Artikel Keluarga

Kewajiban Suami Terhadap Istri

Suami Wajib Menjaga Istrinya

Kewajiban paling besar dari seorang suami terhadap istrinya adalah menjaga istrinya agar selamat dari api neraka. Berikut ini ayat Al Quran terkait dan beberapa penjelasan dari hadis yang terkait.

  1. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    ‘Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.” (At Tahrim : 6)
  2. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    Perintahkanlah keluargamu agar melakukan sholat.” (Thaha:132)

Berikut ini beberapa hadis yang menyatakan kewajiban suami menjaga istrinya:

  1. Dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaih )
  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”
  4. Rasulullah S.A.W bersabda, yang artinya: “Pertama kali perkara yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang di hari kiamat adalah keluarganya (yakni isteri) dan anak-anaknya. Mereka berkata, wahai Tuhan kami, ambillah hak-hak kami (tanggung jawab) kami dari orang ini, karena sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami tentang urusan agama kami. Ia memberi makan kepada kami berupa makanan dari hasil yang haram, dan kami tidak mengetahui. Maka orang itu dihantam (disiksa) lantaran mencari barang yang haram, sehingga terkelupas dagingnya, kemudian dibawa ke neraka. (Al Hadits).

Berikut ini atsar sahabat mengenai penjagaan suami kepada istri:

  1. Ibnu Abbas berkata:
    Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.

Dari uraian ayat dan hadis di atas nampak bahwa seorang suami yang gagal mendidik istri dan anak-anaknya akan mendapat masalah besar di akhirat kelak.

Kewajiban Suami Secara Umum

Berikut ini beberapa nas dari Al Quran dan Hadis mengenai kewajiban suami secara umum kepada istrinya.

  1. Allah Taala berfirman, yang bermaksud:
    “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
  2. Dan Allah berfirman lagi:
    ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang baik akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan atas isterinya.” (Al Baqarah : 228)

Berikut ini beberapa nas dari Hadis mengenai kewajiban suami secara umum kepada istrinya.

  1. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda pada waktu haji wida’ (perpisahan) setelah baginda memuji Allah dan menyanjung-Nya serta menasehati para hadirin yang maksudnya sebagai berikut:
    ‘Ingatlah (hai kaumku), terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para isteri, isteri-isteri itu hanyalah dapat diumpamakan tawanan yang berada di sampingmu, kamu tidak dapat memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau isteri-isteri itu melakukan perbuatan yang keji yang jelas (membangkang atau tidak taat) maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau isteri-isteri itu taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka.
    Ingatlah! Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isterimu dan sesungguhnya isteri-isterimu itu mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap dirimu. Kemudian kewajiban isteri-isteri terhadap dirimu ialah mereka tidak boleh mengijinkan masuk ke rumahmu orang yang kamu benci. Ingatlah! Kewajiban terhadap mereka ialah bahwa kamu melayani mereka dengan baik dalam soal pakaian dan makanan mereka.

    (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)
  2. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
    “Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh memperolokkan dia dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang).” (Riwayat Abu Daud)
  3. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja seorang laki-laki yang menikahi perempuan dengan mas kawin sedikit atau banyak sedangkan dalam hatinya ia berniat untuk tidak memberikan hak perempuan tersebut (mas kawinnya) kepadanya. maka ia telah menipunya, kemudian jika ia meninggal dunia, sedang ia belum memberi hak perempuan tadi kepadanya maka ia akan menjumpai Allah pada hari Kiamat nanti dalam keadaan berzina.”
  4. Nabi SAW bersabda yang bermaksud
    “Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang baik budi pekertinya dan mereka yang lebih halus dalam mempergauli keluarganya (isteri anak-anak dan kaum kerabatnya). “
  5. Nabi SAW bersabda yang bermaksud :
    “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku.” (Riwayat lbnu Asakir)
  6. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud:
    “Barang siapa yang sabar atas budi pekerti isterinya yang buruk, maka Allah memberinya pahala sama dengan pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.s karena sabar atas cobaan-Nya. Dan seorang isteri yang sabar atas budi pekerti suaminya yang buruk akan diberi oleh Allah pahala sama dengan pahala Asiyah isteri Firaun
    Catatan: cobaan ke atas Nabi Ayub ada empat hal: habis harta bendanya, meninggal dunia semua anaknya, hancur badannya, dijauhi oleh manusia kecuali isterinya benama Rahmah.
  7. Rasulullah S.A.W mengingatkan agar para suami memberi nasihat-nasihat pada istrinya:
    ROHIMALLAHU ROJULAN QOOLA YAA AHLAAHU SHOLAA TAKUM SHIYAA MAKUM DZAKAA TAKUM MISKIINAKUM YATIIMAKUM JIIROONAKUM LA’ALLAKUM MA’AHUM FIL JANNATI.
    Artinya: “Mudah-mudahan Allah merahmati seorang suami yang mengingatkan isterinya, ‘Hai istriku, jagalah shalatmu, puasamu, zakatmu, kasihanilah orang-orang miskin di antaramu, para tetanggamu, mudah-mudahan Allah mengumpulkan kamu bersama mereka di surga”

Berikut ini rangkuman nasihat ulama:

  • Al Habib Abdullah Al Haddad berkata:
    “Seorang laki-laki yang sempurna adalah dia yang mempermudah dalam kewajiban-kewajiban kepadanya dan tidak mempermudah dalam kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Dan seorang laki-laki yang kurang ialah dia yang bersifat sebaliknya.”
    Maksud dan penjelasan ini ialah seorang suami yang bersikap sudi memaafkan jika isterinya tidak menghias dirinya dan tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi ia bersikap tegas jika isterinya tidak melakukan sholat atau puasa dan lain-lain, itulah suami yang sempurna. Dan seorang suami yang bersikap keras jika isterinya tidak menghias dirinya atau tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi bersikap acuh tak acuh (dingin) jika isteri meninggalkan kewajiban-kewajiban kepada Allah seperti sholat, puasa dan lain-lain, dia seorang suami yang kurang.
  • Dianjurkan bagi seorang suami memperhatikan isterinya (dan mengingatkannya dengan nada yang lembut/halus) dan menafkahinya sesuai kemampuannya dan berlaku tabah (jika disakiti oleh isterinya) dan bersikap halus kepadanya dan mengarahkannya ke jalan yang baik dan mengajarnya hukum-hukum agama yang perlu diketahui olehnya seperti bersuci, haid dan ibadah-ibadah yang wajib atau yang sunat.

