Artikel Keluarga

Kewajiban Suami Terhadap Istri

Suami Wajib Menjaga Istrinya

Kewajiban paling besar dari seorang suami terhadap istrinya adalah menjaga istrinya agar selamat dari api neraka. Berikut ini ayat Al Quran terkait dan beberapa penjelasan dari hadis yang terkait.

  1. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    ‘Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.” (At Tahrim : 6)
  2. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    Perintahkanlah keluargamu agar melakukan sholat.” (Thaha:132)

Berikut ini beberapa hadis yang menyatakan kewajiban suami menjaga istrinya:

  1. Dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaih )
  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”
  4. Rasulullah S.A.W bersabda, yang artinya: “Pertama kali perkara yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang di hari kiamat adalah keluarganya (yakni isteri) dan anak-anaknya. Mereka berkata, wahai Tuhan kami, ambillah hak-hak kami (tanggung jawab) kami dari orang ini, karena sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami tentang urusan agama kami. Ia memberi makan kepada kami berupa makanan dari hasil yang haram, dan kami tidak mengetahui. Maka orang itu dihantam (disiksa) lantaran mencari barang yang haram, sehingga terkelupas dagingnya, kemudian dibawa ke neraka. (Al Hadits).

Berikut ini atsar sahabat mengenai penjagaan suami kepada istri:

  1. Ibnu Abbas berkata:
    Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.

Dari uraian ayat dan hadis di atas nampak bahwa seorang suami yang gagal mendidik istri dan anak-anaknya akan mendapat masalah besar di akhirat kelak.

Kewajiban Suami Secara Umum

Berikut ini beberapa nas dari Al Quran dan Hadis mengenai kewajiban suami secara umum kepada istrinya.

  1. Allah Taala berfirman, yang bermaksud:
    “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
  2. Dan Allah berfirman lagi:
    ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang baik akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan atas isterinya.” (Al Baqarah : 228)

Berikut ini beberapa nas dari Hadis mengenai kewajiban suami secara umum kepada istrinya.

  1. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda pada waktu haji wida’ (perpisahan) setelah baginda memuji Allah dan menyanjung-Nya serta menasehati para hadirin yang maksudnya sebagai berikut:
    ‘Ingatlah (hai kaumku), terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para isteri, isteri-isteri itu hanyalah dapat diumpamakan tawanan yang berada di sampingmu, kamu tidak dapat memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau isteri-isteri itu melakukan perbuatan yang keji yang jelas (membangkang atau tidak taat) maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau isteri-isteri itu taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka.
    Ingatlah! Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isterimu dan sesungguhnya isteri-isterimu itu mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap dirimu. Kemudian kewajiban isteri-isteri terhadap dirimu ialah mereka tidak boleh mengijinkan masuk ke rumahmu orang yang kamu benci. Ingatlah! Kewajiban terhadap mereka ialah bahwa kamu melayani mereka dengan baik dalam soal pakaian dan makanan mereka.

    (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)
  2. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
    “Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh memperolokkan dia dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang).” (Riwayat Abu Daud)
  3. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja seorang laki-laki yang menikahi perempuan dengan mas kawin sedikit atau banyak sedangkan dalam hatinya ia berniat untuk tidak memberikan hak perempuan tersebut (mas kawinnya) kepadanya. maka ia telah menipunya, kemudian jika ia meninggal dunia, sedang ia belum memberi hak perempuan tadi kepadanya maka ia akan menjumpai Allah pada hari Kiamat nanti dalam keadaan berzina.”
  4. Nabi SAW bersabda yang bermaksud
    “Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang baik budi pekertinya dan mereka yang lebih halus dalam mempergauli keluarganya (isteri anak-anak dan kaum kerabatnya). “
  5. Nabi SAW bersabda yang bermaksud :
    “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku.” (Riwayat lbnu Asakir)
  6. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud:
    “Barang siapa yang sabar atas budi pekerti isterinya yang buruk, maka Allah memberinya pahala sama dengan pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.s karena sabar atas cobaan-Nya. Dan seorang isteri yang sabar atas budi pekerti suaminya yang buruk akan diberi oleh Allah pahala sama dengan pahala Asiyah isteri Firaun
    Catatan: cobaan ke atas Nabi Ayub ada empat hal: habis harta bendanya, meninggal dunia semua anaknya, hancur badannya, dijauhi oleh manusia kecuali isterinya benama Rahmah.
  7. Rasulullah S.A.W mengingatkan agar para suami memberi nasihat-nasihat pada istrinya:
    ROHIMALLAHU ROJULAN QOOLA YAA AHLAAHU SHOLAA TAKUM SHIYAA MAKUM DZAKAA TAKUM MISKIINAKUM YATIIMAKUM JIIROONAKUM LA’ALLAKUM MA’AHUM FIL JANNATI.
    Artinya: “Mudah-mudahan Allah merahmati seorang suami yang mengingatkan isterinya, ‘Hai istriku, jagalah shalatmu, puasamu, zakatmu, kasihanilah orang-orang miskin di antaramu, para tetanggamu, mudah-mudahan Allah mengumpulkan kamu bersama mereka di surga”

Berikut ini rangkuman nasihat ulama:

  • Al Habib Abdullah Al Haddad berkata:
    “Seorang laki-laki yang sempurna adalah dia yang mempermudah dalam kewajiban-kewajiban kepadanya dan tidak mempermudah dalam kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Dan seorang laki-laki yang kurang ialah dia yang bersifat sebaliknya.”
    Maksud dan penjelasan ini ialah seorang suami yang bersikap sudi memaafkan jika isterinya tidak menghias dirinya dan tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi ia bersikap tegas jika isterinya tidak melakukan sholat atau puasa dan lain-lain, itulah suami yang sempurna. Dan seorang suami yang bersikap keras jika isterinya tidak menghias dirinya atau tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi bersikap acuh tak acuh (dingin) jika isteri meninggalkan kewajiban-kewajiban kepada Allah seperti sholat, puasa dan lain-lain, dia seorang suami yang kurang.
  • Dianjurkan bagi seorang suami memperhatikan isterinya (dan mengingatkannya dengan nada yang lembut/halus) dan menafkahinya sesuai kemampuannya dan berlaku tabah (jika disakiti oleh isterinya) dan bersikap halus kepadanya dan mengarahkannya ke jalan yang baik dan mengajarnya hukum-hukum agama yang perlu diketahui olehnya seperti bersuci, haid dan ibadah-ibadah yang wajib atau yang sunat.

Nasihat Sayyidina Umar bin Khattab

Berikut ini suatu kisah mengenai seseorang yang bermaksud menghadap Umar Bin Khattab hendak mengadukan perihal perangai buruk istrinya.

Sampai ke rumah yang dituju orang itu menanti Umar r.a. di depan pintu. Saat itu ia mendengar istri Umar mengomel kepada Umar r.a., sementara Umar sendiri hanya berdiam diri saja tanpa bereaksi. Orang itu bermaksud balik kembali sambil melangkahkan kaki seraya bergumam: ”Kalau keadaan amirul mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku“.

Bersamaan itu Umar keluar, ketika melihat orang itu hendak kembali. Umar memanggilnya, katanya : “Ada keperluan penting?“. Ia menjawab : ”Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak mengadukan perihal istriku lantaran sering memarahiku. Tetapi begitu aku mendengar istrimu sendiri berbuat serupa, maka aku bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata: kalau keadaan amirul muikminin saja diperlakukan istrinya seperti itu, bagaimana halnya dengan diriku.”

