Artikel Keluarga

Pandangan Islam Mengenai Faham Kesukuan

Jawa Barat tempat kediaman suku Sunda

Jawa Barat tempat kediaman suku Sunda

Jawa Tengah tempat kediaman suku Jawa

Jawa Tengah tempat kediaman suku Jawa

Di masyarakat Indonesia sering terjadi ketegangan antar suku dengan berbagai alasan, salah satunya adalah ketegangan antara suku Sunda dan suku Jawa. Kononnya hal ini dipicu oleh perang Bubat / Tragedi Bubat. Sampai sekarang ketegangan ini kadang menjadi penghalang pernikahan antara suku Sunda dan suku Jawa. Kalaupun menikah kadang pandangan ini menjadi alasan untuk ribut-ribut antara pihak keluarga Jawa & Sunda. Bagaimana pandangan Islam terhadap hal seperti ini?

Sikap mementingkan kesukuan di atas ajaran agama dikenal juga dengan istilah ashobiyah. Hal ini beberapa kali disebut Rasulullah antara lain di hadis berikut ini:

“Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada Ashabiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah (Nasionalisme & Tribalisme).”(HR.Abu Dawud).

Kalau melihat isi hadis tersebut, teguran terhadap sikap ashobiyah itu sangat keras. Jadi perbuatan ashobiyah itu sangat dilarang dalam ajaran Islam. Dalam bersikap, nilailah seseorang itu dengan pandangan ajaran Islam, jangan dengan asal-usul suku bangsanya.  Nilailah dari sisi aqidahnya, pengamalan syariatnya, dan akhlaqnya.

Kerusuhan antara suku di zaman Rasulullah pernah terjadi antara suku Aus dan suku Khazraj yang tinggal di Madinah. Suku Aus dan Khazraj ini pernah bermusuhan selama beratus tahun sebelum kedatangan Rasulullah. Perang yang terjadi disebut perang Buats.

Perang Buats adalah perang yang terjadi selama 120 tahun (Ibnu Ishaq dalam Tafsir Al Mawardi) antara kaum Aus dan Khazraj. Dan selama musim perang tersebut, pihak Yahudilah yang mengambil keuntungan politik maupun ekonominya. Setelah hijrah, Rasulullah mempersatukan kedua suku tersebut hingga mereka hidup damai setelah berperang beratus tahun.

Dalam sirah nabi, ketika masyarakat dan negara Islam baru tumbuh di kota Madinah. Dan kedudukan politik dan kekuatan ekonomi mereka menggeser kepentingan dan posisi kaum Yahudi, maka Yahudi membuat makar. Salah seorang tokoh Yahudi yang bernama Syas bin Qais yang sangat benci dengan bersatunya dua suku besar penghuni kota Madinah Aus dan Khazraj dalam ikatan Islam, membuat makar dengan mengirim seorang penyair agar membacakan syair-syair Arab Jahiliyah yang biasa mereka pakai dalam perang Buats.

Penyair suruhan Syas berhasil mempengaruhi jiwa sekumpulan kaum Anshar dari kalangan Aus dan Khazraj di suatu tempat di kota Madinah. Syair jahiliyah tersebut mengantarkan mereka kepada perasaan kebanggaan dan kepahlawanan mereka di masa jahiliyah dalam medan perang Buats.

Perasaan kebangsaan dan kepahlawanan kaum Aus maupun Khazraj itu memuncak hingga mereka lupa bahwa mereka sesama muslim. Yang Aus merasa Aus dan yang Khazraj merasa Khazraj. Dalam puncak emosi perang itu mereka akhirnya berteriak-teriak histeris : ”Senjata-senjata!”.

Dalam situasi kritis itulah, Rasulullah datang bersama pasukan kaum muslimin untuk melerai mereka. Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai kaum muslimin, apakah karena seruan jahiliyah ini (kalian hendak berperang) padahal aku ada di tengah-tengah kalian. Setelah Allah memberikan hidayah Islam kepada kalian. Dan dengan Islam itu Allah muliakan kalian dan dengan Islam Allah putuskan urusan kalian pada masa jahiliyyah. Dan dengan Islam itu Allah selamatkan kalian dari kekufuran. Dan dengan Islam itu Allah pertautkan hati-hati kalian. Maka kaum Anshar itu segera menyadari bahwa perpecahan mereka itu adalah dari syaithan dan tipuan kaum kafir sehingga mereka menangis dan berpelukan satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada Rasulullah SAW. dengan senantiasa siap mendengar dan taat…” (Sirah Ibnu Hisyam Juz 1/555).

Demikianlah kisah permusuhan antar suku di zaman Rasulullah. Moga-moga kita terutamanya di Indonesia terhindar dari bermusuhan dengan suku lain hanya gara-gara sentimen kesukuan. Janganlah membenci seseorang atau suatu kaum, kecuali ada alasan syari’at yang membolehkan hal tersebut dilakukan.

Referensi:

Leave a Reply

Powered by: Wordpress