Nasihat Sayyidina Umar bin Khattab

Berikut ini suatu kisah mengenai seseorang yang bermaksud menghadap Umar Bin Khattab hendak mengadukan perihal perangai buruk istrinya.

Sampai ke rumah yang dituju orang itu menanti Umar r.a. di depan pintu. Saat itu ia mendengar istri Umar mengomel kepada Umar r.a., sementara Umar sendiri hanya berdiam diri saja tanpa bereaksi. Orang itu bermaksud balik kembali sambil melangkahkan kaki seraya bergumam: ”Kalau keadaan amirul mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku“.

Bersamaan itu Umar keluar, ketika melihat orang itu hendak kembali. Umar memanggilnya, katanya : “Ada keperluan penting?“. Ia menjawab : ”Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak mengadukan perihal istriku lantaran sering memarahiku. Tetapi begitu aku mendengar istrimu sendiri berbuat serupa, maka aku bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata: kalau keadaan amirul muikminin saja diperlakukan istrinya seperti itu, bagaimana halnya dengan diriku.”

Umar berkata kepadanya: “Saudara, sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari istriku karena adanya beberapa hal yang ada padanya. Istriku bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencucikan pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku, padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tentram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu aku menerimanya sekalipun dimarahi“.

Kata orang itu : “Amirul mukminin, demikian pulakah terhadap istriku?”. Jawab Umar “Ya, terimalah marahnya. Karena yang dilakukan istrimu tidak akan lama, hanya sebentar saja“.

KESIMPULAN TANGGUNG JAWAB SUAMI

  1. Menjadi pemimpin anak isteri di dalam rumah tangga.
  2. Mengajarkan ilmu fardhu ‘ain (kewajiban pribadi) kepada anak isteri yaitu ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf.
    Ilmu tauhid diajarkan supaya aqidahnya sesuai dengan aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah.
    Ilmu fiqih diajarkan supaya segala ibadahnya sesuai dengan kehendak agama.
    Ilmu tasawuf diajarkan supaya mereka ikhlas dalam beramal dan dapat menjaga segala amalannya daripada dirusakkan oleh rasa riya’ (pamer), bangga, menunjuk-nunjuk orang lain dan lain-lain. Ringkasan kewajiban pribadi seorang muslim dapat dibaca di artikel Cahaya Akhir Zaman: Kewajiban Pribadi Utama Seorang Muslim.
  3. Memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal.
    Ada ulama berkata:
    Sekali memberi pakaian anak isteri yang menyukakan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama 70 tahun.
  4. Menghindari perbuatan zalim kepada anak isteri yaitu dengan cara:
    • Memberikan pendidikan agama yang sempurna. Jika ilmu agama tidak dari anak/istri ada yang tidak lengkap, maka hal ini termasuk zalim.
    • Memberikan nafkah lahir dan batin secukupnya.
    • Memberi nasihat serta menegur dan memberi panduan/ petunjuk jika melakukan maksiat atau kesalahan.
    • Apabila memukul jangan sampai melukai (melampaui batas).
  5. Memberi nasihat jika isteri gemar bergunjing/bergosip, mengomel serta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah agama.
  6. Melayani isteri dengan sebaik-baik pergaulan.
  7. Berbicara dengan isteri dengan lemah-lembut.
  8. Memaafkan keterlanjurannya tetapi sangat memperhatikan kesesuaian tingkah lakunya dengan syariat.
  9. Kurangkan perdebatan dengan istri.
  10. Memelihara harga diri / kehormatan istri.

Catatan

Seorang suami wajib menafkahi anak istrinya, namun juga mempunyai kewajiban menafkahi keluarga dekatnya. Detailnya ada di artikel Kewajiban Menafkahi Keluarga

Referensi

  • Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini karangan Imam Nawawi al Bantani

443 Comments

1 2 3 7
  • tyas
    14/06/2009 - 08:16 | Permalink

    alhamdulillah,,akhir nya aku menemukan artikel ini….

    sulit sekali menjelasakan kepada sebagian kaum lelaki. bahwa memberi makan ataw bahasa lainya memasak itu hukum asalnya ialah kewajiban suami.

    “Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh memperolokkan dia dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang).” (Riwayat Abu Daud)

    tentang bagaimana caranya makanan terhidang, itukan tergantung komunikasi yang baik antara keduanya. jika isri yang memasak maka itu adalah sodaqohny aistri untuk keluarga itu.

    terimakasih

  • Anonymous
    08/02/2011 - 06:58 | Permalink

    berdasarkan hadist tersebut jika diartikan seperti kawan diatas maka membuat/menjahitkan pakaian istri dan anak2 nya juga adalah kewajiban suami, begitu?

  • Anonymous
    10/02/2011 - 09:35 | Permalink

    Ya emang betul…tapi ingat juga…kewajiban isteri taat kpd suami, kl suami meminta isteri memasak ya harus dipatuhi dong?ya jelas dalam kehidupan berumah tangga saling tolong menolong

  • admin
    10/02/2011 - 12:26 | Permalink

    Hadis & ayat mengenai tanggung jawab suami & istri banyak. Kalau hanya diambil sepotong-sepotong ya jadi susah.

    Sebenarnya kewajiban suami yang paling besar itu bukan sekedar menyediakan makan minum, namun adalah menyelamatkan keluarganya dari api neraka

  • admin
    10/02/2011 - 12:44 | Permalink

    Beberapa ulama yang saya tahu, mereka pandai masak 🙂

  • bagus septivianto
    07/06/2011 - 11:16 | Permalink

    menurut anda, jk pria menikah d usia muda, mampukah dia menjd seorg imam dikeluarganya?