Umar berkata kepadanya: “Saudara, sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari istriku karena adanya beberapa hal yang ada padanya. Istriku bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencucikan pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku, padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tentram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu aku menerimanya sekalipun dimarahi“.

Kata orang itu : “Amirul mukminin, demikian pulakah terhadap istriku?”. Jawab Umar “Ya, terimalah marahnya. Karena yang dilakukan istrimu tidak akan lama, hanya sebentar saja“.

KESIMPULAN TANGGUNG JAWAB SUAMI

  1. Menjadi pemimpin anak isteri di dalam rumah tangga.
  2. Mengajarkan ilmu fardhu ‘ain (kewajiban pribadi) kepada anak isteri yaitu ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf.
    Ilmu tauhid diajarkan supaya aqidahnya sesuai dengan aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah.
    Ilmu fiqih diajarkan supaya segala ibadahnya sesuai dengan kehendak agama.
    Ilmu tasawuf diajarkan supaya mereka ikhlas dalam beramal dan dapat menjaga segala amalannya daripada dirusakkan oleh rasa riya’ (pamer), bangga, menunjuk-nunjuk orang lain dan lain-lain. Ringkasan kewajiban pribadi seorang muslim dapat dibaca di artikel Cahaya Akhir Zaman: Kewajiban Pribadi Utama Seorang Muslim.
  3. Memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal.
    Ada ulama berkata:
    Sekali memberi pakaian anak isteri yang menyukakan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama 70 tahun.
  4. Menghindari perbuatan zalim kepada anak isteri yaitu dengan cara:
    • Memberikan pendidikan agama yang sempurna. Jika ilmu agama tidak dari anak/istri ada yang tidak lengkap, maka hal ini termasuk zalim.
    • Memberikan nafkah lahir dan batin secukupnya.
    • Memberi nasihat serta menegur dan memberi panduan/ petunjuk jika melakukan maksiat atau kesalahan.
    • Apabila memukul jangan sampai melukai (melampaui batas).
  5. Memberi nasihat jika isteri gemar bergunjing/bergosip, mengomel serta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah agama.
  6. Melayani isteri dengan sebaik-baik pergaulan.
  7. Berbicara dengan isteri dengan lemah-lembut.
  8. Memaafkan keterlanjurannya tetapi sangat memperhatikan kesesuaian tingkah lakunya dengan syariat.
  9. Kurangkan perdebatan dengan istri.
  10. Memelihara harga diri / kehormatan istri.

Catatan

Seorang suami wajib menafkahi anak istrinya, namun juga mempunyai kewajiban menafkahi keluarga dekatnya. Detailnya ada di artikel Kewajiban Menafkahi Keluarga

Referensi

  • Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini karangan Imam Nawawi al Bantani

443 Comments

  • admin
    12/06/2013 - 03:23 | Permalink

    Wa’alaikumsalam Wr Wb

    Semua masalah hakikatnya dr Allah SWT, ujian yg datang adalah untuk menghapuskan dosa-dosa kita serta untuk meningkatkan derajat kita di sisi Allah, bila dengan ujian yg Allah beri itu kita makin dekat dgNya.

    Bila perempuan sudah memiliki suami, maka ketaatan istri wajib diberikan pada suami selama tidak menyalahi aturan Allah.

    Tapi yang utama, bila kita mendapat ujian, banyakkan bertaubat dan ingatlah dosa-dosa kita pada Allah. Mendekatlah kepadaNya. Fokuslah pada membaiki hubungan kita dengan Allah, bukan untuk menyelesaikan masalah yg ada.

    Sebab bila hubungan kita dengan Allah selesai, maka mudah saja bagi Allah untuk selesaikan semua masalah kita.

    Wallahualam.

  • Anonymous
    12/08/2013 - 22:11 | Permalink

    Ustad aku mau nanya,
    hkum buat seorang suami yang memukul istri nya hany karena istrinya tidak sepintar sang suami, bahkan sang suami tidak bekerja yang bekerja malah sang istri. Terus sang suami minta di beri uang dari hasil kerjanya sang istri, klo tidak diberi pasti ngamuk. Itu hukumnya gimana? Apakah sang istri hanya bisa bersabar tanpa bisa melakukan apapun?
    Tanya lagi ya ustad,
    kalo suami itu memfitnah istrinya selingkuh padahal istrinya tidak pernah selingkuh, dan juga suami itu menjelek2kan keluarga sang istri hanya karena keluarga sang istri tidak dari kalangan orang2 yang beragama kuat, memang sih kl sang suami keluarganya dari keluarga kiai yang besar. Itu hukumnya apa kalo menjelek2kan bahkan memfitnah istri dan keluarganya?
    Tnya lagi, apa hukumnya jika ayah tidak mau mengakui anak kandungnya sendiri dan sering memukuli anaknya?
    Terimakasih

  • Anonymous
    17/08/2013 - 19:52 | Permalink

    Assalamualaikum wr wb…
    saya sudah menikah selama 4 tahun, tapi kenapa dari dulu sampai skrang suami saya tidak pernah memperkenalkan atau pas idul fitri sprti ini dia tidak pernah mengajak saya pergi kerumah temannya? dia sllu pergi sndri, jika ditanya dia sllu beralasan, kasihan si kecil nnt kecapean… dan dia sulit sekali menjaga pandanganx dari akhwat lain…. pdahal saya sudah berusaha sebaik mungkin berdandan dan mngikuti pakaian akhwat diluar sana agar pandanganx bisa lebih terjaga… tapi masih saja dia sperti itu… saya sebagai istri sangat sedih ustadz dengan sikap suami saya.. saya pernah mengatakan baik2 padax.. lalu dia minta maaf, tapi hal itu terulang lagi… sebagai seorang istri saya harus bagaimana ustadz? ingin rasax saya pergi darix.. tapi mengingat anak2 saya, saya urungkan… mohon jawabanya y ustadz..

    jazakallah sebelumx..

  • admin
    17/08/2013 - 19:57 | Permalink

    Jawabannya ada di artikel berikut ini http://www.kawansejati.org/content/suami-yang-tidak-peduli

  • admin
    17/08/2013 - 20:14 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb,

    Kewajiban istri kepada suaminya dapat dilihat di http://www.kawansejati.org/207-tanggung-jawab-istri-terhadap-suami .

    Idealnya dalam suatu keluarga itu suami dan istri bersama-sama mengejar redho dari Allah, sehingga masing-masing menjalankan kewajibannya karena Allah, bukan sekedar nafsu/keinginan masing-masing.

    Kewajiban suami dalam suatu keluarga itu berat, demikian pula kewajiban istri.

    Yang perlu dikerjakan adalah mendekatkan diri kepada Allah.

    Untuk lebih lengkapknya, ibu dapat juga membaca artikel mengenai ‘Suami yang tidak peduli’ di http://www.kawansejati.org/content/suami-yang-tidak-peduli

  • admin
    17/08/2013 - 20:19 | Permalink

    Wa alaikum salam,
    Memaafkan kesalahan orang itu hukumnya adalah sunnah, artinya mendapat pahala jika dikerjakan. Allah menyukai orang yang memberi maaf.

    Jika suami menyadari kesalahannya, lebih baik dimaafkan saja.

