesra) yang menimbulkan sangkaan yang buruk, dan jika penakut. maka ia takut dari segala sesuatu, oleh karena itu ia tidak berani keluar dari rumahnya dan ia menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan kecurigaan yang buruk karena takut kepada suaminya“.
  2. Aisyah r.ha berkata:
    “Wahai kaum wanita Seandainya kamu mengerti kewajiban terhadap suamimu, tentu seorang isteri akan menyapu debu dari kedua telapak kaki suaminya dengan sebagian mukanya.”

Antara istri dan orang tua suami

Hadis tentang perbandingan antara istri dan ibu suami:

Dalam riwayat Al Bazzar dari ‘Aisyah ra bahwa beliau berkata : “Aku bertanya kepada rosulullah S.A.W “Siapa orang yang paling besar hak-haknya atas wanita?. Beliau menjawab:”Suaminya”. Aku melanjutkan:”Siapa orang yang paling besar hak-haknya atas seorang laki laki?”. Beliau menjawab”Ibunya”.

Salah satu yang perlu diketahui istri adalah bahwa suami juga punya kewajiban terhadap orang tuanya, terutama kepada ibunya. Suami mesti pandai-pandai menyeimbangkan waktunya antara memenuhi keperluan orang tuanya, dan juga menyelesaikan kewajibannya terhadap istri dan anak-anaknya. Suami tidak dapat terlalu condong kepada yang satu dengan mengabaikan yang lainnya.

Adapun dengan orang tua istri, maka istri mesti mendahulukan ketaatan kepada suaminya dibandingkan dengan kedua orang tua istri. Tentunya di sini adalah ketaatan yang sesuai dengan syari’at Islam, karena tidak ada ketaatan terhadap perbuatan bermaksiat.

Nasihat Ulama

Berikut ini nasihat-nasihat umum dari para ulama tentang kewajiban istri:

  1. Seharusnya seorang isteri mengetahui kedudukan dirinya seolah olah seorang ‘hamba’ perempuan yang dimiliki oleh suaminya atau sebagai ‘tawanan’ yang lemah. Oleh karena itu dia tidak boleh membelanjakan sedikit pun dari hartanya (sendiri) kecuali dengan seijin suaminya karena ia diumpamakan sebagai orang yang dalam kawalan (perhatian).
  2. Wajib bagi seorang isteri:
    • Merendahkan pandangannya terhadap suaminya.
    • Memiliki sifat pemalu terhadap suaminya
    • Tidak berkhianat terhadap suaminya ketika suaminya tidak ada termasuk juga hartanya.
    • Menunaikan hajat suami (jika diajak oleh suaminya) biarpun di waktu sibuk atau susah (ditamsilkan berada di punggung unta oleh Rasulullah).
    • Meminta ijin suami untuk keluar dari rumahnya. Kalau keluar rumah tanpa ijin suaminya maka dia dilaknati oleh malaikat sampai ia bertaubat dan kembali.
    • Memperhatikan kebersihan dan kerapihan diri, termasuk menjaga kebersihan mulut.
    • Bersolek di depan suami
    • Tidak berhias ketika suami tidak ada
    • Menghormati keluarga suaminya
  3. Siapa saja di kalangan isteri yang bermuka masam di hadapan suaminya, maka ia dalam kemurkaan Allah sampai ia dapat membuat suasana yang menggembirakan suaminya dan memohon kerelaannya.
  4. Imam Thabrani menceritakan bahwa seorang isteri tidak dianggap menjalankan kewajibannya terhadap Allah hingga ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya, dan seandainya suami memintanya (untuk digauli) sedang ia (isteri) di atas belakang unta maka tidak boleh dia menolaknya.
  5. Seorang isteri hendaklah menyadari bahwa seorang suami bagi isteri adalah bagaikan ayah bagi seorang anak karena taatnya seorang anak kepada ayahnya dan memohon keredhaannya adalah wajib Seorang suami pula tidak wajib mentaati isteri
  6. Menjadi pendorong serta penasehat dalam hal-hal kebaikan.
  7. Memahami hal-hal yang digemari dan yang dibenci oleh suami.
  8. Setiap perbuatannya hendaklah menyenangkan hati suami.
  9. Senantiasa menambahkan ilmu agamanya serta amalan.amalannya dengan berbagai macam cara seperti membaca, mendengar kaset-kaset ceramah agama serta mengikuti majlis- majlis agama.
  10. Senantiasa menyediakan air di sisi suami. Selama ia berbuat yang demikian selama itulah ia didoakan keampunan oleh para malaikat.
  11. Memasak makanan menurut kesukaan atau selera suami.
  12. Menambal baju atau pakaiannya yang buruk.
  13. Siapkan barang-barang keperluan di dalam sakunya seperti sisir, celak, sikat gigi, cermin dan minyak wangi (ikut Sunnah).
  14. Ikut kemauan suami pada waktu bersenda gurau, memijat, mengipas dan sebagainya.
  15. Istri jangan berpuasa sunnah kecuali seizin suaminya.

Referensi

258 Comments

  • Anonymous
    18/12/2012 - 16:24 | Permalink

    Assalamu’alaikum

    Pak ustad, sy mau bertanya.sy mempunyai anak umur 4 bln. Suami menginginkan kami bertiga tinggal dirumah sendiri( mandiri). Suami berencana mencari pengasuh untuk anak saya agar sy bisa tetap bekerja.tapi hati kecil saya tidak tega membiarkan anak sy diasuh org lain.saya lebih memilih untuk berhenti bekerja dibandingkan anak hrs diasuh org lain.sedangkan suami sy sangat tdk stuju dengan keputusan sy tsb.apakah sy sdh termasuk tdk taat kpd suami ustad? Apa yg hrs sy lakukan?

  • admin
    19/12/2012 - 07:45 | Permalink

    Waalaikumsalam Wr Wb,

    Allah SWT mendatangkan kepada hamba-hambaNya berbagai-bagai jenis ujian dengan berbagai-bagai cara dan sebab. Ada ujian dengan suami, dengan anak, dengan kawan, dengan uang, sakit, kecelakaan, perbedaan pendapat dan sebagainya. Kita mesti melihat ujian dari sudut hakikat ujian, bukan dari kulitnya. Kalau kita lihat dari sudut kulitnya, selain kita tidak bisa meraih takwa dari ujian yg Allah datangkan, bila kita rujukkan masalah (ujian) itu ke orang yg berbeda, maka akan mendapatkan jawaban yang berbeda-beda. Jadi jangan tertipu dengan jenis ujian, tapi lihat dari sudut “apa maksud Allah” dari ujian yang Allah datangkan ini. Jangan fokus pada “segera menyelesaikan masalah” tapi fokuslah pada “bagaimana imanku ketika melalui ujian ini”. Allah datangkan ujian dengan 2 maksud yaitu untuk penghapusan dosa dan peningkatan derajat, itu bila Allah sayang orang tersebut, tapi bila Allah benci pada orang itu, maka ujian adalah utk menghinakannya.
    Bagaimana membedakannya? Bila dengan ujian kita makin dekat dengan Allah, maka insyaAllah kita disayangiNya, bila ujian tersebut makin menjauhkan kita dari Allah, maka artinya Allah tidak suka pada kita. Maka dari itu berusahalah mendekat pada Allah bila ada ujian.
    Sebaiknya ibu meningkatkan ibadah padaNya, bertaubat pdNya, banyakkan sholawat pada Rasulullah, berbakti pada suami, menghiburkan suami, dan macam-macam kebaikan yang Allah suka, sedangkan untuk masalah yang ibu hadapi, mengadulah terus pada Allah minta Dia selesaikan dengan caraNya. Jangan putus asa meminta dan yakinlah Dia sebaik-baik penyelesai masalah, nanti lihatlah Allah akan berikan solusi yg terbaik diluar dugaan ibu.
    Wallahu’alam