  • admin
    07/06/2011 - 16:04 | Permalink

    Tak ada masalah, tentunya jika bekal pendidikan dan penghayatan agama pria tersebut sudah mencukupi.

  • Anonymous
    22/06/2011 - 00:05 | Permalink

    Assalamu’alaikum..Kami adalah pasangan yg sedang mendalami Islam..suami sy seorang mualaf tp sdh sejak kecil.waktu awal menikah kami rajin sholat berjamaah tp sekarang dia sangat sulit diajak sholat..jd ia sholat sekali seminggu..sholat jumat.apakah saya sbg istri jg punya kewajiban sampai suami sy mau melaksanakan sholat?sy merasa sangat berdosa bila gagal mengajaknya sholat..sementara sdh berbagai cara sy lakukan dr cara yg halus smp sedikit memaksa..sbg istri sy jg ingin dibimbing dan diarahkan ke arah kebaikan.mohon bantuannya..terimakasih.Wassalam

  • Anonymous
    29/03/2011 - 14:33 | Permalink

    Alhamdulillah saya senang sekali menemukan artikel ini. saya punya istri, jika di suruh kearah kebaikan sangat sulit sekali karena kebiasaan dan gaya hidupnya. dengan artikel ini saya bisa menjawab pertnyaan istri, yang mengatakan bahwa seolah-olah saya mengekangnya.
    Rosululloh bersabda: Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri, karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya
    Namun, saya masih kesulitan mengaplikasikan pada kehidupan sehari-hari… setiap kali istri diajak shalat tepat waktu, silaturahmi dll sangat sulit sekali kadang kami berantem gara-gara rasa malas yang ada pada istri.mohon share kalo ada yang bisa menginformasikannya…

    wasalam

  • admin
    30/03/2011 - 12:32 | Permalink

    Banyak-banyak berdoa & memberi contoh. Kekuasaan manusia terbatas, namun kuasa Allah maha hebat.

    Perbaiki diri supaya doa kita mudah dikabulkan. Perbaiki fardhu ain aqidah, syariat maupun tasawuf http://kawansejati.ee.itb.ac.id/ilmu-fardhu-ain

  • Anonymous
    01/04/2011 - 08:00 | Permalink

    ini adalah istri istri yang belum bisa masak

  • any
    06/09/2011 - 11:15 | Permalink

    yang dimaksud dalam hal ini memberikan makan adalah memberi uang untuk belanja bukan memasak u istri n anak2nya. sedang memasak adalah kewajiban istri kecuali bila suami dengan sukarela mau membantu memasak

  • Anonymous
    22/11/2011 - 16:38 | Permalink

    “Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.”
    Dan Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab at,is rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttallaq ‘alai )

    maksudnya Muttallaq ‘alai apa yaaaaa……????? atau maksudnya muttafaqun ‘Alaih

  • admin
    22/11/2011 - 21:26 | Permalink

    terimakasih atas saran perbaikannya

  • Ahmad bustomy
    19/12/2011 - 22:17 | Permalink

    Sebenarnya itu ibadah kpd Allah dg cara menjahit/memperbaiki pakaian istri dn anaknya.

  • vta
    03/01/2012 - 23:13 | Permalink

    subhanallah

  • admin
    09/01/2012 - 16:56 | Permalink

    Ada istilah khusus untuk laki-laki yang membiarkan pergaulan istrinya, yaitu ‘dayus’. Penjelasannya: http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2012/01/laki-laki-dayus.html

  • Anonymous
    22/01/2012 - 22:50 | Permalink

    Trmasuk mencuci cd n kutang istri y bang….. ?hahahaha……

  • Anonymous
    31/01/2012 - 08:51 | Permalink

    mungkin yg dimaksud dgn hadits diatas dengan “suami harus memberi makan” adalah suami memberi nafkah kepada istrinya bukan berarti suami harus memasak sendiri makanan untuk istri, kewajiban suami adalah memberi nafkah lahir batin kepada istrinya, dan nafkah lahir adalah apabila suami makan maka sudah seharusnya dia juga memberi makan istri nya, dan jika suami berpakaian sudah seharusnya dia juga memberi pakaian kepada istri nya, jangan sampai disalah artikan lagi bahwa suami harus menjahitkan sendiri pakaian untuk istrinya…

  • Anonymous
    13/02/2012 - 08:04 | Permalink

    suami saya tidak mau memberi saya uang , padahal saya sudah melakukan kewajina saya sebagai istri . dan saya hanya bisa diam . memang saya bekerja , tapi ada tidak hukumnya buat suami seperti itu .

  • Maharani
    09/03/2012 - 11:24 | Permalink

    Apakah seorang suami masih wajib memberi nafkah orang tua dikala istrinya tdk mendapatkan nafkah darinya dikarenakan istri bekerja, malahan sebagian dari kebutuhan suaminya ditanggung oleh istrinya. bagaimana cara menyikapi hal ini?

  • cuarsih
    15/03/2012 - 13:16 | Permalink

    Jika suami meminta istrinya untuk menikah lagi padahal dia belum bisa menafkahi lahir batinnya istrinya dengan benar dengan ibadah apakah dibenarkan?.dan bila istrinya menolak untuk dimadu apakah salah..?

  • waskita
    18/03/2012 - 11:23 | Permalink

    Sebenarnya dalam agama Islam seorang suami yang mau menikah lagi tidak perlu meminta izin kepada istri pertama, karena pernikahan itu 100% tanggung jawab sang suami. Kalau suami minta izin, kesannya istri pertama ikut bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu.

    Tanggung jawab seorang suami sangat berat dalam bidang rohaniah/batin, terutama adalah mengajak keluarganya untuk benar-benar beriman kepada Allah. Untuk dapat mengetahui apakah seorang suami sudah mampu mendidik keluarganya diperlukan guru rohani / guru mursyid.

    Untuk prakteknya dapat melihat contoh poligami yang dilakukan di jemaah Global Ikhwan. Buku tersebut (“Panduan Wanita Solehah”) ilmunya berasal dari pemimpin jemaah Global Ikhwan yaitu Abuya Ashaari At Tamimi. Salah satu aktivitas mempopulerkan poligami yaitu melalui kegiatan “Klub Poligami” dan dilanjutkan dengan “Klub Istri Taat Suami”.