  • admin
    19/08/2013 - 12:49 | Permalink
  • ninda
    10/09/2013 - 12:46 | Permalink

    assalamualaikum wr.wb
    saya mau bertanya dan mehon penjelasannya apa di perbolehkan seorang istri bekerja untuk membantu perekonomian keluarga,,lalu saya ingin bertannya suami saya tidak diperbolehkan mencari usaha sendiri sama ibu mertua saya sebelum cicilan mobil ibunya lunas. slma ini suami saya mendapatkan uang dengan membantu ibunya berjualan kue produksi rumahan bukannya saya tidak bersyukur tpi hasil dari usaha itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup shari-harii dan yang bikin saya bingung mertua saya tidak memperbolehkan suami saya mencari pekerjaan lain sedangkan suami saya mempunyai anak dan istri untuk di fikirkan masa depannya..
    akhirnya saya bekerja untuk membantu dia..tpii saya akui suamii saya jdii seerti mengandalkan saya selama saya bekerja dia jdi jarang memberi uang kpda saya. saya tidak mempermslahkn uangnya pak tapi saya mau melihat usahadan kesungguhan suami saya yg selama ini dia hanya santai” saja…
    menurut pak ustad saya harus bagaimna pak…..

  • admin
    05/09/2013 - 14:36 | Permalink

    Perlu dicek dulu apa penyebab suami membenci keluarga istri. Untuk konsultasi via email dapat menggunakan formulir di sini: http://www.kawansejati.org/contact

    Jawaban secara umum dapat mengacu ke artikel berikut ini:
    http://www.kawansejati.org/content/apakah-perlu-menghormati-suami-yang-jahat
    http://www.kawansejati.org/content/suami-yang-tidak-peduli

  • zoomalee
    01/09/2013 - 01:19 | Permalink

    Assalamualaikum ustadz.
    Mau knsultasi, saya dgn istri baru menikah 4 bulan,alahamdulilah skrg istri sudah hamil 1 bulanan. namun akhir2 ini kami malah sering cekcok dan bertengkar gara2 saya pernah membela & mempercayai omongan ibu saya yg berlebihan.

    Kami tinggal sendiri pisah dgn org tua kami,namun sesekali kami pulang dan terjadilah cekcok kecil antara istri saya dengan ibu saya. Saya berusaha netral dan tidak membuat panjang masalah tsb. Namun istri saya menuduh saya trlalu membela ibu dan dia sangat kcewa dan membenci saya masalah itu.

    Sudah 1bulanan sejak masalah itu mincul,istri sellu mengingkitnya dan setiap kali saya ajak diskusi dan saya sudah minya maaf berulang kali namun istri blm puas dan sllu emosi sampai memgolok olok saya dan ibu saya.

    Bahkan dia menganggap saya tidak pantas jadi imam dan sangat membenci saya. Berkali kali dia minta pisah walau sedang hamil muda, saya sllu sabar dgn sgala emosinya dan trus menasihatix dgn lembut namun percuma. Lantas saya harus bgaimana ustadz?
    saya pgn skali mmpertahankan rumah tangga ini smpai tua dan kasian ank kami nanti klau kami jdi berpissh cuma gara2 maslah ini..
    mhon bimbinganx.

    wassalamualaikkum..

  • admin
    05/09/2013 - 04:47 | Permalink

    Dalam menempuh hidup baru, pasangan suami istri yang masih baru pasti banyak hal-hal yang harus disesuaikan. Mungkin ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan perkiraan sebelum menikah, dalam hal ini istri belum dapat menerima keadaan mertuanya.

    Antara suami dan istri pun yang baru menikah, mungkin juga ada beberapa hal yang masih perlu penyesuaian.

    Ditambah lagi dengan kondisi istri yang baru hamil, kadang-kadang kehamilan ini dapat mempengaruhi kondisi batin seorang istri.

    Saran saya:
    – Tanggung jawab suami adalah mendidik istrinya. Mendidik dapat dengan kata-kata, namun biasanya lebih efektif dengan perbuatan tanpa banyak berkata-kata
    – Bersabarlah, tunjukkan saja kasih sayang anda kepada istri. Moga-moga nanti hati istri dapat luluh juga.
    – Banyak mendoakan istri
    – Perbaiki ibadah anda. Shalat di awal waktu.

  • wirda
    06/03/2014 - 06:48 | Permalink

    Mau tanya apa hukum’Πўǟ s’orang suami yng slalu menyembunyikan rezeki’Πўǟ terhadap istri.. Dan apa hukum’Πўǟ bila si istri meminta uank tp malah d’anggap oleh si suami malah berhutang, dan apa hukum’Πўǟ jg bagi suami yng tdk prnh menafkahi keluarga’Πўǟ ?????.. ​ℳααƒ bila prtanyaan saya salah,, tp sy sbagai anak slalu d’sakiti dngan kata” oleh bpak sya, stiap sy bicara itu slalu d’anggap salah.. Dan sya pun d’bentak” atw d’sakiti oleh kata”Πўǟ yng slalu nyinggung prasaan org lain.. Sejujur’Πўǟ sya amat sngat benci dngan bpak sya ketika sya slalu d’caci maki, stiap sy lg begong atw sdang mkan sy slalu inget kata” bpak sya yng slalu nyakitin prasaan.. Dan sy pun menangis krn sy sdh tdk bs menahan’nyaa lg, stiap sy meminta uank kpda bpak sy sndiri ucapa dy slalu nyinggung!! Smpe skrg mama sya pun membenci suami’nyaa sndiri.. Krn dy hnya meminta tp prnh memberi. ​ℳααƒ bila ª∂a̲̅ kata” yng slah!!

  • admin
    17/03/2014 - 09:30 | Permalink

    Seorang suami wajib menafkahi istrinya lahir maupun batin, sedangkan jumlahnya tidak dijelaskan.

    Banyak hal-hal yang seorang anak tidak ketahui tentang hubungan antara bapak dan ibunya. Mengenai hubungan antara bapak dan ibu, sebagai seorang anak hendaknya selalu mendoakan kebaikan untuk keduanya.

    -admin-

  • yulia
    07/04/2014 - 12:00 | Permalink

    Assalamualaikum…
    saya mau tanya. Suami sy sering d beri pakaian sama adik perempuannya. Wajarkah jika saya merasa tersinggung? Mertua kami juga sering memberi kami makan sehari2, terkadang suami juga makan dirumah mertua saya. Wajarkah jika saya tersinggung sebagai istri? seolah2 saya tidak pernah masak dirumah… suami saya selalu tergantung dengan kedua orang tuanya. Kami berdua bekerja dan hidup pas2 an.. jadi salah satu mengurangi pengeluaran kami, makan kami kadang ditanggung mertua saya. bolehkah itu?

  • yulia
    07/04/2014 - 12:41 | Permalink

    assalamualaikum… saya mau tanya. suami saya sering di kasi baju sama adik perempuannya. Wajarkah jika saya merasa tersinggung sebagai istri? mertua saya juga sering kasi kami makan sehari hari, suami juga sering makan dirumah mertua saya. Padahal saya masak, suami sering bawa makanan dari rumah mertua saya. Wajarkah jika saya tersinggung sebagai istri yang harusnya memasakkan buat suami? kami berdua sama sama bekerja dan hidup kami masih pas pas an. Jadi mertua saya selalu memberi kami makanan. supaya mungkin ngirit pengeluaran. menurut saya itu merepotkan orang tua, sementara kmi berdua berpenghasilan. mohon responnya ya…. terima kasih….

  • admin
    08/04/2014 - 13:25 | Permalink

    Wa alaikum salam.