    Siti Fauzah iffah7@gmail.com
    Wakil Ketua Klub Taat Suami http://klub-taat-suami.com/

  • Anonymous
    19/12/2012 - 15:05 | Permalink

    Asalamualaikum, yang pingin sya tanyakan sya tau istri sya sudah tidak perawan tapi istri sya tetap tidak mau mengaku klo klo dirinya tidak perawan sampai-sampai dia menyebut kata lilahhitaala dan demi allah kata istri sya,, sya bingung padahal sya sudah ihlas menerima dia apa adanya sya pingin dia jujur dan menceritakan apa adanya dirinya bukan malah menyembunyikannya,, sedangkan sya sebelum menikah sya sudah ceritakan kepada istri sya bagaimana sya waktu masih muda,, bagaimana caranya agar istri mengerti dan percaya kepada sya bahwa sya ihlas nerima dia apa adanya, kenapa istri sya berani bersumpah klo dirinya masih perawan tpi nyatanya tidak sampai dia berani menyebut lilahitaala dan demi allah?

  • admin
    19/12/2012 - 19:03 | Permalink

    Wa alaikum salam.

    Mengukur keperawanan seorang perempuan itu sulit bagi orang awam. Setahu saya yang dapat menentukan seseorang perempuan itu masih perawan atau tidak adalah dokter spesialis kandungan. Jadi belum tentu dugaan anda tentang keperawanan istri anda itu benar.

    Kalau anda memang benar-benar ikhlas dengan istri anda, sebaiknya terima saja dia apa adanya, tidak usah memaksa istri anda untuk membicarakan tentang hal keperawanan tersebut ataupun hal-hal lain terkait masa lalunya.

    Dari sisi syariat, menceritakan dosa-dosa kita sendiri itu tidak dibenarkan, karena hal itu termasuk membuka aib sendiri.

    Beberapa hadis tentang menutup aib orang dan aib diri sendiri: http://kawansejati.org/content/menutup-aib-sendiri-dan-aib-orang-lain

    Kisah Nabi Musa dan aib pengikutnya: http://kawansejati.org/content/kisah-taubat-di-zaman-nabi-musa

    Wassalam

  • makhfud
    20/12/2012 - 09:45 | Permalink

    Takdir Allah sudah pun terjadi, yaitu Bapak menikahi sang istri. Artinya kewajiban besar telah Bapak pikul yaitu Bapak bertanggungjawab menyelamatkan anak dan istri dari api neraka. Apapun latar belakang istri, mengaku maupun tidak mengaku masih perawan, tetap tanggungjawab mengenalkan Allah hingga dicintai dan ditakuti hingga syariat Allah dilaksanakan, wajib dipikul.

    Artinya, pandang jauh ke depan mau dibawa kemana keluarga Bapak itu jauh lebih bermanfaat daripada mengungkit-ungkit masa lalu. Toh ngak perawan kan bisa jadi macam-macam sebabnya, tidak semestinya karena pernah berzina.

    kalaupun toh pernah berzina pun, karena sudah menjadi istri maka tugas bapak adalah untuk mendidiknya hidup di jalan Allah. Karena hanya dengan berjalan di jalan Allah sajalah hidup kita akan selamat dunia dan akhirat. Sedangkan hidup di jalan Allah ini tidak mudah, banyak ranjau dan tipuan setan serta nafsu. Makanya kita memerlukan pimpinan dari seorang guru mursyid.

    sebagai akhirnya, janganlah paksa-paksa istri untuk bersumpah atas nama Allah. Lebih baik bapak kenali pribadi istri bapak lebih mendalam. Kenali sifat-sifat baiknya untuk disuburkan dan kenali sifat-sifat jahatnya untuk diluruskan.

    Selamat pengantin baru 🙂

  • Jumram
    21/12/2012 - 00:42 | Permalink

    Asslkum ustadz… Alhamdulillah skrng usia pernikahan sy sdh menginjak 1 tahun lebih dan telah dikaruniai seorang anak laki2. Namun dalam kisah pernikahan sy, sy dihadapkan pada berbagai macam masalah setelah kelahirannya bayi kami… Memang sy tahu bahwa semua pasangan pada setiap keluarga didunia ini mengharapkan kedamaian dan kebahagiaan… Namun sbelum diceritakan panjang lebar sy mau memberitahukan terlebih dahulu bahwa sy msh satu atap bersama mertua. Terkait dgn telah lahirnya bayiku yg ku syang, kami terlibat pada suatu cobaan yg tdk lain cobaannya yaitu klaw ternyata bayi kami tak bisa tdur sama kami karna kami mempunyai sebuah kamar yg panas dan jg bayi kami tukang keringetan, dan dgn adanya itu akhirnya kami mengambil pilihan bahwa dgn tdk enak hati bahwa mertua yg memilih klaw bayi kami dialah yg akan mengurus. Dgn alasan karna dikamar mertua sajalah yg memiliki AC karna tak mempunyai kesanggupan untuk menambah tegangan listrik karna sdh tdk bisa lg ditambah dayanya… Namun dgn adanya hal ini, sy merasa kehidupan rmh tangga sy sdh agak renggang. Soalnya dgn tdk disengaja otomatis terkadang pada saat kami menjenguk buah hati kami dikamar mertua terkadang sering ada sebuah kecekcokan mulut antara sy dan istri karna klaw sering tiba waktu sholat kadang istri sy tdk mau sholat alasan karna keputihan doang… Lalu sy mencoba untuk menasihatinya agar sepenting apapun pekerjaan jgn tggalkan sholat, namun dgn adanya peristiwa ini tiba2 sj istri sy menangis… Namun karna takut belum ada yg memperhatikan, sy kadang berbicara dlm hati klaw ini jgn sampai org tuanya melihat bisa2 nanti menjadi salah paham… Namun karna takut mertua yg lg berada didlm kamar mandi belum melihat ini sy berusaha untuk mengusap air matanya yg lg dipenuhi dgn kebasahan, namun karna terkaget mertua tlah membuka pintu kamar mandi sy pun terkaget karna tdk disangka keluarnya pas dgn waktu yg tdk bersamaan pd saat sy ingin mengusap air mata istri hal itu menjadi tdk sengaja karna terkaget memukul matanya lalu berbekas dan dilihat org… Apakah hal yg tdk disengaja itu patutkah sy sampai tersebar ketelinganya para tetangga dan keluarga lain klaw sy di cap suami yg kasar padahal pada kenyataannya sendiri sy tdk sengaja memukul namun hanya beriktikad baik ingin mengusapa air matanya… Jadi dgn adanya peristiwa ini terkadang klaw sy ingin memilih itut sy ingin memilih pisah dgn mertua, namun mertualah yg menjadi kendala tak ingin memberikan anaknya, padahal klaw mau jujur terkadang sy ingin sekali membicara hal yg sebenarnya namun mereka melarang katanya dgn alasan bahwa sy ini anak yg keras kepala karna setiap kali ada org tua yg ingin menceramahi slalu sj sy ada balasannya namun mereka tetap sj msh tdk mau habis pikir klaw sebenarnya sy tdk mau membalas kata2 mereka melainkan membela kebenarannya klaw sy tdk bersalah, bisa2 sy takutkan tali kasih sy dgn istri akan semakin renggang…jd, bgaimana kah itu pak ustadz, karna sy balik heran jg… Memang istri sy ini adalah seorang perempuan yg cengeng tp cengengnya hanya sekedar cengeng2 aja, tp yg menjadi kendala sy sering dituduh pasti klaw sy ada nasihati hal yg baik2 lg kadang dia menangis lg dan slalu sj dituduh klaw sy tlah kasar lg dan menyuruh istri untuk tutup mulut dan diam namun pada kenyataannya sebenarnya tdk… Sekiranya bagaimanakah itu pak ustadz… Karna kadang sy memilih diam jg salah karna istri sering nangis kiranya sy tdk cinta lg sama dia padahal tdk tahunya sy hanya ingin ibarat menenangkan air yg lagi keruh namun terkadang tetap dia pun menansis walaupun sy sdh mengatakannya… Jd, akhirnya sy dituduh lg klaw mengira sy kasi nangis lg anak perempuan mereka… Nah, inilah yg menjadi penyebab sy katanya tak akan diberikan anak perempuannya kepada sy namun terkadang sy berpikir dia sdh menjadi hak sy namun dgn adanya kata2 sperti itu… Seolah2 klaw setiap saat slalu klaw sy ingin berbicara mereka mencantumkan sy dgn katanya sy ini anak yg durhaka klaw sy ini tlah membuat malu keluarga sy alias besan mereka karna katanya sy akan pergi meninggalkan istri padahal pada kenyataannya merekalah yg melarang sy untuk mengambil istri sy… Jd, itu sdh perkara sy pak ustadz… Sekiranya bisa memaklumi… Waslm wr.wb