  • admin
    18/03/2012 - 14:21 | Permalink

    Seorang suami wajib menafkahi istrinya dan orang tuanya, manakala seorang istri tidak berkewajiban memberi nafkan ke suaminya. Namun demikian jika seorang istri ingin meringankan beban keluarga, ini pun mubah jika suaminya mengizinkan dan redho dengan hal itu. Jika sang istri melakukannya dengan niat ibadah ini pun Allah pasti akan perhitungkan.

  • Anonymous
    19/03/2012 - 11:27 | Permalink

    Assalamu’alaikum..

    Mohon ijin untuk meng-copy artikel nya ya Admin.
    Alhamdulillah saya menemukan artikel ini.

    Dan sekalian membantu saya untuk menjadi istri sholehah. Amin.

  • Ach Fauzan
    30/03/2012 - 19:59 | Permalink

    Assalamualaikum Warahmatullahi wabarkatuh..
    Bismillahirrohmanirrohim…
    1. Bagaimana hukumnya jika seorang suami meninggalkan istrinya karena berdakwah hingga berminggu2.?
    2. Dan Kalau Keluar Berdakwah selama berminggu2 kan otomatis nafkah batinnya tidak terpenuhi, bagaimana hukumnya.?
    Mohon penjelasannya dan pengambilan referensinya Darimana…!!
    Terimakasih sebelumnya..
    Wassalam….

  • Tanya
    30/03/2012 - 22:08 | Permalink

    Tlng tunjukkan Surat & hadist yg menunjukkan mengapa seorang anak sudah tdk menjadi kewajiban orang tuanya melainkan kewajiban dari suaminya ketika sudah menjadi istri?
    jika seorang suami memberikan nafkah pada istri dan kemudian marah pada istri karena nafah yang diberikan habis, dan suami menolak penjelasan dan catatan pengeluaran yang dibuat istri, bagaimanakah jalan keluarnya? karena ini menjadi pemicu pertengkaran dan membuat suami ingin berpisah dari istrinya… Si istri menjadi merasa sang suami tdk rela menafkahinya, sehingga ketika menggunakan uang pemberian suami dg perasaan cemas dan takut.
    Trimakasih atas jawabannya..

  • admin
    31/03/2012 - 07:16 | Permalink

    Kita tentu sudah maklum bahwa para Sahabat Nabi di zaman dulu biasa pergi berbulan-bulan untuk keperluan perjuangan Islam. Kisahnya bisa dibaca di buku-buku tentang kisah hidup para sahabat. Rasulullah tidak melarang hal tersebut, sehingga kejadian ini dapat dijadikan dalil untuk seorang suami yang mesti pergi berdakwah hingga berminggu-minggu.

    Namun demikian perlu diperhatikan juga beberapa hal yang perlu diperhatikan:

    • para sahabat memiliki seorang pemimpin yaitu Rasulullah yang digantikan oleh para khalifah setelah itu. Dengan adanya pemimpin, artinya ada yang dapat memberikan penilaian apakah seorang suami sudah dapat pergi berdakwah meninggalkan istrinya. Jika ada yang tidak sanggup, pasti Rasulullah tidak akan izinkan.
    • para sahabat adalah orang-orang yang sangat terdidik, mereka sebagai suami istri sudah mengalami didikan dari Rasulullah sehingga mempunyai keimanan yang teguh. Dengan demikian para istri di zaman itu kuat-kuat keimanannya. Bagi suami yang mau pergi dakwah, pastikan dulu bahwa istri juga sudah terdidik, memahami tanggung jawab suaminya, dan kalau ditinggal tidak akan menjadi masalah.
    • pada zaman sahabat, ada jemaah yang mengurus keperluan istri-istri dan anak-anak yang ditinggal di rumah, sehingga secara lahiriah tidak kekurangan. Jadi para suami mesti memastikan bahwa istri yang ditinggal pergi akan ada yang mengurus kebutuhan lahirnya.
    • Sayyidina Umar dalam suatu kesempatan pernah membatasi suami berjihad maksimal 6 bulan di garis depan, setelah itu mesti pulang menemui istrinya. Artinya pada waktu itu pemimpin umat Islam mengukur bahwa para istri di zaman itu dapat berpisah 6 bulan. Nah kalau zaman sekarang silakan saja dibandingkan, apakah bisa lebih pendek atau lebih panjang dari 6 bulan.
    • kalau ternyata istri belum bisa ditinggal pergi, berarti suami musti membereskan dulu isi keluarganya sebelum sibuk berdakwah ke sana ke mari.
  • ikhwan
    21/05/2012 - 13:18 | Permalink

    assalamualaikum. saya suami peroko,setiap kali saya meroko istri saya marah2! tp sy msh tetap merokok. apa saya dosa jika saya tidak berhenti merokok, dan istri saya bilang dia tidak bahagia selama saya meroko. apa saya tidak memberikan kepuasan bathin dalam artian kebahagiaan karena saya merokok itu dosa? mohon penjelasannya. terima kasih.

  • Anonymous
    07/06/2012 - 12:57 | Permalink

    saya punya istri, istri saya kerja, dan sering memberikan nafkah kepada orang tuanya, dengan gajinya, namun ketika saya ingin memberikan uang kepada ibu saya dia selalu marah, ujung-ujungnya selalu menghina ibu saya, selalu menjelek-jelekan ibu saya, padahal ibu saya jarang sekali meminta uang kepada saya, kecuali ada hal mendesak, tolong minta saran dan nasehatnya, terima kasih

  • Anonymous
    07/06/2012 - 13:19 | Permalink

    Aslmkm,saya seorang istri dan seorang ibu dari 2 orang anak,suami saya seorang yg sayang dgn keluarga,tp kadang2 mudah emosi dalam melayan kerenah anak. Kami tinggal menumpang di rumah adik suami saya. Suami saya juga seorang suri rumah sepenuh masa,suami saya gak bekerja,di suruh kerja mcm2 alasannya. Kadang2 saya malu dgn dengan keluarganya. Semua tanggung jawab suami,orang yg tanggung,sedangkan saja juga tidak bekerja. Tolong saya untuk menasehati suami saya,dan tolong saya untuk menahan sabar saya dari perilaku suami saya

  • admin
    09/06/2012 - 21:45 | Permalink

    Kewajiban utama seorang suami adalah mendidik istrinya agar istrinya kenal dengan Allah, dan sanggup melaksanakan semua perintah Allah baik lahir maupun batin. Untuk itu sang suami perlu meningkatkan dirinya agar aqidah, syariat dan batinnya sudah sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dari situ barulah suami dapat menjadi contoh teladan bagi istrinya di semua aspek kehidupan.