    • Seorang adik boleh-boleh saja memberikan hadiah baju kepada abang laki-lakinya, jadi sebenarnya itu wajar saja. Mungkin saja sudah jadi kebiasaan dalam keluarga suami untuk memberikan hadiah.
    • Seorang ibu/ayah wajar saja memberi makanan kepada anaknya, walaupun anaknya ini sudah berkeluarga. Jadi sebenarnya tidak masalah jika suami diberi makan oleh mertua. Bisa juga ini dilakukan oleh suami dalam rangka menghibur mertua. Maklumlah orang tua, kehidupannya umumnya tidak seramai waktu mereka masih muda.
  • admin
    25/02/2014 - 17:23 | Permalink

    Wa alaikum salam.
    Istri dapat tinggal di rumah, ataupun dapat juga pergi ke luar rumah. Suami mesti menilai apakah istri lebih baik di rumah ataukah lebih baik jika aktif di luar rumah.

  • admin
    25/02/2014 - 17:26 | Permalink

    Nampaknya ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran suami. Bisa jadi suami tidak senang istri pergi bekerja, atau suami kurang terhibur oleh istri.

  • hari utami
    06/10/2013 - 14:03 | Permalink

    ass Ustad, sy mau bertanya bagaiman sikap kita terhadap suami yang merasa tidak cocok /tidak bisa memahami adanya perbedaan dengan kebiasaan kita termasuk kebiasaan berkomunikasi,saya sering ngomong perbedaan yg tidak melanggar ajaran agama janngan dijadikan permasalahan tetapi pada saat ada masalah selalu mengungkit perbedaan2 tsb. sampai pada perbedaan dalam komunikasi sehingga saya merasa tidak ada lagi yg perlu dipertahankan. selama ini sy diajak hidup dimana dan dalam kondisi apapun tidak pernah menuntut tetapi saya selalu dituntut untuk sama dgn kebiasaan dia dgn lingkungannya (ibunya) klo tidak sama maka sy salah. Apakah sy boleh minta minta mengakhiri perkawinan astagfirullah) ini krn sy merasa perjuangan saya slm ini sia2.
    wassalam wr wbr.

  • admin
    25/02/2014 - 17:21 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb.
    Umumnya memang jauh lebih baik jika suami istri dapat tinggal bersama-sama. Saat ini nampaknya yang terpikir oleh suami adalah persoalan harta. Sebaiknya ibu melakukan introspeksi diri, apakah selama ini telah berusaha keras untuk menyenangkan suami. Jangan-jangan suami kurang bahagia, sehingga dia pergi jauh juga tidak terlalu merasa kehilangan. Banyak-banyaklah bertobat atas kesalahan-kesalahan diri, terutama kesalahan pada suami. Moga-moga dengan demikian Allah jadikan suami jadi merasa rindu dan pulang.

    Wassalam.

  • admin
    09/10/2013 - 14:13 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb,

    1. Seorang istri boleh saja bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
    2. Seorang suami boleh saja bekerja apa saja, termasuk membantu usaha orang tuanya.
    3. Anda sebagai seorang istri boleh saja memberi masukan kepada suami, namun tetap perlu diperhatikan bahwa keputusan final tetap ada pada suami. Tanggung jawab terhadap keluarga ada pada suami.

  • admin
    09/10/2013 - 14:15 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb,

    Kalau memang bukan perkara yang bertentangan dengan syariat, sebaiknya istri ikut saja apa maunya suami. Insya Allah perkara sederhana itu ada nilainya di sisi Allah.

    Wassalam,

  • Anonymous
    22/12/2013 - 00:23 | Permalink

    Assalamualaikum wr.wb
    Ustad saya ingin bertanya,saya dan suami sudah menikah 3th dan اَلْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ telah dikarunia 2 orang anak.Selama ini saya dan suami belum tinggal 1 rumah dengan alasan suami bekerja di jakarta dan saya bekerja di lampung.tetapi walau jarak kami jauh suami minimal 2minggu sekali pulang ke rumah,hubungan komunikasi kami baik2 saja.
    Tapi pa ustad,yg menjadi ganjalan hati saya,suami saya itu punya seorang sahabat laki2 yang juga sudah memiliki istri dan juga sangat akrab dengan suami saya.suami saya suka berkunjung ke rumahnya,atau suami kadang suka diajak kumpul2 bareng sama mereka,bahkan diajak keluar kota bertiga tanpa ada saya.

    Yang menjadi pertanyaan saya pa ustad: apakah saya salah jika saya melarang suami saya untuk tidak terlalu dekat dengan mereka,karena saya merasa cemburu jika ada istri temannya yang begitu akrab dengan suami saya.pernah suatu ketika saya bilang ke suami kalo jangan terlalu akrab dengan mereka.tapi suami saya malah seperti tidak suka dan tetap saja mengacuhkan omongan saya.bagaimana caranya agar suami saya bisa memahami perasaan saya mohon pencerahannya pa ustad.

    Wassalamualaikum wr.wb

  • admin
    09/01/2014 - 15:12 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb
    Sebaiknya anda mengusahakan supaya jangan satu kamar, terutama jika kakak & adik suami adalah laki-laki. Jika tinggal 1 kamar juga tentunya repot kalau mau berhubungan suami istri.

  • Tempat Karaoke
    28/12/2013 - 00:44 | Permalink

    Ulasan Hadist yang lengkap bang. Tapi harus ada juga tentang kewajiban istri terhadap suami.

  • kurnia
    31/01/2014 - 23:55 | Permalink

    Assalamuualaikum wr.wb ustad
    Saya sdh menikah selama 6th dan allhamdulillah sdh mempunyai seorang putra(4th) yg penurut, ustad apa yg harus sy lakukan bwt menghadapi suami sy yg sikapnya seolah tdk memperdulikan sy pdhl sy tw dia mencoba mencintai sy,maaf sblmnya suami sy ketahuan selingkuh harta hbs suami dipecat dan sy memaafkannya stlh berpisah 1th dan kita sdh ijab kabul lg,krn dia berjanji tdk akan mengulang lg dan akan berusaha mengembalikan smua yg telah hilang dr tangan kami(harta),,kembali ke mslh td suami sy lbh mementingkan pekerjaannya apalgi skrg dia jauh di LN tdk ada wktu bwt sy kalopun ngobrol cm lewat bbm ato sms ato tlp itupun dgn keterbatasan,menurut ustad apa yg harus sy lakukan disaat sy mencoba mengobati luka hati sy dgn kembali pdnya dia malah seperti tdk berusaha bwt mengobati sy,kl sy peringatkan dia slalu bilang dgn dia kerja keras hingga sampe LN itu suatu bentuk memperbaiki rmh tangga kita,berulang kali sy jelaskan bahwa sy butuh perhatian bkn harta yg dulu pernah hilang,tp dia tdk peduli seolah dgn mengembalikan harta yg dulu hilang kita bisa bahagia..sy jd merasa butuh kasih syg ustad..saat ini sy pun masih menumpang di mertua dgn kakak ipar single sepantaran sy(suami lbh muda dr sy)apakah baik ustad…terima kasih wassalamualaikum.wr.wb