  • makhfud
    25/12/2012 - 06:59 | Permalink

    Sebagai pemimpin dan imam rumah tangga, ketegasan Bapak diperlukan.

    Tegas bukan berarti keras loh ya.

    Tegas bermaksud memegang teguh prinsip. Yang mana pada prinsipnya istri dan anak adalah tanggung jawab Anda selaku suami. Begitu diucapkan “saya terima nikah dan kawinnya”, 100% tanggung jawab terhadap istri beralih dari ayahnya (mertua Anda) kepada Anda.

    Tanggung jawab paling utama adalah membawa keluarga kepada Allah, menjalankan perintah Allah, terutama sholat sebagai tiang agama. Menurut mazab syafii, keputihan bukan halangan untuk melaksanakan solat. Ilmu praktisnya, selesai wudhu langsung sholat sebelum keputihan keluar. Bila ditengah solat keluar keputihan, lanjutkan solat dan solatnya dikira sah. Bila sebelum takbir keputihan keluar, keputihannya harus dibersihkan dan harus wudhu lagi.

    Seeloknya memang cari rumah kontrakan. Dan pelan2 ajak istri pindah. Jangan lupa minta pada Allah agar dimudahkan, hati mertua juga dilembutkan. Banyak2 merintih di 1/3 malam, shalat tahajud, shalat taubat, shalat hajat agar dimudahkan segala urusan. Iringi dengan banyak2 sedekah. Dan lihat respon yang Allah akan beri…

  • shaheen jafar
    29/12/2012 - 11:59 | Permalink

    Assalamu’alaikum wr wb
    ustd
    saya ingin bertanya,jika ada seorang wanita yang dulunya mmliki khdupan yang sangt buruk,shingga suatu hari dia berjanji pda dirinya untuk tidak melakukan hal buruk itu lagi. kmudian ia mnutupi dirinya dngn kain panjang dan jilbab,namun begitu bnyak orng disekeliling kwan saya itu mncemooh n beranggapan jilbab itu sbagai tameng,bagaimanakah cra untk menanggapi hal itu ustad?bhkan dia panik dengan jilbab,sampai dia beranggapan kalau dy gak pantas menggunakannya.

  • makhfud
    30/12/2012 - 07:18 | Permalink

    Memakai jilbab alias menutup aurat itu wajib. Kalau ngak pakai berdosa. Kalau pakai, lepas-lah kewajibab menutup aurat.

    Perkara masih melakukan dosa lain, itu adalah perkara yang terpisah 🙂

    Kalau buat lelaki, pakai celana itu wajib. Apa kita mau bilang, “eh kamu pakai celana sebagai tameng kejahatan kamu ya?” Kan ngak nyambung logika begitu.

  • shaheen jafar
    02/01/2013 - 16:54 | Permalink

    wahhm,,,bener juga ych ustd,,terimakasih bnyak ustad 🙂

  • Jumam
    11/01/2013 - 01:44 | Permalink

    Assalamu’alaikum wr.wb…
    . Pak uztadz, sy mau tanya…
    . Apakah yg harus sy lakukan klaw ketegasan saya tdk dianggap benar lg sama mertua, padahal ada unsur kejahatan dlm metode yg sy jalankan ini pun klaw mau dibilang sama sekali pun jg tdk ada…??? Katanya mertua tdk mau sy marah2i anaknya… Trus klaw sy sdh bujuk secara baik2 dan hari demi hari telah berlalu, trus tdk ada perubahan dan kemajuan.. maka sy hrus berbuat apalagi pak uztadz jika tdk mau ditanggapi… Apakah sy salah telah memarahi istri sy pak uztadz, padahal sy marah kan karna sayang jg dan unsur kekerasan dlm hal ini pula pun tdk ada… Jd, bagaiamanakah sblumnya pak uztadz tentang penyelesaian perkara ini,,,???

  • makhfud
    24/01/2013 - 16:16 | Permalink

    Semoga Allah senantiasa memberi jalan keluar atas semua ujian yang Dia timpakan kepada kita dengan berkat Rasulullah saw.

    teriring doa.

    Al Fatihah…

  • makhfud
    12/01/2013 - 08:45 | Permalink

    Waalaikumsalam wr wb,

    Mohon maaf, Bapak tinggal di daerah mana?
    Rasanya ketemu sambil ngopi-ngopi lebih enak untuk membincangkan masalah ini 🙂

    Kalau di daerah jabodetabek, bisa silaturahmi ke Sentul City Bogor. Kalau di tempat lain, nanti saya infokan murid-murid Abuya yang bisa dihubungi.

    Pada prinsipnya, memarahi istri yang tidak menjalankan syariat Allah itu bukanlah satu kesalahakan. Dalilnya, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka. Cuman, wanita kan terbuat dari tulang rusuk yang bengkok. Kalau terlalu keras, dia patah. Tapi kalau terlalu lembut dia pun tetap bengkok.