  • admin
    09/06/2012 - 21:48 | Permalink

    Merokok dalam pandangan Islam itu tergolong perbuatan makruh yang tidak disukai oleh Allah. Jika seseorang melaksanakan sesuatu yang tidak disukai oleh Allah, tentu saja sulit datang kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang datang sifatnya semu dan sementara. Usahakanlah habis-habisan untuk berhenti merokok agar Allah datangkan kebahagiaan yang sebenar-benarnya di dalam keluarga anda.

  • hamba Allah yang sedang Galau
    13/06/2012 - 02:33 | Permalink

    Assalamu’alaikum… saya pengen nanya..
    1. saya seorang suami, saat ini bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu institusi pemerintahan, usia perkawinan kami baru akan genap 1 tahun bulan juli 2012 besok, sampai saat ini saya tinggal di rumah kontrakan milik ibu saya (ada 3 pintu dan sampai saat ini masing2 sudah ada yg menyewa), dan kebetulan rumah ibu yang kami tempati tersebut bocor, sudah pernah kami panggil tukang untuk benerin atap tsb, akan tetapi mungkin karena kurangnya pengetahuan si tukang, rumah tersebut malah tambah parah bocornya.. Istri saya rupanya sudah habis sabarnya dan mengeluh atas bocornya itu, berkali2 saya meminta dia bersabar sampai uang tabungan cukup untuk manggil tukang lagi, bahkan sampai saya katakan,
    “Bunda ga perlu ngepel lantainya kalo bocor, biar ayah saja yang mengepel nanti setelah pulang kerja,” atau,
    “kita mengontrak saja di tempat lain,”
    tapi istri saya tidak mau dan ngotot menyuruh saya untuk minta ke ibu saya pindah dikontrakan ibu saya yang lain, jujur saya ga bisa seperti itu, saya hanya bilang,
    “Bunda, seharusnya kita bersyukur, saat ini kita sdh tidak perlu membayar kontrakan, ga mungkin ibu mengusir orang yg sudah membayar kontrakan, dan ga mungkin ayah meminta lebih dari itu kepada ibu, ayah malu, seharusnya ayah yang ‘memberi’ kepada ibu, bukan malah ‘meminta’ kepada ibu”,
    akan tetapi isti saya malah membentak, “usir aja yang ngontrak di rumah depan..! bilang ma ibu kita mau pindah kerumah depan!!”,
    dan akhirnya emosi saya terpancing dan membentak istri saya, “Bunda, seandainya ayah di perahu hanya bersama Ibu dan bunda, dan perahu tersebut tenggelam, dan ayah hanya ada pilihan untuk menyelamatkan satu orang saja, ayah akan memilih menyelamatkan Ibu, bukan bunda!, Istighfar Bunda, ga seharusnya bunda bilang seperti itu!!”, dan setelah mengatakan itupun saya juga langsung beristighfar dalam hati namun inti omongan saya tidak saya rubah karena saya merasa benar, sudah seharusnya anak berbakti kepada orang tua, namun saya sedih karena saya berbicara dengan cara membentak istri saya..
    yang jadi pertanyaan saya :
    a. apakah hukum dalam islam melarang saya mengatakan hal tersebut kepada istri saya(memilih ibu dibanding istri)setelah kata2 halus saya tidak mempan?
    b. Sejauh manakah tanggung jawab saya kepada ibu setelah saya menikah? (saya 5 bersaudara, cowok satu2nya di posisi tengah)
    2. dengan berbagai alasan (mau berobat, mau dagang dll) akhirnya Saya ijinkan istri saya tinggal bersama keluarganya di kampung (sudah 1bulan ini), sebelum pulkam, saya nasihati istri saya agar bisa menjaga nama baik saya dikeluarganya, seperti saya menjaga nama baiknya di keluarga saya, namun ternyata, istri saya tidak bisa menjaga nama baik saya, dia menjelek-jelekkan saya kepada ortunya, termasuk alasannya yang enggan untuk balik lagi kerumah karena rumah bocor dan tidak rela kalau saya lebih memilih ibu saya dibanding istri saya disebabkan perkataan saya yang di #1. walhasil saya pun dimaki-maki oleh ibu mertua saya, jujur saya malu mertua ngomelin saya, shingga saya jadi enggan untuk menjenguk istri saya dikampung, saya sudah mencoba berkomunikasi secara wajar kepada istri saya, (bahkan saya yang mengalah dan meminta maaf kepada ibu mertua dan juga istri saya, walaupun didalam hati saya belum terlalu ikhlas) namun komunikasi saat ini terasa hambar sekali, mungkin karena hilangnya kepercayaan saya kepada istri saya,
    pertanyaan saya :
    a. Sejauh manakah mertua berhak mengintervensi rumah tangga saya?
    b. bisakah dibenarkan tindakan istri saya (menjelek2an saya) walaupun kepada ortunya sendiri dan istri saya menganggap itu adalah curhat?
    c. apa yang seharusnya saya lalukan kepada istri dan mertua saya?
    d. Bisakah dibenarkan meminta maaf walaupun dihati kurang ikhlas?

  • admin
    14/06/2012 - 19:23 | Permalink

    Untuk diskusi lebih lanjut dapat mengontak admin di alamat berikut: http://kawansejati.org/contact

  • admin
    04/09/2012 - 10:48 | Permalink

    Seorang istri wajib mematuhi suaminya selama hubungan pernikahan tersebut sah. Seorang suami yang meninggalkan shalat tentu saja suatu perbuatan dosa, namun tidak menggugurkan kewajiban sang istri untuk taat pada suaminya.