  • NURHANI HANUM
    10/02/2014 - 00:50 | Permalink

    Ustadz saya ibu dari 1 orang anak yg sudah berumur 5 tahun dan akan memasuki 7 tahun usia perkawinan. Tahun2 pertama kami sangat bahagia smpai punya anak baru ada masalahny. Saya seorang PNS,sementara suami saya usaha warnet. Jadi krn saya bekerja otomatis ibu saya yg jaga anak.entah kenapa sifatny berubah semenjak punya anak. Saya dilarang pergi ke rumah orang tua saya dan setiap dia bertemu keluarga saya wajahny selalu masam.bahkan dia pernah menarik anak saya yg lagi digendong otang tua saya. Selalu bikin orang tua saya jadi iba hatiny. Menyapa orang tua saya aja dia tidak mau. Kasihan saya melihat orang tua saya,krn saya sangat menghargai orang tua saya itu. Berkata keras pun saya tidak pernah pada orang tua saya itu,ini enak aja dibikinny begitu. Prnh saya mencoba utk bertanya padanya jawabny saya berusaha utk menjauhkan anak saya dari dia, dgn mendekatkan anakny pada orang tua saya. Kadang saya berpikir utk bercerai saja,tp kasihan dgn anak.untung saja orang tua saya orang yg bisa menerima perlakuan itu,yg penting anakny bahagia,kata beliau. Sekarang ini suami saya seakan udah tertutup matany utk mencari penghasilan yg lain,krn warnet itu. Sekarang ini krn anak saya udah besar maka ibu saya tidak mengasuhny lagi dan sehari2 sama papany itu. Puncak masalahny skrg,1 minggu yg lalu orang tua dan adik2 saya nginap dirumah. Dia marah tapi dia diam tanpa bicara dengan saya smpai skrg. Biasany jika dia diam2an pasti saya yg mencoba utk membujukny. Ini krn saya udah muak dan udah penuh di dada ini rasany saya diamkan juga,smpai skrg kami masih diam2an. Saya udah muak ustadz,udah nggk ada rasa cinta sedikit pun yg tersisa utk dia. Yg terpikir bagaimana carany utk mengusirny dan menjauh dari wajah saya. Seakan saya menunggu ucapan talak dari bibirny. Adapun dia dirumah saya anggap dia tidak ada,krn mgkn tanpa ada dia disisi saya mgkn saya akan sangat bahagia. Tp berdosakah saya itu ustadz…???saya tidak prnh dikasihny uang dari hasil usahany itu,krn katany tinggal ambil di dompetny saja.tp bagi saya itu bukan masalah krn yg saya inginkn cuma dia tlg menghargai orang tua saya saja,sama sewaktu saya masih pacaran dengan dia dulu.saya merasa nasib saya sama dgn ayu ting ting (hehehe) tp ayu ting ting punya keberanian utk pisah dari suaminy,dan suaminy juga telah mengucapkan talak. Tp daya tdk prnh mendengar kata2 itu dari suami saya. Jika dia ada bicara cerai,pasti lgsg gayung bersambut. Tlg saya dikasih solusi ustadz,saya sdh tidak tau lagi hrs bicara dgn siapa. Terima kasih ustadz.

  • Anonymous
    10/02/2014 - 14:25 | Permalink

    Asslmkm. maaf sebelumnya…admin disetip jawaban admin….tidak sesuai dengan alqurna: selama suami memiliki kemampuan untuk menafkahi. istri tidak wajib bekerja….tetapi jawaban anda sebaliknya…ingin punya istri tapi tidak mau bertanggung jawab…bukankan sebaik-baik istri tinggal dirumah????

  • dhiah
    11/11/2013 - 00:20 | Permalink

    assalamu’alaikum
    menurut apha yang saya tau,dosa kah hukumnya jika suami tidak memberikan uang belanja dibawah rata-rata uang ato mas kawin yang diberikan waktu menikah. .?? yang saya tau lebih baik mahar itu sedikit nilai nominalnya,selain dikarena kan tidak adha yang boleh menikmati uang tsb tanpa seijin istri dikarena kan juga suatu hari jika suami dalam keadaan dibawah dan tidak mampu memberikan uang belanja yg mampu dia berikan sewaktu mahar,suami akan berdosa. . misal mahar 200ribu,suatu hari sang suami tidak mampu memberikan kebutuhan cukup dari itu berdosa kah (anggap perbulan)? (selain suami sakit berlanjut). terimakassih

  • admin
    11/11/2013 - 07:45 | Permalink

    Wa alaikum salam

    1. Mas kawin jumlahnya tidak ditentukan, boleh sedikit ataupun banyak, yang penting mas kawin tersebut dibayarkan sebagai bagian dari akad pernikahan.
    2. Suami wajib memberikan uang belanja ataupun harta lainnya kepada istri untuk menafkahi istri. Jumlah uang belanja ini tidak ditetapkan secara pasti, tergantung keadaan suami & istri. Misalnya bisa saja suami mendapat pemberian makanan, minuman , pakaian dan barang-barang lain kemudian diberikan kepada istrinya. Dalam hal ini uang belanja tidak perlu. Dapat juga suami memberi uang kepada istri kemudian memberi amanah kepada istri untuk membelanjakan uang tersebut dengan anggaran tertentu.
    3. Tidak ada kaitan antara jumlah uang belanja dan jumlah uang mas kawin. Mas kawin untuk akad pernikahan, uang belanja untuk kehidupan sehari-hari. Dapat juga terjadi ketika menikah keadaan ekonomi baik, setelah menikah ekonomi menurun, ataupun sebaliknya.

    Wasalam

  • malika
    12/11/2013 - 09:43 | Permalink

    ass. pak ustad sy mau bertanya sewaktu sy menikah calon mertua sy berbicra dgn keluarga sy akan memberikan satu stell emas (cincin,kalung,anting,dan gelang) tp ternyata hanya gelang yg diberikan pada saat sy akad nikah, dari pihak keluarga saya bingung kok tdk sesuai dengan pembicaraan..kira2 hukum mertua sy itu apa yah ? sy tanyakan sama suami sy tp suami sy tdk tau menau mslah itu dan suami sy pun merasa malu atas perbuatan keluarganya. dan sy jg mau tanyakan sy slama menikah suami sy tdk pernah menafkahi sy karena tdk bekerja dan memilih milih kerjaan alsannya gajinya terlalu sdkit yakni 3 jt suami sy mau cari kerja yg gaji 30jt sedangkan suami sy ini punya tanggungan, bahkan anak sy lahirpun sy tetap tdk mendapatkan nafkah jadi smua menjadi beban saya…sebulan setelah anak sy lahir suami sy pun kerja diluar kota dan mengirmkan uang buat saya bulan berikutnya suami sy tdk mengirmkan lagi krn sdh malas bekerja alasannya bosan dgn pekerjaan yg ada…jadi sy smpat emosi krn sy sdh mulai menuntut nafkah…dan jawaban suami sy enteng cm bilang “kamu kan kerja…km tutupin aja dulu kbthan kamu” sontak sy dgn nada emosi memaki maki suami sy dan keluarganya dan mngungkit smua kelakuan keluarga suami sy sewaktu sy menikah…yg maharnya tdk sesuai pembicaraan. mohon pencerahannya pak ustad…wassalam…

  • admin
    13/11/2013 - 05:57 | Permalink

    Saya coba rangkum hal-hal yang menurut anda sedang terjadi:

    1. Mertua sebelum pernikahan pernah berjanji akan memberikan satu set perhiasan emas (cincin, kalung, anting dan gelang) , namun pada waktu akad nikah hanya memberikan gelang.
    2. Suami memilih-milih pekerjaan karena mau cari kerja yang gaji 30 juta
    3. Anda sebagai istri bekerja
    4. Sampai saat ini nafkah keluarga dicukupi dari pekerjaan istri
    5. Suami sempat mengirim uang 1 bulan setelah anak lahir, namun setelah itu suami malas bekerja karena bosan dengan pekerjaan tersebut.
    6. Suami ingin istrinya memenuhi kebutuhannya sendiri dengan alasan istri bekerja dan istri ada penghasilan
    7. Anda sebagai istri menganggap mahar tidak sesuai pembicaraan di awal

    Jawaban/Komentar:

    1. Salah satu rukun pernikahan adalah ijab-kabul. Pada waktu ijab kabul, barang apakah yang disebutkan sebagai mas kawin? Jika yang disebut meliputi cincin, kalung, anting dan gelang, maka barang-barang ini mesti dilengkapkan sebagai pelengkap sahnya pernikahan anda. Jika pada waktu ijab kabul hanya disebut ‘gelang’, dan gelang tersebut sudah diberikan, maka pernikahan sudah sah.