    Disinilah perlunya pimpinan dan panduan untuk mendidik keluarga 🙂

  • Jumram
    12/01/2013 - 20:14 | Permalink

    Terima kasih banyak sebelumnya pak ustadz, sdh ada pernah memberikan waktu luangnya untuk sy…
    . Sy tggalnya jauh di tual maluku tenggara…

  • septian
    18/02/2013 - 14:58 | Permalink

    sama banget nasibnya seperti saya..
    99 persen sama persis

  • admin
    21/02/2013 - 13:05 | Permalink

    Dalam sebuah keluarga, dasar yang paling penting adalah ketaatan pada Allah dan Rasul. Suami taat 100% pada Allah dan Rasul, istri pun demikian. Allah dan Rasul sebutkan bahwa istri mesti taat pada suami, maka istri pun akan taat kepada suami karena istri hendak taat pada Allah dan Rasul.

    Agar supaya istri dapat taat pada suami dan kehidupan keluarga mendapat ketenangan, maka mesti dibuat hal-hal berikut ini:

    • Suami sungguh-sungguh belajar untuk kenal dengan Allah & Rasul
    • Suami menjalankan semua ketentuan Allah, baik yang lahir maupun batin. Terutama sekali adalah ibadah shalat yang khusyu.
    • Suami mendidik istri , pertama-tama tentang Allah dan Rasul, sampai Allah dan Rasul dapat dicintai. Jika istri tidak ada ketaatan pada Allah dan Rasul, maka sampai kapan juga istri susah untuk taat pada suami.
    • Kehidupan dalam keluarga juga 100% untuk kehidupan Islam, bukan untuk sekedar bersenang-senang di dunia.

     

  • admin
    21/02/2013 - 12:51 | Permalink

    Wa alaikum salam.

    • Seorang istri tidak sepantasnya memaksa-maksa suaminya melakukan sesuatu. Jika memang ada keperluan dari pihak istri, sampaikanlah dengan baik, dan biarkanlah suami yang memutuskan. Dialah yang akan ditanyai di akhirat kalau ternyata keputusannya keliru.
    • Seorang istri hendaklah taat 100% pada suaminya. Jika suami bekerja di suatu tempat, justru istri lah yang sebaiknya pindah ke tempat suami berada, bukan sebaliknya. Jika suami meminta istri pindah, hal tersebut jadi kewajiban bagi istri.
    • Jika ada janji yang sudah diucapkan, tentunya wajib ditepati.
  • admin
    21/02/2013 - 12:47 | Permalink
    • Dalam syariat Islam, penghasilan istri adalah hak sang istri dan tidak wajib disetor ke suami, istri berhak menggunakannya sendiri. Tentu boleh saja istri mendiskusikan dengan suami tentang penggunaan uang tersebut untuk keperluan keluarga.
    • Penghasilan suami adalah wewenang suami untuk menggunakannya, tentu saja boleh suami mendiskusikan dengan istri tentang penggunaannya.
    • Pemimpin keluarga adalah suami, dan suami lah yang bertanggung jawab jika terdapat kesalahan penggunaan uang dalam keluarga
    • Suami dan istri hendaklah menggunakan harta yang ada pada mereka untuk hal-hal yang sesuai dengan syariat Islam, bukan untuk bermewah-mewah. Jika demikian insya Allah tidak akan ada masalah yang timbul dari hal keuangan tersebut.
  • Anonymous
    13/02/2013 - 02:37 | Permalink

    aslm..pa.ustd. yg sy mau tanyakan adalah:
    1.istri tdk terbuka pd sy(suami)istri lbh trbka pd ibunya
    2. apa yg d suruh suami d abaikan tp klo ibnya menyuruh istri lgsung mau ky yg ktakutan
    3.istri tdk mau d ajak pindah/ngontrak
    4. sy tgl d rmh mertua,km sdh d karuniai ank perempuan. stiap kl sy mngjk istri u maen k rmh ibu sy.mrtua sllu klhtn mrh,istri jg sm ky mertua ky gx sk brtmu dgn kluarga sy
    5.skg sy sdh 2bln tdk tgl d rmh mrtua.istri & ank tgl sm mrtua. sy plg k rmh org tua krn mertua dn istri sy sdh memprmlukan sy dan menjelekan sy d dpn ttg.
    pertgkrn trjd antara istri & sy tntg mslh ank.tp istri mnjwb dgn nd ksr dan berteriak2 akhrya prtgkrn trjd,sy cm menampar istri yg bicranya ktor kmudian istri lari kluar rmh u mngdu k ibunya.tnp musyawarah sy yg lg gndong ank,ank sy pun d tarik kk nya kmudian mertua brkta ksr kpd sy.
    apkh sy dosa tlh mngglkn istri & ank sy pak ustd..
    mrtua dn istri sy tdk mau memafkn sy pa ustd,sy sdh bbrp x ktmu ttp z mrk diam
    tolong nshty pa ustd..trmksh
    wasslm..

  • Anonymous
    10/02/2013 - 14:01 | Permalink

    Assalamu’alaikum ustaz… bulan lalu saya sempat memaksa suami saya untuk pulang. karena sudah 3 bulan dia meninggalkan kami untuk bekerja. selama bekerja, dia tinggal bersama kakak perempuan dan ibunya. saat itu ibunya sedang sakit, namun saya tidak tahu sakit ibunya itu sangat parah. akhirnya dia meningalkan ibunya tanpa pamit, sebuan kemudian ibunya meninggal, yang ingin saya tanyakan adalah:
    1. apakah saya termasuk durhaka?
    2. sebelumnya saya pernah berjanji kepada ibuuntuk datang menjenguknya bila ibur tiba. ketia libur saya tidak datang. bagaimana cara saya untuk memenuh jani saya ustaz?
    teriamkasih sbelumnya.

  • fri hariyadi
    11/02/2013 - 22:12 | Permalink

    asalamualakum,,, saya mau bertanya saya dan istri sama-sama memiliki penghasilan dan sebelum saya menikah saya sudah paham kalau penghasilan saya wajib saya nafkahin ke istri sya walaupun istri saya memiliki penghasilan sendiri,, dan selain itu saya sudah banyak mendapatat pelajaran dari teman yg sudah berkeluarga dan sama-sama memiliki penghasilan tapi walaupun teman saya sudah menafkahin beberapa persen pengahasilannya ke pada istri tetap aja menjadi masalah buat mereka berdua,, si istri selalu curiga dengan sisa penghasilan suaminya yang di pegang di gunakan untuk apa dan selalu di tanyakan oleh istrinya,, dan begitu sebaliknya suami menanyakan ke istri uang yang dia berikan sering kali digunakan untuk keperluan pribadi istri dan terus merasa kekurangan dan akhirnya menjadi masalah buat mereka dan sebenarnya bisa kita katakan meraka bukan orang kekurangan masalah ekonomi karna faktor ketidak terbukaan yang membuat mereka seperti itu,,, dan dari masalah teman sya ini sya bisa belajar dan menerapkan cara saya sendiri mengatur keuangan saya dan istri,, jadinya setiap saya gajian berapa gaji saya saya kasi tau ke istri sya dan begitu juga istri saya terbuka masalah gajinya ke saya jadinya penghasilan kita berdua kita gabungkan jadi satu dan kita kelola berdua dan sya mengajarkan istri saya untuk membuat pembukuan agar kita tau keluar masuknya uang dan sampai saat ini masih berjalan dan tanpa ada masalah,,, yang ingin saya tanyakan apakan saya salah menerapkan cara seperti itu dengan menggabuangkan penghasilan saya dengan penghasilan istri sya dan kita kelola berdua,, dengan perinsip yang kita buat yaitu “uang saya iya uang km juga, begitu juga sebaliknya uang km iya uang saya juga” saya minta pendapatnya apakah salah saya menerapkan seperti itu,, klo memang itu menyalahkan aturan saya tidak akan menjalankannya lagi,,, tolong di tanggapi karna saya takut apa yg saya lakukan ini salah…trm