    Bagi seorang istri untuk dapat masuk surga sebenarnya lebih sederhana daripada laki-laki, seperti hadis berikut: “Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki.”

    Jadi selama seorang istri selalu shalat dengan sempurna, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatan (tidak berzina) dan taat pada perintah suaminya, surga akan didapat untuknya. Ketaatan ini tentunya adalah untuk hal-hal yang sesuai syariat.

    Jadi saran saya, tetaplah patuh pada suami, perbaiki ibadah utama (shalat, puasa) dan banyak-banyak berdoa agar suami dapat menjadi lebih baik.

  • nadre
    03/09/2012 - 19:28 | Permalink

    ass… saya ingin bertanya bagaimana kalau kita sedang pacaran tetapi sebagian dri pihak keluarga saya ada tidak menyetujui hubungan saya..
    ada satu alasan nya :

    wanita itu mantan dari sahabat saya bahkan lebih dari sahabat, mereka suda tidak pacaran lagi,, dan tak lama kemudian sahabat saya lebih dulu di panggil oleh allah ,,
    saya dan wanita yg pernah menjadi pacar dari almarhum sahabat saya sudah lama bersahat.
    tetapi perasaan kami saat ini berubah menjadi saling sayang layak nya sepasang kekasih.
    saya sangat dekat dengan keluarga almarhum, dan wanita itu pun dekat juga dengan kluarganya.
    sedangkan saya sudah berniat di hati saya ingin membahagiakan wanita itu,,

    apa yg harus saya lakukan,,
    mohon pencerahan nya..

  • makhfud
    03/09/2012 - 23:44 | Permalink

    Sebaiknya tidak perlu pacaran.

    Rasanya tidak ada kebahagiaan yang bisa diraih dengan pacaran di dunia, lagilah di akhirat.

  • admin
    04/09/2012 - 10:41 | Permalink

    Pacaran yang kita kenal sekarang bukanlah suatu aktivitas yang sesuai dengan syariat Islam. Jika seorang laki-laki ingin hidup bersama dengan seorang wanita, jalan yang perlu ditempuh adalah dengan menikah. Adapun mengenai mantan pacarnya yang kebetulan teman dekat anda, hal tersebut tidak menjadi masalah. Dalam sejarah Islam di zaman Nabi, beberapa kali terjadi seorang sahabat meninggal meninggalkan istri, kemudian istri tersebut akhirnya dinikahi oleh sahabat yang lain. Rasulullah juga pernah menikahi wanita yang ditinggal mati oleh sahabat baik Rasulullah.

    Jadi saran saya, nikahi saja perempuan tersebut jika ada kebaikan di situ, atau jika tidak, tinggalkan saja sama sekali. Perempuan itu dapat menikah dengan orang lain dan anda pun dapat memilih perempuan lain sebagai istri anda.

    Referensi:
    http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2012/04/pacaran-islami.html

  • admin
    04/09/2012 - 10:55 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb,
    Bagi seorang perempuan, adanya seorang suami yang baik sangat penting, karena suami ini akan menjadi pemimpin bagi perempuan tersebut. Jika ada seorang lelaki yang baik keimanan dan agamanya, sebenarnya hal ini lebih baik daripada karir seorang wanita.

    Lelaki yang baik akan menjadi pembimbing bagi istrinya, insya Allah apapun karir istrinya maka sang istri akan selamat.

    Lelaki yang kurang baik akan sulit untuk membimbing istrinya. Walaupun karir sang istri baik, sangat dikuatirkan suami tersebut kurang dapat membimbing istrinya.

    Idealnya tentu saja kalau ada laki-laki yang baik agamanya dan berbeda kantor, namun di dunia ini tidak semua berjalan dengan apa yang kita mau.

    Saran saya dibicarakan lagi dengan orang tua, perlu juga anda sampaikan tentang pentingnya suami yang agamanya baik bagi anda.

  • Anonymous
    21/06/2012 - 03:19 | Permalink

    saya coba masuk ke link yg anda berikan, namun tidak bisa sebelum mendaftar, saya coba register, tapi tidak ada konfirmasi password di email saya…
    tidak bisakah dijawab langsung? tolonglah..
    Istri saya kian hari kian menjadi, tidak ada kata manis lagi, yg ada hanya mengumbar kejelekan saya terus menerus, saya akui saya tidak sempurna…
    siapa tahu jawaban anda langsung dapat menambah wawasan ikhwan lain..

  • Mohd Anuar Bin Hassan
    21/06/2012 - 10:48 | Permalink

    PESANAN DARI MUSAFIR HINA…..

    Wahai saudara islam ku semua,ingat lah ISLAM ADALAH SATU. Walaupun ISLAM ITU SATU tetapi kita semua kena ingat Junjungan kita MUHAMMAD BIN ABDULLAH RASULULLAH telah berpesan: Sesunguhnya ISLAM akan berpecah kepada 73 puak.Daripada 73 itu hanya 1 sahaja yang diterima oleh ALLAH.Satu puak yang diterimapun masih di bahagi kan kepada tiga GOLONGAN. 1)golongan ini kena hisab 2) golongan ini kena azab 3) golongan ini tampa hisab dan tampa azab. ketiga tiga golongan ini ISLAM nya di terima oleh ALLAH.Kenapa kah golongan ini diterima ALLAH?…………………….. Wahai saudara ku semua,jangan lah selalu mencari kesalahan orang lain dan cari lah kesalahan diri sendiri.
    Saudara saudara ku semua, Aku berpesan kepada diri ku dan kelian semuat terimalah ISLAM dan SUNNAH RASULULLAH (MUHAMMAH BIN ABDULLAH) secara keseluruhannya serta cuba amal kan sifat safit ini didalam kehidupan harian.
    1)Sifat BENAR.
    2)Sifat AMANAH.
    3)Sifat MENYAMPAI.
    4)Sifat BIJAKSANA.
    Empat sifat ini hendaklan MENGIKUT kehendak ALLAH DAN RASULULLAH.