      Jika janji pemberian tersebut bukan dalam rangka ijab kabul, maka dapat dianggap sebagai perjanjian antara mertua dengan orang tua anda. Perjanjian ini tentunya mesti ditepati, kalaupun tidak dapat dipenuhi sebaiknya ada musyawarah untuk menyelesaikannya.

    2. Setahu saya di Indonesia cukup sulit mencari pekerjaan yang gaji awal mencapai Rp 30 juta, kecuali misalnya suami anda sangat ahli di bidang tertentu, atau dia kerja di perusahaan minyak.
    3. Istri bekerja. Dalam hal ini perlu diperhatikan apakah waktu yang dihabiskan istri untuk bekerja tidak mengganggu kewajiban istri terhadap suami. Dapat saja terjadi suami tidak puas dengan layanan dari istri, sehingga jadinya suami mudah marah-marah atau kurang perhatian kepada istri.
    4. Pada saat ini umum suami dan istri bekerja. Biasanya jika pendapatan suami lebih besar dari istri, hal ini tidak masalah. Namun jika pendapatan istri lebih besar dari suami, dapat menimbulkan masalah. Jika pihak istri dan suami sama-sama kuat hubungan dengan Allah, kuat ibadah, masalah perbedaan pendapatan ini tidak menjadi masalah.
    5. Kurang jelas mengapa suami bosan bekerja. Biasanya sebagai kepala keluarga, kalau sudah terdesak dengan kebutuhan keluarga, pihak suami mestinya mau saja bekerja apa saja asal kebutuhan keluarga terpenuhi.
    6. Salah satu kewajiban suami adalah menafkahi anak istrinya. Namun hal ini memang harus atas dasar kesadaran pihak suami. Jika istri yang meminta-minta apalagi sampai ribut, hal ini kurang baik.
    7. Perkara mahar ini terkait dengan point (1), jika disebut secara eksplisit/lugas dalam ijab kabul, maka wajib dipenuhi. Jika tidak maka ini perjanjian saja.

    Saran:

    1. Perlu disyukuri bahwa anda: (a) sudah punya suami, (b) punya anak, (c) ada penghasilan. Betapa banyak perempuan yang sangat menginginkan suami, keluarga yang menginginkan anak tapi tidak kesampaian, keluarga yang kehidupannya di bawah garis kemiskinan.
    2. Perlu dipelajari lagi apa tujuan anda menikah. Ringkasannya dapat dibaca di artikel perkawinan tujuan dan falsafahnya. Seharusnya hal inilah yang anda bicarakan dulu dengan pihak suami. Kalau sudah sepaham, mestinya masalah-masalah lain tidak terlalu menjadi masalah.
    3. Dari permasalahan yang dikemukakan, nampaknya mayoritas terkait dengan uang/penghasilan, terutama kewajiban pihak suami kepada istri. Lebih baik anda mendahulukan melaksanakan kewajiban istri dalam keluarga (Artikel Tanggung jawab istri terhadap suami). Memaksa suami untuk melaksanakan kewajibannya itu sulit, dapat berujung kepada cekcok/pertengkaran. Paling baik anda penuhi kewajiban sebagai istri, hiburlah suami anda, dan banyak-banyak berdoa agar suami mempunyai kesadaran untuk memenuhi kewajibannya.
  • jihad
    30/11/2013 - 01:15 | Permalink

    assalamu’alaikum pak ustad…saya mau bertaya dan mohon bantuan sarannya.. jika ada seorang ayah yg tidak tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga itu hukumnya apa di akhirat? adakan hadist yg dapat menggugah hatinya? dan jika ada seorang ayah selalu berselingkuh selama hidupnya kita sebagai anak harus berbuat apa dan bagaimana? mohon bimbingannya yah pak ustad…terima kasih.Wassalamu’alaikum

  • admin
    09/01/2014 - 15:10 | Permalink

    Jika anda tidak senang suami bergaul dengan perempuan lain, sebaiknya anda mengusahakan supaya bisa tinggal 1 kota dengan suami anda. Dengan demikian anda dapat memenuhi semua keperluan suami anda tersebut.

  • syaiful anwar
    10/12/2013 - 00:12 | Permalink

    asalamualaikum p’ ustad
    saya seorang suami yg sudah 8 thn menikah dan dikaruniakan 2 orang anak,dan selama hidup saya menikah saya selalu bersabar, istri saya dari pertama menikah jarang melayani suami dalam hal hubungan intim,bahkan belakangan ini tidak mau saya dekati,tetapi saya selalu bersabar n tidak pernah marah walau beberapa kali saya nasihatkan tetapi istri sama saja,saya tidak pernah menuntut ini dan itu, perlu diketahui istri saya tdk bisa apapun dalam mengurus suami n rumah tangga, kondisi sekarang istri saya sedang menuntut cerai dengan alasan saya tidak pernah kasih nafkah, dan alasan karna saya menggangu privasi dia dengan teman2nya.
    perlu ustad ketahui dari dulu sampai sekarang saya bekerja keras demi keluarga dan pernah posisi di atas,akan tetapi istri selalu berkata sy tdk pernah menafkahi setiap cekcok dan istri selalu mengusir saya serta memaki n menganiaaya saya dan sengaja menyakiti hati saya.
    memang kami masih tinggal di tempat kediaman istri,tetapi apakah wajar suami diperlakukan seperti itu bahkan didepan orangtuanya sendiri.
    satu hal lagi pa ustad,belakangan ini saya menuntut istri saya agar ijin pada saya jika pergi n pulang telat serta melayani suami dalam hubungan intim,serta saya melarang istri bergaul dengan teman2nya yang menurut saya berpengaruh buruk,yang mengakibatkan istri saya setiap malam selalu active dengan berbagai sosial media,fb,bbm,tweeter etc. dan istri sangat marah dengan hal yg saya tuntut itu,istri saya tidak pernah bisa di ajak komunikasi bila ada masalah,alasan dia setiap hari capek,males,n ngantuk.
    sudah lama saya diam,sabar akan tetapi saya malu n merasa berdosa jika saya diam saja.
    sekarang saya sudah pisah dalam arti saya sudah diusir serta istri tidak mau di ajak bicara lagi,jika saya berbicara saya dibilang sok alim,dan lebay serta saya dibilang lemah karna tutur kata saya yang rendah dan tidak menyakiti hati istri saya.
    saat ini memang istri saya ada pekerjaan yg menurut saya biasa saja dan menurut istri dia mampu dan melampaui penghasilan saya. dan istri pernah berkata dia punya standart dia menuntut saya memberikan 10jt perbulan walau saya coba pancing 5jt istri keberatan, saya selalu suruh istri bersyukur apa yg sudah allah kasih karna rezeki saya mau sedikit atau banyak itu dari allah,akan tetapi istri tdk mau mengerti. perlu ustad ketahui saya pernah posisi diatas akan tetapi itu tidak berkah karna jalan yg saya ambil bukan dari jalan allah, tidak halal.
    dan saya sekarang mengambil jalan halal walau sedikit asal berkah buat anak dan istri. tetapi masalah malah datang, mohon pencerahannya ustad menyangkut saya sudah sangat sakit hati,dan istri selalu minta cerai
    apa yang harus saya lakukan pa ustad,karna saya ihklas dan selalu mau memaafkan sgala kesalahannya,karna saya sangat sayang keluarga dan tidak mau kehilangan mereka.. sudah puluhan kali saya coba selesaikan dengan kepala dingin tetapi semakin menyakitkan omongan istri kepada saya..
    apakah benar saya harus tingalkan istri saya, atau saya pertahankan dengan kondisi istri seperti itu dan apa hukumnya istri yang seperti itu menurut islam..
    terima kasih sebelumnya pa ustad, semoga saya dapat pencerahan