  • santy
    12/03/2013 - 01:46 | Permalink

    Assalammuaikum pak ustad..
    Setelah melahirkan saya bertengkar dengan suami masalah aqiqah anak saya, dimana uangny dihabiskan suami saya untuk bersenang2 dn tidak pulang selama 2 hari. akibatnya mertua saya yg mmbantu menanggung biaya aqiqah. Namun karna d rumah sering bertengkar dengan suami masalah selingkuhannya saya memutuskan untuk minta orang tua saya menjemput untuk istirahat d rumah ortu saya sampai cuti saya selesai. Namum tidak diizinkan suami saya. Sementara d rumah dia kurang memperhatikan saya malah mmbuat saya stress sampe saya mengalami pendarahan.
    Setelah acara aqiqah ortu saya menyampaikn keinginannya untuk mmbawa saya dan suami bertanya kepada saya kalau kamu pergi kamu bukan istri saya lagi. Sebelumnya pada saat ortu dan kerabat saya dtg k rmh dicuekin dan tidak dhargai oleh suami dan pernah suami saya mengusir ibu saya ketika d rmh saya. Saya memilih untuk pergi krn sy tidak mw disiksa lahir dan bathin sy dgn tingkah laku suami saya.
    Apakah saya sudah d anggap dicerai sm suami saya?
    Apakah sholat saya tidak sah krn sy meninggalkan suami saya?
    Apakah saya berdosa kalau tidak kembali?
    Saya meminta dia untuk minta maaf kepada ortu dn kerabat saya klu dy msh menginginkan sy dan dy tidak mw.
    Apa solusi yag terbaik pak ustad. Ortu sy tdk mengizinkan sy kembali kepadanya bgtu saja krn kami diusir dgn tidak baik malam itu..

  • admin
    12/03/2013 - 10:52 | Permalink

    Wa alaikum salam

    Dari cerita ibu, nampaknya masalahnya kompleks, ada permasalahan dari pihak suami maupun istri. Perilaku suami dari cerita ibu nampaknya tidak baik, namun tindakan istri pergi dari rumah melawan perintah suami juga merupakan suatu kesalahan.

    Wassalam.

     

  • admin
    02/05/2013 - 21:37 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb,
    Penghasilan seorang istri adalah hak istri, sehingga boleh saja istri menggunakan uang penghasilan tersebut untuk keperluan orangtua istri.

    Sebagai seorang istri, salah satu kewajiban yang paling penting adalah ikut apa kata suami, karena setelah menikah tanggung jawab sudah berpindah dari orangtua istri kepada suami.

    Mengenai sikap orang tua terhadap suami, bisa saja karena banyak hal seperti perbedaan pandangan terhadap pekerjaan. Ada orang yang senang dengan pekerjaan sebagai pegawai dengan anggapan pendapatannya lebih pasti, ada juga yang lebih senang dengan berdagang dengan pertimbangan lain. Banyak-banyak saja berdoa agar orang tua dapat menerima pekerjaan suami.

    Wassalam,

  • Anonymous
    02/05/2013 - 14:03 | Permalink

    assalamu alaikum wr. wb

    pak ustad saya mau bertanya… saya sudah menikah selama 6 bulan dan saya ada permasalahan dengan orang tua saya yang selalu ikut campur masalah rumah tangga saya. ortu saya selalu mempermasalahkan pekerjaan suami yang berdagang sedangkan saya pegawai. ortu tidak rdho jika saya membantu suami dalam berdagang atau menafkahkan uang saya untuk keperluan rumaah tangga. bahkan saya tidak diizinkan untuk mengambil KPR rumah atas nama saya karena nanti dipakai bersama suami. saya kadang miris dengan kondisi ini. saya banyak membantu ortu karena kondisi mereka yang kekurangan, kadang saya bilang kepada suami kadang juga tidak. apakah saya berdosa terhadap suami? bagaimana dengan sikap ortu saya kepada suami yang seakan2 tidak suka.mohon penecrahannya. terima kasih
    wassalam.

  • Anonymous
    11/07/2013 - 17:39 | Permalink

    Assalam, pak saya telah menikah 5 bulan kondisi saya skr sdg hamil, dan saya telah ditalak suami saya via sms krn dia merasa tidak bahagia dg saya, ini jg kesalahan saya, saya berbohong untuk menutupi aib masa lalu saya.klrg skr mengurus perceraian dg cara saya yang mengugat cerai, pdhl sayamasih mencintainya tapi saya tidak mau berlaku zalim pada suami saya kalau dia tidak bahagia. Selama kami menikah suami belum pernah memberikan nafkah lahir tapi saya ridha pak krn saya telah bekerja, skr mertua dan suami saya secara tersirat menyuruh mengugurkan kandungan … apa yang harus saya lakukan pak.. mohon pencerahan.. makasih pak
    *saya dan suami kerja beda kota*

  • admin
    09/07/2013 - 17:03 | Permalink
    • Dekatkan diri dengan Allah, banyak bertaubat.
    • banyak berselawat.
    • Perbanyak ibadah malam, kalau dalam bulan Ramadhan tentunya ada kesempatan melakukan shalat tarawih.
    • Perbanyak sedekah
  • M. Adi
    09/07/2013 - 13:44 | Permalink

    Assalamu’alaikum Wr. Wr Pak Ustadz..
    Saya Mau Tanya Pak Ustadz, tentang Bapak Mertua Saya Tidak Mau Kalau Anaknya Saya Ajak Pindah Ke Rumah Orang Tua Saya. Sedangkan Orang Tua Saya Cuma Tinggal Berdua Saja dan Sudah Tua……

  • adhie
    09/07/2013 - 13:56 | Permalink

    Assalamu’alaikum Wr. Wb Pak Ustadz….
    Saya Mau Mengajak Istri Saya Untuk Tinggal Di Rumah Orang Tua Saya, Tetapi Bapak Mertua Saya Tidak Mau Kalau Saya Sama Istri Saya Tinggal Dirumah Orang Tua Saya. Sedangkan Orang Tua Saya Cuma Tinggal Berdua Saja dan Sudah Tua… Bagaimana Caranya Saya Agar Bisa Meluluhkan Hati Bapak Mertua Saya Agar Mau Mengizinkan Saya dan Istri Saya Pindah Pak Ustadz…