    Saudarku semua ingat lah dan cari lah GURU yang Benar2 mengerti akan agama ISLAM kita yang SUCI ini.

  • Anonymous
    09/09/2012 - 15:07 | Permalink

    kalau tidak salah, seorang istri tidak wajib kan ya untuk menaati mertua? orang tua dari suami itu ya kewajiban sang suami, bukan kewajiban istri. mungkin dari sini juga sang suami harus bisa menjaga perasaan istri. sebab saya juga sbg seorang istri seringkali merasa kasihan terhadap kedua ortu sy, karena suami saya jauh lebih mementingkan orang tua dan adik-adiknya. untungnya saya berada di lingkungan yang baik, sehingga saya selalu mendapat nasihat untuk selalu sabar dengan kondisi seperti ini.

    saran saya, mungkin istri anda mempunyai sedikit problrm dgn ortu anda, jangan langsung dipaksakan untuk nurut sama anda, tapi berikan pengertian2 kepadanya. wanita itu menyukai keindahan dan hadiah. mengajaknya ngobrol dan memperkenalkan keluarga anda lebih dekat dengannya mudah-mudahan bisa membantu. lalu untuk kasus2 seperti di atas, usahakan untuk anda memberikan uang kepada orang tua anda dengan penghasilan anda sendiri, karena mereka itu kewajiban anda bukan kewajiban istri anda. lalu upayakan untuk sementara istri anda masih sensi dengan keluarga anda, jangan sampai ketahuan dia saat anda memberikan uang kepada ibu anda itu.

    mudah2an membantu.

  • Tohircicomre
    18/09/2012 - 21:36 | Permalink

    Susah sekali menjadi suami yg diridhai Allah…

  • makhfud
    18/09/2012 - 21:59 | Permalink

    Memang susah dan hampir mustahil tanpa pimpinan dan panduan dari seorang guru mursyid.

    Para Sahabat mendapat panduan langsung dari Rasulullah. Bila ada kesalahan, langsung ditegur dan diluruskan oleh Baginda saw.

    Hampir mustahil, kita yg di akhir zaman ini, mampu mengamalkan tepat seperti kehendak Rasulullah saw hanya dengan membaca teks saja. Kita perlu panduan untuk memahami bagaimana mengamalkannya dari seorang yg mampu berhubung dengan Rasulullah saw, yaitu guru mursyid.

  • chris
    20/09/2012 - 15:27 | Permalink

    Mohon nasehatnya….karena saya sudah pisah rumah dengan suami hampir 10bl.Usia pernikahan kami adalah 2 Th. Sejak menikah dan sampai punya anak semua biaya hidup saya yang mengeluarkan karena beliau merasa gajinya harus diberikan kepada Ibunya walaupun uang Ibunya lebih banyak. Beliau selalu melarang saya utk minta uang ke mertua padahal saya sudah tidak punya simpanan lagi akhirnya saya harus minta uang utk kebutuhan bulanan ke Ibu saya. Beliau juga bersikap masa bodoh apabila saya (isterinya) atau anaknya sakit tp jika ibunya kecapaian maka beliau segera pulang kerumah. Terakhir beliau meng SMS saya menanyakan kelanjutan perkawinan kami dan ada kalimat dalam SMS tsb yang membuat saya sakit hati adalah ” Beliau masih punya keluarga yang harus diperhatikan”. Kalimat serupa sudah saya terima 2x…akhirnya saya memutuskan untuk bercerai karena selama ini saya dan anak kami tidak pernah dianggap sebagai keluarganya.

    Apakah saya salah memutuskan utk percerai? kalaupun tidak bercerai berarti saya harus menanggung biaya hidup sendirian saja dan secara tidak langsung beliau mewajibkan saya utk memberikan uang ataupun barang2 lainnya utk Ibunya.

    Terima kasih

  • makhfud
    24/09/2012 - 06:31 | Permalink

    2 tahun adalah waktu yg terlalu singkat untuk saling mengenal watak dan kepribadian suami/istri. Bila saling mengenal dan saling memahami watak masing2 pun belum, maka terlalu dini untuk memutuskan bercerai.

    Mengapa harus sakit hati dengan suami yg berusaha berbakti pada ibunya? Coba ingat kisah Al Qamah yg lebih mementingkan istrinya daripada ibunya. Coba pahami suami dari sudut ini. Toh, bila Saudari serahkah seluruh harta Anda pun, Saudari akan dapat pahala sedekah. Ingat, Allah berjanji akan ganti minimal 10x lipat sesiapa yg bersedekah. Mengapa pelit dan takut sekali akan susah? Bukankah Allah maha kaya?

    Perihal suami tak memperdulikan istri, coba buka lagi pintu komunikasi. 2 tahun itu masa yg terlalu pendek apalagi dikurangi 10 bulan pisah ranjang. Baru 1 tahun 2 bulan bukan?

    Apakah Saudari menikah karena terpaksa? Jadi cari-cari alasan buat pembenaran berlakunya perceraian.

    Atau ada dosa besar yg dilakukan dimasa lalu yg menjadikan Allah menimpakan kesusahan ini ( tidak diperdulikan suami) agar menjadi penghapusan dosa.

    Bila suami masih memberi tawaran, mau dilanjutkan atau tidak, artinya ada iktikad baik dari suami. Apa salahnya dilanjutkan, dan mulai dengan satu semangat baru.

    Bila sudah terlanjur jatuh talak 1, masih ada peluang untuk rujuk bukan? 🙂

    Bila ingin diskusi lebih lanjut mengenai jawaban saya, bisa ke email: makhfudsaptadi@gmail.com libatkan suami akan lebih baik. Saya terbuka untuk diskusi via email.