  • Ahlia japar
    12/12/2013 - 20:24 | Permalink

    Salam ustadz,,, sy rasa pelik dgn sikap sy yg pemalu,,sy kadang malu dgn suami sy,misalny sy ada sesuatu yg mau di omongin sama suami,sy langsung tk dapat keluarkan,klw sy mau beli apa2 pun sy malu mau bgitau suami,,sy juga malu minta duit ama suami,, klw bukan suami yg bagi duit dluan,aku ngga akan ada duit,,kenapa ya ustdz??? Suami sy baik,soleh,,cuman dia panas barang gitu deh,,tp aku sanggup sabar kok,insyaallah,,

  • admin
    16/12/2013 - 13:58 | Permalink

    Ayah memiliki kewajiban-kewajiban terhadap keluarganya (anak & istri). Jika sang ayah melalaikan kewajibannya tersebut, menjadi dosa yang akan diperhitungkan di akhirat.

    Seorang ayah memenuhi kebutuhan keluarganya dengan berbagai alasan, namun alasan yang paling kuat adalah jika ayah tersebut melakukannya semata-mata karena Allah. Jika orang tahu siapa itu Allah, otomatis segala kewajibannya akan ditunaikan.

  • Ecy
    18/12/2013 - 10:57 | Permalink

    Assalamu’alaikum wr wb uztad… Zaya mau tanya..Zuami zaya pny kakak n adik..dan karena merantau kami tngl zatu rumah malah zatu kamar..cuma zuami zaya ditengah..apakah boleh zeperti itu daan apakah zaya boleh mencucikan pakaiannya…minta zoluzinya uztad..terimakazih…

  • admin
    18/12/2013 - 20:11 | Permalink

    Wa alaikum salam wr wb.
    Kakak dan adik suami ini laki-laki atau perempuan?

  • admin
    02/01/2014 - 19:34 | Permalink

    Kewajiban istri kepada suaminya juga banyak, ada di artikel http://www.kawansejati.org/207-tanggung-jawab-istri-terhadap-suami

  • admin
    09/01/2014 - 15:14 | Permalink

    Wa alaikum salam,
    Sifat pemalu bukanlah suatu kerugian, itu adalah suatu anugrah.
    Cintailah dan sayangilah suami karena Allah, insya Allah nanti Allah akan mudahkan suami anda untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah anda.

  • anis
    03/05/2014 - 12:10 | Permalink

    Assalamualaikum,,
    Ustadz, saya mau bertanya,
    Saya n suami menikah 1th, dikaruniai seorangbputri yang cantik,
    Saya merasa suami kurang baik terhadap saya, saya merasa beliau tidak bersyukur telah menikahi saya, bayak hal yamg saya lakukan salah, itu pun kalo ngritik di depan orang2, saya malu ustadz, saya merasa bukan istri yang baik, sakit hati saya, saya jga sering melihat, suami tidak suka dengan keluarga saya, wajahnya selalu masam kalo ada klg yang berkunjung k sini,
    Memang suami saya sudah bnyak berubah, dr yang awal nikah, beliau kasar baik ucapan dan tindakan
    Sekarang jauh lebih baik, walau kadang2 kumat lg kasarnya,,,
    Masalahnya kadang kalo dia pas kasar, atau ngritik pedas ke saya, yang ada dalam pikiran saya hanya pisah, slahkah saya ustadz ?
    Terimakasi. Wassalamualaikum

  • admin
    22/05/2014 - 18:34 | Permalink

    Wa alaikum salam,

    Fitrah semulajadi seorang suami adalah ingin berkasih sayang dengan istrinya, lebih lagi bagi pasangan pengantin baru.

    Jika istri terasa ingin berkasih sayang dengan suami, boleh jadi suami pun merasakan yang serupa. Hanya saja dia tak tampakkan hal itu.

    Jika suami selalu cakap sakit kepala ataupun sakit yang lain, mungkin dia ada masalah. Eloknya istri tunjuk kasih sayang pada suami supaya suami mahu berbagi apa masalah dia. Boleh suami ada masalah tapi karena maklumlah pengantin baru, suami susah nak berbagi perasaan dengan istri.

    Wassalam

  • admin
    07/05/2014 - 17:06 | Permalink

    Wassalamualaikum,

    Pemberian dari seorang adik kepada abang/kakak itu secara syariat diperbolehkan. Seorang mertua memberi makanan kepada anak maupun menantunya juga secara syariat diperbolehkan. Jadi secara hukum syariat tidak masalah jika adik perempuan suami maupun orangtua suami memberi hadiah kepada suami. Sebaiknya hal itu disyukuri, karena artinya suami memiliki keluarga yang sayang kepadanya.

    Seorang istri tidak usah lah merasa tersinggung karena ada orang-orang yang mencintai suaminya, biar bagaimanapun seorang istri itu berbeda dengan adik maupun orangtua. Peran seorang istri bukanlah menggantikan adik / orangtua suami, namun mengisi hal-hal yang memang hanya dapat diberikan oleh seorang istri kepada suaminya.

    Wassalam,

  • shima
    20/05/2014 - 01:01 | Permalink

    Assalamualaikum usd sya ingin bertanya,saya sdah berkhwin 5bln yg lpas,tiap2 mlm sya sering memikirkan hal ini,suami saya sering sakit,tetapi sya ingin merasakan kasih syg dri suami saya,tpi sya mlu untk memberitahunya,tpi suami sya lgsung tidak memperdulikan saya,Tiap2 mlm suami sya selalu cakap dia sakit kepala dan mcm2 skt,sya merasakan dri sya tak diberi perhatian oleh suami sya,mcm mana hrus sya lakukan usd…wassalam

  • admin
    22/05/2014 - 18:27 | Permalink
    1. Seorang laki-laki berhubungan seks dengan selain istri dalam Islam adalah perbuatan dosa. Jadi jika seorang lelaki muslim menghamili seorang perempuan non muslim hal ini adalah perbuatan dosa.
    2. Zina adalah dosa besar. Dosanya dapat dihapuskan dengan bertaubat dan menjalani hukuman sesuai dengan syariat. Namun di Indonesia hukuman zina ini tidak dapat dilaksanakan, sehingga pelaki zina tersebut hanya dapat melakukan taubat, moga-moga taubatnya diterima.
    3. Dosa zina tidak terhapus dengan cara menikahi wanita yang dihamili tersebut ataupun menikahi wanita lain, ataupun menikah dengan mualaf wanita. Perbuatan menikahi tersebut dapat menjadi amal kebaikan namun dihitung tersendiri dari perbuatan zina tersebut.
  • Lina
    21/05/2014 - 18:41 | Permalink

    Selamat mlm pak ustad,

    Saya aska (nama samaran)
    Saya mau bertanya, jika seorng lelaki muslim menghamili seorng non muslim, apakah dosa?
    Tetapi lelaki tersebut tetap ingin menikahi, dgn syarat sih wanita masuk islam, tetapi si wanita tidak mau..
    Si lelaki tetap mau menafkahi wanita n anknya tersebut, tetapi wanita tersebut tidak mau terima nafkah tersebut
    Apakah dosa laki” tersebut?
    Lalu bagaimana menghapus dosa lelaki tersebut?
    Apakah seorng mualaf bisa menghapus dosa lelaki tersbut?
    Misalkan dia menikah dengan wanita lain, tetapi wanita tersbut
    Mau menjadi mualaf..