  • Wisnu ariah
    12/07/2013 - 11:08 | Permalink

    Ust, saya sudah berpacaran 9 bulan,sblumnya saya berpcaran slama 8 thn,saya tdk ingin hbngan ini gagal.dan saya sudah ingin segera menikah,namun pria yang bersama saya ini,sprtinya blm mmliki niat utk menikah.saya smpat brfkir untk mngakhiri,tapi saya msih syg.tpi sya takut khilangan kndali, dan tkut jika hal2 yang tdk diinginkan trjdi.bagaimana solusi yang hrus sya tempuh ust.sebab sebagian sisi,saya tetap ingin brsamanya,namun ingin mnjdi yang halal,tp d sisi lain,pria ini sprti blum tergerak utk segera mnikah.mohon penceraahannya ust,trmkh

  • admin
    12/07/2013 - 17:02 | Permalink

    Pacaran dalam agama Islam adalah tidak dibenarkan. Jika memang pria itu tidak ingin menikahi anda, segera tinggalkan dia. Carilah laki-laki yang memang ingin menikah, bukan yang ingin sekedar pacaran. Anda dapat minta bantuan orangtua/saudara anda untuk dicarikan calon pasangan yang serius.

  • admin
    12/07/2013 - 17:09 | Permalink

    Wa alaikum salam

    Anda dan suami sama-sama bekerja berbeda kota, kedua hal ini dapat saja mempengaruhi hubungan anda dengan suami.

    Idealnya anda tinggal serumah dengan suami anda, dan untuk bekerja anda minta izin dulu dengan suami anda. Jika suami tidak mengizinkan anda bekerja, anda turuti suami anda.

    Biar bagaimanapun, suami akan lebih bahagia jika:
    – istrinya ada di rumah
    – istrinya ikut apa kata suami.
    – istrinya sibuk melayani apa saja keperluan suami.

    5 bulan sebenarnya waktu yang sangat singkat bagi suami & istri untuk dapat saling menyesuaikan diri. Dengan anda tinggal beda kota, hal ini tambah susah. Anda juga bekerja, otomatis perhatian kepada suami tidak 100%.

    Saran saya:
    – jika keadaan keluarga masih bisa diperbaiki, cobalah ikut apa saja kata suami.
    – jangan menggugurkan kandungan anda, karena itu adalah perbuatan haram.

  • alfi
    17/07/2013 - 11:48 | Permalink

    Assalamu’alaikum.
    saya sudah menikah hampir 3 tahun dan sudah di karunia 1 anak. saya sekarang tinggal satu pagar dg orang tua. dari awal menikah, kami berencana untuk pindah rumah, tapi orang tua saya melarang.lalu bulan Juli 2013, kami ingin pindah rumah dan suami saya sudah mengutarakan niatnya ke orang tua, tp lagi lagi orang tua melarang dengan beribu alasan. salah satunya ayah saya sakit.
    padahal kami pindah bukan keluar kota. dan kami sudah menjelaskan ke orang tua tapi mereka tetap melarang.
    suami saya sudah tidak tahan tinggal di rumah sekarang karena terlalu banyak larangan2, seperti kalau kami hendak keluar rumah harus ijin dulu dan pulang harus cepat dan masih banyak pertanyaan2 yang muncul kepada kami (terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya)

    yang saya tanyakan :
    1. apakah salah dan berdosa kepada orang tua kalau saya mengikuti kemauan suami untuk pindah rumah dengan kondisi ayah saya sakit (struk)?

    2. apakah tangisan orang tua ada pengaruh dalam rumah tangga kami seperti bak kata orang tentang cerita malin kundang.

    3. karena terlalu banyak ikut campur dan merendahkan suami saya, sehingga membuat saya membenci mereka, apakah salah dengan sikap saya seperti itu?

    demikian, mohon di bantu bagaimana sikap saya yang seharusnya karna saya tidak tahu mau berbuat apa lagi….

    terima kasih jawabannya.

  • admin
    17/07/2013 - 13:56 | Permalink
    1. Ketaatan istri kepada suaminya lebih tinggi derajatnya dibandingkan ketaatannya kepada orang tuanya. Jadi dalam hal ini patuhilah apa keinginan suami.
    2. Cerita Malin Kundang tidak dapat dijadikan acuan dalam agama Islam. Insya Allah jika istri taat dan melayani suaminya, semuanya akan baik-baik saja.
    3. Bersabarlah dengan orang tua anda.

    Kita inginnya menyenangkan semua orang (orang tua, suami, mertua, dsb), namun anda perlu menentukan prioritas. Saran saya bereskan dulu urusan anda dengan suami, baru kemudian bereskan yang lainnya.

  • novi
    01/08/2013 - 23:07 | Permalink

    assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh, saya mau tanya pak ustad, saya mempunyai seorang calon suami, calon suami saya menginginkan bila setelah menikah nanti kami tinggal besebelahan rumah dwngan orang tuanya, tapi saya tidak setuju dengan alasan mencegah terjadinya cekcok dengan mertua, saya ingin kami tinggal dirumah yang masih didaerah yg sama tp bukan bersebelahan dengan mertua, dan saya sangat membebaskan dia untuk berbakti pada orang tuanya, tp dia tetap berkeras ingin tinggal bersebelahan dengan orang tuanya, apa yg harus saya lakukan pak ustad??

  • admin
    12/08/2013 - 15:27 | Permalink

    Wa alaikum salam.

    Alhamdulillah anda sudah mempunyai seorang calon suami. Untuk masalah ini perlu diperhatikan beberapa hal:
    – Seorang istri wajib taat pada perintah suaminya. Jika suami ingin tinggal di suatu tempat tertentu, istri dapat memberi pendapat, namun tetap pada akhirnya suami yang mengambil keputusan. Hal-hal positif maupun negatif dari keputusan suami tersebut menjadi tanggung jawab bagi suami di dunia maupun di akhirat. Jadi istri tidak perlu kuatir karena istri tidak akan ditanya di akhirat tentang akibat dari keputusan tersebut.
    – Seorang laki-laki ada kewajiban untuk mengurus orang tuanya. Jadi dapat diambil positifnya, suami anda tidak akan repot menunaikan kewajibannya terhadap orang tuanya. Insya Allah hal ini akan meringankan beban suami nanti di akhirat.
    – Pada saat ini anda statusnya kan belum menikah, jadi nampaknya terlalu awal untuk kuatir cekcok dengan mertua. Bertawakal lah dengan Allah, moga-moga nanti anda dapat rukun dengan mertua, mungkin justru malah bisa jadi menantu yang disayangi mertua.

    Sebelum menikah, perhatikan juga hal-hal syariat antara anda dengan calon suami. Selama belum menikah, banyak hal-hal yang dapat menjadi dosa dan mengurangi keberkatan pada keluarga anda nanti, misalnya:
    – Bahaya pandang memandang antara laki-laki dan perempuan: http://www.kawansejati.org/101-bahaya-pandang-memandang
    – Berduaan dengan calon suami tanpa ditemani mahrom: http://www.kawansejati.org/103-adab-adab-wanita-yang-dipinang
    – Menutup aurat
    – Membatasi percakapan antara laki-laki dan perempuan
    – dan lain sebagainya

  • admin
    12/08/2013 - 15:32 | Permalink

    Anda sebagai suami berhak mengajak istri untuk tinggal di manapun yang anda suka, apalagi kalau kepindahan anda ini ada kaitan dengan menjalankan syariat tertentu.