    Kalau ingin lebih pribadi dan lebih mendalam, bisa konsultasi ke ketua Klub Taat Suami Indonesia, Dr. Ing. Gina Puspita di email: g_puspita@yahoo.com

  • Anonymous
    25/09/2012 - 06:08 | Permalink

    assalaamualaikum wr.wb. Saya seorang istri dan tinggal terpisah dg suami. Kami sdh menikah 5 thn dan punya seorang anak umur 4 th dan tgl bersama saya. Kami hanya tinggal ber 3 dg anak dan pembantu di sebuah kota besar. Sedang suami tgl bersama org tuanya dikota kcil, sebulan 1x mngunjungi kami. Saya bkerja sbgi PNS sehingga sy berat untk mninggalkannya, sedang suami sya wkt it gjinya sngt kcl tidak memungkinkan sy keluar kerja, ttpi suami sya tidak mau mncari kerja di tempat sy tinggal dgn alasan tujuan hdupnya dikotanya dan sy yg harus pindah. 2 thn lalu dy pindah bkerja tp msh tetap dikotanya karena sy tidak mau mngajukan proses pindah kl dy blm pny pnghasilan yg pasti dan sy mnta harus ada tmpat tinggal kl pindah nntinya, dan gjinya cm ckup untuk mmbayar cicilan rmh dan pgangan bt dy, sdg khidupan saya, sklh anak sya semua yg tanggung bahkan smpe keperluan pakaian suami dan pulsa jg saya yg menanggung, sampai2 sy jualan apa aj yg ptg bs bt mncari tmbahan. Bahkan pernh sy sampai berhutang untuk membayar kontrakan itpun sy yg membyarnya. sejak 2 thn sy mengajukan pindah dan smpai skrg blm ada kjelasan, sya minta suami yg pindah kerja di tempat saya karena it jls lbh mudah, krn dy tdk terikat, dan insy bs pny pnghsilan lbh baik, krn jls UMR nya berbeda dg di kotany, dan suami jg sering blg byk yg mnawariny untuk pindah kerja di t4 sya tinggal.. Saya merasa sdh 5 thn lbih tdk mndapatkan hak sbgi istri unttuk bs dinafkahi dan dilindungi. Bahkan dl tabungan sya sering dipakai modal usaha tetapi sll habis,, mohon pendptny, apa saya salah kl meminta suami yg pindah ksini? Dy menyuruh saya untuk menunggu sampai akhir thn ini, ttpi sjujurnya sy berat kl harus pindah, sy merasa harus sll ngalah, krn dr dl sdh mnjd tlg pungg smp skrg, bhkan sya anak sy jg yg harus adaptasi lg dg tempat krja yg baru dan pastinya dng pnghsilan yg pasti sngat berkurang karena krj dikota kcl, sedang gji suami tdk bisa diandalkan jd sy harus mengtr ulang anggaran,, biaya hidup dsana tdk jauh beda dgn di tmpat saya. Sya merasa tidak ada alasan lg berthn krn toh saya sdh biasa hdup sndr dan anak sy jg sdh terbiasa hdup tnpa ayah, rasanya wkt 5 thn 2 bln sdh ckp bgi sya untk mngalah,,Tlg dibantu sy tdk tau harus crta dan mminta pndpt ke siapa krn kl ke org yg sy kenal sya malu. Wass, terimakasih…

  • makhfud
    25/09/2012 - 13:46 | Permalink

    Kota Suci Makah al Mukarramah, yg sekarang dikunjungi ratusan ribu orang tiap hari bahkan jutaan ketika musim haji, dahulu pertama kali dibangun oleh seorang yg sangat patuh dan taat kepada suaminya meskipun perintah suaminya amat sangat tidak masuk akal.

    Ya, siti Hajar ditinggal sendiri bersama anaknya yg masih bayi di lembah gersang lagi kering dengan hanya bekal seadanya. Tak lama setelah ditinggal, persediaan air pun habis dan susu siti hajar pun kering. Anaknya menangis. Tetapi Siti hajar yg sangat yakin kepada pertolongan Allah, beliau berlari2 dari sofwa ke marwa. Sampai akhirnya keluarlah zam2 dari tendangan kaki Ismail, bayi mungil itu.

    Pelajaran dari kisah di atas:

    1. Taat kepada suami akan membawa keberkatan.

    2. Yakin bahwa Allah Maha Kaya, Maha Pemberi Rezki. Jadi mengapa harus khawatir kekurangan rezki bila taat kepada suami?

    3. Ketaatan kepada suami Allah wajibkan kepada istri tanpa ada batas waktu.

    4. Allah ikut persangkaan hambanya. Kalo belum menaati suami saja sudah bersangka buruk dengan Allah, maka Allah akan timpakan kekurangan itu. Cobalah bersangka baik dengan Allah Yang Maha Kaya itu. Bukankah Allah juga Maha Pemurah. Tentulah Dia akan kasihan kepada hambaNya yg begitu taat kepada suami. Coba bayangkan bila baru berlari 2 kali Siti Hajar sudah putus asa dan bersangka buruk dengan Allah? Padahal Allah akan memberi air zam2 setelah 3 kali berlari bolak-balik.

    Wallahu a’lam
    makhfud, makhfudsaptadi@gmail.com

  • tsabita rohmah
    26/09/2012 - 09:46 | Permalink

    ASslamualaikum warohmatullohi wabarokatuh,,
    Saya mau tanya,,saya berumah tangga sudah 2 tahun selama itu pula saya tinggal juga diumah mertua,tapi saya merasa tidak nyaman disini karna kepikiran bapak saya karna ibu saya sudah meninggal,saya tidak bisa mengunjunginya setiap waktu…hanya beberapa bulan baru bisa silaturohmi kesana karena saya takut pamitan dengan mertua saya karena dulu waktu saya pamitan ingin kerumah bapak sayya dengan bayi saya,,perkataannya sangat menyingung hati saya dan mengikinkan dengan terpaaksa..saya ingin pulang,ingin hidup besama bapak saya,,tapi suami saya tidak bisa meninggalkan ortunya karna sudah tdk ada saudara lagi … Saya bigung harus bagaimana karna dsini mertua saya sering ngomongin saya n kdang ngomongnya tidak mengenakan,,mohon peceraahanya apakah saya harus pulang hidup bersama bpak saya tapi kemugkinan berpisah dgn suami karna dia tidak mungkin menigalkan ortunya atau saya harus tetap dsini ikut suami tapi tidak bisaa bertemu bapak dan sering sakit hati oleh perkataan mertua ???

  • 1 2 3 7

    Leave a Reply

    Powered by: Wordpress