  • Yanty Sofianty
    28/05/2014 - 18:00 | Permalink

    Assalamu’allaiku pak ustad….saya seorang istri yg sudah menikah dengan seorang duda beranak satu slama 10thn,sekarang kami telah mempunyai putra kembar 3,kehidupan kami alhamdulillah meningkat,usaha kami di bidang angkutan berkembang,namun sekarang kami punya masalah yg rumit,begini pak ustad…dahulu kan suami saya menikah dengan istri pertamanya dalam keadaan hamil besar,dan lahir anak laki2 sekarang sudah menikah tapi perilakunya sll menjengkelkan kami suka berhutang dan mnenipu orh lain yg akhirnya kami yg harus membayar hutang2nya sampai habis perhiasan saya utk membayar huangnya dan terrnyata atas perintah ibunya,stelah menikah sekarang menuntut waris kepada suami saya yaitu ingin meminta rumah akhirnya saya kasih rumah warisan suami saya dari alm ayahnya utk ditempati dia,tapi ternyata sekarang ibunya(mantan istri suami saya) ikuyt tinggal disitu dgn suaminya krn dia sudah menikah lagi,krn rumah tsb berada di linkungan kel besar suami jadi bahan omongan para tetyanhgha,namun suami saya tidak bisa berbuat apa2 krn terlalu menyayangi anak biologisnya itu bahkan masih terus membiayai kehidupan mereka tanpa sepengetahuan saya. Terus terang pak ustadz…hal ini membuat hati saya tidak tenang dan merasa suami saya selingkuh dgn terus membela anaknya itu,harus agaimana sebaiknya sikap saya pak!! Karena saya ingin ketenanagan dan kebahagian dlm rumah tangga yg syakinah,mawadah warohmah.dan kalo saya bicarakan dgn suami atas sikapnya sll marah dantdk terima bahakan pernah memukul saya klo saya membicarakan keytidak ikhlasan saya atas pembelaan suami ug yterlalu berlebihan terhadap anak biologisnya yg sudah menikah itu…mohon penjelesannya pak wassalam

  • Yanty Sofianty
    28/05/2014 - 19:09 | Permalink

    Assalamu’alaikum wr Wb..pak ustadz,
    Harus bagaimana sikap saya bila suami sll menafkahi anak hasil zinanya dengan mantan istri padhal sudah berumah tangga dan tanpa setahu saya,malah sekarang mantan istrinya ikut tinggal serumah dengan anak laki2nya di rumah warisn suami saya dari alm ayahnya,
    Kalo saya bicarakan hal ini dengan suami saya,maka dia akan marah dan katanya saya harus sabar serta ikhlas mungkin ini ujian dari Allah krn suami saya akan berangkat haji,dan suami saya seorang da’i di lingkungan kami,namun terhadap saya suka berperilaku kasar kalo sedang marah apalagi mengungkit masalah anak zinahnya itu sll membela bahkan sampai memukul saya dengan mengeluarkan kata2 kasar,spertinya tidak pantas diucapkan seorang khotib di mesjid
    Sebenarnya saya sudah tidak tahan dengan perilaku suami saya krn tdk pernah menghargai saya sbagai istrinya justru lebih menyayangi anaknya yg sll membuat masalah dlm rumah tangga kami,perhiasan saya sampai habis utk membayar hutang anak dan mantannya.
    Bagaimana sikap saya menurut agama islam?? Dan sudah benarkah sikap suami saya itu jujur saja saya sudah tidak tahan lagi ytpi saya kasihan dengan anak2 saya yg masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya dan bagaimana cara mengeluarkan mantan istrinya itu dari rumah suami sya krn suami saya tidak bisa berbuat apa2 dan ini sudah jadi pergunjingan tetangga..tolong jawabannya pak ustadz..trimakasih wassalam

  • Yanty Sofianty
    28/05/2014 - 20:06 | Permalink

    Assalamu’allaikum..pak Ustadz..
    Saya seorang istri yg sudh menikah 10thn dgn duda cerai satu anak,dan saya membawa 4 org anak,tapi anak2 dari saya masih full dibiayai mantan suami tapi sekarang semuanya sdh hidup mandiri,dari suami ygh sekaramg dikarunia anak kembar 3 orang berusia 8tahun
    Awal2 pernikahan hidup kami teramat sangat kekurangan krn saya berjumapa dgn suami yg skarang dlm keadaan sama2 dikhianati pasangan jadi sama2 down tp kami menjalaninya dgn penuh keikhlasan dan kesabaran hinga perlajhan-lajhjan kehidupan kami berubah drastis,usaha kami alhamdulillah maju pesat dan rumah juga bertambah
    Namun yg sll menjadi masalah dlm rumaj tanhghga kami yaitu sikap prilaku dari anak bawaan suami yg ternyata adalah anak zinah suami saya dengan mantan istrinya,sampai perhiasan saya habis utk membayar hutang2nya krn sering menipu org dan atas suruhan ibunya,namun suami saya sll saja membela bahlan masih tetap memniayai rumah tangga amak zinahnya itu tanpa sepengetahuan saya malah sekarang mantan istrinya ikut tinggal dirumah anaknya dari warisan alm ayah suami saya dalam lingkungan keluarga besar suami.
    Hal ini membuat hati saya jadi tak tenang krn jadi baham gunjingan para tetangga,sudah saya bicarakan dgn suami ytp jawabannya sanar aja dan harus ikhlas mungkin ini ujian dari Allah krn suami saya akan berangkat haji
    Yang saya herankan suami sama sekali tdk pernah mau mengerti perasaan saya bahkan suka bersikap kasar dgn memukul atau mengeluarkan kata2 kasar bila sedang marah atas keberatan saya yterhadap sikapnya yg terlalu membela dan menyayangi anak zinahnya itu padahal suami saya seorang da’i di lingkungan kami dan termasuk orang terpandang smenjak menikah dgn saya.jujur saja saya tidak ikhlas bila diperlakukan sperti ini terus menerus bila berpisah saya tak ingin menghancurkan masa depan anak2 yg masih membituhkan perhatian kedua org tuanya
    Bagaimana sebaiknya sikap saya? Dan sudah benarkah perilaku suami saya itu,krn sll merasa dirinya paling benar.
    Tolonglah pak Ustad jawabannya agar saya tdk salah langkah dalam mengambil keputusan.trimasih wassalam

  • Leave a Reply

    Powered by: Wordpress