    Bagi anda sebagai anak laki-laki, dari sisi syariat ada kewajiban untuk mengurus orangtua anda, sedangkan istri anda wajib ikut perintah anda, jadi sebenarnya kalau istri mau dibawa ke manapun boleh-boleh saja.

    Namun demikian kalau ada kekuatiran dari pihak mertua anda, tentu saja hal ini perlu dijaga juga, walaupun tidak sampai wajib bagi anda, namun ini merupakan akhlak mulia yang insya Allah akan dinilai nanti di akhirat.

  • admin
    12/08/2013 - 07:10 | Permalink

    Wa alaikum salam

    Dalam suatu keluarga, suami adalah pemimpin, sedangkan anak dan istri adalah pengikut. Di akhirat seorang suami akan ditanya apa yang sudah dilakukannya untuk memimpin anak istrinya, sedangkan sang istri hanya akan ditanya apakah dia taat pada suaminya atau tidak. Dalam konteks ayat ini, suami perlu tahu urusan-urusan istri yang menentukan urusan akhirat sang istri, sedangkan istri tidak perlu mengetahui urusan suami.

    Jika suami ingin membagi urusannya dengan sang istri, boleh-boleh saja, namun jika suaminya tidak ingin istrinya tahu, sang istri sebaiknya tidak memaksa untuk tahu.

    Referensi:
    #1 At Tahriim:6:
    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”
    http://www.kawansejati.org/alquran-digital/s066a006.htm

    #2 An Nisaa:34
    ” Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),”
    http://www.kawansejati.org/alquran-digital/s004a034.htm

  • Anonymous
    10/08/2013 - 22:32 | Permalink

    Assalamu’alaikum.. saya mau tanya apakah seorang istri boleh mengetahui urusan suaminya?? sedangkan suaminya tidak ingin memberitahunya
    tolong sertakan dalil atau hadist
    syukron

  • jenal arifin
    28/08/2013 - 19:54 | Permalink

    assalamualakum ustadz…saya mo tanya tentang seorang istri yang cuek pada suami,hingga suaminya tidak merasa bahagia..!!,,,bagaimana cara mengatasi maslahnya..??…trimaksih

  • Seseorang
    05/09/2013 - 04:17 | Permalink

    Bertengkar gara-gara Ibu mertua

    Assalamualaikum ustadz,,

    Saya menikah baru 4 bulan, alhamdulilah istri sudah mengandung 1 bulanan.
    Kami tinggal sendiri ngontrak dikota lain pisah degn ortu dan masing-masing
    kami sudah bekerja. Sebulan yang lalu saat kami pulang kampung kerumah ortu
    saya, istri sempat cekcok kecil dengan ibu saya karena ibu terlalu
    mencampuri urusan pekerjaan istri. Sejak saat itu dia (istri saya) sangat membenci ibu saya terlebih saat saya dianggapnya lebih membela ibu saya, padahal saya berusaha bersikap netral dan tidak mau dianggap menentang Ibu takut durhaka.

    Sampai sekarang dia sllu mengungkit2 masalah tersebut dan setiap kali saya nasehatin dengan lembut sellu emosi, tidak terima dan mengancam pisah dari saya. Berkali kali saya minta maaf dan berusaha meluluhkan hatinya tapi besok dan besoknya lagi sellu dibahas bahkan mengungkit2 masalah lain seperti keuangan keluarga,gaji saya yg tidak cukup dsb, dan cendrung mengolok-ngolok ibu saya dan saya sendiri dianggap tidak pantas jadi kepala
    rumah tangga dan ujung-ujungnya minta pisah.

    Saya harus bagaimana Ustadz? apalagi istri saya sudah kebal nasehat saya dan seakan-akan tertutup hatinya dan sangat membenci saya dan Ibu saya.

  • admin
    05/09/2013 - 04:26 | Permalink

    Dalam menempuh hidup baru, pasangan suami istri yang masih baru pasti banyak hal-hal yang harus disesuaikan. Mungkin ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan perkiraan sebelum menikah, dalam hal ini istri belum dapat menerima keadaan mertuanya.

    Antara suami dan istri pun yang baru menikah, mungkin juga ada beberapa hal yang masih perlu penyesuaian.

    Ditambah lagi dengan kondisi istri yang baru hamil, kadang-kadang kehamilan ini dapat mempengaruhi kondisi batin seorang istri.

    Saran saya:
    – Tanggung jawab suami adalah mendidik istrinya. Mendidik dapat dengan kata-kata, namun biasanya lebih efektif dengan perbuatan tanpa banyak berkata-kata
    – Bersabarlah, tunjukkan saja kasih sayang anda kepada istri. Moga-moga nanti hati istri dapat luluh juga.
    – Banyak mendoakan istri
    – Perbaiki ibadah anda. Shalat di awal waktu.

  • admin
    05/09/2013 - 04:30 | Permalink

    Kalau dari sisi syariatnya
    – memang seharusnya istri minta izin dulu jika ada urusan dengan pria lain
    – hasrat suami wajib didahulukan di atas kepentingan lain.

    Coba istri diajak bicara baik-baik, apakah dia sudah paham tentang kewajiban-kewajibannya sebagai istri.

    Seharusnya suami & istri yang menikah sudah paham hak & kewajiban masing-masing, jadi ketika timbul masalah mudah saja merujuk kepada aturan yang ada. Namun di zaman sekarang ini kebanyakan tidak paham, sehingga masalah-masalah tidak diselesaikan menurut aturan Islam. Mengubah keadaan ini tentu memerlukan kesabaran ekstra. Banyak-banyaklah bersabar, insya Allah kesabaran anda akan diberi ganjaran yang sesuai.

  • admin
    05/09/2013 - 04:39 | Permalink

    Perhatian istri kepada suaminya secara garis besar dapat karena dua hal:
    – karena faktor dunia, misalkan karena fisik suaminya, harta, kedudukan, dan sebagainya
    – karena faktor akhirat, yaitu istri yang melayani suaminya sebagai bentuk ibadah kepada Allah, dan karena ingin melaksanakan teladan dari Rasulullah.

    Perhatian karena faktor dunia mudah berubah, karena fisik suami berubah, ataupun karena masalah kebosanan. Perhatian karena faktor akhirat lebih kuat bertahan.

    Jadikanlah kehidupan berkeluarga atas dasar akhirat, supaya kasih sayang suami istri akan kekal sampai nanti di akhirat, bukan hanya sementara.

  • Barkah
    30/08/2013 - 17:39 | Permalink

    Assalamu ‘alaikum wr wb.
    Pak ustadz mohon bimbingannya.

    1. Ada kejadian istri sy menerima tamu teman masa SD, laki & perempuan pd jam 21 s/d 24.00 utk rapat reuni tanpa izin suami yg waktu itu ada dirumah. Memang saat itu kami berada di rumah kk ipar (mertua tinggal serumah dgn kk ipar itu) saat berlebaran.

