Jawaban Konsultasi

Mendidik Istri Yang Berbeda Kefahaman

Dalam suatu keluarga, idealnya suami dan istri memiliki kefahaman yang sama terutama dalam pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Aqidah, Syariat & Tasawuf. Jika ada perbedaan dalam masalah-masalah pokok tersebut tentunya ketentraman dalam rumah tangga akan terganggu.

Dalam kasus suami berfahaman Ahlusunnah Wal Jamaah (ASWJ), sedang istri ikut pengajian Salafi maka ada beberapa hal:

  • Fahaman Ahlusunnah Wal Jamaah secara fiqih rata-rata mengikuti mazhab Imam Syafi’i, sedangkan Salafi banyak dari mazhab Imam Hambali. Suami istri yang berbeda mazhab fiqih sebenarnya tidak ada masalah , namun masalahnya jika ada amalan dalam mazhab Syafi’i yang berbeda dengan mazhab Imam Hambali. Bagi yang faham tentang perbedaan mazhab fiqih, hal ini tidak masalah. Jika tidak faham, maka bisa jadi ada amalan mazhab Syafi’i yang dianggap bid’ah oleh istri.

Saran-saran untuk suami yang istrinya berbeda kefahaman:

  • Menyempurnakan amalan & ibadah wajib, seperti diulas di artikel Kewajiban Pribadi Utama Seorang Muslim.  Ketidaksempurnaan amalan suami dapat dijadikan dalih oleh istri untuk memilih kefahaman lain.
  • Berakhlak sebaik-baiknya. Ajaran ‘keras’ cenderung menjadikan orang menjadi keras dan tidak berakhlak. Jika suami dapat berakhlak dengan baik, maka istri dapat melihat bahwa kefahaman ‘keras’ yang dia ikuti itu tidak baik.
  • Memperbanyak amalan sunat terutama shalat malam
  • Banyak berdoa setelah shalat wajib dan shalat malam
  • Rajin bersedekah
  • Memberi nasihat ke istri dengan baik
  • Memastikan semua makanan berasal dari sumber-sumber yang halal. Jadi pastikan istri dan keluarga dinafkahi dari pekerjaan halal.
  • Memastikan semua makanan terbebas dari zat yang haram/najis. Contoh makanan yang sering terkena najis tanpa sadar adalah telur, maka kita perlu mencuci kulit telur sebelum dipecahkan.
  • Mencari berkat dari orang-orang soleh dan para ulama
  • Mencarikan guru agama yang baik untuk istri dan melarang istri untuk bertemu guru agama yang kurang baik. Dalam hal ini suami punya hak untuk melarang istri keluar rumah, dan jika hal ini dilanggar sudah termasuk perbuatan istri durhaka / nusyuz. Pergi ke luar rumah untuk belajar agama hanya dibolehkan jika istri tidak tahu fardhu ‘ain dan tidak ada yang mengajarinya di rumah.

Jika suami sudah berusaha keras untuk menasihati istrinya namun tetap tidak digubris, maka istri yang demikian sudah termasuk istri durhaka (nusyuz). Tindakan terhadap istri nusyuz terdapat dalam Surat An Nisaa’ ayat 34:

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Catatan:

  • [291]. Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.
  • [292]. Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Referensi

Leave a Reply

Powered by: Wordpress