    Sy merasa tidak suka dgn hal itu. Apakah cukup alasan istri sy tidak minta izin karena terlajur lihat roman muka sy yg marah, dan tidak perlu bubar pada jam yang pantas karena sudah tidak ada waktu lagi untuk persiapan reuni.

    2. Kejadian lain, istri membandingkan kalo sy sebagai suami tidak izin dan tidak perhatian dgn perasaannya istri (tidak suka) saat sy terima tamu pria dirumah sendiri (dalam urusan bisnis) misal dari jam 22.00 s/d jam 02.00.

    Teman sy sudah saya izinkan bertamu dengan sy sampai urusan selesai.
    Sedangkan istri saya tetap tidak terima begitu apalagi tidak minta izin dia.

    3. Terakhir pak.
    Malam hari jam 23.00 saya masuk kamar sudah gairah. Istri malah asik chating dengan teman-temannya. SAmpai pada akhir teman (pria) chat itu telephon, diterima istri saya tanpa izin lebih dulu. Sepontan sy marah dengan cara pindah tidur.

    Ternyata detil sebabnya itu, istri saya telah telepon konfrensi bersama-sama 4 orang (1 pria). Ada seorang ibu yg anaknya semacam kesurupan dan ada paramedis.

    Saya maklumi bila begitu kejadiannya.
    Tapi sebelum dijelaskan, pagi hari sy pasang setatus FB tanpa menyebut nama, mencaci dgn dengan sebutanan (maaf) “semprul” dan “kayak binatang” gak tau sopan.

    Maaf saya cerita agak detil pak ustadz, dengan maksud dapat nasihat untuk saya dan istri saya secara jelas bpk melihatnya.

    Wassalam …

  • zoomalee
    08/03/2014 - 02:19 | Permalink

    Assalamualikum Ustad,,

    Saya pernah meminjam uang dari tabungan istri untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami yang memang masih belum genap 1 tahun dikarenakan penghasilan saya yang kurang.

    Awalnya istri ikhlas tabungannya dipinjam, namun seiring perjalanan rumah tangga terlebih saat kita konflik dia selalu mengungkit uang pnijaman tsb dan semua pemberian serta pengorbanannya selama ini serta kerap kali menagihnya,walau saya belum punya uang.

    Lantas saya harus bagaimana Ustad?
    Terima kasih.

  • jamin
    11/02/2014 - 00:41 | Permalink

    Assalamualaikum wr wb ustad.
    Rumah tangga kami sudah di ujung tanduk dgn masalah yg tidak pernah terselesaikan. Namun saya masih ingin memperdalam ilmu sebagai seorang istri solehah dan bagaimana cara menjalaninya dalam sudut pandang islam.
    Sudah menjadi karakter suami yg saya kenal sejak awal adalah orang yg tidak dapat berlaku lembut dan menunjukan kasih sayang dalam mendidik saya dalam urusan dunia dan seringkali melupakan bbrp ajaran dalam islam karena terbawa faktor didikan (contoh: marah apabila saya tidak ridho mengeluarkan sebagian dari harta warisan saya untuk kepentingan keluarga dan pribadinya sendiri-alasan saya-menjaga untuk masa depan anak2 kelak atau bila terjadi kemalangan). Saya sudah mencoba komunikasi dengan suami dari cara yg paling lembut sampai ke titik saya berlaku khilaf karena terlalu keras menuntut dan melakukan perlawanan. Pada saat saya sadar tdk bisa membuat suami memberikan kebutuhan batin saya, saya membiarkan apa adanya dgn mengisi hari2 saya dengan kesibukan yg positif. Namun lepas dari itu meskipun saya tetap melakukan kewajiban saya sebagai istri seringkali tanpa sadar saya berubah menjadi pribadi yg dingin dan hambar mengakibatkan suami melakukan perselingkuhan. Saat ini kami berdua masih mencoba bertahan dan saling memperbaiki diri. Namun saya kembali tidak mampu merendahkan hati krn sikap suami yg tak kunjung bersikap lebih lembut dan sabar. Saya ingin mengabdi dan menjadi istri yg sholehah. Saya ingin patuh dan diajarkan dgn contoh yg lebih lembut, serta keinginan saya utk belajar lebih dekat dengan ilahi tdk ditanamkan oleh suami sehingga kadang saya jadi ikut terbawa lalai. Haruskah saya bertahan walau itu perang dengan batin saya yg menginginkan suami menjadi imam dunia akhirat? Dalam islam apa yg harus saya lakukan? Bagaimana saya bs tetap menjadi wanita seutuhnya buat suami… Saya sangat takut suami kembali melakukan perselingkuhan atas ketidakmampuan saya ini.

  • NN
    14/02/2014 - 16:35 | Permalink

    Assalamu’alaikum ustad,

    Saya ingin bertanya apa salah jika saya keberatan apabila adik ipar saya ikut tinggal di rumah kontrakan kami yang sempit, padahal adik ipar tersebut sudah bersuami, dia dititipkan sama suaminya untuk tinggal bersama kami karena cek cok dengan mertuanya. Suami minta saya untuk bisa menerimanya, menyediakan semua keperluannya sampai uang jajannya setiap hari, bukankah itu bukan merupakan tanggung jawab suami saya selaku kakaknya? Kondisi saya sekarang sedang hamil dan butuh ketenangan, rasanya risih kalau ada orang lain di rumah kami yang cuma petakan dan tidak ada pintu tertutupnya.

    Awal-awal saya bisa menerima, tapi lama-kelamaan saya jenuh, apalagi saya juga bekerja, sementara adik suami tidak bekerja dan hanya diam saja di rumah.

    Mohon sarannya,terimakasih

    Wassalamu’alaikum

  • Ina
    23/10/2013 - 15:40 | Permalink

    Pak, saya seorang istri yang bekerja. Suami saya juga bekerja. Gaji suami saya stiap awal bulan sudah dibagi-bagi untuk cicilan ini itu sehingga pada tengah bulan sudah sekarat. Karena itulah saya juga memberikan gaji saya untuk keperluan keluarga. Namun saya sering memberikan masukan kepada suami agar salah satu cicilannya di cut (dengan cara dijual hartanya) agar keuangan tidak seseret sekarang kalau tengah-akhir bulan. Namun suami masih keberatan untuk hal itu.
    Kan kewajiban suami itu menafkahi. Kalau gajinya sebagian lebih untuk cicilan akhirnya kan nafkahnya kurang. Apalagi kalau keluarga suami minta uang untuk keperluan mereka (mertua dan adik ipar), kalau sudah tidak ada uang lagi, akhirnya minta kepada saya. Bukankah itu bukan kewajiban istri? (ataukah jika suami minta, istri wajib ngasih?)
    Bagaimana menurut pak ustadz?
    Terimakasih jawabannya.

  • admin
    30/10/2013 - 14:25 | Permalink

    Yth Ibu Ina,

    Dalam syariat Islam kewajiban menafkahi keluarga ada pada suami, istri tidak wajib menafkahi keluarga.

    Kalau ibu bekerja, kemudian ibu redho penghasilan ibu dipakai untuk keperluan keluarga juga itu baik.

  • Leave a Reply

    Powered by: Wordpress